Arini harus merelakan masa mudanya dengan menikah. Terpaksa dia menerima tawaran menjadi istri ke dua demi mendapatkan biaya untuk operasi neneknya. Namun pengorbanannya sia-sia. Neneknya meninggal pasca operasi. Namun pernikahan yang sudah terjadi tidak bisa di sudahi. Karena Arini masih harus mengandung benih dari lelaki yang sudah menjadi suaminya. Jika dia sudah melahirkan, baru boleh pergi dari kehidupan Alex dan Mila sang istri pertamanya. Karena itu syarat yang Mila berikan kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.16
Alex sudah mendapat kabar bahwa Arini dan Mila sudah melahirkan. Alex yang berada di luar kota, dia langsung saja pulang saat tahu kabar itu. Namun Alex belum tahu jika anaknya Arini meninggal. Karena Bu Susan sengaja tak memberitahunya.
Alex baru sampai di rumah sakit. Dia menghampiri Mila sang istri tercinta. Kebetulan sudah dua hari ini Mila berada di rumah sakit.
Alex membuka pintu ruang inap dimana Mila berada.
"Sayang, Mas senang sekali akhirnya memiliki anak dari kamu," Alex mendekati istrinya lalu mengecup singkat ke dua pipinya.
"Terima kasih ya sudah datang, Mas." ucap Mila.
"Iya, sayang. Tapi maaf ya karena Mas datangnya telat," ucap Alex.
"Tidak apa-apa, yang penting Mas Alex datang."
"Oh iya, kata mamah itu Arini juga melahirkan. Dia di ruangan mana ya? Mas ingin ketemu dengannya dan juga anak Mas," ucap Alex.
Mood Mila seketika berubah saat mendengar nama Arini. Suaminya terlihat perhatian sekali dengan Arini. Namun sebentar lagi suaminya juga pasti kecewa kepada Arini, saat tahu bahwa anaknya meninggal.
"Ruangan Arini ada di ruang rawat inap biasa. Tepatnya di ruang Mawar," ucap Mila.
Hanya sebentar Alex berada di ruangan istrinya. Dia pamit ingin ke ruang bayi dimana anaknya berada, sekaligus melihat keadaan Arini.
Terlebih dahulu Alex pergi ke ruang inap Arini. Dia melihat suster yang sedang menyuntikan sesuatu ke Arini.
"Sus, bagaimana keadaannya?" tanya Alex.
"Bapak siapa? Apakah keluarganya?" tanya suster itu.
"Iya, saya kerabat terdekatnya," jawab Alex.
"Kesehatan ibu Arini melemah saat tahu bahwa anaknya meninggal," ucapnya.
"Apa? Jadi bayi itu meninggal?" Alex tak pernah menyangka jika anaknya meninggal.
"Benar, Pak." jawabnya.
Suster itu berpamitan untuk pergi, sedangkan Alex masih disana menatap Arini yang sedang tidur.
"Kasihan sekali kamu, Rin. Pasti kamu sangat sedih saat tahu anakmu meninggal," disisi lain Alex bahagia karena Mila melahirkan anak yang tampan untuknya, namun disisi lain dia sedih karena anaknya dengan Arini malah meninggal.
Alex hendak mendaratkan tangannya di wajah Arini, namun dia urungkan.
"Rin, aku mau ke ruang bayi dulu ya," ucap Alex, lalu dia berlalu pergi dari sana.
Sesampainya di ruang bayi, Alex melihat anaknya yang sedang tertidur. Dia memandangi wajah tampan anaknya. Wajah anaknya persis sekali dengan wajahnya.
"Sayang, papah senang sekali karena kamu lahir ke dunia. Terima kasih, sayang. Papah mencintaimu," Alex tersenyum memandangi wajah anaknya.
Cukup lama Alex berada disana. Saat dia akan pergi dari ruangan itu, tiba-tiba anaknya menangis. Akhirnya Alex tak jadi pergi. Dia mencoba menenangkan anaknya yang sedang menangis. Setelah anaknya tenang dan kembali tidur, dia keluar dari ruangan itu.
Saat melewati lorong rumah sakit, Alex berpapasan dengan suster yang sedang bergosip. Ke dua suster itu bergosip jika ada seorang ibu yang tidak mau memberikan ASI untuk anaknya, padahal anaknya itu baru lahir. Alex tak terlalu penasaran dengan pembicaraan ke dua suster itu. Dia memilih berlalu pergi dari sana. Karena dia akan kembali ke ruang inap Mila.
....
....
Kondisi Arini sudah membaik. Dia sudah mengikhlaskan anaknya yang telah tiada. Kini Arini pun sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit. Sedangkan Mila sudah pulang dari kemarin.
Terlihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Alex. Arini turun dari mobil dengan di papah oleh Bi Ijah. Devan keluar dari mobil lalu dia membantu membawakan barang-barang milik Arini. Sesampainya di dalam rumah mereka melihat Mila yang sedang menggendong anaknya, namun anaknya menangis terus.
"Sayang, mungkin anak kita haus. Coba kamu kasih susu formula," ucap Alex.
"Kak, kok masih bayi di kasih susu formula? Harusnya minum ASI loh," ucap Devan yang berada di depan pintu.
"Mila ini Asi-nya tidak keluar, jadi dia kasih susu formula," jawab Alex.
Melihat anak yang ada di gendongan Mila, tentu membuat Arini kembali sedih. Namun dia berusaha untuk tegar. Mungkin ini sudah takdir yang di suratkan untuknya. Dan tentunya dia harus ikhlas dan menerima.
Bi Ijah dan Devan mengantar Arini hingga ke kamar. Mereka menyuruh Arini untuk istirahat saja.
Alex mengambil alih anaknya dari gendongan Mila. Spontan bayi mungil itu diam tak lagi menangis. Alex merasa sedikit aneh karena anaknya selalu diam jika di gendong olehnya, namun jika di gendong oleh Mila selalu menangis.
'Kenapa dengan anak ini? Kenapa dia tidak mau dengan ibunya?' gumam Alex dalam hati.
Mila bergegas ke belakang untuk membuatkan susu untuk anaknya. Kini dia sudah kembali dengan membawa susu itu. Mila mengambil alih anaknya yang ada di gendongan suaminya lalu membawanya ke kamar. Tentu Alex mengikuti istrinya. Alex melihat istrinya yang mencoba membuat anaknya tidak menangis lagi. Yaitu memberikannya air susu.
Sekarang Alex percaya jika istrinya sangat menyayangi anaknya. Alex senang karena akhirnya dia memiliki putra yang nantinya akan menjadi penerusnya.
Alex membiarkan istrinya menidurkan anaknya. Dia keluar dari kamar itu.
Alex melihat Bu Susan sedang berdiri di depan kamar Arini.
"Bu, ada apa?" tanya Alex.
"Dari tadi ibu dengar Arini menangis, dan juga berbicara sendiri. Sepertinya dia gila," ucap Bu Susan.
"Masa sih?" Alex sedikit tak percaya.
"Coba saja cek di kamarnya," ucapnya.
Alex membuka pintu kamar yang kebetulan tidak terkunci. Pandangannya tertuju kepada Arini yang sedang berbaring di atas kasur. Ternyata Arini sedang tidur. Alex sedikit heran dengan perkataan Bu Susan. Sebenarnya Bu Susan itu bicara kebenaran atau mengarang cerita. Namun Alex tak mau ambil pusing dengan hal itu. Dia kembali keluar dari kamar Arini.
Tentu Bu Susan heran melihat Arini sedang tidur. Jelas-jelas tadi mendengar suara tangisan dan berbicara sendiri. Tanpa mereka ketahui, sebenarnya tadi Arini mengigau dalam tidurnya.
Tring tring
Alex mendengar ponselnya berdering. Ternyata itu panggilan masuk dari asistennya yang mengatakan jika ada pekerjaan mendesak di kantor yang harus dia kerjakan.
Beberapa menit setelah kepergian Alex, Mila memanggil-manggil ibunya.
"Mah mamah," ucapnya berteriak.
Bu Susan yang sedang duduk bersantai, menatap ke sumber suara.
"Ada apa sih teriak-teriak? Nanti anakmu bangun loh."
"Biarin, malas sekali aku mengurus itu anak, merepotkan saja ngurus anak orang," Mila menggerutu.
"Jangan bicara seperti itu, nanti kalau ada yang mendengar bisa gawat," Bu Susan berucap sambil menatap sekitar. Untung saja tidak ada orang lain di sekitar sana.
Mila mendudukkan diri di samping ibunya.
"Tapi Mila cape, Mah. Dia rewel terus kalau sama Mila."
"Kamu yang sabar saja, ingat ya perjuangan kita sudah sejauh ini. Jadi kamu jangan mengacaukannya."
"Bagaimana jika aku minta Arini untuk jadi baby sister anakku," Mila tampak memikirkan ide itu agar dirinya tak usah cape-cape mengurus anak yang memang bukan anaknya.
"Kamu gila? Bisa-bisa Arini mengetahui jika anak itu ada ikatan batin dengannya. Nanti biar mamah carikan baby sister lain saja. Arini kita usir saja dari rumah ini. Ingat, jangan gegabah untuk melakukan sesuatu," ujar Bu Susan.
"Baiklah, terserah mamah saja. Yang penting Mila tidak usah repot-repot ngurusin anak itu."