[BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA! BUDAYAKAN PULA TINGGALKAN JEJAK!]
[FOLLOW AKUN IG; SUGIATIDAHLAN]
[NO PLAGIAT! SANKSI BERLAKU!]
Kisah tentang;
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri mulai lelah dengan kesabaran ku."
@Annisa Az-Zahra
Bagaimana jika seandainya kalian adalah siswi berhijab satu-satunya di sekolah kalian? bagaimana jika seandainya kalian tidak sengaja melakukan tingkah konyol yang menjerumuskan kalian ke dalam masalah?
Hidup Zahra yang mulai di tumbuhi bunga-bunga berwarna-warni kini kembali terlihat hampa saat sebuah RAHASIA BESAR berhasil merubah segalanya.
®picturebypinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sugiatiidhln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16. Teringat
Siang kini telah berganti malam, begitu pula dengan semua orang yang mengistirahatkan tubuhnya setelah aktivitasnya di siang hari. Tetapi hal itu, tidak berlaku untuk Verrel, Deon dan Daniel.
"Rel, lo nggak pulang?" tanya Deon yang sedang asik bermain PlayStation dengan Daniel.
"Lo ngusir gue?" sahut Verrel tidak terima.
Mereka bertiga sedang ada di rumah Deon. Verrel tadi menelfon Daniel untuk menjemputnya karena kebetulan Daniel sedang ada dirumah Deon. Begitupun motor sport Verrel yang sudah terparkir di halaman rumah Deon, karena Verrel meminta bantuan Deon untuk membawa motornya.
"Ck ... baperan lo Rel, kek emak-emak!" sahut Deon malas.
"Lagian elo masih sore juga, nyuruh gue balik!" ujar Verrel malas tak kalah malasnya.
Daniel dan Deon sedang asik bermain PlayStation. Sedangkan Verrel merebahkan dirinya di kasur kingsize milik Deon.
"Sore pala lu botak, ini udah jam 1 dugong," pekik Deon, sambil meletakkan stik gamenya dan berjalan menghampiri Verrel setelah itu menghempaskan tubuhnya di atas kasur kingsize miliknya.
Daniel pun melakukan hal yang sama. Kini mereka berada di kasur yang sama, dengan Verrel yang berada di bagian tengah.
"Babang Verrel," goda Daniel bercanda sambil memeluk Verrel seperti guling.
Diantara mereka bertiga Daniel lah yang hidupnya paling santai, sering melakukan sesuatu di luar nalar manusia, sering membuat para gadis sakit hati dengan senyum menggodanya setelah baper tidak tanggung jawab.
Berbeda dengan kehidupan Deon yang terbilang serius tetapi tak dianggap rumit olehnya. Menjadi pewaris tunggal keluarga Denandhra membuat Deon hampir sama dengan Farhan, tetapi Deon laknat susah di kendalikan! sebelas dua belas dengan Verrel.
Verrel yang di perlakukan seperti itu oleh Daniel tidak tinggal diam.
Brakkkk ...
"Gila lo rel, encok badan gue," ngeluh Daniel saat tubuhnya mencium lantai.
"Najis woy," geram Verrel.
"Ahahaha elo sih homoan," ejek Deon.
Daniel yang telah bangkit pun tidak segan-segan melempar bantal ke arah Deon dan yap! pas mengenai wajah Deon.
"Pffft ... bercanda gue keles," ujar Deon setelah menyingkirkan bantal di atas wajahnya.
Daniel pun kembali berbaring, dan menjaga jarak oleh singa yang sedang menengadah menatap langit kamar Deon.
"Rel, gue ngerasa tanpa lo sadari lo itu udah deket sama Zahra," ujar Deon tiba-tiba.
"Maybe, karena dia tuh babu gue!" jawab Verrel santai tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bukan itu maksud gue. Tanpa Lo sadari lo itu udah terikat ama Zahra," timpal Deon lagi.
Verrel mengerutkan keningnya bingung, tetapi tak mengendalikan pandangannya, "Gue nggak ngerti maksud Lo!" sahut Verrel malas.
"Ck ... sok nggak ngerti lo babang Verrel. Maksudnya si Deon itu ... bagaimana Yon coba lo jelasin!" titah Daniel asal.
"Bangke lu Niel, haha ..." ejek Deon.
Deon mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum ia mulai menjelaskan, " Gini. Kan lo Rel nggak pernah nginjakin kaki ke ruang OSIS selama lu tau kalo si Farhan yang ketosnya. Nah, berita lo masuk ruang OSIS bareng Zahra udah kesebar men," papar Deon.
"Hm ..." deheman Daniel menjadi penyimak yang baik.
"Trus maksudnya apa? gue bener nggak ngerti!!" Verrel menuntut penjelasan.
"Tanpa lo sadari! lo itu udah ngelakuin hal yang nggak lo suka cuman gara-gara Zahra," lanjut Deon. Merasa geram dengan Verrel, entahlah Verrel beneran tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu.
"Hm ..." deheman Daniel untuk ke sekian kalinya.
Verrel tersenyum miring, "Oh gitu! gue kira apaan" batin Verrel.
"Dan rel, gue tanya sama lo akhir-akhir ini Lo sering keingat sama Auryn nggak?" tanya Deon penasaran. Sekarang Deon tengah berlagak menjadi seorang wawancara yang sedang mewawancarai narasumbernya.
"Nggak," jawab Verrel santai.
"Nah itu, lo nggak keingat sama Auryn karena ada Zahra di kehidupan lo!" tukas Deon.
"Gue capek aja mikirin dia, dan Zahra dia bukan tipe gue. Gue ngelakuin itu karena ada aja alasannya."
Deon dan Daniel beralih menatap Verrel dengan tatapan penuh tanda tanya. Merasa ada yang hal yang tidak mereka ketahui.
"Lanjutin!" pinta Deon.
"Farhan suka sama Zahra si bocah pendek itu, gue ngikut Zahra ke ruang OSIS karena mau manas-manasin si Farhan aja," tukas Verrel santai, memang itu alasan Verrel yang sebenarnya.
"Gila lo rel, kalo si Zahra baper sama lo gimana?" Deon memandang Verrel butuh penjelasan.
"Nggak mungkinlah, orang dia aja jutek ma gue."
"Eh, lo tau dari mana kalo si Farhan suka ma Zahra?" tanya Deon lagi, rasa penasarannya sudah sampai ke ubun-ubun membuat tingkat kekepoan-nya keluar.
"Gue liat sendiri, si Farhan tuh senyum- senyum kek orang gila pas di tinggal Zahra ke kelas."
"Si Farhan kakak Lo dugong, tega lu ma dia!" balas Deon dramatis.
"Oh iya, Yakin? Zahra nggak pernah senyum atau apa gitu yang buat Lo. Ngerasain hal aneh gitu ?" tambah Deon lagi.
"Hm ..." Deheman Daniel.
Verrel dan Deon beralih menatap Daniel dengan sinis, "Hm ... Hm ... aja lo Niel," ujar Verrel malas dengan tingkah Daniel yang sok kalem.
"Mati aja sana lo!" umpat Deon.
"Mau gimana lagi, daripada gue diem" protes Daniel dengan cengiran kudanya.
"Lanjutin Rel," pinta Deon.
Verrel mengingat-ngingat kejadian demi kejadian yang di laluinya saat bersama Zahra. Seketika Fikirannya tertuju saat menunggu angkutan umum di halte, "Pernah sih skali doang."
"Lo ngerasain hal yang aneh nggak?" tanya Deon lagi.
"Kepo amat sih lu!" hardik Verrel. Karena sedari tadi Deon sibuk mengintrogasinya, menanyakan hal-hal yang tidak ingin dia jawab, dan bodohnya lagi dia menjawab semuanya.
"Ck ... yang harus lo tau. Lo itu udah bikin susah anak orang, kejadian pas di ruang OSIS udah kesebar men Lo nggak kasian ama si Zahra ?"
"Nggak!" balas Verrel cuek.
"Zahra tuh cuman cewek lugu yang kena sial aja dekat sama lo," timpal Deon.
"Maksud lo apa sih Yon?" tanya Verrel gregetan karena Deon mengeluarkan kalimat-kalimat ambigu tanpa penjelasan secara lengkap.
"Tau sih yon!" timpal Daniel.
Deon menghembuskan nafas gusar, "gini nih kalo otak kalian di bawa rata-rata nggak Nyampe!" Ucap Deon songong.
"Jomblo aja lu bangga," ejek Daniel.
"Bukan Jomblo cuman belum dapet yang pas aja," Sahut Deon tidak terima.
"Ngeles aja lu," Timpal Daniel.
"Iya bebeb Sasa," Ejek Deon.
"Lama-lama gue nikahin kalian berdua!"
Deon dan Daniel bergidik ngeri. Dan mengendalikan pandangannya menengadah menatap langit kamar Deon.
"Rel, lo dekat ama si Zahra negatifnya ada di Zahra. Dia tuh nggak tau apa-apa dan Lo tau kan fans-fans lo tuh gimana?" ujar Deon sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Gue nggak peduli!" balasnya santai.
"Gue doain Lo suka ama si Zahra" timpal Daniel menengadahkan tangannya seperti orang yang berdoa.
"AAMIIN," kata Deon dan Daniel barengan.
####
"Bunda ... hiks ..." Suara tangis seorang anak kecil berumur 5 tahun yang sedang menggendong adiknya yang tertidur.
"Dek ... Bunda ... ayah," racau anak berumur 5 tahun itu berusaha tenang dan semakin memperkuat pelukannya dengan sang adik.
Dengan air mata mengucur deras, anak berumur 5 tahun itu perlahan memundurkan langkahnya, mengubah posisi adiknya yang berada di punggungnya menjadi dekapan hangat, "Dek ... Hiks ..."
Perlahan ia melangkah pergi, meninggalkan kediaman ini dan mencari bantuan di luar sana.
"BOS ... ANAK ITU BOS ... " Seorang pria parubaya yang berinisiatif membuka pintu itu langsung berteriak saat melihat kedua anak itu kian menjauh.
"KEJAR ANAK ITU SEKARANG!!" perintah Martin kepada semua anak buahnya.
"Astaghfirullah ..." Raihan bangun dari tidurnya melafazkan asma Allah untuk menenangkan dirinya.
Raihan menarik nafas pelan dan menghembuskannya, "Mimpi itu lagi," lirihnya.
"Ya allah ... Pertanda apa ini. Kenapa peristiwa itu selalu menghantuiku," lirihnya sambil mengusap wajahnya gusar.
Raihan melirik jam dinding di kamarnya yang kini menunjukkan pukul 2 dini hari. Raihan Bangkit dari tidurnya dan berjalan ke dapur untuk mengambil air wudhu.
Raihan berniat melaksanakan sholat tengah malam untuk menenangkan hati dan pikirannya yang tiba-tiba berubah.
"Hoamm ... Kak Rai ...," gumam Zahra yang berdiri di ambang pintu dengan mata sedikit tertutup.
Raihan yang telah selesai melaksanakan sholat tengah malam pun tersenyum ke arah Zahra. Zahra berjalan sempoyongan masuk ke kamar Raihan setelah itu memeluk Raihan erat yang masih mengenakan baju kokohnya.
"Zahra kenapa bangun?" tanya Raihan lembut sambil mengelus rambut panjang Zahra yang berwarna coklat dengan gelombang sedikit di bagian ujungnya. Jika sedang di dalam rumah, Zahra biasanya tidak mengenakan hijab, dan Raihan pun tidak akan melarangnya.
"Zahra tiba-tiba rindu aja sama kak Rai ..." cicit Zahra tanpa melepas pelukannya.
"Kak Rai, Zahra mau nanya. Kenapa Waktu umur Zahra 3 tahun kak Rai nyuruh Zahra pake hijab?"
"Dek ... kakak udah bilang itu kewajiban," jawab Raihan.
"Kak Zahra butuh jawaban yang sebenarnya Zahra udah gede kak!" rengek Zahra sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah sang kakak dari bawah.
"Kakak janji, kakak akan memberitahu Zahra alasan yang sebenarnya setelah Zahra lulus skolah nanti," ujar Raihan mencium puncak kepala Zahra lembut.
"Maafin kakak Zahra, maafin kakak. Kamu nggak boleh tau hal ini," batin Raihan.
Zahra tersenyum tipis di dekapan Raihan, "Baiklah kak Rai, Zahra bakal nungggu sampe lulus kan? janji?" Zahra mengulurkan jari kelingkingnya.
Raihan tersenyum dan mengapit jari kelingking Zahra dengan kelingkingnya, "Janji."
"Sekarang Zahra lanjutin tidur Zahra gih."
"Kak, Zahra mau tidur bareng kak Rai," rengek Zahra sambil memajukan bibir bawahnya.
Raihan terkekeh melihat tingkah adik kecilnya yang kini tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Namun, sayang rambutnya yang indah kini tertutup oleh balutan hijab diumurnya yang masih sangat muda.
"Nggak boleh, Zahra dah gede. Gih balik ke kamar." Raihan mengacak-acak rambut Zahra gemas.
Zahra pun bergegas ke kamarnya, kembali dengan langkah pelan dan raut wajah ditekuk.
"Kakak sayang sama kamu dek, di dunia ini cuman kamu yang kakak punya," gumam Raihan pelan, saat Zahra belok di ambang pintu.
"Dan kakak janji kakak nggak bakal maksa kamu buat belajar yang rajin. Kakak akan berusaha ngelupain masa lalu itu demi masa depan kamu dek," lanjutnya lagi.