Hawwa Ananda Putri Abizar (Hawwa) Gadis yang baru duduk di Kelas 12 memaksa menikahi Sepupu nya, Juliandra Adam Elvano.(Adam) CEO perusahaan minyak terbesar di negara nya, Meski mendapatkan banyak pertentangan, dengan segala cara akhirnya Adam menyetujui untuk menikahi nya namun hanya sebatas Istri sirri nya saja, karena ada Cinta yang lain di hati Adam.
"Aku selalu berharap bisa menjadi bunga dalam genggaman mu, yang bisa kau petik lalu kau sunting, meski aku sadari ada bunga yang lain dalam dekapanmu, walau aku tahu suatu saat aku akan tercampakkan begitu saja seperti cermin retak yang tak berharga," Hawwa.
"Hadirmu selalu ku hindari, Cintamu tak pernah ingin kumiliki, namun kepergianmu membuatku menyadari Ada ikrar suci yang tak bisa aku ingkari," Adam.
"Ya Allah, jika dia benar-benar untuk ku, dekatkan hatinya dengan hatiku, jika dia bukan milikku damai kan aku dengan ketentuanmu," Hawwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chacha shyla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapat Pujian
"Aaaaaa....aaaaaa....Kak Adam kenapa kau tidak bilang kalau kau itu ada di sini?" teriak Hawwa begitu kesal, karena Adam telah berhasil membuat nya terkejut.
"Lain kali pakailah pakaian yang sopan, atau memang kau sengaja melakukannya demi menggodaku hmm?" tanya Adam sambil mendekat, membuat Hawwa bergidik ngeri dengan posisinya yang tengah hanya memakai handuk yang ia jadikan sebagai kemben.
Sedangkan Adam kini tengah berjalan semakin mendekatinya.
"Kak, Adam kau, mam-mau apa kak,? ja-jangan mendekat..." pekik Hawwa berbalik dan hendak pergi, namun tanpa di sadarinya tubuhnya membentur dinding kamar.
Bug...
''Auh...ahk...'' cicitnya kesakitan.
"Apa kau tidak apa-apa?'' tanya Adam dengan nada khwatir sambil menutup tubuh Hawwa dengan sebuah selimut. Hawwa yang mendapat perlakuan demikian benar-benar merasa bahagia karena Adam ternyata sangat memperhatikannya.
"Terima kasih Kak" ucap gadis tersebut, sambil membalik tubuhnya menatap ke dalam manik mata lelaki yang nampak semakin tampan di matanya itu.
''Lain kali kau jangan mandi di sini, kau bisakan mencari kamar mandi lain yang ada di rumah ini, aku tidak mau kau berlaku seenaknya saja di kamar pribadiku! dan jangan pernah menampakkan tubuh polosmu di depanku, karena aku tidak sudi melihat mu mengotori penglihatanku, sekarang cepat pakai pakaianmu, Jika tidak maka kau akan tahu akibatnya!'' Mendengar Kata-kata Adam yang panjang lebar dan berakhir ancaman dengan penuh penekanan membuat Hawwa segera berlalu tanpa ingin membuang-buang waktunya, sedangkan Adam hanya bisa tersenyum miring saat melihat Hawwa yang dengan secepat kilat menghilang dari pandangan nya.
Hawwa yang sudah lengkap dengan seragam sekolah nya kini berlari-lari kecil menuruni anak tangga.
''Sayang pelan-pelan saja, nanti kamu jatuh!" tegur Yumna dengan sedikit berseru saat melihat Hawwa nampak seperti terburu-buru menuruni anak tangga.
"Bunda tenang saja Hawwa tidak apa-apa lagi pula Hawwa sudah terbiasa Bunda," timpal Hawwa dengan nyengir kuda.
"Adam kemana? kenapa dia tidak turun bersamamu?" tanya Yumna kembali saat menyadari jika Hawwa hanya sendiri.
"Itu Kak Adam tadi Eee...em...___"
"Itu Kak Adam sama Ayah Bun," sela Alaya yang baru saja tiba, saat mendengar Hawwa yang terbata dan nampak terlihat binggung.
"Kalian darimana saja,? Ayo kita sarapan, nanti Hawwa telat lagi kesekolah," ujar Yumna di saat Vano dan Adam berada di dekatnya.
Vano pun hanya memberikan sebuah Anggukan dan juga senyuman di saat mendengar pertanyaan dan ajakan istrinya itu.
"Kami hanya berbincang sebentar tentang pembukaan pabrik cabang yang berada di Mamuju utara Bun," ucap Adam menjawab pertanyaan sang Bunda.
"Baiklah, Ayo kemarilah kita sarapan," Ajak Yumna sambil menyendokkan makanan yang sudah siapa ingin di santap itu.
*
"Bagaimana rasanya apa kalian suka dengan hidangan hari ini?" tanya Yumna begitu mereka semua selesai bersantap.
"Apa Bunda membelinya di Restoran ternama karena ini untuk pertama kali rasanya begitu sangat berbeda?'' ujar Vano menyahuti.
"lya bunda benar, apa yang di katakan Ayah, rasanya sangat jauh berbeda hari ini,'' timpal Adam yang lagi lagi membuat Yumna hanya bisa tersenyum.
"Apa kalian tahu kalau makanan ini di masak sendiri oleh Hawwa," ucap Yumna kembali menjelaskan.
"Pantas saja rasanya enak…em…A-apa? Hawwa…?" Adam yang tanpa sadar ingin memuji kini terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya, karena menurut kaca mata penilaian nya tidak lah mungkin seorang Hawwa yang notabene Anak semata wayang yang pastinya manja yang tinggal menyuruh para pelayan untu melakukan semuanya.
"Masya Allah, Ayah tidak menyangka kalau kamu ini bisa sehebat Mama kamu dalam memasak dan rasanya pun bisa mengalahkan masakan restoran bintang lima,'' puji Vano tersenyum bangga, membuat mimik wajah Adam berubah jadi tak suka, mendengar jika Hawwa mendapatkan pujian dari kedua orang tuanya itu, apa lagi saat ia melihat Hawwa tersenyum malu-malu saat mendengar pujian-pujian dari orang tua nya.
"Dasar munafik." Gumamnya.
"Apa kau mengatakan sesuatu Adam?" tanya sang bunda yang memang tidak lah jelas mendengar kalimat yang keluar dari mulut Adam.
"Ah, ya! T-tidak Adam hanya merasa sudah kenyang," kilahnya.
"Adam pergi dulu Ayah, Bunda,'' ucap Adam lantas berdiri dari tempat duduk, karena perutnya langsung merasa kenyang mendengar segala pujian yang di tujukan hanya untuk Hawwa dari kedua orang tua nya.
''Adam, kau kenapa pergi secepat itu nak? lihatlah Hawwa belom selesai, bukanlah hari ini kau akan mengantarkan Hawwa kesekolah terlebih dahulu baru kau boleh ke kantor!" cicit Yumna.
"Tapi Bun… Adam hari ini ada rapat untuk membahas pembangunan pabrik minyak yang baru di Mamuju utara," ujarnya sambil bersiap-siap.
"Apa tidak sebaiknya kau antar Hawwa dulu ke sekolah?" Adam terlihat hanya bisa menarik napas, mendengar perkataan sang bunda.
"Tidak apa-apa Bunda, Hawwa bisa pergi sendiri lagi pula hari ini Hawwa ada janji dengan seseorang,'' bohongnya menyela ucapan sang Bunda.
''Dengan siapa sayang,?'' tanya Yumna penasaran.
''De-dengan tet-teman, Bub-Bunda,'' ucap Hawwa kembali tergagap, membuat Yumna mengerutkan Alis.
''Hawwa kamu tidak apa-apa kan sayang,?'' tanya Yumna begitu khawatir.
"Tidak Bunda, Aku baik-baik saja, Bunda tidak perlu khawatir," timpal Hawwa merutuki dirinya yang lagi-lagi tergagap saat berbicara, dan tentu saja itu sangat membuatnya merasa malu.
"Kalau Kak Adam ingin berangkat duluan tidak apa-apa, biar Hawwa nanti berangkat sendiri," ucapnya lagi menatap Adam sambil menjulurkan tangannya hendak menyalim tangan Adam, Adam sendiri hanya menatap tanpa ingin berniat untuk menyambut uluran tangan Hawwa.
"Adam...!" Yumna sedikit menyentak saat melihat kelakuan Putranya itu. Adam pun segera membalas uluran tangan Hawwa dengan malas.
"Assalamu'alaikum..." ucap uluk salam dari Adam.
"Waalaikumsalam..." balas semuanya.
"Hati-hati dijalan," bukan Yumna yang berucap tetapi Hawwa, sejenak Adam terpaku lalu berbalik menatap ke arah Hawwa.
Senyum manis terukir di bibirnya meski sebenarnya senyum itu di paksa, sambil menatap Hawwa tanpa berkedip.
"Terima kasih,'' ucapnya dengan datar.
Hawwa hanya memberikan sebuah anggukan sambil sedikit tersenyum. Adam pun segera berlalu pergi meninggalkan ruang makan tersebut.
"Bunda Hawwa juga Siap-siap dulu mau berangkat ya, takutnya nanti Hawwa telat,'' pamitnya pada sang bunda.
''Iya Nak Hati-hati ya,'' ingatkannya.
''Iya Bun…Terima kasih, Assalamu'alaikum," "Waalaikumsalam." Sahut Yumna, Vano, dan juga Alaya.
"Bunda, Alaya juga pamit ya! mau nyusul Kak Hawwa, takutnya nanti Kak Hawwa akan naik angkot" Pamit Alaya yang memang sangat mengetahui kakak iparnya itu tidak akan pernah janjian sama orang lain di luar sana, Ia juga datang kerumah Adam hanya untuk menemani Hawwa.
"Kak Awas…!" pekik Alaya.
ada setangkai mawar utk mu