NovelToon NovelToon
The Twentieth Concubine Wants To Survive

The Twentieth Concubine Wants To Survive

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Timur
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fresh Tea

Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

I Only Came Here to Eat

Hari pertama Ye Xinyue secara resmi memegang kunci Perbendaharaan Dokumen Kerajaan tidak dimulai dengan pertumpahan darah, melainkan dengan penderitaan biologis paling mendasar: kelaparan tingkat tinggi.

Sejak subuh, Kasim Gao sudah menyeretnya keluar dari Kediaman Fenghua untuk memeriksa puluhan rak kayu berisi ribuan gulungan kertas beras dari abad lalu. Otak hukum Xinyue yang terbiasa bekerja secara presisi memang sanggup mengalokasikan ulang berkas-berkas perpajakan wilayah selatan hanya dalam hitungan jam. Namun, kapasitas fisiknya sebagai manusia biasa memiliki batas mutlak. Bau tinta kering dan debu kayu yang menyengat membuat cacing di perutnya menjerit protes sejak lonceng tengah hari berbunyi.

"Apakah ini hukuman terselubung dari Zhao Fengting?" bisik Xinyue pada dirinya sendiri seraya merapikan gulungan kertas beras tentang hukum batas wilayah. "Membuatku mati kelaparan perlahan di antara dokumen-dokumen lapuk ini agar terlihat seperti kecelakaan medis biasa?"

"Jika kamu ingin mengutukku, setidaknya lakukan dengan suara yang lebih pelan, Selir ke-20."

Suara berat nan tenang itu menggema dari pintu masuk ruang arsip. Zhao Fengting melangkah masuk, disinari pendar pudar sinar matahari sore. Pria itu sudah tidak mengenakan gaun naga resminya, melainkan jubah jubah sutra kelabu yang sedikit lebih santai, meski aura dominasinya tetap menekan ke seluruh ruangan.

Xinyue refleks langsung berlutut di lantai kayu yang berdebu. "Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia. Hamba tidak berani mengutuk Yang Mulia, hamba hanya sedang memikirkan betapa agungnya tugas yang Yang Mulia percayakan ini."

Zhao Fengting melirik jemari Xinyue yang ternoda tinta hitam di beberapa bagian, lalu menatap raut wajah gadis itu yang sedikit tirus. Sebuah sunggingan samar muncul di bibirnya.

"Berdirilah," ujar Zhao Fengting datar. "Ikut aku."

Xinyue mengira ia akan dibawa kembali ke Aula Studi Utama untuk diinterogasi mengenai temuan kejanggalan pajak klan Lin yang baru saja ia tandai. Namun, ketika langkah kaki sang Kaisar membawanya melintasi jembatan batu menuju Paviliun Angin Salju sebuah bangunan kayu mengapung di atas danai pribadi kekaisaran matanya membelalak tak percaya.

Di atas meja kayu panjang di tengah paviliun, tersaji belasan hidangan mewah. Bau bebek panggang bumbu rempah, sup ayam ginseng salju yang membubung hangat, daging babi hutan saus manis, hingga kue beras wijen memenuhi udara.

Air liur Xinyue rasanya hampir menetes seketika. Bagi seseorang yang sejak memasuki Istana Dalam hanya diberi jatah makanan selir tingkat rendah yang sering kali sudah dingin, pemandangan ini adalah surga dunia.

"Duduk," perintah Zhao Fengting seraya mengambil posisi di ujung meja.

Xinyue tidak perlu diberi tahu dua kali. Dengan gerakan anggun yang sengaja dipercepat, ia duduk bersimpuh di kursi kayu cendana di seberang sang Kaisar. Matanya terpaku lurus pada piring bebek panggang yang berkilat oleh minyak rempah.

"Yang Mulia..." Xinyue mencoba menahan nada antusias dalam suaranya agar tetap terdengar sopan. "Apakah perjamuan ini ditujukan untuk merayakan penataan arsip selatan?"

Zhao Fengting memegang sumpit peraknya, menatap Xinyue dengan alis terangkat. "Ini hanya makan malam biasaku. Tetapi mengingat kamu menghabiskan waktu seharian di perpustakaan tanpa menyentuh makanan, aku tidak ingin pengawas arsipku pingsan karena menahan lapar di atas dokumen penting negara."

Terima kasih atas kebaikan yang sangat diperhitungkan ini, Tiran, batin Xinyue gembira.

Tanpa membuang waktu, Xinyue mengambil sumpitnya. Ia tahu betul etika istana: seorang selir harus makan dengan porsi sekecil mungkin, mengunyah tanpa suara, dan selalu menunggu Kaisar mengambil makanan terlebih dahulu. Namun, dalam pikiran hukum Xinyue, prinsip efisiensi dan kelangsungan hidup jauh melampaui etika formalitas yang melelahkan.

Ia mulai menyantap potong demi potong daging bebek panggang dengan kecepatan yang mencengangkan, namun tetap mempertahankan kebersihan dan kerapian yang aneh. Tidak ada noda minyak yang jatuh ke gaun biru tuanya, tidak ada suara kunyahan yang kasar, namun dalam hitungan tiga menit, setengah piring bebek panggang itu lenyap secara efisien.

Zhao Fengting, yang baru saja hendak menyuap sepotong sayuran, mendadak menghentikan gerakannya. Pria itu menatap piring Xinyue, lalu menatap wajah gadis di hadapannya dengan tatapan tak percaya.

Selama hidupnya, Zhao Fengting hanya pernah makan bersama wanita-wanita istana yang berakting seolah-olah mereka hidup hanya dari menghirup embun pagi. Selir Liang biasanya hanya menyentuh satu sendok kecil sup sebelum berpura-pura kenyang, sementara Selir Chen akan sibuk menyuapinya seraya memberikan godaan-godaan manis.

Namun Ye Xinyue? Gadis ini makan seperti seorang prajurit yang baru kembali dari medan perang tiga hari fokus, tanpa sandiwara, dan benar-benar menikmati setiap gigitan tanpa memedulikan keberadaan penguasa tertinggi di hadapannya.

"Kamu..." Zhao Fengting memiringkan kepalanya, meletakkan sumpitnya. "Apakah Kediaman Fenghua sama sekali tidak memberimu makanan selama tiga bulan terakhir?"

Xinyue menelan suapan dagingnya dengan sempurna, meminum seteguk air hangat untuk membersihkan tenggorokannya, baru kemudian mengangkat wajahnya dengan polos.

"Menjawab Yang Mulia," tutur Xinyue dengan suara jernih. "Jatah makanan di Kediaman Fenghua memang sangat terbatas dan sering kali tiba dalam keadaan tidak layak. Namun yang lebih penting... makanan di depan hamba saat ini sangat lezat. Akan menjadi dosa besar jika hamba menyia-nyiakan makanan sekelas ini hanya demi berpura-pura anggun di hadapan Yang Mulia."

Jawaban yang begitu gamblang dan jujur membuat ruangan mendadak hening. Para kasim dan pelayan yang berdiri di sudut paviliun menahan napas dalam teror. Menilai makanan Kaisar dan mengakui kelaparan secara terang-terangan bisa dianggap sebagai kurangnya tata krama berat.

Namun, alih-alih murka, sebaris tawa rendah sebuah tawa murni yang sangat langka keluar dari tenggorokan Zhao Fengting.

Pria itu terkehuk pelan, menggelengkan kepalanya seraya menatap Xinyue. "Kamu benar-benar aneh, Ye Xinyue. Semua wanita di istana ini bertaruh nyawa untuk duduk di meja ini demi mendapatkan perhatian dan kasih sayangku. Mereka menggunakan setiap detik untuk merayuku."

Zhao Fengting memajukan tubuhnya sedikit, menopang wajahnya dengan sebelah tangan. "Sementara kamu... kamu duduk di sini dan bertindak seolah-olah tujuanku memanggilmu hanya untuk menjadi koki pribadimu."

Xinyue meletakkan sumpitnya perlahan, merapatkan tangannya di atas meja seraya menatap lurus ke dalam manik mata kelam Zhao Fengting. Tatapannya tidak lagi berpura-pura penakut, melainkan menunjukkan ketegasan yang rasional.

"Karena hamba tahu diri, Yang Mulia," ujar Xinyue tenang. "Kasih sayang di istana ini adalah mata uang yang paling mahal dan paling beracun. Hamba hanya seorang ahli maksud hamba, seorang pengawas arsip yang bekerja untuk Yang Mulia. Hamba datang ke sini sore ini murni hanya untuk makan dan menjalankan tugas hamba, bukan untuk terlibat dalam permainan politik di tempat tidur Yang Mulia."

Kejujuran ekstrem itu menghantam udara paviliun bagaikan dentang lonceng perunggu.

Aura di sekitar Zhao Fengting mendadak berubah. Senyuman di wajah tampannya memudar, digantikan oleh tatapan mata yang teramat dalam dan intens. Pria itu berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja panjang hingga berhenti tepat di belakang kursi Xinyue.

Xinyue tidak bergeming, meski ia bisa merasakan hawa dingin dan aroma kayu gaharu yang merayap di tengkuknya saat Zhao Fengting menundukkan tubuhnya.

"Kamu datang ke sini hanya untuk makan?" bisik Zhao Fengting di dekat telinga Xinyue, tangannya bertumpu pada sandaran kursi tempat gadis itu duduk, mengurungnya secara efektif. "Tetapi bagaimana jika aku katakan... bahwa aku memanggilmu ke sini bukan untuk mendengar laporan arsip itu, melainkan karena aku menikmati bagaimana keberadaanmu mengacaukan seluruh kendaliku?"

Jantung Xinyue berdesir hebat. Sentuhan napas dingin sang Kaisar di kulit lehernya mengirimkan ketegangan yang sama sekali berbeda dari rasa takut dieksekusi.

"Jika demikian..." Xinyue memiringkan kepalanya sedikit, menatap Zhao Fengting dari sudut matanya dengan keberanian seorang praktisi hukum yang menyukai tantangan risiko tinggi. "...maka Yang Mulia harus membayar mahal untuk setiap kekacauan yang hamba sebabkan. Dan bayarannya tidak bisa hanya sekadar sepiring bebek panggang."

Zhao Fengting menatap mata jernih itu cukup lama, sebelum akhirnya sebuah sunggingan berbahaya terukir di wajahnya.

"Setuju," gumam sang Kaisar pelan. "Mari kita lihat seberapa mahal harga yang harus kubayar untuk memelihara seekor rubah cerdik sepertimu di istanaku."

1
Raizel_0511
crazy up kk,semangat,sehat selalu💪💪💪😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!