Mitos dilangkahi adik perempuan menikah, merupakan momok yang menakutkan bagi Bening Embun Pagi. Belum lagi anggapan orang-orang yang akan melabelinya sebagai perawan tua, begitu menkutkan baginya.
keadaan yang membuatnya sangat terdesak ini, membuat Bening akhirnya, mengambil jalan pintas, dengan menjebak pria incarannya di coffee shop miliknya.
Sayangnya penjebakan itu berujung petaka bagi hidup bening, pria yang masuk dalam jebakannya bukanlah pria idamannya melainkan seorang pengusaha perkebunan teh asal Kota Kembang Bandung yang terkenal dengan sifatnya yang arogan.
Bagaimanakah nasib Bening selanjutnya? apakah ia akan menikah dengan pria idamannya atau justru terjebak pernikahan dengan pria arogan yang masuk perangkapnya?
Cerita selengkapnya hanya ada di novel Salah Sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Surya mengendari kendaraannya menuju sebuah rumah yang tak jauh dari butik tempatnya membeli pakaian untuk istrinya. Tak sulit bagi surya untuk menemukan rumah itu, bagaimana tidak ia lahir dan tumbuh besar di kota kembang jadi sudah pasti ia hafal seluk beluk kota tersebut.
Ketika Surya mengetuk pintu, pintu di buka oleh seorang pria bertubuh terlalu besar untuk pakaian yang di kenakannya. Kausnya terlalu ketat dan pendek hingga sedikit bagian perut dari pria itu terbuka.
Pria itu menyapukan tangannya ke celemeknya. "Tuan Magenta?" ia terlihat terkejut dengan kedatangan Surya.
"Apa kau koki di Ngariung Restoran?"
Pria itu mengangguk. "Ya, saya pemilik sekaligus juru masak di sana," jawabnya, mendadak ada raut kesediah melintas di wajah pria itu. "Tapi sayangnya restoran itu sudah tutup sebulan yang lalu karena saya kehabisan modal."
"Kalau begitu bekerjalah di rumahku," ucap Surya datar. "Aku butuh juru masak yang baru, juru masakku yang lama sebentar lagi pensiun."
Wajah pria itu menganga menatap Surya.
"Aku sangat tegas dalam soal makanan, semua makanan yang tersaji di meja makan bukan hanya sehat tapi tentunya enak untuk di makan. Apa kau sanggup melakukannya?"
"Sa.. Saya?" tanya pria itu seolah tak percaya.
"Ya, kau. Aku akan memberimu bayaran yang sangat besar."
Pria itu memandangi Surya lekat-lekat, pupilnya menatap tajam. "Kalau boleh saya tahu, kenapa saya?"
Surya mengedikan bahu. "Kenapa bukan kau?"
Pria itu mengerutkan keningnya. "Kalau begitu berapa bayaran yang akan saya terima?"
Surya sama sekali tak punya bayangan untuk gaji seorang juru masak yang masih dalam tahap percobaan. "Lima puluh juta."
Bagi pria yang tengah membutuhkan uang untuk pengobatan istrinya, tentu tawaran yang di berikan Surya terasa bagai angin segar baginya. "Kapan aku bisa mulai bekerja?" tanyanya tak sabar.
"Besok pagi, kau bisa datang ke kediamanku." Surya tak perlu memberi tahukan dimana ia tinggal karena semua penduduk asli kota ini pasti mengetahui kediamannya, ia tersenyum melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah juru masaknya yang baru.
Senang rasanya, Surya bisa memberikan Cinta untuk istrinya sebagai asisten pribadi Bening, ia tak sabar melihat ekspresi istrinya saat nanti wanita itu tahu Cinta bisa bekerja dengannya.
...****************...
Pulang larut malam membuat Surya bangun lebih siang dari biasanya, ia bergegas keluar dari kediamannya untuk berangkat bekerja. Namun ketika melewati lorong, langkahnya terhenti mendengar suara dari ruang musik.
Bukan alunan musik yang menyenangkan yang terdengar oleh Surya, tapi alunan dengan banyak akor yang salah kemudian langsung di perbaiki. Ia langsung melempar pandangannya pada Toto yang berdiri di belakangnya sembari membawakan tas kerja dan jasnya. "Nyonya Magenta, akhir-akhir ini tengah tertarik pada piano di ruang musik," ujar Toto. "Dia memberitahu bahwa sudah lama sekali dia tak bermain piano."
Surya mengangguk. "Kau carikan saja guru les jika dia menginginkannya." Surya kembali melangkahkan kakinya, sebetulnya ia ingin sekali menghampiri istrinya di ruang musik namun clientnya sudah menunggunya di kantor.
Saat sampai di ruang tamu langkah Surya kembali terhenti, ia melihat susunan vas bunga di letakan berbeda dari sebelumnya, rangkaiannya lebih berwarna dan beragam.
"Setelah sarapan tadi, Nyonya Magenta yang menyusun ini semua," ucap Toto.
Surya menghembuskan napas panjang, ia menekan ketidak nyamanannya melihat warna-warni bunga yang mengganggu pemandangannya.
"Apa Tuan ingin aku merubahnya seperti semula?" tanya Toto yang tentu saja tahu jika Surya membenci ketidak seragaman.
"Tidak," ucap Surya tegas. "Biarkan saja seperti ini, kau katakan saja padanya aku pulang malam sebelum jam makan malam," ia mengambil jas dan tas kerjanya dari tangan Toto kemudian ia masuk ke mobil dan pergi menuju tempatnya bekerja.
...****************...
Malam hari Surya lebih dulu tiba di ruang makan sebelum Bening, tak lama kemudian baru istrinya datang. Bening menggunakan gaun yang di belikan oleh Surya, wanita itu lebih cantik dan anggun dari yang Surya bayangkan ketika melihat gaun tersebut di toko.
Bening tampak terkejut melihat suaminya sudah menunggunya, ia berhenti sejenak di ambang pintu, kemudian menekuk lututnya memberi hormat pada Surya.
"Nyonya magenta," sapa Surya.
"Hmmm," Bening hanya berdeham menjawab sapaan Surya, ia masuk lebih dalam dan menghampiri Toto.
Toto sudah siap dengan segelas anggur untuk Bening, menawarkannya dengan nampan berwarna emas. "Terima kasih," Bening tersenyum manis pada Toto.
Surya yang melihat senyuman manis istrinya langsung menembus dalam dirinya, ia terus memperhatikan Bening sembari duduk di meja makan dan memulai obrolan yang sudah ia hafalkan dalam otaknya. "Bagaimana harimu, Nyonya Magenta?"
Bening mengangkat wajahnya dengan terkejut mendengar pertanyaan Surya yang begitu kaki. "Membosankan."
Surya mengkat alisnya sebelah. "Ku perhatikan kau kembali merangkai bunga di ruang tamu."
"Mamang," sahut Bening sembari mengamati Surya dengan cermat. "Ruang tamumu masih terasa sunyi jadi aku menambah rangkaian bunga agar terlihat menyenangkan."
Ketidakteraturan, terlihat kacau, menyalahi aturan rumah. Surya menggigit steaknya. "Aku lebih suka mawar dengan warna senada tanpa di kombinasikan dengan warna lainnya apa lagi dengan jenis bunga lainnya."
Surya tak ingin mengatakan bahwa rangkaian bunga Bening jelek, tapi ketidakteraturan bukan sifat dari rumah ini dan juga dirinya.
"Aku lebih suka keberagaman seperti itu, menurutku itu indah. Dan bukankah kau sendiri pernah bilang aku boleh melakukan apa pun yang aku mau di rumah ini?"
Surya mengangguk, ia mengalah tak memperpanjang lagi topik tersebut. "Ngomong-ngomong, aku sudah mempertimbangkan masalah Cinta dan mencari juru masak baru untuk menggantikannya."
Mendadak suasana dalam ruangan berubah, Bening tersenyum gembira sehingga Surya merasakan hangatnya kebahagiaan istrinya. "Ya, tadi siang aku melihat ada juru masak baru. Jadi, apa aku bisa mendapatkan Cinta sebagai asisten pribadiku?"
Surya mengangguk.
"Terima kasih," ucap Bening Riang. "Terima kasih juga untuk gaun indahnya." Ia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Surya, kemudian wanita itu memberikan kecupan manis di pipi suaminya hingga membuat Surya terdiam membeku.
semoga sukses selalu karya karyanya 🤲
begitulah mereka