Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang berharap rumah tangganya hancur. Semua wanita akan mengharapkan rumah tangga yang berjalan mulus dan tetap utuh.
Begitu pula dengan Renata, wanita itu mencoba untuk mempertahankan rumah tangganya dengan sekuat tenaga. Menahan sakit caci maki dari mertua, dan juga sakit akibat perlakuan suaminya.
“Apa dengan bersetubuh dan menikah secara diam-diam dengan wanita lain. Baru itu tindakan yang benar? Apa seperti itu, huh, Baji*ngan?!”
Akan tetapi, dia menyerah, saat hadir sosok orang ketiga yang tiba-tiba sudah menjadi madunya. Hatinya sakit, hancur, dan dia pun memberontak, menjadi berani demi mendapat keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my_el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sifat Yang Tak Sepenuhnya Berubah
Tiga tahun berlalu dengan tanpa terasa. Jalan penuh liku Renata lalui bersama Bagas. Suaminya menepati ucapannya, untuk menata kembali rumah tangganya yang sempat kacau. tak ada pertengkaran besar yang terjadi. Hanya pertengkaran-pertengkaran ringan yang membumbui, karena masalah sepele. Selebihnya berjalan dengan lancar.
Keadaan sang anak juga sudah membaik. Meski tidak mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama, untuk membuat sang anak kembali seperti semula. Hingga akhirnya perjuangan Renata dan Bagas membuahkan hasil. Ghea kembali ceria dan aktif, walaupun masih tidak bisa mendengar suara yang terlalu keras.
Hari ini, Ghea sangat bersemangat menunggu papanya pulang. Anak kecil itu sudah sangat tidak sabar untuk pergi berbelanja kebutuhannya untuk sekolah nanti. Benar, anak kecil itu sudah tumbuh, dan sudah waktunya untuk masuk Taman Kanak-kanak.
Begitu terdengar suara mobil memasuki garasi. Ghea segera turun dari tempat duduknya, dan melesat pergi, menghampiri Bagas. Benar saja, baru Bagas menginjakkan kakinya di teras, Ghea sudah menubruk kaki papanya membuat Bagas terlonjak kecil.
Renata yang memang membuntuti Ghea, menggeleng kecil dengan tingkah anaknya. Kemudian wanita itu menghampiri sang suami yang sudah membawa Ghea ke dalam gendongannya. Segera saja, wanita itu mengambil alih tas yang dipegang sang suami, lalu menyalaminya.
“Anak Papa semangat sekali. Kangen Papa, ya?” tanya Bagas dengan menciumi seluruh wajah Ghea.
Ghea terkikik geli, mencoba menghindari ciuman papanya, yang membuatnya geli. Karena rambut-rambut halus sudah mulai tumbuh di sekitar wajah papanya. “Papa geli,” protesnya.
Bagas terkekeh dan terus saja mencium Ghea, bahkan sudah turun ke perut sang anak. Membuat sang anak semakin kegelian dan mendorong kecil wajah Bagas. Hingga dirasa sang anak mulai lelah, baru Bagas menghentikannya.
“Capek, Pa. Padahal Ghea mau belanja,” ucap anak kecil itu dengan mencuatkan bibirnya.
“Belanja? Anak Papa mau belanja sama siapa?” tanya Bagas jahil, pura-pura lupa akan janjinya pagi tadi kepada sang anak.
Sontak saja, mata bulat itu menyipit tajam dan memberengut kesal. “Papa udah janji tadi pagi ke Ghea buat ngater Ghea belanja keperluan sekolah,” rajuknya.
“Oh ... iya, Papa inget, kok. Ngater aja, ‘kan?” ujar Bagas lagi, yang masih belum puas menjahili sang anak. Pria itu melupakan, jika sang anak menuruni sifat dirinya yang sangat tidak sabar.
“MAMA! PAPA JAHAT!” Ghea berteriak mengadu ke mamanya, membuat Bagas tergelak dan langsung membawa anaknya masuk, sebelum istrinya juga meneriakinya.
“Mas, jangan jahilin anaknya!” Telat, suara teriakan sang istri sudah menginterupsinya, tepat saat kakinya masuk ke ruang tamu. Di mana Renata baru keluar dari kamar, dengan mendelik. Membuat Bagas memamerkan deretan giginya.
...****************...
Selesai dengan segala kebutuhan sang anak untuk masuk sekolah. Ghea dengan tiba-tiba meminta untuk membeli pizza saat netranya melihat tanpa sengaja gambar pizza di salah satu restoran. Membuat Bagas dan Renata mau tidak mau menurutinya. Lagi pula tidak setiap hari juga dan sudah lama memang mereka tak makan di luar.
Alhasil keluarga kecil itu makan malam di restoran pizza tersebut akibat rengekan Ghea. Namun, tak apa, karena ketika melihat wajah sang anak yang berseri-seri dan antusias membuat hati sepasang suami istri itu ikut bahagia.
Akibat kekenyangan dan juga kelelahan, membuat Ghea tertidur pulas selama di perjalanan. Bahkan, saat diangkat oleh Bagas untuk dipindahkan ke kamar, anak itu sama sekali tak merasa terusik.
Selesai semua dengan kegiatan hari itu. Renata yang baru keluar dari kamarnya, menatap bingung sang suami yang berkali-kali menghela nafas. Seolah sangat lelah dan ada yang pria itu pikirkan.
Renata mendekat ke sang suami yang sudah berada di kasur dan memegang pundak Bagas dengan lembut. Membuat Bagas sedikit terlonjak.
“Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?” tanya Renata lembut dengan senyum teduhnya.
Bagas menggeleng kecil dan membalas senyum sang istri. “Bukan masalah besar, hanya saja untuk bulan ini, kita harus sedikit berhemat,” ungkapnya merasa bersalah.
Renata tetap tersenyum lembut dengan mengelus lengan suaminya. “Gak apa-apa. Asal kebutuhan Ghea terpenuhi dan bisa untuk makan dalam sebulan ini,” balasnya mencoba menenangkan Bagas.
“Tapi ... kamu jadi gak bisa beli kebutuhan pribadi kamu, Sayang,” tuturnya pelan.
“Gak apa-apa. Aku masih ada tabungan, untuk beli kebutuhan pribadi aku, Mas. Jangan khawatir,” sahut Renata lembut.
Bagas mengangguk kecil. “ Maaf, ya, Sayang. Bulan depan akan aku ganti, ok.” Lagi Bagas berucap membuat Renata mengangguk dan keduanya memutuskan untuk tidur.
...****************...
Bagas masih tidak sepenuhnya berubah. Memang benar sikapnya kepada sang istri menunjukkan perubahan selama tiga tahun terakhir ini. Akan tetapi, sifat dia yang meninggi di kantor sangat sulit dia lepaskan.
Seperti halnya sekarang, pria itu mengesampingkan keuangannya yang sedang menipis, dengan menuruti egonya untuk mentraktir anak buahnya di divisi keuangan. Hanya gara-gara tidak ingin dibanding-bandingkan dengan ketua di divisi pemasaran yang hampir rutin mentraktir bawahannya.
Karena tak mau kalah, pria itu pun melakukan hal yang sama menyebabkan dirinya pusing sendiri tatkala uangnya yang semakin menipis. Yang di pastikan tidak akan cukup selama dua minggu ke depan. Sialan!
“Makasih, Pak Bagas, makan siangnya,” ucap Egi dan anak buah yang lain kepada Bagas dengan tersenyum cerah.
Bagas tak begitu menanggapi, hanya mengangguk saja. Karena dirinya sudah bingung untuk mencari uang tambahan untuknya dan juga keluarga kecilnya.
...****************...
Mendengar penuturan sang suami malam tadi, membuat Renata terbesit untuk kembali bekerja. Di tambah melihat wajah lelah Bagas yang malam ini, begitu sampai di rumah.
Bagas yang lesu, dan pusing memikirkan keuangannya, tak luput dari penglihatan sang istri. Meskipun, pria itu sudah menutupinya dengan senyuman. Tak lantas membuat Renata tenang. Dia mengkhawatirkan suaminya. Hingga dengan cukup keberanian yang dia punya. Pikiran yang terbesit di pikirannya, dia lontarkan kepada sang suami.
“Mas ... bagaimana, jika ... a—aku kembali bekerja. Toh ... setelah ini, Ghea sudah masuk sekolah, tak perlu—”
“Gak, Renata!” Bagas menolak mentah-mentah tanpa menunggu ucapan istrinya selesai.
“T—tapi, Mas ...,”
“Renata, aku mohon. Jangan pancing emosi aku. Sungguh, malam ini aku sedang capek setelah lembur.” Bagas memohon dengan memeluk sang istri. Pria itu takut mengulangi kesalahan yang sama. Maka dari itu, Bagas memeluk Renata guna meredam amarahnya.
Renata menghela nafas panjang dan membalas pelukan suaminya. Wanita itu mengalah, takut akan memancing emosi sang suami. Dia sudah paham dan tidak mau lagi melakukan hal bodoh, dengan berdebat dan berakhir bertengkar.
“Maaf, ya, Mas. Aku gak bermaksud untuk berdebat sama kamu,” ucap Renata lembut dan mengelus punggung suaminya. Menyalurkan ketenangan untuk Bagas yang semakin membawa kepalanya masuk ke dalam ceruk leher istrinya.
“Hm. Tidak apa-apa. Dan biarkan seperti ini sebentar, Sayang,” pintanya pelan yang segera diangguki oleh Renata tanpa berhenti mengelus punggung dan juga surai hitam suaminya dengan penuh sayang.
*
*
*
Halo semua kembali lagi dengan author
Seperti biasa, yaa 😅 jangan lupa tinggalkan jejak
Satu like, kome, dan vote dari kalian adalah penyemangat author untuk tetap melanjutkan karya ini 😊
Oh iya, jangan lupa juga untuk tap ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ ya teman-teman
Terima kasih 😘
aku harus nyetok kesabaran juga nih bacanya 🥲