Jia harus menerima takdir yang digariskan Tuhan untuk menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal. Semua itu atas permintaan majikannya Tuan Jaya.
Untuk membalas kebaikan Tuan Jaya, Jia menerima permintaan itu. Namun siapa sangka pria yang akan ia nikahi bukan pria sembarangan. Ia adalah seorang pengusaha muda dan pewaris terkaya di negeri ini.
Berharap mendapatkan kebahagiaan dengan Pria bernama Reno Bara, ternyata Jia hanya di jadikan pelampiasan hasrat dan pembantu gratis di rumah nya. Itu karena Reno merasa dirinya di tipu oleh Tuan Jaya dan akhirnya melampiaskan dendam nya pada Jia. Reno terus menyiksa Jia baik fisik maupun batin.
Mampu kah Jia bertahan bersama Reno? Atau justru memilih untuk pergi dan mencari kebahagiaan nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Teman
Mendengar itu Jia langsung berbalik badan, perempuan itu justru mencegah Bi Lasmi yang hendak membuka suara untuk membalas perkataan Ambar.
"Maaf atas kelancangan saya, Nyonya. saya berjanji hal ini tidak akan pernah terjadi lagi. Tapi tadi saya memang benar-benar pingsan. Jadi saya sama sekali tidak sedang berpura-pura." jawab Jia.
"Ternyata kau sudah pandai berbicara rupanya. Apa Lasmi yang mengajarimu?" Sindir Ambar dengan begitu sinis.
Lagi-lagi Jia mencegah Bi Lasmi yang hendak membalas perkataan Ambar. Jia melakukan ini karena tidak ingin memancing keributan antara Ambar dan juga Bi Lasmi.
"Tidak, Nyonya. Bi Lasmi tidak pernah mengajarkan apapun kepada saya. Apalagi bersikap lancang kepada anda. Sekali lagi saya minta maaf." ucap Jia merendah.
Sebisa mungkin Jia mengalah dari Ambar sebelum suara Dea menginterupsi pembicaraan mereka. Perempuan cantik itu tiba-tiba saja sudah berada di belakang Jia.
"Kau pasti istri Reno, kan?"
Jia terperangah melihat perempuan cantik yang baru saja datang tersebut. Kecantikan perempuan tersebut membuat Jia terpanah. Hingga menimbulkan kekaguman di matanya.
"Siapa dia? cantik sekali." batin Jia kagum.
Untuk beberapa saat Jia tampak tenggelam dalam pemikiran nya sendiri. Hingga tanpa sadar perempuan yang ia kagumi itu sudah berdiri di hadapannya sekarang dan sedang menunggu jawaban darinya. Sebelum suara bentakan Ambar terdengar menginterupsi pendengarannya.
"Hei babu! apa kau gagu? tidak dengar Dea memanggilmu?"
Mendengar itu Jia terkejut dan tersadar dari lamunan nya.
"I-iya ma-maaf." jawabnya terbata.
Melihat istri dari Reno yang begitu ketakutan. Dea berjalan mendekat ke arah Ambar berusaha menenangkan tante nya.
"Sudah Tante jangan memarahi nya." jawab Dea dengan begitu lembut, sehingga bertambah lah kekaguman nya pada perempuan itu. Karena bertambah satu orang yang membela nya selain Bi Lasmi tentunya.
"Tapi dia sudah kurang aja, sayang. Perempuan miskin itu tidak segera menjawab pertanyaan dari mu." protes Ambar.
"Dea baik-baik saja Tante."
Dea mengatakan itu sembari mengelus punggung tangan Ambar.
Mendengar nama Dea di sebut, Jia kembali menyadari siapa perempuan cantik yang ada di hadapannya sekarang ini. Jia baru mengingat pembicaraan nya dengan Ambar tempo hari. Perempuan ini adalah perempuan masa lalu suaminya. Jia menilai jika Dea tidak seperti wanita kaya pada umumnya, yang pernah Jia temui.
Kalau kebanyakan wanita kaya selalu bersikap sombong dan selalu merendahkan orang kecil seperti Ambar dan juga Fania. Tetapi kesan pertama untuk Dea, seperti nya Dea tidak seperti sepupu dan Tante nya. Perempuan itu bersikap lembut dan membela nya di hadapan tante nya sendiri.
Karena kebanyakan melamun, Jia menjadi abai dengan keadaan sekitar sehingga tidak menyadari jika Dea sudah berada di hadapannya. Sentuhan lembut di bahu Jia, membuat perempuan itu berjingkat kaget.
"Kau istri Reno kan?"
Dea mengulangi pertanyaan nya. Membuat Jia langsung mengangguk dengan bersemangat.
"I-Iya saya istri kak Reno." jawab Jia.
Mendengar itu membuat Dea mengembangkan senyuman nya kemudian menyodorkan tangan di hadapan Jia.
"Kenalkan aku Dea, teman masa kecil Reno." ujar Dea ramah kepada Jia.
Karena Dea yang mengajak Jia berkenalan, itu berarti Dea perempuan yang baik yang bisa menghargai dirinya. Sesuatu yang tidak pernah ia terima selama tinggal di rumah ini. Begitu lah anggapan Jia terhadap Dea.
Keramahan sikap Dea membuat Jia segera membalas uluran tangan Dea dengan begitu semangat.
"Jia." balasnya.
Jia segera membalas uluran tangan Dea kemudian tersenyum senang karena ia merasa senang untuk pertama kalinya ia diperlakukan begitu manis di kediaman suaminya.
"Senang berkenalan denganmu, Jia. Kau cantik sekali." puji Dea dengan gaya elegan.
"Terima kasih Nona. Tapi kau jauh lebih cantik dari saya. Anda begitu elegan dan berkelas, benar-benar mengagumkan." ucap Jia jujur.
Jawaban Jia membuat Dea tertawa karena kepolosan perempuan itu.
"Jia kau ini bisa saja.
Aku begitu tersanjung mendengar pujian dari mu. Aku bisa mengajarkanmu menjadi wanita berkelas sama seperti ku, itupun kalau kau mau." Balas Dea membuat Jia terkejut.
"Tidak Nona, jangan seperti itu. Saya mana pantas menjadi seperti anda." Jawab Jia minder.
"Hei kenapa tidak bisa, Jia?" Tanya Dea sembari menyentuh dagu Jia kemudian mengangkatnya.
"Kau cantik, jadi apa salahnya? Bagaimana kalau kita berteman agar aku bisa mengajarimu?" Tawar Dea.
"Te-teman?" Ucap Jia tidak menyangka, perempuan cantik, pintar dan berkelas mau berteman dengan dirinya. Sungguh tidak pernah ia prediksi sama sekali. Di pandang nya ibu mertua nya yang tampak acuh mendengar obrolan dirinya dan perempuan yang ingin Ambar jadikan menantu.
Melihat Jia yang diam saja, Dea bertanya sekali lagi. "Bagaimana Jia kamu berteman denganku?"
Jia kembali mengalihkan pandangan nya ke arah Dea. Kekaguman nya bertambah berkali-kali lipat, karena untuk pertama kalinya ada orang yang mau berteman dengan dirinya. Tentu saja Jia merasa senang, Jia berharap nasib nya akan berubah setelah kedatangan Dea. Tidak usah muluk-muluk dirinya hanya ingin diperlakukan dengan baik saja di rumah ini.
"Tentu saja, saya bersedia menjadi teman Nona." Jawab Jia dengan begitu bersemangat.
Tanpa sadar Jia sudah menumpukan harapan pada Dea. Harapan nya semu yang di tawarkan oleh Dea, mungkin akan jadi titik awal kembali hancurnya hidup Jia.
Jia memamerkan senyum tulus pada Dea, berbeda dengan Dea yang hanya menampilkan senyum palsu. Entah apa yang yang sedang di rencanakan perempuan itu pada Jia.
Namun kebahagiaan Jia memudar saat Ambar memotong pembicaraan mereka.
"Sayang, sebaiknya kita ke kamar dan istirahat. Dan dia juga harus segera menyelesaikan pekerjaan nya." Ucap Ambar sembari menunjuk Jia dengan dagu nya.
"Dan kau juga cepat selesaikan pekerjaanmu hari ini. Jangan malas, apalagi sampai pura-pura pingsan segala!" Ketus Ambar pada Jia.
"Baik Nyonya." Jawab Jia sembari menundukkan kepalanya.
Ambar segera menggandeng tangan Dea untuk di ajaknya pergi meninggalkan tempat itu. "Ayo sayang."
"Iya Tante, Jia semangat yah!" Ucap Jia sebelum meninggalkan ruangan.
"Iya Nona. Terima kasih." Jawab Jia.
Jia masih mengembangkan senyum sampai Ambar dan Dea sudah tidak terlihat lagi. Ia begitu senang karena mendapatkan teman baru yang bisa menerima keberadaan nya di rumah ini selain Bi Lasmi. Berbeda dengan Bi Lasmi yang tidak menyukai interaksi Jia dengan Dea tadi.
"Ayo Bi, kita ke ruang mencuci." Ajak Jia, semangat perempuan itu berkobar menjadi berkali-kali lipat dari pada sebelumnya.
***
Di dalam ruang mencuci wajah Bi Lasmi masih menunjukkan rasa khawatirnya.
"Bagaimana Nona bisa mencuci? Tangan Nona saja masih terluka. Bukankah dokter mengatakan untuk jangan sampai terkena air dulu." Ucap Bi Lasmi mengingatkan. Wajah tua nya menunjukkan kecemasan pada Jia.
"Jia akan melakukan nya dengan pelan saja, Bi. Bibi tidak perlu khawatir. Jia baik-baik saja kok." Jawab Jia.
Rona kebahagiaan masih tampak jelas di wajah Jia tidak begitu dengan Bi Lasmi yang tampak khawatir Jia berteman dengan Dea. Karena Bi Lasmi jauh lebih mengenal wanita itu daripada Jia sendiri.
Bi Lasmi menatap Jia yang sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Nona yakin ingin berteman dengan Nona Dea?" Tanya Bi Lasmi membuat Jia menghentikan pekerjaannya itu. Kemudian mengangkat wajahnya sehingga pandangan mereka langsung bertemu.
"Maksud bibi? Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja Jia dengan senang hati berteman dengan Nona Dea. Karena Nona Dea memperlakukan Jia dengan begitu baik, selain Bibi tentunya."
Namun senyum itu memudar ketika melihat raut tidak suka yang di tunjukkan Bi Lasmi kepadanya.
"Kenapa Bibi tidak suka Jia berteman dengan Nona Dea?" Tanya Jia.
"Kalau bibi boleh menyarankan lebih baik Nona jangan terlalu dekat dengan Nona Dea." Jawab Bi Lasmi tanpa ragu.
"Kenapa Bi, apa Jia tidak pantas berteman dengan Nona Dea?" Tanya Jia lagi.
Melihat perubahan mimik wajah Jia menjadi murung, Bi Lasmi menjadi merasa bersalah. Wanita tua itu segera meraih tangan Jia dan di genggam erat tangan itu
.
"Tidak Nona, bukan seperti itu maksud bibi. Bibi hanya tidak mau Nona menjadi semakin terluka." Jelas Bi Lasmi.
Jia mengenyitkan keningnya tidak mengerti maksud dari perkataan Bi Lasmi.
"Maksud Bibi apa?"
"Nona Dea adalah mantan kekasih Tuan Reno dan Nona Dea sangat terobsesi sekali kepada Tuan Reno. Bukan tidak mungkin jika Nona Dea akan merebut Tuan Reno dari sisi Nona Jia. Ingat Nona jangan pernah memberi cela pada wanita lain untuk bisa masuk ke dalam rumah tangga Nona dan Tuan Reno." Jawab Bi Lasmi.
"Kenapa Bibi bicara seperti itu? Kita tidak boleh berburuk sangka pada orang lain. Jia juga mendengar itu dari Nyonya Ambar jika Nona Dea adalah cinta pertama Kak Reno. Tapi itu semua hanya masa lalu. Sekarang Nona Dea tahu kalau Kak Reno sudah menjadi suami Jia. Jadi tidak mungkin Nona Dea mau merebut Kak Reno dari Jia. Apalagi saat ini kami juga berteman, jadi bibi tidak perlu khawatir lagi yah dan jangan berpikir yang tidak-tidak. Nona Dea adalah perempuan yang baik dan Jia percaya akan hal itu.
"Nona Jia itu terlalu naif." Kata Bi Lasmi sambil menggelengkan kepalanya.
Reaksi yang di berikan Jia membuat Bi Lasmi menjadi gemas sendiri. Nona majikannya itu memang bukannya hanya baik, juga terlalu polos dan mudah percaya dengan perkataan orang lain yang pandai membungkus keburukan nya dengan topeng munafik.
Namun Jia hanya tersenyum menanggapi keresahan hati wanita tua itu.
"Jia tahu bibi khawatir pada Jia. Tapi bibi juga harus tahu siapa yang menanam kebaikan maka akan menuai kebaikan pula. Jia hanya ingin berbuat baik saja pada orang lain dan selalu berpikir positif dengan apa yang sedang Jia jalani sekarang. Mau sekeras apapun Nona Dea menginginkan Kak Reno, semua akan sia-sia karena Kak Reno sendiri mengabaikannya. Berbeda jika respon Kak Reno masih mencintai Nona Dea. Bagaimanapun mereka pernah punya cerita di masa lalu, apalah daya Jia yang hanya orang asing yang kebetulan masuk ke kehidupan Kak Reno." Ucap Jia panjang lebar, ia tampak menjeda ucapannya sebentar untuk mengambil napas panjang dan mengeluarkan nya secara perlahan. Kemudian tersenyum.
"Bukan Jia tidak mau mempertahankan rumah tangga Jia dengan Kak Reno, sebagai seorang wanita dan istri hanya bisa mendoakan kebahagiaan untuk Kak Reno. Jia ingin pernikahan kami langgeng seperti pernikahan lainnya, Jia hanya ingin diperlakukan layaknya seorang istri oleh pasangan Jia. Tapi Jia hanya bisa berdoa, mengingat Jia tidak punya pilihan atas hidup Jia sendiri. Dan Jia percaya kalau Kak Reno benar jodoh Jia maka dia akan tetap berada di sisi Jia. Meski jalan yang kami tempuh itu tidak mudah."
Jia langsung mengusap buliran air mata yang tiba-tiba mengalir tanpa di inginkan. Sebenarnya perempuan itu tidak ingin menangis tapi air mata itu nyelonong begitu saja tanpa permisi.
Mendengar kata-kata dari Nona majikannya membuat hati wanita itu terharu. Tidak hanya cantik ternyata Nona nya itu memiliki hati seluas samudra. Perempuan berhati emas itu yang sering di sia-siakan oleh orang-orang sekeliling nya.
Bi Lasmi tidak tahan tidak memeluk tubuh rapuh itu, Jia terlihat kuat di luar tapi begitu rapuh di dalam.
"Nona, bibi selalu berdoa kepada Tuhan agar memberikan kebahagiaan kepada Nona. Dan harapan terbesar bibi saat ini adalah semoga Tuan Reno bisa berubah dan bisa menerima Nona sebagai istrinya. Percayalah jika sebenarnya Tuan Reno itu baik. Dia hanya salah paham dan selalu di cecoki dengan berita tidak benar oleh Nyonya Ambar." Ucap Bi Lasmi sambil mengusap lembut bahu Jia.
Tanpa mereka sadari ada sosok jangkung yang mendengar semua pembicaraan mereka. Setelah itu sosok itu pergi begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lama lama up-nya pls
biar reno berjuang tapi jgn pisah kan mereka..biar kan mereka bersatu
Masak iya fania dan ibunya yg bnr2 dalang kejahatan nya di maafkan begitu sajaa..lalu bagaimana dgn reno yg menjadi korban mereka