Lana(23) tak pernah menyangka bahwa hidupnya yang suram berubah menjadi cerah, setelah sosok CEO muda hadir dalam hidupnya dan mengubahnya 180° menjadi wanita kuat. CEO muda itu bernama Lukas(25) pertemuan mereka diawali dengan ketidak sengajaan yang berakhir dengan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Raina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
...Lukas Pov...
"Bisnis apa yang akan kau bicarakan?" tanyaku pada Yugo sambil menghidangkan segelas teh untuknya, lalu aku duduk di kursi pantry di samping Yugo.
Yugo terkekeh sebentar sementara dahiku mengernyit seraya meringis. "Ya, sebenarnya ini bukan tentang bisnis." jawabnya seraya terkekeh.
"Jadi?"
"Ya, sekarang aku bisa dengan mudah menghindari Michelle sekarang."
"Hah?"
Yugo mengangkat bahu sebentar lalu menyeruput tehnya.
"Bagaimana bisa?" Aku terus bertanya karena penasaran.
"Cukup mudah, aku membawa seorang wanita ke kantor dan kemudian aku memperkenalkannya kepada Michelle sebagai pacar."
"Sewa pacar?" terkaku lebih jelas lagi.
"Bisa dibilang begitu, tapi mungkin aku benar-benar tertarik padanya." Yugo terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, sementara aku menatapnya dengan heran.
"Wanita itu pasti tipemu," komentarku.
"Ya, kau benar. Wanita itu benar-benar tipeku, kau tahu seleraku. Sebenarnya Michelle juga cantik, tapi cantik saja tidak cukup bagiku."
"Tapi Michelle masih perawan," lanjutku seraya terkekeh.
Yugo berkedip lalu dia ikut tertawa. "Perawan bukanlah pilihan pertamaku, toh kita tidak tahu yang sebenarnya."
"Jadi kau meragukan keperawanan Michelle? Kenapa kau tidak membuktikannya dengan mencoba untuk tidur dengannya agar kau bisa benar-benar memastikan apakah Michelle perawan atau fake perawan." usulku iseng sambil tertawa ringan.
"No, Aku sama sekali tidak ingin melakukan cumbu dengan wanita yang tidak aku inginkan." katanya dan kemudian ia pun kembali menyeruput tehnya.
"Wow," Aku mengerjap lalu terkekeh kecil setelah mendengar kata-katanya. "Tapi kau harus bermain dengannya sebentar, aku yakin Michelle akan menyerahkan keperawanannya dengan mudah kepadamu. Terlebih lagi, Michelle sangat mencintaimu, dia pasti tidak akan mempertimbangkan hal seperti itu untuk waktu yang lama." rayuku nada menggoda.
"Tapi aku tidak tertarik," komentarnya singkat.
Aku mengangguk dan kemudian aku menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Apakah kau pernah tidur dengan pacar pura-puramu itu?" tanyaku dengan berisik.
Yugo kembali menatapku dengan serius sebelum akhirnya dia berbisik tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. "Segera,"
Aku langsung terkekeh mendengarnya, bagiku sosok Yugo sangat mudah untuk mendapatkan banyak wanita berbagai bentuk. Ya, aku juga tidak bisa memungkiri bahwa Yugo memang keren dan wanita mana pun pasti tidak akan berpikir ribuan kali untuk berkencan dengannya.
“Kau adalah seorang idola,” pujiku di sela-sela tawa terakhirku.
"Aku punya nomornya dan aku bisa meneleponnya kapan saja." ucapnya agak congkak.
"Wow, kalau begitu boleh aku minta nomornya?" pintaku iseng.
Yugo langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia milikku."dia terkekeh sementara aku langsung mendengus dan tertawa.
"Mengapa kau tidak menelponnya sekarang? Ajak dia tidur, belai dia." godaku agar bisa melihat dengan jelas bagaimana Yugo yang pertama kali tersipu, atau mungkin Yugo pernah tersipu sebelumnya tapi baru kali ini aku melihatnya seperti itu.
"Mungkin aku akan segera menghubunginya," ujarnya lalu menarik napas pendek sambil mengulas senyum.
"Mengapa harus menunda lagi? Sekarang saja kau coba hubungi dia," godaku sambil menyenggol pelan lengannya.
“Sebenarnya aku sedang tidak mood, mungkin karena rutinitasku di kantor cukup padat jadi aku sedikit kurang semangat.” Yugo terdengar mengeluh.
“Dan setelah kamu bercumbu kau akan lebih baik, percayalah.” lanjutku dengan yakin.
"Dasar bajingan," komentar Yugo sambil menertawakanku.
Yugo terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri sambil menikmati tehnya, sementara aku hanya bisa tersenyum melihat kelakuannya yang menurutku sedikit lucu. Hingga akhirnya Yugo bangkit dari posisinya sambil berjalan ke depan lalu merogoh ponselnya dari balik saku celananya dan sudah bisa ditebak dia pasti akan menelpon wanita itu.
"Halo, selamat pagi? Aku Yugo, kau pasti masih kenal aku, 'kan?"
"..."
"Bisakah aku menyewamu pagi ini?"
Kudengar samar-samar saat Yugo sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana, yang bisa kutebak adalah yang Yugo panggil adalah wanita itu.
"..."
"Jadi kapan kita akan bertemu?"
"..."
"Oke, aku akan menunggu di hotel dan aku akan mengirimkan alamat lengkapnya, oke?"
"..."
"Oke, terima kasih."
Tut!
"Yes!"
Yugo membalikkan tubuhnya ke arahku sambil membuat gerakan tangan penuh kebanggaan dan kebahagiaan, sedangkan aku hanya menggelengkan kepala dan tertawa kecil padanya.
"Jangan lupa minum obat kuat," cetusku usil.
"Bang*sat!" serunya kemudian kami pun tertawa bersama.