Nalendra Adiwijaya terpaksa menerima perjodohan dengan Kinan Artanegara, karena kekasih hatinya kabur di hari pertunangan mereka.
Kinan yang sudah lebih dulu jatuh cinta pada Nalen sejak usia remaja pun begitu bahagia saat bisa menikah dengan pria itu.
Sayang, indahnya pernikahan yang diimpikan oleh Kinan bertolak belakang dengan pernikahan yang dia jalani bersama dengan Nalen.
Karena sikap acuh Nalen, Kinan pun harus merasakan kesakitan dan kecewa yang teramat mendalam karena kerap di abaikan oleh suaminya sendiri.
Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan Kinan dan Nalen? Saat masa lalu Nalen kembali. Bahkan di saat Kinan belum bisa meluluhkan hati sang suami??
yukk simak kisah mereka di sini....
Bantu follow ya...
ig :author_triyani
tiktok :triyani_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAS.Bab 16
...🌸🌸🌸...
...~Happy Reading~...
*
..."Untuk Mas Nalen. Pertama tama, Kinan mau ngucapin terima kasih. Terima kasih karena Mas Nalen sudah memberikan kesempatan untuk Kinan mewujudkan mimpi Kinan selama ini. Menjadi istri Mas Nalen dan merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang istri dari pria hebat seperti Mas Nalendra Adiwijaya adalah impian terbesar aku selama ini. Kinan pikir, pernikahan tanpa cinta itu akan indah dan berjalan dengan baik, selama Kinan mencintai Mas Nalen. Kinan pikir itu semua sudah cukup. Namun, setelah menjalani pernikahan ini ternyata Kinan salah besar dengan berpikir demikian. Karena setelah kita menikah, Kinan jadi kehilangan Mas Nalen yang begitu baik dan juga ramah. Yang kerap tersenyum tulus di setiap pertemuan kita, tapi semua itu lenyap setelah status kita berubah. Maafkan Kinan Mas, Kinan tidak tahu jika keputusan Kinan menerima pernikahan ini adalah awal dari hilang nya Nalen yang ceria dan baik. Berganti dengan Nalen yang sama sekali tidak Kinan kenali. Tapi Mas tenang saja, semua ini akan segera berakhir kok, Kinan akan mengembalikan Mas Nalen yang dulu. Kinan, akan melepas belenggu yang begitu menyiksa ini dan Kinan akan melepas Mas Nalen agar Mas bisa kembali ceria dan tersenyum lagi sepert dulu. Setelah ini, mari kita sama sama lupakan masa 5 bulan yang teramat sangat menyiksa ini. Tersenyumlah lagi saat bertemu denganku ya, karena senyum Mas Nalen adalah semangat untuk hidup aku. Dan setelah ini, berbahagialah sayangku, meski bukan aku yang ada di sampingmu. Namun, aku akan turun bahagia jika Mas juga bahagia. Selamat tinggal sayangnya Kinan, Kinan akan selalu menyayangi Mas Nalen sebagai seorang adik pada Kakaknya."...
.
Kembali, Nalen menghela nafas panjang demi mengurai rasa sesak manakala membaca kembali kata demi kata dari pesan yang Kinan kirim untuknya melalui Dani.
Sesak, dada Nalen tiba tiba merasa sesak saat kembali mengingat kenangan demi kenangan bersama dengan Kinan.
Mulai dari kedekatan nya dengan gadis itu, hingga akhirnya Nalen memusuhi gadis itu karena telah bersedia menikah dengan nya padahal waktu itu, Nalen dalam keadaan terpuruk pasca di tinggalkan oleh Erina tepat di hari pertunangan mereka.
Tidak, Nalen tidak boleh hanya diam saja saat hatinya menolak semua yang akan terjadi pada pernikahan nya bersama dengan Kinan.
Nalen pun akhirnya memutuskan untuk kembali menghubungi Kinan. berharap kali ini bisa terhubung dengan gadis itu, sebab selama satu bulan ini. Nalen benar benar tidak bisa menghubungi Kinan sama sekali.
Bahkan bukan hanya dengan Kinan, berkomunikasi dengan orang tua dan mertuanya pun seakan akan di tutup jalannya oleh sang maha pencipta karena mendadak orang tua dan mertuanya kompak sama sama sibuk dan sulit di hubungi.
*
*
Drrrtttt
Drrrtttt
Mendengar suara ponselnya berbunyi, Kinan yang merasa lemas dan pusing pun terpaksa bangkit dari pembaringan untuk melihat siapa yang menghubungi nya saat ini.
Dengan sisa tenaga yang dia punya, Kinan pun meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas nakas yang terletak di samping ranjangnya.
Kinan mengerutkan dahi nya saat sebuah nomor tak di kenal terpampang di layar ponselnya sebagai id caller, si penelpon.
Dengan sedikit ragu ragu, Kinan pun akhirnya menekan tombol hijau untuk mengetahui siapa yang tengah menghubunginya saat ini.
"Halo, dengan siapa ini?" tanya Kinan saat sambungan telpon itu terhubung.
"Syukurlah. Akhirnya kamu mengangkat telpon mu juga," jawab si penelpon mengabaikan pertanyaan dari Kinan.
Deg
Jantung Kinan serasa jatuh dari tempatnya saat mendengar suara bariton orang yang baru saja menghubungi nya.
Suara yang sangat Kinan kenali dan begitu Kinan rindukan selama satu bulan lebih ini. Namun sayang, hanya Kinan yang tampaknya memiliki rindu itu, namun tidak dengan si pria.
"I_ini dengan siapa ya?" tanya Kinan dengan terbata karena jujur Kinan merasa gugup jika yang menghubunginya benar benar Nalen.
Nalen? Iya, Nalen karena Kinan hapal betul bagaimana suara pria itu. Karena dulu, sebelum mereka menikah. Kinan dan Nalen memiliki hubungan baik hingga kerap saling bertukar pesan dan juga saling menghubungi via sambungan telpon.
Namun, sejak keduanya menikah hubungan mereka berubah drastis dengan Nalen yang terus menerus membenci dan mengabaikan Kinan.
"Ini Mas Kinan, Mas Nalen. Kita harus bicara," ucap nya dari sebrang sana dengan nada yang sangat lirih.
"Aku sudah menyerahkan semua nya pada pengacara Mas. Jika ada yang mau di bicarakan, hubungi saja pengacaraku," jawab Kinan tak kalah lirih.
Selain karena kondisi tubuhnya yang memang sedang tidak sehat. Kinan juga harus berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sesak di dadanya dan juga tangis nya agar tidak kembali keluar manakala mendengar suara Nalen secara langsung.
"To_tolong, aku ingin bicara dengan mu secara langsung bukan pengacara. Please Kinan, beri aku waktu dan kesempatan," lanjut Nalen semakin terdengar lirih.
Bahkan kini, suara itu terdengar bergetar hingga membuat Kinan berpraduga jika Nalen saat ini tengah menahan tangis.
'Nalen menangis? Mana mungkin, semua ini adalah hal yang mungkin paling dia inginkan. Lalu, setelah semua terwujud. Kenapa juga dia harus menangis.' Batin Kinan bermonolog.
"Bicara saja dengan pengacara ku Mas. Jika ada yang ingin Mas sampai kan padaku, maka sampaikan di meja mediasi nanti. Klik."
Tuuuttt
Tuuuttt
Takut hatinya goyah dan kembali lemah saat bertemu dengan Nalen. Kinan pun memutuskan untuk tidak bertemu dengan suaminya itu selain saat mediasi nanti.
Bahkan Kinan langsung menutup panggilan telpon dari Nalen padahal mungkin pria itu masih ingin mengatakan sesuatu padanya.
Namun Kinan langsung menutupnya begitu saja karena tidak ingin merubah apa yang sudah menjadi keputusan nya saat ini.
Terlalu berat dan sakit saat harus melepaskan. Namun bertahan pun tidak mampu memberikan kebahagiaan kepada pasangan, lalu untuk apa bersama jika hanya rasa sakit dan kecewa yang mereka dapatkan.
*
*
Sementara di tempat lain.
Nalen tampak termenung seorang diri didalam kamarnya. Suasana rumah sudah begitu sepi karena penghuni rumah itu sudah beristirahat semua dan masuk ke alam mimpi mereka masing masing.
Namun tidak untuk Nalen, rasa kantuk seolah olah pergi menghilang jauh dari dalam dirinya. Meski jam sudah menunjukan pukul 03.00 dini hari, Nalen tak kunjung jua mendapatkan rasa kantuknya.
Nalen terus berpikir keras akan hal ini. Berpikir, apa yang sebenarnya dia inginkan. Berharap Kinan pergi, namun saat itu benar benar akan terjadi. Kenapa Nalen tiba tiba merasa takut.
Takut apa? Kenapa harus merasa takut? Bukankah selama ini Nalen tidak mencintai Kinan? Lalu, kenapa Nalen harus merasa takut kehilangan gadis itu?