Arumi est belle Razade, namanya cukup panjang. Razade adalah nama belakang keluarga besar dari mama angkatnya yang berasal dari Bali. Ia sendiri dibuang ke Los Angeles, karena kelahirannya membuat keluarga Razade menanggung malu. Maklumlah, mereka orang kaya raya dan berkasta tinggi.
Di saat neneknya sudah tiada dan Covid sudah berlalu, Arumi dipaksa pulang ke Bali disaat mama angkatnya dikremasi. Alasannya karena ia punya kewajiban yang harus dilaksanakan sesuai hak yang ia terima saat ini. Tidak ada kata menolak, itu tabu dan tidak punya adab. Dipungut dari bayi, dipelihara, disayang, disekoĺahin sampai bergelar S1 Tehnik Informatika.
Apakah patut membangkang?
Ia menyadari dan harus membalas budi. Walaupun ia kini yatim piatu di Bali, ia berusaha belajar dan menerima beban berat dari keluarga besar.
Disaat terpuruk dan menjadi cemohan keluarga papanya, ada seorang pemuda mengulurkan tangan, membantunya dan menjeratnya kedalam surga dan neraka dunia.
Hallo guys, happy reading.
*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GUBUK WONG SAMAR
Keputusan Arumi menerima mediasi itu membuat bibi lega. Arumi cukup lapang dada dan mau mengerti. Tadi ia berpikir akan alot, saling serang dan pihak Dayan akan memberi uang sebagai kompensasi. Tapi cerita itu hanya ada di Indosiar.
Bibi memandang jauh kedepan, saat ini mereka berada di lobby. Arumi duduk termenung sambil minum susu dan satu mangkok sop asparagus.
Sedangkan bibi, mengunyah gorengan memikirkan omongan Dayan Kole.
Pemuda dua puluh tujuh tahun itu kini telah merdeka, dia mengira Arumi takut. Sama sekali tidak ada rasa takut, ia lebih memikirkan nasib hotel kedepannya, jika ia bermusuhan.
Jika dia frontal fatal akibatnya, semua bisa terhambat, sedangkan ia belum tahu pekerjaan hotel dan adat istiadat. Banyak hal yang membuat ia harus bersabar dan belajar.
Tenang, sabar, mengamati situasi, itu yang harus dilakukan saat ini. Mengalah bukan berarti kalah, ia mundur untuk menang.
Seperti senja, dia tak pernah bohong. Dia akan hadir tepat waktu, meski kadang harus mengalah oleh congkaknya awan hitam.
Arumi menyadari, ia masuk ke sarang penyamun, berusaha berhadaptasi dan membuktikan bahwa ia bisa.
Pukul.21.30 wita.
Dayan Kole dan keluarga sudah pulang, kata-katanya masih terngiang di telinga Arumi, sebuah ancaman mistis.
"Bi, Dayan mengancamku, dia akan melakukan sihir jika aku melawannya."
"Hmm...bibi sudah punya firasat. Nyonya Ida itu jahat, makanya tidak punya anak. Harusnya mereka melindungimu sebagai orang lebih tua. Tapi niat berbuat baik tidak ada, mereka baik karena kamu kaya dan bermanfaat."
"Ini tentang Dayan bi, jangan ghibahin tante Ida, dosa."
"Dayan tidak mungkin pikirannya sampai kesitu, otaknya pasti nyonya Ida. Dia iri padamu, kemaruk harta. Om Yoga sudah disetir, tidak bisa berpikir sendiri. Banci!"
"Ahh..bibi, jangan berpikiran negatif, tidak mungkin tante Ida setega itu. Mungkin Om Yogi cinta, bukan disetir bi."
"Orang-orang itu bibi tahu semua, hanya mamamu yang baik. Pengertian dan tidak sombong."
"Mama adalah malaikat tidak bersayap, aku menyesal tidak bisa mendampinginya saat terakhir "
"Yang lalu biar berlaku, sekarang nona harus lebih hati-hati saja, dunia mafia dan dunia Leak hampir sama. Mereka sadis kalau tidak bisa bawa diri."
"Ya bi, aku perlu belajar banyak."
"Istirahatlah supaya badanmu sehat."
"Bibi duluan ke dalam aku mau disini untuk beberapa jam, lagian belum ngantuk."
"Sebelum jam dua belas harus masuk kamar. Jangan keluar dari lobby."
"Siap bi."
Malam semakin merangkak, suara hewan yang ada di Mini Zoo bersahutan silih berganti. Mereka seolah melihat pencuri. Terdengar suara kuda meringkik dan anjing melolong.
Arumi sangat khawatir kalau salah satu dari binatang itu dicuri orang, apalagi dia tahu binatang-binatang itu mahal harganya.
Sebelum melangkah keluar ia mengamati sekitarnya, rupanya semua pelayan tidak ada. Mungkin mereka malam mingguan.
Arumi mengambil sapu lidi untuk senjata, dan senter, siapa tahu ketemu pencuri. Ia melangkah keluar menuju tempat Buggy.
Jarak antara rumah utama dan Mini Zoo ada satu kilometer. Kesana harus naik Buggy.
Semoga tidak ada pelayan yang tahu kepergiannya. Bathin Arumi.
Ia sering kebelakang, melihat berbagai satwa dan ke taman bunga. Tapi kalau kesana disaat malam, baru sekali ini.
Walaupun gelap Arumi malah senang, ia menghirup udara segar sepanjang jalan. Udara terasa moist, seolah sebentar lagi hujan.
Ketika berada di deretan pohon pepaya Arumi melihat pohon pepaya melintang ditengah jalan. Ia lalu turun mengarahkan senternya, tiba-tiba ia kaget karena pohon pepaya itu tertawa.
"Hahaha...."
"Aagghhhh...."
Arumi ikut teriak, apalagi senternya mati mendadak.
"Kurang ajar!!" bentaknya marah.
Bulu kuduknya seketika berdiri, ia melihat ada sosok besar seperti ogoh-ogoh bergerak mendekatinya.
Arumi naik ke Buggy, berusaha balik pulang. Tapi Buggy malah meluncur kedepan mendekati sosok itu.
"Awass...awasss...berani kau mendekat aku tabrak kauuuu...." ancam Arumi untuk menghilangkan rasa takutnya.
"AAHHHH.....Buggy menabrak sosok itu, tapi "BLAASSS..."
Seperti menabrak angin, dada arumi bergemuruh. Rasa takut menguasai dirinya. Lolongan anjing semakin jelas terdengar.
"Toloonggg....Tolooonggg..."
Arumi berteriak-teriak sepanjang jalan. Untunglah di ujung jalan terlihat ada sinar.
Arumi berusaha ngebut, tapi Buggy terasa berat. Baru dia menoleh kebelakang ternyata sosok ogoh-ogoh yang dia tabrak duduk manis di belakangnya.
"Toolloooongggg.....s*tannnn..."
Arumi meloncat dari Buggy dan berlari kencang. Ia tidak tahu harus lari kemana, tapi untunglah ada rumah di depannya.
"Tolooonggg...."
"Silahkan masuk." kata seorang ibu membuka pintu pagar.
"Bu.uuu...to.long..ada.. s*tan...." kata Arumi terbata-bata. Ia terbatuk-batuk saking kencangnya berlari.
"Duduk dulu, saya siapkan makanan."
"Tidak usah bu, saya masih kenyang." sahut Arumi seraya duduk. Ia mengatur nafas dan berusaha tenang. Udara yang tadi dingin berangsur hangat.
"Kamu boleh beristirahat di kamar sebelah, tapi sebelum tidur minumlah air teh ini." ucap perempuan tua itu sopan.
"Maaf bu, ini dimana?"
Ibu itu tidak menjawab, ia terlihat sibuk bolak balik kebelajang.
Arumi kepo, ia berdiri, ingin tahu apa yang dikerjakan ibu itu. Ia mengendap-endap pergi kebelakang dan mengintip apa yang dikerjakan ibu itu.
Ternyata dibelakang rumah ibu itu ada pesta. Banyak sekali orang, tapi semua berpakaian putih lusuh dan wajah mereka sama, datar dan pucat.
Berbagai macam guling ada di atas meja. Setiap orang dapat satu guling. Dan ada "kuah komoh" semacam d4rah mentah yang dibikin kuah, berisi irisan cabe dan bawang goreng.
Anehnya mereka tidak saling bicara dan tidak ada interaksi. Arumi memperjelas penglihatannya, ia tidak ingin salah lihat.
Tiba-tiba ada angin kencang mendorong tubuhnya ketempat orang-orang itu. Ia tidak bisa melawan dan terjatuh di atas meja batu, di depan patung ogoh-ogoh yang sangat menyeramkan.
"Tolooonggg...." teriak Arumi ketakutan. Tidak ada yang peduli. Mereka asyik makan, minum, dan cuek dengan apa yang dialami Arumi.
"Ibu tolong aku, aku tidak bisa bergerak!!" teriak Arumi kepada ibu yang pertama kali menolongnya.
"Aku tidak bisa menolongmu, sebentar lagi tubuhmu akan diguling dan menjadi santapan orang."
Arumi kaget mendengar ucapan ibu itu. Tiba-tiba ia melihat banyak orang lewat diluar gubuk sambil membawa obor dan memukul kentongan bambu.
Mereka memanggil namanya, padahal Arumi sudah berteriak tapi mereka tidak peduliĺ, seolah tidak melihat dirinya.
Tubuh Arumi seakan terikat di meja altar, ia sulit bergerak dan turun. Ibu tua itu tidak bersedia membantu.
Saat Arumi memandang ogoh-ogoh itu, ia melihat mata ogoh-ogoh besar merah sedang melotot padanya.
Tentu saja ia kaget dan kembali berteriak. Saat itu tangan ogoh-ogoh terangkat dan,
"GERRRR...."
Suara ogoh-ogoh menggetarkan, Arumi sangat takut. Ia tidak bisa berlari.
*****
biasa'a g manjur klu sdh ditarif, cari yg lain aja
koq sri pnya no hp'a
gak di sangka cerita uda habisssss
Sayang nya kenpa anaknya ikutan meninggal yaa
Oke Kak Ay, sukses selalu, ditunggu karyamu selanjutnya