JANGAN DIBACA! KALAU TIDAK AMU SAKIT KEPALA. TULISAN MASIH ANCUR, BANYAK TYPO DAN NARASI YANG TIDAK SESUAI.
SEDANG DALAM TAHAP PERBAIKAN
Nayrela Louise dan Rory Ace Jordan. sepasang kekasih yang akhirnya bisa menikah. Mereka berpikir kehidupan bahagia mereka akan di mulai, namun siapa sangka mereka masih harus menghadapi hal lain di luar dugaan mereka.
Sosok baru yang hadir dan mencintai mereka seolah menguji cinta mereka. Akankah Nayrela berpaling dan mengkhianati pernikahan mereka? atau justru Rory yang akan berpaling?
Apakah cinta mereka akan tetap utuh dan tetap setia pada cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15.Permintaan dari Agensi
"Apa yang pihak agensi minta dari kalian?" tanya Nayla.
'CIIITTTTT,,,,,!!!'
Suara decit ban yang bergesekan dengan aspal akibat Martin menginjak rem secara mendadak sukses membuat Nayla tersentak maju hingga membentur kaca depan mobil.
"Aauhh,,," erang Nayla yang segera mengosok dahinya.
"Aku menolak tawaranmu untuk bunuh diri Martin," decak Nayla kesal.
"M-Maaf,, maaf,," sesal Martin segera melepas seatbelt dan memeriksa keadaan Nayla.
"Apakah terasa sakit?" tanya Martin mengosok pelan dahi Nayla yang baru saja terbentur.
"Haiss,,," desah Nayla menepis tangan Martin.
"Apakah ini caramu mengingatkan aku untuk memasang seatbelt?" tanya Nayla masih memegangi dahinya.
"Tidak, bukan begitu," sanggah Martin. "Pertanyaanmu membuatku terkejut, jadi tanpa sadar aku menginjak rem," terangnya.
"Jadi, itu salahku?" sambut Nayla menyipitkan matanya.
"Aku tidak mengatakan itu salahmu," jawab Martin mengibaskan kedua tangannya dengan panik.
"Aku hanya mengatakan aku terkejut," sambungnya.
"Dan itu karena aku, bukankah begitu?" balas Nayla bertanya. "Itu bahkan terdengar sama," imbuhnya.
"Uhh,, itu,, aku minta maaf, aku sungguh tidak bermaksud untuk melakukannya," sesal Martin.
"Sudahlah, lanjutkan saja perjalanannya," sambut Nayla.
Setelah mengatakan itu, Nayla memasang seatbelt dan kembali menghadap ke jalan yang ada didepannya, membuat Martin tidak memiliki pilihan lain selain kembali menjalankan mobilnya.
"Jadi, apa kau tidak ingin mengatakannya?" tanya Nayla setelah beberapa saat terdiam.
"Aku penasaran, dari mana kamu bisa tau jika ini menyangkut agensi?" tanya Martin melempar pertanyaan.
"Kepalamu itu trasnparan, Martin. Apakah hal aneh jika aku tau apa yang kamu pikirkkan?" jawab Nayla tanpa beban.
"Kenapa hanya aku yang bisa kau tebak dengan seakurat itu?" keluh Martin.
"Kenapa kau tidak jawab saja pertanyaanku alih-alih melemparkan pertanyaan yang sangat jelas kamu sedang berusaha menghidar disaat kamu sudah tersudut?" tukas Nayla.
"Haahhh,,,," desah Martin.
"Baiklah, aku akan katakan, tapi penjelasannya akan ku katakan nanti saat kita tiba di sana. Mereka juga harus mendengarnya," ucap Martin.
"Apa inti dari masalah ini?" tanya Nayla mengerutkan keningnya.
"Agensi meminta kamu kembali bernyanyi bersama mereka," ungkap Martin.
"Apakah itu lelucon?" sambut Nayla segera menghadap kearah Martin yang duduk disampingnya.
"Pernakah aku bercanda jika itu berkatian dengan kalian?" jawab Martin balas bertanya.
"Tidak,,," jawab Nayla masih tetap menatap Martin dengan harapan ia akan mendengar Martin mengatakan itu hanya bercanda.
"Kenapa aku?" tanya Nayla memalingkan wajahnya.
Martin melirik Nayla sekilas, ekspresi kesal yang sedang ditahan dengan sangat baik namun cukup bagi Martin untuk tau apa artinya.
Tidak suka?
Jelas saja, Martin memahami sikap Nayla jika mendengar apa yang ia katakan tidak akan menyukainya. Namun, ia juga memiliki penjelasan dibaliknya, dan akan mengatakannya setelah mereka tiba di Bâtiment.
"Tolong jangan marah dan menarik kesimpulan lebih dulu, aku akan jelaskan nanti, okey?" harap Martin.
Nayla kembali melirik Martin yang masih fokus mengemudi, namun sesekali melirik kearahnya untuk melihat reaksinya. Nayla menghela nafas panjang dengan anggukan pelan kepalanya sebelum berkata.
"Baiklah," jawab Nayla pelan.
Martin tersenyum penuh penghargaan, sangat berterima kasih karena Nayla bisa menyikapi hal itu dengan tenang. Hingga mereka tiba di Bâtiment dimana semua temannya telah menunggu. Mereka segera berkumpul diruang biasa mereka bersantai bersama.
"Kenapa dengan dahimu?" sambut Rory begitu Nayla tiba.
"Terbentur," jawab Nayla singkat.
"Terbentur?" ulang Rory dengan kening berkerut.
"Abaikan ini untuk saat ini, sekarang biarkan Martin
bicara," tukas Nayla cepat.
Rory menghela nafas panjang dan menatap Martin, mengangguk pelan tanda meminta Martin untuk bicara.
"Pihak agensi menyukai lagumu, Nay. Dan mereka ingin meluncurkan lagumu dengan kamu juga ikut bernyanyi bersama mereka (Menunjuk Rory dan tim)," papar Martin memulai.
"Kenapa? Apa alasan mereka memintaku juga ikut mengambil bagian dalam lagu?" tanya Nayla dengan nada tidak suka.
"Bukankah sebelumnya mereka hanya meminta lagu saja dan kalianlah yang menyanyiaknnya?" imbuhnya.
"Tentu saja mereka tidak memaksamu, itu sebabnnya mereka ingin membicarakan ini denganmu secara langsung," jelas Martin.
"Maksudmu, mereka ingin agar aku menemui mereka?" tanya Nayla.
"Ehm,, tidak persis begitu, namun lebih tepat dikatakan, mereka meminta waktumu agar mereka bisa bertemu langsung denganmu,"
"Jika kamu keberatan menemui mereka, maka mereka yang akan menemuimu dan itu artinya mereka akan mengikuti kapan kamu bersedia membicarakan ini," terang Martin.
"Pikirkan ini tanpa melihat kami, Nay," saran Thomas.
"Kau sudah terlalu banyak melakukan hal yang bertentangan dengan hatimu hanya karena memikirkan karir kami. Untuk kali ini, pikirkan tentangmu juga," timpal Kevin.
"Bisakah kita membicarakan ini setelah kalian kembali dari tour saja?" pinta Nayla.
"Aku akan menyampaikan ini pada mereka," sambut Martin.
"Uhm,,,, Apakah mereka akan tersinggung jika aku mengatakan itu?" tanya Nayla sedikit was-was.
"Konyol," sambut Rory segera meletakkan telapak tangannya dipuncak kepala Nayla.
"Sebaliknya, dengan kamu mengatakan akan memikirkannya saja, sudah cukup membuat mereka senang," hibur Rory.
"Aku sependapat," timpal Ethan.
"Jika kamu merasa tidak nyaman melakukannya, maka jangan lakukan. Tolak saja dan mereka akan mengerti," lanjutnya.
"Aku belum selesai," sela Martin.
Seketika semua tatapan tertuju pada Martin, menunggu apa yang ingin dia sampaikan.
"Mereka mengundangmu dalam acara pertemuan malam ini," papar Martin.
"Ingat," tekan Martin sembari mengangkat tangannya.
"Hanya pertemuan, jangan memberiku tatapan intimidasi kalian," gerutu Martin langsung membaca pikiran teman-temannya.
"Bertemu, saling sapa, menghormati tuan rumah (pihak yang memberi undangan) yang mengundang dan selesai," Martin menjelaskan diakhiri dengan menyatukan telapak tangannya.
"Mereka ingin kembali bertemu denganmu setelah terakhir kali mereka bertemu hanyalah saat pernikahan kalian berdua, hanya itu, dan akan ku pastikan tidak ada sorotan media,"
Martin menjelaskan sedetail mungkin, menghindari penyelaan yang hampir terjadi dengan terus berbicara hingga mereka yang berdiri didepannya menelan kembali kata-kata yang akan mereka katakan.
"Apakah acara itu diadakan karena lusa kalian akan berangkat?" tanya Nayla.
Pertanyaan Nayla justru menghadirkan senyum kaku diwajah mereka. Tidak tau bagaimana mereka harus memberikan jawabannya. Bahkan Nayla tinggal di Bâtiment dalam beberapa hari terakhir karena ingin bersama mereka sebelum mereka semua pergi tour.
"Aku tidak ingin merusak suasana, tapi memang itu seperti yang kamu pikirkan, Nay," jawab Thomas pada akhirnya memecah keheningan.
"Kalau begitu, aku mau datang," jawab Nayla.
"Kau yakin?" tanya Rory memastikan.
"Ayolah,,, bukankah aku tidak datang sendirian? Kenapa kalian terlihat begitu cemas?" cecar Nayla.
"Baiklah," jawab Martin.
"Kalian bisa istirahat sebentar sebelum kita berangkat, kita berangkat jam delapan malam dan untuk besok kalian tidak perlu latihan," sambung Martin.
Mereka menanggapi hanya dengan anggukan singkat tanpa suara. Senja yang meninggalkan sinar redup dari mentari yang semakin tengelam seolah turut menengelamkan pikiran mereka di pikirannya masing-masing.
Nayla melangkah gontai menuju kamar diikuti Rory dibelakangnya serta mereka yang juga menuju kamar masing-masing dilantai yang sama.
"Ma Chérie,,," panggil Rory setelah ia menutup pintu kamar.
"Uhm,,,," sahut Nayla tanpa menoleh.
Nayla berjalan menuju meja komputer. Entah apa penyebabnya, ia merasakan sesak di hatinya. Betapa waktu sangat cepat berlalu, dimana ia merasa seperti baru kemarin Martin mengatakan mereka akan pergi tour bulan depan, dan kini telah berubah menjadi lusa dengan begitu cepat.
Tangan Nayla yang semula ingin menyalakan komputer terhenti diudara dan segera menarik tangannya kembali lalu berbalik.
"Tenanglah,,,!" ucap Rory menangkap lengan istrinya saat Nayla akan menghindarinya.
Tatapan mereka terkunci satu sama lain dalam keheningan. Dalam situasi itu, Rory menelisik kedalam manik mata istrinya.
"Aku sudah curiga sejak kemarin karena sikapmu mendadak aneh dan aku memilih diam kerena tidak ingin mendesakmu. Tapi, jika kamu terus seperti ini, apakah kamu akan terus berpikir bahwa aku tidak menyadarinya?" tanya Rory.
"Aku hanya tidak menyangka waktu berjalan sangat cepat, dan aku tidak ingin mengunakan waktuku tanpa kamu berada didalamnya, apakah itu salah?" balas Nayla melempar pertanyaan.
Dengan sekali sentakan ringan, Rory menarik tangan istrinya hingga masuk kedalam dekapannya. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nayla.
"Kau tau?" ucap Rory dengan jeda sesaat membuat Nayla menatap suaminya dengan antisipasi.
"Entah kenapa aku lebih menyukai pengoda kecilku dibandingkan dengan apapun," ucap Rory dengan seringai lebar diwajahnya.
Nayla menelan ludahnya, sejujurnya ia merasa tersudut, namun posisnya tidak bisa membuat ia bergerak bebas untuk melarikan diri dari suaminya. Dengan mengatur ekspresi wajahnya, Nayla tersenyum tipis membalas tatapan suaminya yang menatapnya dengan intens.
"Begitukah?" sahut Nayla melingkarkan kedua tangannya dileher suaminya.
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak tumpahkan saja apa yang ada di dalam pikiranmu?" tantang Nayla.
Nayla tidak melepaskan suaminya dan tidak membiarkan sang suami mendominasi dirinya.
"Jangan harap kamu bisa menarik kembali ucapanmu," sahut Rory segera menarik tangan istrinya menuju kamar mandi.
Mereka menghabiskan banyak waktu didalam kamar mandi dengan berendam. Gerakan Rory saat mengosok punggung istrinya terhenti ketika tangannya menyentuh bekas luka yang berada di pinggang Nayla.
Sekelebat bayangan ketika Nayla mendapatkan luka itu seolah terputar lagi didepan matanya, membuat ia terpaku ditempatnya dengan tangan terus berada diatas bekas luka yang masih bisa ia rasakan dengan jari tangannya. Bahkan ketika Nayla memanggil namanya dalam rintihan menahan sakit kembali terdengar ditelinganya.
'Roy,,,'
'Roy,,, '
To be Continued,,,,
terimakasih kak Zira 🙏🙏🙏
semoga selalu sehat dan bahagia 🤲🤗
terima kasih kaka..
ikut bantu koreksi Thor🙏
tahu ngga Noel , penelitian tentang literasi anak2 di Indonesia khususnya minat membaca buku itu cuma 0,01 % . dan mungkin kamu salah satu dari 0,01% itu. 👍👍👍