NovelToon NovelToon
Mas Sekdes I Love You

Mas Sekdes I Love You

Status: tamat
Genre:Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:33.2k
Nilai: 5
Nama Author: Budy alifah

Masa muda Aruni Larasati yang damai mulai terusik ketika dia dijodohkan dengan Panji Mahendra anak sahabat orang tuanya.

Aruni mendadak disebut pelakor karena hadir diantara Panji dan pacarnya.

Panji mengajukan perjanjian kontrak pernikahan selama satu tahun. Setelah satu tahun mereka akan cerai. Untuk menutupi kesepakatan itu mereka tetap satu rumah. Namun, pisah ranjang.

Akankah mereka cerai atau justru saling jatuh cinta?



Untuk tahu kisahnya, yuk intip lalu baca Mas Sekdes I love you

Jangan lupa Like, komentar, vote 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budy alifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Aruni menarik kopernya menuju pintu keberangkatan, dia semangat untuk jalan-jalan. Dia mengesampingkan dengan siapa dia pergi, yang penting dia bisa bersenang-senang. Aruni membuka kaca matanya saat melihat Panji menggandeng Desti.

“Kenapa lo nggak senang?” ucap Panji dingin melihat tatapan kesal Aruni kepadanya.

Aruni hanya melirik lalu check in dan meninggalkan mereka berdua. Tidak memperdulikan mereka berdua, yang penting dia liburan.

Mereka tiba di Bali setelah terbang kira-kira satu jam lebih dua puluh lima menit. Mereka langsung menuju ke hotel yang sudah di pesan oleh Ismara. Panji menambah satu kamar lagi untuk Desti.

“Mas, kamu pesan kamar buat aku?” tanya Desti.

“Iya, kenapa?”

“Kamu mau tidur sama dia?” tunjuk Desti dengan mulutnya yang meruncing.

Panji baru sadar kalau mamanya pesan satu kamar saja berarti dia akan sekamar dengan Aruni.

“Loh, memangnya kenapa kalau kita tidur sekamar. Gue sama dia kan suami istri yang sah,” ledek Aruni.

“Sayang!” seru Desti dengan melipat kedua tangan di dadanya.

“Nggak sayang, kamu tidur berdua sama Uni,” Panji mengubah formasi tidur mereka.

“Enak aja, gue nggak mau. Gue aduin aja kali sama mama,” ancam Aruni.

“Aruni jangan macam-macam lo!” Panji balik mengancam Aruni.

Desti maju di depan Panji sehingga berhadapan dengan Aruni.

“Heh, pelakor! Lo jangan rese ya,” Desti mendorong Aruni.

“Pelakornya itu lo, bukan gue. Gue punya buku nikah tapi lo?” ejek Aruni.

Desti menggenggam tanganya erat, dia kalah telak. Dia hanya punya cinta, tapi Aruni memiliki benda yang bisa membuatnya bersama.

“Sudahlah, nggak usah sedih begitu. Karena gue baik, biarkan gue tidur sendiri. Kalian tidur saja berdua.” Aruni menarik kopernya menuju ke kamarnya.

Dia tidak peduli Panji dan Desti mau tidur bersama atau memesan kamar lagi. Yang pasti dia aman kalau ditanya mamanya nanti. Karena yang akan terus dalam masalah yaitu Panji.

*****

Aruni masuk ke kamar, dia membuka tirai melihat pemandangan hotel yang langsung ke pantai. Aruni tersenyum melihat hiasan di atas kasur yang penuh dengan bunga.

Sayangnya dia datang bukan untuk honeymoon sehingga keromatisan tempat itu hanya dia sendiri yang merasakan.

Aruni mengecek kamar mandi, seperti tebaknya pasti akan banyak taburan mawar merah.

“Baiklah, gue akan datang kembali ke sini sama suami gue,” ujarnya sembari memainkan tangan di air mawar.

Aruni beranjak dari bathup mendengar pintu kamarnya di ketuk. Panji langsung nyelonong masuk saat pintu terbuka setengah.

“Eh,eh, lo ngapain ke sini?” Aruni jalan mengekor Panji.

Panji membalikan badan tiba-tiba, untung saja Aruni bisa mengerem kalau tidak dia bisa menabrak tubuh atletis Panji.

“Kalau gue tidak satu kamar sama lo, nanti pasti lo akan telpon mama dan ngomong macam-macam,” tandasnya sembari menuju ke kasur.

“Alasan aja lo, ngomong aja lo modus mau tidur sama gue,” ledek Aruni. Dia berjalan mendekati Panji.

“Apa? Gue modus?” Panji menunjuk dirinya sendiri lalu tertawa. “Kayak nggak ada yang lain aja,” wajahnya langsung berubah datar.

“Kasur ini buat gue, lo tidur aja di sofa,” kata Aruni.

Panji hanya diam, dia menaruh koper lalu pergi lagi. Meskipun dia satu kamar dengan Aruni sebelum tidur dia akan menemani Desti dulu.

*****

Hari pertama tidur satu kamar dengan lancar, sesuai dengan kesepakatan awal. Aruni yang baru saja membuka matanya, sedangkan Panji sudah rapi hendak jalan-jalan dengan Desti.

“Lo jalan-jalan aja sendiri, gue mau sama Desti,” ujarnya seraya mengambil tas kecil miliknya.

Aruni menggaruk kepala bagian belakang, lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur. Dia meneruskan tidurnya, Aruni masih malas beranjak dari ranjangnya.

“Dasar kebo, jauh-jauh sampai Bali cuma buat tidur,” komentar Panji.

Panji melebarkan kedua matanya melihat Aruni masih di atas ranjang berbalut dengan selimut persis seperti saat dia hendak pergi. Dia terheran-heran dengan istri kontraknya, yang betah seharian tidur.

“Dia nggak mati kan?” ujarnya sembari mendekati Aruni. Panji mengecek napas Aruni dengan mendekatkan telunjuknya di hidung Aruni.

Panji bernapas lega mengetahui Aruni yang masih bernapas.

“Hibernasi kali ini cewek gila, seharian nggak beranjak dari kasur,” celoteh Panji yang membuat Aruni menggeliat.

Panji bergegas menuju sofa mengetahui Aruni yang mulai membuka kedua matanya. Aruni merenggangkan kedua tangannya lalu pergi ke kamar mandi tanpa bicara sepatah kata pun.

“Bisa ya begitu. Gue segede gini nggak dianggap?” Panji mengerutkan keningnya.

Aruni mondar-mandir di kamar masih tanpa bicara dengan Panji. Melakukan aktivitasnya dari memilih baju sampai dengan make up.

“Mas, kamu sudah mandi?” Aruni menoleh ke arah Panji setelah hampir satu jam hanya sibuk dengan dunianya.

“Belum,” jawabnya sembari menggelengkan kepalanya.

“Buruan mandi, keburu malam,” suruh Aruni.

“Nanti, capek,” katanya dengan heran dengan Aruni yang ngobrol santai seakan mereka pasangan suami istri yang sebenarnya.

“Buruan, gue sudah lapar,” katanya sembari menghidupkan hairdryer.

“Memangnya kita mau pergi?” tanya Panji dengan suara sedikit keras agar terdengar.

“Gue mau makan.”

“Makan aja sendiri, gue udah makan sama Desti,” katanya membenarkan posisi tidurnya. Dia sibuk memaikan ponselnya.

“Ok,” jawab Aruni sembari mengambil tas.

Aruni bergegas untuk keluar karena perutnya sudah keroncongan. Aruni belum makan sejak pagi, dia bangun hanya untuk salat dan kemudian tidur lagi. Pikirnya kapan lagi bisa tidur seharian tanpa gangguan.

Malam ini Aruni akan menghabiskan dengan makan dan jalan-jalan di area terdekat saja. Dia sudah memesan tour guide setelah tahu perginya bareng Desti. Tentu saja Panji tidak akan mau pergi bersamanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00, Panji mulai cemas karena Aruni belum juga pulang. Dia melihat ponselnya, dia hendak telepon tapi gengsi. Dia tidak mau nanti Aruni berpikiran macam-macam kalau tahu dia mencemaskannya.

Mendengar suara pintu terbuka Panji pura-pura sudah tertidur. Dia melihat Aruni yang membawa lumayan banyak tentengan.

Dasar cewek, pergi cuma buat belanja saja.

Aruni menaruh bawaanya lalu mendekati Panji untuk membenarkan selimutnya yang berantakan. Dia memandang sekilas wajahnya yang terlihat manis kalau tidur.

Setelah bebersih Aruni masih sibuk memainkan ponselnya, bibirnya tersenyum saat ada panggilan masuk.

“Halo Ma,” sapa Aruni yang membuat Panji membuka lebar kedua matanya.

“Halo sayang, kamu belum tidur?” tanya Ismara.

“Belum Ma, Uni baru saja selesai bebersih.” Aruni masuk ke dalam selimutnya.

“Panji mana?” tanya Ismara.

Jantung Panji berdetak tidak karuan, takut kalau Aruni mengadu tentang semuanya. Pasti sampai rumah akan ada perang besar antara dirinya dan mamanya.

“Mas Panji sudah tidur,” Aruni mengarahkan ke arah sofa.

“Loh, kok Panji tidur di sofa?”

Aruni menepuk keningnya. “Ah iya Ma, tadi Mas Panji tungguin Uni mandi. Kayaknya kelamaan sampai ketiduran. Uni tidak kuat mengangkat Mas Panji, mau di bangunin kasian,” Aruni mengarang cerita dengan baik.

“Kalian nggak sedang marahan kan?”

“Nggak Ma, Uni sama Mas Panji baru aja pulang jalan-jalan.”

“Oiya.”

“Iya, kita jalan-jalan ke banyak tempat. Dari pagi sampai malam, jadi Mas Panji pasti capek sekali. Oiya Ma, Uni beliin oleh-oleh loh buat mama sama papa,” Aruni turun dari ranjang menunjukkan oleh-oleh.

“Makasih menantuku sayang, kamu itu sebenarnya nggak usah beliin mama sama papa apa-apa. Cukup kasih cucu yang banyak aja,” kata Ismara yang buat Aruni mukanya memerah.

Maaf Ma, untuk yang satu itu Uni tidak bisa memberikanya.

Aruni mematikan sambungan teleponnya setelah hampir setengah jam mengobrol sama Ismara. Sepanjang kepergiannya ke Bali dia lebih banyak ngobrol sama mertuanya.

Mendengar percakapan Aruni dan mamanya membuat Panji merasa tidak enak. Dia sudah sibuk sendiri, bahkan dia belum kepikiran tentang keluarganya di rumah. Sedangkan Aruni jauh lebih memperhatikan keluarganya.

Padahal dia tidak memperlakukannya dengan baik, untuk sedekar menemani mencari makan saja dia tidak mau.

1
Holipah
cepat banget 😅
aira aira
yey
Nia Nara
Kalau perempuan pinter, tetep minta putus aja lah. Apa gak malu kalau sampe ketahuan orang punya hubungan sama suami orang ? Kan orang2 gak tau kalau mereka nikah kontrak. Iya kalau tetep nikah kontrak, kalau ternyata jadi betulan bukannya sia2 waktu terbuang 1 tahun ? Bucin boleh bego jangan.
Retno ataramel
nah loh jangan sampe oleng panji
Retno ataramel
ih gemes pingin tak becek becek si panji
Retno ataramel
semangat up yg banyak thor
Retno ataramel
nah lo dag diddug
Xyezon
iya uni buang aja sipanji ringan tangan pula

tapi kalo dari judulnya kan mas sekdes i lv u,

aaahhh semoga othor berbaik hati mendatangkan sekdes lainya yg lebih ganteng n mapan buat uni
Retno ataramel
tinggalin panji uni
Retno ataramel
lah gantung
Retno ataramel
kurang banyak up nya thor
Muhammad Azzam fhathurohman
bagus
Retno ataramel
mendingan sama bayu
Retno ataramel
ga jelas ni panji laras
Retno ataramel
lanjut thor seru ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!