Alena gadis tangguh penuh tekad, dia adalah seorang Mahasiswi semester 5 disebuah universitas di Jakarta, suatu hari nasib buruk menimpa dirinya saat ayahnya yang gila judi itu terlilit begitu banyak hutang akibat hobi gilanya itu.
Alena dijadikan taruhan kepada seorang Mafia kejam dan menjadi tumbal keserakahan ayahnya sendiri.
Alena terpaksa harus menjadi tawanan sang Mafia karna ayahnya ternyata kalah dalam permainan judi bersama sang Mafia.
Dalam semalam hidupnya berubah, dia terpaksa harus menikah dengan laki laki asing yang terkenal berdarah dingin bernama Raka Bumiatmaja, namanya harum dikalangan para penjahat kelas kakap, tak ada yang berani mencari masalah dengannya.
Dia Mafia yang menangani penyelundupan senjata api untuk negara negara besar. Kekayaannya mungkin hampir separuh negri, dengan kuasa dan uang yang dia miliki apapun bisa di dapatnya hanya dengan menjentikkan jarinya.
Akan kah Alena bahagia dengan kehidupan barunya sebagai istri seorang Mafia kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lela W.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Tubuh Alena meremang saat merasakan hangat hembusan nafas Darren menerpa tengkuknya.
Kedua tangan Alena berpegangan pada dinding di depannya.
"Apa sudah selesai tuan?" Tanya Alena gugup.
Darren masih diam, tak sadar sepasang matanya terus menelusuri setiap inci tubuh punggung Alena yang kini polos di depannya.
"Tu..tuan!" Panggil Alena lagi, kali ini dia mengeraskan suaranya.
Darren tercengang mendapati dirinya dengan bodohnya sedang memperhatikan Alena.
"Cepat pergi ke kamar mandi, merepotkan saja!" Desis Darren sambil berbalik meninggalkan Alena.
Alena mendesis jengkel, memangnya siapa yang mau merepotkan mu, tadi kan aku mau minta tolong Bu Lastri diluar! geram Alena kesal.
Alena berjalan ke kamar mandi dengan perasaan dongkol.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Alena segera memakai baju yang tadi diambilnya dari dalam lemari.
Dia keluar dari kamar mandi, tapi keningnya berkerut saat melihat Darren tidak ada disana.
"Kemana perginya laki laki menyeramkan itu?"
Alena duduk di sofa dan bingung mau melakukan apa.
Tiba tiba Alena teringat teman temannya di kampus. Sudah beberapa hari ini dia tidak masuk, teman temannya pasti bertanya tanya tentang keberadaannya.
Alena tidak membawa ponsel saat malam kejadian dirinya dibawa paksa oleh Darren ke rumah besar ini.
"Apakah aku ijin saja untuk kuliah lagi, kira kira dia mengijinkan tidak ya.." Alena tampak menimbang, haruskah dia mengatakan keinginannya ini pada Darren.
"Tapi aku takut, bagaimana kalau dia marah dan melakukan hal gila dengan pistolnya lagi!" Alena menggeleng ngeri. Membayangkan kejadian saat di Paviliun itu sudah membuat kakinya gemetar.
Tidak, dia tidak mau mengalami hal menakutkan berada diantara hidup dan mati lagi, cukup sekali itu saja!
Karna bosan hanya berdiam diri di dalam kamar dan tidak melakukan apa apa, akhirnya Alena memutuskan untuk keluar dari kamar utama itu.
Dia membuka pintu dengan hati hati, ternyata tidak di kunci, apa ini artinya Darren mengijinkannya untuk berada di ruangan lain dirumah ini selain di dalam kamar.
"Nona Alena, ada yang bisa kami bantu?"
Alena telonjat kaget saat melihat kepala pelayan Lastri sudah berdiri di belakangnya, wanita paruh baya itu membungkuk hormat lalu menatapnya menunggu jawaban.
"Tidak, aku hanya bosan di dalam kamar tanpa melakukan apapun, boleh kah aku berkeliling rumah ini?"
Lastri tampak diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Baik, Nona. Saya akan mengantar nona berkeliling rumah ini." Jawab Lastri akhirnya.
Alena terkejut, tidak menyangka jika keinginannya dikabulkan oleh Lastri, dia pikir Lastri akan menolaknya.
"Kita mulai dari lantai atas dulu nona." Kata Lastri sambil berjalan disamping Alena.
Alena mengangguk, dia memang belum tahu seluruh bagian rumah ini, hanya kamar utama dan ruangan depan saja yang pernah dia lihat, ruangan ruangan lainnya Alena belum sempat melihatnya.
Mereka berjalan hingga sampai di depan sebuah kamar yang letaknya paling ujung dari kamar Darren.
Alena mengernyitkan keningnya saat melihat cat kamar pintu yang agak mencolok, berwarna pink muda. Sangat kontras dengan seluruh warna cat di dalam rumah ini yang rata rata berwarna gelap dan netral.
"Kamar ini adalah kamar Nona Jasmin, Nona Jasmin adalah adik Tuan Darren, Nona Jasmin tidak pernah keluar kamar, termasuk saat acara pernikahan Nona dan Tuan muda."
Alena tercengang, astaga ternyata Darren memiliki anggota keluarga lain dirumah ini.
"Adik Tuan Darren?" Alena menatap pintu di depannya dengan kedua mata membulat sempurna.
"Iya, saya akan antar nona ke dalam."
Lastri membuka pintu kamar itu. Alena melihat kegelapan langsung menyambut. Hanya ada satu cahaya dari lampu yang menggantung di dekat meja disisi ranjang yang menerangi ruangan itu.
Alena lagi lagi tercengang dengan pemandangan di depan matanya.
Dia melihat seorang gadis belia yang mungkin seumuran dengannya tengah berbaring diatas sebuah ranjang besar. Selang infus menempel ditangan kirinya, sementara sebuah selang oksigen juga terlihat bertengger di hidungnya. Wajah cantiknya kelihatan sangat pucat.
"Nona Jasmin, apa kami mengganggu istirahat nona?"
"Tidak bi, kemarilah. Apa itu kakak ipar?"
Lastri mengangguk.
"Silahkan nona Alena, mendekat lah ke ranjang." Lastri mempersilahkan Alena maju.
Alena meremas kedua tangannya, dia gugup.
"Hai.." Sapa Alena lembut dengan senyum ramah.
Jasmin membalas senyumnya. Dia menatap Alena lurus.
"Apakah kakak istrinya kak Darren? aku ingin menghadiri acara pernikahan itu, tapi kak Darren melarang ku."
"Kenapa?" Alena membungkukkan badannya dan mengusap tangan Jasmin yang terasa sedingin es.
"Kak Darren bilang dunia luar terlalu kejam untukku, dia tidak ingin ada orang asing yang menyakitiku."
Sejenak Alena membeku mendengar penuturan Jasmin.
"Kak Darren juga selalu bilang tidak ada yang boleh tau identitas ku sebagai adiknya, kaka pasti sudah tahu kan pekerjaan kak Darren apa?"
Alena hanya mengangguk pelan. Pria menakutkan itu seorang Mafia Penyelundup Senjata.
"Karna pekerjaannya yang beresiko, selama ini kak Darren menyembunyikan ku dari dunia luar, dia tidak ingin musuh musuhnya tahu kalau aku adalah adiknya, dia bilang hanya dengan menyembunyikan ku lah dia bisa melindungi ku dari bahaya orang orang diluar sana."
Alena seakan tertampar mendengar ucapan Jasmin.
Darren begitu melindungi gadis ini, ternyata dibalik sikapnya yang sangat kejam, dia adalah seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya.
Tapi kemudian Alena sadar sesuatu.
Darren begitu berusaha menyembunyikan adiknya ini dari dunia luar, sedangkan dirinya sengaja di ekspos Darren di depan semua orang.
Alena terhenyak, dia baru ingat kalau dari awal Darren memang sengaja menikahinya karna ingin menjadikannya tameng, bagaimana mungkin pria menyeramkan itu akan memikirkan keselamatannya.
Bagaimana jika suatu hari musuh musuh Darren mengincarnya, pernikahan ini sudah di ketahui semua orang bukan? bukan tidak mungkin musuh musuhnya juga tahu soal ini.
Kenapa Alena tidak menyadari ini dari awal, ternyata dia benar benar hanya dijadikan alat untuk menutup identitas Mafia Darren dari semua orang, tapi tentang keselamatannya Darren sama sekali tidak memikirkannya.
"Kak.." Jasmin memegang tangan Alena.
Alena menoleh dan tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya. Kenapa Jasmin?"
"Aku seneng karna kak Darren sekarang sudah menikah, aku punya teman di rumah ini, kakak mau kan sering main kesini?"
Alena duduk di tepi ranjang, dia tersenyum ke arah Jasmin dan membelai tangan gadis itu. Alena merasa kasihan melihat kondisi Jasmin.
"Kakak juga senang berkenalan denganmu, ternyata kakak punya teman dirumah ini, kita jadi teman ya?"
Alena menyodorkan jari kelingkingnya sebagai tanda perkenalan.
Jasmin tersenyum antusias dan menyambut jari kelingking Alena dengan jari kelingkingnya.
"Jasmin, apa kamu tidak mau sesekali jalan jalan keluar kamar?" Tanya Alena.
Jasmin terdiam. Dia menatap selang infus di tangannya.
"Jasmin, kita bisa jalan jalan dengan kursi roda kan? kakak akan membantumu. Sepertinya rumah ini memiliki halaman yang luas, dan kulihat tembok yang mengelilingi halaman rumah ini juga begitu tinggi, tidak mungkin juga orang luar bisa mengintip ke dalam sini."
"Kak Darren tidak akan mengijinkannya kak.."
"Kau tidak usah memikirkan itu, aku akan mencoba bicara padanya nanti."
Jasmin tersenyum bahagia mendengar perkataan Alena, dari pertama bertemu saja kakak iparnya ini sudah merebut hatinya, Jasmin bisa merasakan kalau Alena adalah gadis yang baik.
Setelah beberapa lama mengobrol, Alena akhirnya pamit keluar dari kamar Jasmin.
Lastri melanjutkan tugasnya menunjukkan beberapa ruangan lain di dalam rumah besar itu.
"Nona, kalau saya boleh memberi saran, lebih baik lupakan keinginan nona tadi." Kata Lastri sambil terus berjalan disebelah Alena.
Alena menautkan kedua alisnya.
"Keinginan yang mana?"
"Mengajak nona Jasmin keluar dari kamarnya, tuan Darren tidak akan menyukai itu."
"Tapi memangnya kenapa?"
"Apakah kesehatan nona Jasmin tidak cukup menjadi alasan, Nona."
"Sebenarnya Jasmin sakit apa?"
"Dia memiliki kelainan jantung bawaan, kondisi fisiknya lemah sejak dulu, makanya Tuan Darren begitu menjaganya selama ini, perlu Nona ketahui, jika terjadi sesuatu pada Nona Jasmin, tuan Darren mungkin tidak akan mengampuni Nona."
bersambung..