Menjalin kasih selama 2 tahun lamanya, bahkan sudah tinggal satu atap dengan segala tujuan cerita dan mimpi di masa depan. Semuanya sudah di rancang sejak awal.
Namun apa jadinya ketika salah satu dari mereka malah jatuh cinta pada orang lain dan memilih untuk berkhianat?
Semua mimpi dan cerita yang sudah di rangkai kini harus hancur seketika dan tidak bisa di perjuangkan lagi. Mungkin satu hal yang membuat Fadil rela menghancurkan hubungan yang sudah terjalin lama ini, hanya karena Yara yang memiliki tubuh berisi dan jauh dari kata cantik dan ideal. Seperti wanita di luaran sana.
Lalu, apa Yara akan mampu memeprtahankan hubungan ini di saat sudah ada wanita lain yang hadir di kehidupan Fadil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Meninggalkan Fadil
Yara terdiam sambil memegangi handel pintu kosannya. Sebelah tangannya sudah memegang pegangan koper. Hari ini dia benar-benar akan pergi meninggalkan kota dan semua kenangan yang ada di kota ini. Namun, jujur hatinya merasa tidak rela dan tidak siap jika dia harus meninggalkan tempat ini. Kota yang terlalu banyak kenangan untuk dirinya. Termasuk kenangan indah dan pahit saat dia bersama dengan Fadil.
"Kamu harus yakin Yara, jika ini memang yang terbaik untuk kamu. Ingat, Fadil sudah menikah dan akan segera mempunyai anak sekarang"
Sebuah kalimat yang selalu Yara ucapkan sendiri untuk meyakinkan dirinya agar bisa pergi dari kehidupan Fadil dan meninggalkan semua kenangan yang ada di Kota ini.
Yara menoleh ke arah tempat tidurnya yang selama ini menjadi tempat tinggalnya sejak dia pergi dari Apartemen yang menjadi tempat tinggalnya bersama dengan Fadil. Yara memutar handel pintu dan keluar dari kosannya ini. Bahkan suasana kosan yang masih benar-benar sepi karena hari yang masih terlalu pagi. Setelah dia bekerja lembut tadi malam, pagi ini dia langsung bersiap untuk pergi dari kota ini, seusai keinginan Bim.
Bahkan Yara tidak memberi tahu Erna jika dirinya akan pergi hari ini. Karena memang Yara hanya ingin pergi tanpa ada yang mengetahui kemana dirinya pergi. Yara seolah ingin lenyap dari kehidupan sebelumya yang membuatnya terluka.
Yara menghampiri seorang pria dengan pakaian serba hitam itu. Jelas orang itu adalah suruhan Tuan Bimo untuk menjemput Yara ke tempat yang jauh dari kota ini. Tempat yang mungkin tidak akan mempertemukan Yara dengan Fadil lagi.
"Silahkan masuk,Tuan Bimo sudah menunggu di Bandara"
Yara mengangguk, dia segera masuk ke dalam mobil hitam itu. Menatap ke luar jendela ketika mobil yang mulai melaju meninggalkan tempat kos yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
Ketika sudah sampai di Bandara, Yara sudah di sambut oleh Bimo dan orang yang tidak dia sangka akan datang hari ini adalah Sarah. Dia juga ikut ke Bandara, membuat Yara cukup terkejut juga dengan kehadiran atasannya itu.
"Kak Sarah.."
Sarah memeluk Yara dengan mengelus punggung Yara dengan lembut, seolah dia memberikan kekuatan untuk Yara. "Semuanya akan baik-baik saja kalau kamu mendengarkan kata Papi. Memang sudah seharusnya kamu pergi agar Fadil tidak terus mengganggu kamu. Pastinya kamu juga tidak nyaman ketika Fadil terus mengganggu kamu.Jadi sekarang kamu hanya harus pergi agar kamu bisa terbebas dari Fadil"
Yara merasa jika Sarah memang sedang mendukung kepergian Yara saat ini. Meski kata-katanya begitu bijak, namun Yara tetap sadar nada tidak suka dari Sarah. Mungkin karena Sarah tidak mau jika prnikahan adiknya akan hancur ketika Yara masih berada di kota ini dan Fadil pastinya akan terus menemui Yara jika Yara tetap berada di Kota ini.
Begitulah fikir Yara yang tidak mau berpikir yang tidak-tidak pada mantan atasannya ini yang selalu berbuat baik pada Yara, sebelum Sarah tahu jika Yara adalah mantan kekasih dari suami adiknya.
"Terima kasih untuk kebaikan Kak Sarah selama ini"
"Iya Ra, sama-sama"
Dan Yara benar-benar naik ke dalam pesawat tanpa dia tahu tujuannya kemana. Yara hanya menuruti saja apa perkataan Bimo dan anak buahnya yang mengantarkan dirinya ke dalam pesawat.
Ketika pesawat mulai mengudara, Yara menatap keluar jendela pesawat. Saat ini dirinya benar-benar akan meninggalkan Kota tempat dirinya di besarkan dan meninggalkan segala kenangan tentang dirinya dan Fadil. Meski Yara belum benar-benar yakin jika dirinya akan bisa melupakan Fadil, meski sudah pergi sejauh ini.
Selamat tinggal semuanya. Fadil, semoga kamu akan baik-baik saja dan bahagia dengan pernikahan kamu ini.
#######
Deg..
Fadil memegang dadanya yang tiba-tiba saja terasa nyeri dan bayangan Yara melintas dalam ingatannya. Bayangan Yara yang menangis saat dia mengetahui perselingkuhan Fadil dan Putri Ajeng dan juga ketika Fadil mengakhiri semuanya. Wajah Yara yang biasanya selalu ceria dan menunjukan pancaran kebahagiaan ketika dia bersama dengan Fadil.
Namun begitu dia mengetahui tentang perselingkuhannya dengan Putri Ajeng dan ketika Fadil yang dengan tega mengakhiri semuanya dengan Yara. Maka wajah ceria yang penuh kebahagiaan itu langsung redup seketika.
"Ada apa dengan Yara, kenapa tiba-tiba perasaan aku tidak enak"
Fadil memilih untuk langsung pergi ke kosan Yara sepulang dia kerja di kantor. Fadil ingin memastikan jika Yara memang baik-baik saja. Karena perasaannya yang tiba-tiba tidak enak mengenai Yara.
Fadil telah sampai di tempat kos Yara dan dia langsung masuk menuju kamar kos Yara dan mengetuk pintu kamar kos Yara sambil memanggil namanya. Namun tidak ada panggilan selama Fadil terus memanggil nama Yara. Sampai pintu kamar kos di sampingnya terbuka dan dia melihat Erna yang keluar dari dalam kosannya dengan mata yang sembab, seperti habis menangis.
"Tuan mencari Yara?"kebiasaan Erna memanggil Fadil seperti itu jika berada di kantor.
Fadil semakin merasa tidak enak saat melihat wajah sedih Erna. "I-iya, dimana Yara? Apa dia belum pulang kerja?"
Erna menggeleng pelan, dia menyodorkan sebuah amplop putih yang dia temukan di depan pintunya saat Erna pulang bekerja barusan. Dan dia juga sudah membaca amplop yang diberi nama dirinya. Surat yang di tulis oleh Yara untuk dirinya dan juga Fadil.
"Ini dari Yara, Tuan Fadil akan mengetahui semuanya disini. Karena saya juga mendapatkan surat yang sama dari Yara. Kalau begitu saya permisi"
Erna langsung kembali masuk ke dalam kosannya. Membiarkan Fadil berdiri disana dengan kebingungan. Surat yang tertulis namanya di amplop itu benar-benar membuat perasaan Fadil semakin tidak enak saja. Fadil memilih untuk membaca surat itu di dalam mobil. Tangannya bergetar ketika dia mulai membuka surat dari Yara itu.
Dear Fadil Pratama.
Ingat tidak saat kita pertama kali bertemu, aku benar-benar bahagia saat bisa mengenal kamu pada saat itu. Apalagi saat kamu mengajak aku untuk berpacaran, kata cinta yang pertama kali terucap dari bibir kamu waktu itu. Tentu saja aku langsung mau, karena memang aku sudah mencintai kamu jauh sebelum kamu menyadari perasaan cinta kamu itu. Hehe..
Fadil tersenyum saat mengingat bagaimana kisah cintanya dan Yara dimulai. Fadil sadar jika Yara memang benar-benar mencintai Fadil dengan begitu tulus. Dia bahkan menenani Fadil sampai sukses seperti sekarang ini. Dan tidak pernah sekalipun Yara mengeluh dengan sikap Fadil yang terkadang selalu membuatnya kesal. Mengingat semua itu semakin membuat dada Fadil sesak. Fadil lanjut membaca dan membuka lembar kedua dari surat itu.
Bersambung