Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERMAIN API DENGAN CINTA BAB 23_TAMU DI BALIK SANGKAR
BERMAIN API DENGAN CINTA
BAB 23_TAMU DI BALIK SANGKAR
Setelah dilemparkan tatapan mengikat yang sarat akan intimidasi sensual dari Maxim, Cinta memutuskan untuk menarik diri perlahan. Dia memundurkan langkahnya, menegakkan punggungnya dengan anggun, lalu berjalan kembali menuju meja oak barunya di sudut ruangan. Begitu mendudukkan diri di kursi kerjanya, senyuman manis di wajahnya langsung memudar, digantikan oleh sorot mata jeli yang dipenuhi oleh kalkulasi dingin.
Cinta menolak untuk diam saja. Jiwa pemburunya terusik hebat oleh frasa 'kucing liar' yang diucapkan Maxim tadi. Dengan gerakan jemari yang lincah dan tanpa menimbulkan suara, Cinta mulai meretas sistem internal komputer kantornya.
Menggunakan keahlian manipulasi digital yang biasa dia gunakan untuk mengelabui target, dia mulai menyusup ke dalam server rahasia yang menyimpan jadwal luar kantor, riwayat perjalanan mobil dinas, hingga daftar reservasi restoran pribadi milik Maxim selama beberapa minggu terakhir.
Cinta bertekad untuk melacak siapa sebenarnya "wanita simpanan" yang telah menahan bosnya bolos seharian kemarin. Cinta harus menyingkirkan saingannya itu agar dia bisa menjadi satu-satunya wanita yang menguasai gairah Maxim demi sisa uang delapan miliar rupiah.
Namun, di tengah kesibukannya menyusun rencana rahasia tersebut, ketukan tegas di pintu kayu mahoni besar memutus konsentrasinya.
Sebelum Cinta sempat bangkit untuk membuka pintu, daun pintu itu sudah terdorong terbuka. Sesosok wanita muda berpenampilan luar biasa elegan melangkah masuk ke dalam ruangan CEO. Wanita itu adalah Nyonya Valen.
Dia mengenakan gaun terusan premium berwarna pastel yang memancarkan aura kelas atas, dengan seuntai kalung mutiara yang melingkar di lehernya. Di tangan kanannya, Valen menenteng sebuah kotak bekal makan siang mewah dari restoran bintang lima.
"Selamat siang, Maxim. Aku sengaja datang untuk membawakanmu makan siang," ucap Valen dengan senyuman manis yang dipaksakan di bibirnya, melangkah mendekati meja marmer hitam milik suaminya.
Cinta yang duduk di sudut ruangan langsung menghentikan aktivitas komputernya. Dia menegakkan tubuhnya, mengamati interaksi sepasang suami istri itu dengan cermat. Kedatangan Valen yang tiba-tiba ini murni untuk mengecek sejauh mana progres misi Cinta dalam mendekati Maxim.
Namun, pemandangan yang tersaji di depan mata Cinta berikutnya mendadak memicu kejanggalan yang luar biasa aneh.
Begitu Valen meletakkan kotak bekal itu di atas meja, Tuan Maxim bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar monitor komputernya. Wajah tampan sang CEO tampak begitu datar, dingin, dan benar-benar acuh tak acuh. Pria itu mengabaikan keberadaan istrinya seolah-olah Valen hanyalah seonggok benda mati yang mengganggu ketenangannya.
"Letakkan saja di sana. Aku sedang sibuk," jawab Maxim dengan suara baritonnya yang sangat rendah, datar, dan sedingin es, tanpa ada riak emosi sedikit pun.
Cinta menahan napasnya samar, keningnya berkerut dalam di balik meja oaknya. Aneh sekali... batin Cinta mulai curiga. Keraguan baru yang sangat besar mendadak menghantam logikanya.
Hari pertama mereka bertemu di kafe hotel, Valen menangis dan memohon bantuan sambil mengatakan bahwa Maxim adalah pria yang sangat posesif, gila kendali, menyadap ponselnya, dan terobsesi padanya hingga membuat hidupnya seperti di neraka.
Tapi hari ini, Cinta menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa dingin, tidak peduli, dan acuhnya Maxim terhadap istrinya. Tidak ada sedikit pun kilat obsesi atau kepemilikan di mata Maxim untuk Valen.
Kenapa interaksi mereka seperti dua orang asing? Pikir Cinta, matanya menyipit penuh penilaian. Jika Maxim sama sekali tidak peduli pada istrinya, lalu untuk apa dia menyadap dan mengurung Valen secara gila-gilaan? Jangan-jangan... alasan Nyonya Valen ingin cerai bukan karena suaminya posesif? Jangan-jangan ada rahasia keluarga lain yang jauh lebih mengerikan yang sengaja Valen sembunyikan dariku? Kecurigaan berlapis mulai membuat isi kepala Cinta berputar keras mencari titik terang.
Di sisi lain meja marmer, Valen sendiri sebenarnya sedang dilanda badai panik dan kecemburuan yang hebat di dalam dadanya. Saat melangkah masuk tadi, pandangan mata Valen langsung tertuju pada sudut kanan ruangan suaminya.
Valen shock setengah mati saat mendapati sebuah meja kerja baru berbahan kayu oak mewah telah ditata rapi tepat di dalam ruangan CEO, berada hanya berjarak beberapa meter di sebelah meja kebesaran Maxim. Dan di balik meja itu, Cinta sedang duduk manis dengan pakaian kerjanya yang seksi.
Valen mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik gaun mahalnya, mencoba mati-matian menahan getaran di tubuhnya agar tidak terlihat panik di depan Maxim.
Valen sengaja menyewa Cinta dan membayarnya sepuluh miliar agar wanita itu bertindak sebagai umpan sensual untuk mengalihkan obsesi gila Maxim dari dirinya. Namun, Valen sama sekali tidak menyangka bahwa taktik itu akan bekerja secepat ini.
Dia tidak menduga pesona Cinta begitu mematikan hingga mampu meruntuhkan pertahanan Maxim hanya dalam hitungan hari, sampai suaminya yang terkenal egois itu meletakkan meja kerja Cinta tepat di dalam ruangan pribadinya sendiri.
Ada kilat rasa tidak rela sekaligus ketakutan yang aneh berkilat di dalam sepasang mata Nyonya Valen saat dia melirik tajam ke arah Cinta. Dia menyadari, umpan yang dia tebar kini sudah bertumbuh menjadi ancaman nyata yang siap menelan kendali permainan ini dari tangannya.
Valen memutar tubuhnya perlahan, sengaja mengalihkan tatapan matanya dari meja kerja suaminya dan menunjuk ke arah sudut ruangan tempat Cinta berada.
Valen memasang wajah bingung yang dibuat-buat, berpura-pura sama sekali tidak mengenal wanita yang sebenarnya dia sewa itu di depan suaminya.
"Oh... siapa wanita ini, Maxim? Apakah ini sekretaris barumu?" tanya Valen dengan nada suara yang ditinggikan, mencoba memecah keheningan ruangan dengan aktingnya yang rapi.
Maxim menghentikan ketukan jemarinya di atas meja, melirik sekilas ke arah istrinya tanpa ekspresi khusus. "Ya. Dia sekretaris pribadi baruku, Nona Cinta."
Valen melipat kedua tangannya di depan dada, memberikan senyuman tipis yang sangat sinis ke arah meja kerja Cinta. Ada nada cemburu dan rasa tidak rela yang amat pekat yang sengaja dia selipkan di balik suara anggunnya, membuat atmosfer di dalam ruangan tertutup itu semakin memanas.
"Sekretaris pribadi yang sangat istimewa rupanya," sindir Valen tajam, matanya menatap lekat pada kemeja sutra tipis yang melekat di tubuh Cinta.
"Aku baru tahu kalau peraturan baru di Kencana Property Group memperbolehkan seorang CEO meletakkan meja kerja sekretarisnya tepat di dalam ruangannya sendiri. Bahkan jaraknya sangat dekat di sebelah mejamu. Bukankah itu terlalu intim untuk sebuah hubungan profesional kerja, Maxim? Ataukah sekretaris barumu ini memiliki 'keahlian khusus' lain yang membuatmu tidak bisa berpaling sedetik pun darinya?"
Mendengar sindiran pedas yang sarat akan kecemburuan dari mulut Valen, Cinta hanya mempertahankan senyum manis profesionalnya di balik meja oak barunya. Namun di dalam hatinya, Cinta semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sangat busuk di dalam pernikahan bisnis sepasang suami istri ini.
Rasa cemburu Valen terasa terlalu nyata untuk ukuran seorang wanita yang mengaku sangat putus asa dan ingin melarikan diri hidup-hidup dari suaminya yang dianggap monster.
Maxim yang menyadari seluruh pergolakan emosi dan sandiwara di antara kedua wanita di ruangannya, hanya menyunggingkan seringai tipis yang sangat samar dan misterius di sudut bibirnya.
Sepasang mata hitamnya berkilat dengan kegelapan yang pekat. Dia sangat menikmati bagaimana istrinya yang panik dan sekretaris siangnya yang penuh kecurigaan kini saling melemparkan pandangan tajam dalam keheningan yang sarat akan intrik berbahaya ini. Sang penguasa sangkar emas sengaja membiarkan permainan catur psikologis ini bergulir di bawah kuasanya.