Menceritakan seorang pemuda hebat yang hidup di Dunia Sihir. Tapi dia harus mati setelah dihianati oleh suatu kelompok yang telah ia bantu. Meskipun telah mati, rupanya ia bereinkarnasi ke Dimensi Lain setelah jiwanya dan pikirannya masuk ke dalam tubuh seseorang yang masih remaja.
Ternyata, kehidupan di Dunia barunya, bukanlah Dunia Sihir, tepatnya Dunia yang biasa-biasa saja. Tapi ada 1 hal yang membuat dirinya istimewa, yaitu dia bisa menggunakan Sihir.
***
Note : Cerita ini berlatar Multiverse dan Sequel dari cerita 'OVERSOLDIER'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn_Frankenstein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Peter menjalani hari-harinya tanpa beban. Ia sendiri masih diam, meski telah mencurigai satu orang yang bernama Niko yang sudah membayar orang-orang suruhan untuk mencelakainya. Baginya, jika itu memang Niko, maka Niko hanyalah orang yang terlalu sensitif.
Sudah 1 minggu sejak kejadian ia membunuh 2 orang yang kemungkinan orang suruhan Niko. Dan juga setelah hari itu, tak ada gangguan yang datang padanya. Tapi disamping itu, sudah 5 hari Kevin juga tak masuk sekolah, ataupun masuk kerja.
Menurut Peter, ini tidak seperti Kevin sebelumnya. Kalau Kevin mau ijin tak masuk sekolah, atau tidak masuk kerja, pasti Kevin menitipkan surat ijin kepadanya. Sungguh aneh. Pertemuan terakhirnya dengan Kevin saat pulang bersama dari caffe. Tak ada yang aneh.
Mereka berdua sama-sama sampai di kos-kosan dengan selamat. Pagi harinya, Kevin sudah tak ada. kalau biasa pagi-pagi Kevin tak ada, setahu Peter, biasanya Kevin berangkat lebih dulu, karena ingin sarapan untuk mengatasi rasa laparnya.
Jam sekolah pun telah usai, waktunya semua murid pulang sekolah. Dan untuk Peter, ia tak langsung pulang ke kos-kosannya, seperti biasa, ia pergi ke caffe untuk bekerja.
Saat memulai bekerja, manager caffe menanyakan keadaan dan keberadaan Kevin. Ini sudah 5 hari Kevin tak masuk kerja.
"Aku tak tau, dia bahkan tidak masuk sekolah." jawab Peter.
Seorang pria dewasa berumur 30 tahun, dia adalah Manager caffe. Ia tengah memegang dagunya setelah mendengar jawaban Peter. "Begitu ya. Ini tak seperti biasanya."
Peter mengangguk kepalanya. Lalu ia bersuara. "Biasanya Kevin kalau tidak masuk sekolah atau tak masuk kerja, pasti dia menitipkan surat ijinnya padaku."
Manager caffe mengangguk kepalanya. "Ya, aku juga tau hal itu. Ya sudahlah, mungkin aku harus menunggu kabarnya dulu. Memberinya surat peringatan atau tidak, aku akan memutuskannya setelah mendengar alasannya nanti."
Setelah berbicara seperti itu, manager caffe pergi ke ruang kerjanya. Peter hanya menghela nafasnya. Ia tak tau harus berbuat apa, ia juga khawatir kalau temannya kenapa-kenapa.
.....
Hari pun telah malam. Peter dalam perjalanan pulang ke kos-kosnya. Ia berjalan kaki. Tiba-tiba dari arah perlawanan, Peter merasa ada yang tidak beres dengan dengan sebuah mobil sedan hitam melewatinya.
Karena saat mobil sedan itu lewat, ia merasa 1 aura kehidupan yang tak asing baginya. Aura kehidupan itu perlahan meredup. Peter berbalik, dan memerhatikan mobil itu yang sudah menjauh.
Ia merasakan 5 aura kehidupan di dalam mobil itu, dan salah satunya aura kehidupannya meredup seakan mendekati ajal. Karena penasaran, ia segera mengejarnya dan terbang dengan Sihir Anginnya. Wussss...!!
Peter kini terbang di langit, yang mungkin jaraknya 100 meter dari permukaan tanah. Ia kini menatap sebuah mobil sedan yang mencurigakan baginya.
.....
Hari sudah semakin malam, tepatnya sudah akan tengah malam. Sudah hampir 2 jam lebih Peter terbang mengikuti mobil sedan mencurigakan itu. Mobil itu masih belum berhenti melaju. Yang anehnya, kenapa mobil itu berjalan menjauhi kota ?
Beberapa lama kemudian akhirnya, mobil itu telah berhenti. Peter melihat mobil itu berhenti di tempat sepi, tepatnya hutan lebat yang jauh dari pemungkiman. Posisi Peter kini melayang di udara.
Ia penasaran apa mereka dari anggota mafia. Dan benar saja, 4 orang laki-laki berbadan besar yang mengenakan pakaian formal keluar dari mobil. Salah satu dari mereka membuka bagasi mobil.
Peter membeku melihat sosok pemuda terikat di kedua tangan dan kedua kakinya. Dari penampilannya, keadaan pemuda itu babak belur, banyak noda darah yang menempel di seragam sekolahnya.
2 Dari ke-4 laki-laki berbadan besar itu, membawa pemuda berseragam SMA itu. Mereka berjalan membawanya mendekati sebuah jurang disana. Tunggu !! Seragam sekolah ?
Peter memperhatikan wajah pemuda berseragam SMA itu. Kedua Peter terbelalak melihatnya. Rasa amarah pun muncul pada dirinya. Tanpa rencana apapun, ia langsung terbang melesat mendekati mereka dengan cepat.
BUGH..!!
Peter langsung memberikan pukulan keras salah satu dari mereka. Tentu saja, tindakannya membuat mereka bertiga terkejut. 2 orang yang membawa pemuda berseragam, segera meletakannya di tanah dengan kasar.
Mereka bertiga maju bersama untul menyerang pemuda asing yang tiba-tiba muncul, yang tak lain adalah Peter.
Peter tak menghindar. Ia langsung memberikan hantaman angin dari kedua tangannya. 3 laki-laki berbadan besar itu terkejut bukan main.
Ketiga orang itu terkena hantaman Sihir Angin milik Peter. Mereka bertiga terdorong dan terjatuh tergelusur di tanah. Peter mengabaikan mereka semua. Ia berjalan cepat ke pemuda berseragam SMA yang geletak di tanah.
"Kevin !!"
Ya, pemuda berseragam itu yang tak lain ada Kevin. Ia segera melepas ikatan di kedua tangan dan kedua kakinya sahabatnya. Ia memangku kepala Kevin di pahanya.
"Kevin, bangun..!! Bangunlah...!!"
Peter memeriksa tubuh Kevin, dan rupanya ada pisau yang masih tertusuk di bagian perut. Mungkin karena inilah Kevin masih bertahan, karena darahnya tak mengalir deras.
Dan sialnya, Peter tak memiliki Sihir penyembuh. Perlahan kedua mata Kevin terbuka. Ia melihat Peter yang sudah ada di hadapannya. Ia tersenyum.
"Te-terimakasih, Pe-Peter. Ka-kamu mau berte-teman denganku." ucap Kevin terbata-bata, dengam nada lirih.
"Jangan berbicara, tetaplah sadar, aku akan membawmu ke rumah sakit." Peter menjawab dengan sedikit tegas dan panik.
Dengan perlahan, kepala Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ti-tidak perlu, a-aku sudah siap maut menjemputku."
Peter menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan berbicara yang tidak-tidak !! Kalau kamu mati, bagamana dengan kedua orang tuamu ? Kamu harus bertahan demi..."
Kata-kata Peter terpotong oleh Kevin. "Ke-kedua orang tuaku, sudah mati."
Peter terdiam. Kevin melanjutkan kata-kata, dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca. "Ke-kedua orangku, sudah ditangkap. Mereka be-berdua sudah lebih dulu pergi meninggalkanku."
Peter masih terdiam. Kevin bersuara lagi. "Biarkan a-aku mati. A-Aku ingin menyusul orang tuaku." setelah mengatakan itu, Kevin menutup kedua matanya.
"Kevin bangun, bangunlah..!! Jangan tinggalkan aku, kamu hanyalah satu-satunya sahabatku, Kevin...!!" ucap Peter panik sambil menepuk pipi sahabatnya.
Percuma, sahabatnya takkan bangun, karena ia sudah benar-benar mati. Arwahnya sudah tak berada di tubuhnya. Dengan perlahan Peter memindahkan kepala Kevin di tanah.
Peter berdiri di hadapan Kevin yang sudah menutup mata dan tak bernyawa. Lalu pandangannya beralih ke arah 4 laki-laki berbadan besar yang sudah berdiri mendekatinya, meski cara berjalan mereka tertatih-tatih.
"Sepertinya kamu sahabatnya. Karena kamu sahabatnya dan sudah tau apa yang kita lakukan, kita takkan membiarkanmu hidup." kata dari salah satu dari mereka.
"Kita tak tau, kemampuan apa yang kamu pakai, apapun caranya, kita harus menghabisimu." tambahnya.
Tidak menjawab, Peter langsung terbang ke arah mereka berempat. Belum sempat terkejut melihat Peter bisa terbang ke arah mereka, saking cepatnya Peter terbang, 2 dari 4 laki-laki berbadan besar, tangannya Peter sudah mencengkram wajah mereka berdua.
___________
Jangan Lupa Like.
ternyata kalo tdk dijdkan favorit/masuk rak buku, malah like yg sebelumya hilang semua..