Elina san Rafa besar di panti asuhan yang sama. Suatu hari mereka berpisah karena Elina diadopsi oleh sebuah keluarga kaya yang menginginkan anak perempuan dalam keluarganya.
Lima belas tahun kemudian mereka bertemu kembali dalam kondisi yang sudah amat berbeda. Rafa lah yang paham jika itu Elina dan kemudian memberinya cinta yang Elina butuhkan selama ini dengan kesederhanaan yang dimiliki.
Namun bukan itu masalahnya. Ternyata Rafa sudah bergabung dengan sekelompok mafia dengan tugasnya sebagai seorang pembunuh bayaran. Bahkan Rafa adalah yang terbaik disana.
Hingga suatu hari kenyataan pahit menghampiri keduanya, bahwa target terbesar Rafa adalah keluarga yang membesarkan Elina selama ini.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Bertahan dan Rafa berhenti dari dunia Mafia, atau Elina mengkhianati keluarga yang sudah membesarkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elina dan Rafa 16
“Aarrghhh!!” Elina memekik sejadi-jadinya di dalam mobil sendirian. Ia menyentuh bibirnya sendiri saat itu bekas kecupan R disana. Serasa tak percaya, tapi itu benar-benar terjadi beberapa menit lalu dan masih terasa hingga saat ini.
“Sumpah, aku ngga pengen gosok gigi bahkan mandi setelah ini agar ngga ilang. Aaaahh… Aku meleleh,” racau Ina dengan segala kelebaian yang ada dalam dirinya saat ini, tak perduli betapa bodohnya ia karena luluh begitu mudah hanya karena hal yang sepele.
Ina lantas menyalakan mobil dan segera pulang ke rumah karena hari sudah semakin sore saat ini, dan pasti ayah sudah pulang menunggunya.
Sementara itu Rafa masih diam ditempatnya, duduk di bangku taman dan termenung disana menatap kalung pemberian Ina kecilnya yang ia kantongi sejak tadi.
Apakah Rafa menyesal telah mengecup bibir El barusan hingga ia lantas mengenang gadis kecil itu? Bahkan Rafa menggenggamnya erat didada dan sesekali mengecupnya dengan mesra. Ia tak tahu perasaan apa saat ini, tapi yang jelas ia sedang akan mencoba membuka hati.
“Aku berusaha melepaskanmu. Jika kau kembali, maka kau memang milikku. Tapi jika kau tak pernah datang atau kutemukan dalam pencarian selama hidupku, maka memang kita tak ditakdirkan untuk bersama.” Rafa kembali menyimpan kalung itu didalam saku celananya dan ia pastikan jika kalung itu aman disana.
Rafa amat jarang membawa kalung itu pergi karena tempatnya adalah di dalam laci dan ia tutup dengan rapat disana.
“Halo Tom?”
“Kau dimana? Aku di rumahmu sekarang, dan kau tak ada. Tumben?”
“Aku di luar. Ada tugas kah?” tanya Rafa, karena biasanya datang karena ada keperluan dan tak sekedar main-main disana.
“Ayah memintamu mengambil tugas Sam, karena ia cidera hari ini. Dia kecelakaan, ngakunya karena diserang Armagedon. Tapi entahlah, menurutku dia hanya ikut balap liar dan malu karena kalah hingga ia memfitnah mereka semua.”
“Ya, aku akan ke markas nanti. Tapi pastikan jika tak ada yang menggodaku disana,”
“Hmmm,” jawab Tom yang langsung mematikan hpnya saat itu. Ia kemudian kembali ke markas dan menunggu Rafa disana untuk melanjutkan semua tugas yang ada.
Rafa segera berjalan menuju mobil dan langsung menyetir dengan cepat saat itu. Tak ada yang menghadang, dan kemungkinan memang ucapan Sam saat itu adalah bohong pada mereka semua, dan bahkan Rafa sempat mampir ke sirkuit balap liar yang sering Sam datangi.
“Ya, dia kalah barusan dan menabrak pembatas disana. Apa lukanya parah? Dia langsung pergi tanpa bas abasi setelah itu,” ucap seorang pembalap lawan Sam tadi.
Rafa hanya tersenyum miring mendengar semua laporan itu. Lucu, tapi ia khawatir jika nantinya akan menimbulkan kericuhan antar dua kubu yang sejak lama bermusuhan dan siap genjatan senjata kapan saja. Pria itu lantas menyetir lagi hingga tiba di markas dan bertemu mereka semua saat ini, dan ia melihat Sam yang tangannya terbalut dengan luka yang cukup parah.
“Kau tak apa?” tanya Rafa padanya, tapi Sam menyambutnya dengan sinis.
“Kau yang akan menggantikanku? Kau tahu, jika aku tidak diserang, pasti semua akan selesai olehku sendiri.”
“Ya, kau diserang,” balas Rafa begitu datar tanpa ekspresi padanya saaat itu hingga membuat Sam langsung tersinggung karena sikap yang ia berikan.
“Apa maksudmu? Kau tak percaya jika aku diserang mereka?”
“Lalu?”
“Mereka menyerangku dengan dua mobil, memepetku yang tengah bermotor ditengah mereka dan menabrak beberapa kali saat itu. Aku kewalahan hingga akhirnya mengajak mereka untuk menepi dan berkelahi disana, tapi sayang aku kalah tenaga hingga seperti ini.” Sam terus meracau dan memamerkan lukanya itu ketika Rafa tengah mempersiapkan semua senjata yang akan ia antar sebentar lagi.
“Kau tak mendengarku?”
“Aku mendengarmu, Sam … aku mendengarnya. Betapa hebat kau menyerang mereka semua, dan betapa hebat kau bisa menaklukan semua orang itu. Aku kalah padamu,” sarkas Rafa. Tapi Sam tak paham itu dan tetap membanggakan diri dengan semua prestasi yang ia capai saat ini.
“Nanti, jika ada serangan atau genjatan senjata, maka aku akan menunjukmu sebagai panglima perang yang berdiri dibarisan paling depan. Kau yang terhebat, Sam.” Rafa menepuk bahu Sam kemudian pergi dari sana membawa semua senjata yang akan ia kirimkan hari ini.
Mereka tak akan melakukan transaksi langsung, melainkan Rafa hanya bertugas mengirim semua barang itu ke Dermaga dan ada beberapa orang yang menyambutnya disana. Pihak mereka bahkan sudah membayar senjata itu dari jauh-jauh hari karena pemesanan yang cukup banyak.
“Uangnya sudah mereka kirim langsung pada Tuan Jo.”
“Ya, aku akan segera kesana setelah ini,” ucap Rafa, karena sejak awal adalah kesepakatan jika ia dibayar langsung setelah bekerja dan tak mau menerima mingguan atau bahkan bulanan.
Petualangan Rafa belum selesai, dan tanpa sadar ini sudah malam dan ia baru saja sampai di kediaman ayah angkatnya. Dan seperti biasa, banyak wanita yang menyambutnya disana untuk terus menggoda.
“KAk Rafa dateng?” sapa Rin yang langsung datang padanya saat itu, hanya saja ia memakai seragam pelayan saat ini dan bukan gaun seksi seperti biasa untuk menggoda. “Rin sedang datang bulan, jadi tak bisa melayani mereka semua,” kikiknya pada Rafa yang heran melihatnya.
“Ayah ada?”
“Diatas. Tapi sepertinya tak bersama siapapun saat ini, kesana saja.”
“Baiklah, terimakasih.” Rafa menepuk bahu Rin dan langsung pergi darinya saat itu untuk menemui sang ayah. Dan benar saja, jika ia tak sedang bersama siapapun saat ini.
“Tumben?” tanya Rafa yang kemudian duduk di sofa dan meraih minuman yang ada disana lalu meneguknya dengan kuat.
“Kau tanya siapa? Atau mau berminat untuk?”
“Hey!” sergah Rafa pada ayahnya yang pasti akan menggodanya lagi dengan stok wanita yang ada.
“Kau terlalu munafik, Nak. Andai kau tahu rasanya, kau pasti akan candu dan menginginkannya setiap hari nanti.”
“Aku akan melakukannya,”
“APA?” Ayah Jo sampai membulatkan mata terkejut mendengarnya saat itu.
“Tapi dengan wanita yang tepat,”
“Cinta? Hahahahah!!” ayah Jo tertawa terbahak-bahak menafsirkan apa yang dimaksud Rafa saat itu. Amat jarang pria dewasa seperti dirinya mengagungkan sebuah nama cinta dalam sebuah hubungan, apalagi dengan pekerjaan seperti mereka.
“Mana uangku? Ayah belum mentransfernya,” tanya Rafa yang langsung memotong tawa pria paruh baya itu dan menatapnya tajam seketika.
Ia lantas meraih hpnya saat itu dan langsung mentrasnfer sejumlah uang pada Rafa sebagai upah kerjanya yang selali baik, bahkan sedikit melebihkan dari yang seharusnya ia terima. Rafa langsung berdiri setelah menerima haknya saat itu.
“OH iya, aku lupa. Aku harap Storm tak mudah terprofokasi dengan apa yang diberitakan saat ini. Aku tahu jika Storm tak semudah itu terpengaruh dengan semua isu yang beredar,” ucap Rafa yang menghentikan langkahnya sebelum membuka pintu.
Ayah Jo hanya menatapnya saat itu dan berusaha memahami apa yang ia ucapkan, lalu menganggukkan kepala dengan santai ketika mulai paham.
Rafa pergi, melangkah dari tempat itu tanpa menghiraukan semua orang yang menggodanya saat ini.
lanjut kak upnya 💪💪💪💪