...Neng..neng..neng...glungg..
Suara alunan gamelan tembang girap kebo giro pengiring pengantin menggema di dalam gua gelap ini.
Tubuh Satya semakin gemetar ketakutan tatkala mendengarnya.
"Si...siapa yang sedang menikah di dalam gua seram ini?", gumamnya sembari memegang ponsel sebagai penerang gua ini.
Ia semakin masuk ke dalam gua yang tak berujung, hingga tiba-tiba kakinya tanpa sengaja menyandung sebuah kaki manusia yang tergeletak bersama badannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frustasi.
Satya yang tak sengaja melihat Kencana keluar rumah dengan menenteng tas besarnya segera membordir sang eyang dengan pertanyaan pertanyaan.
"Eyang! kau apakan Kencana! hingga ia keluar dari rumah ini?!", bentak Satya kepada eyangnya yang masih berdiri terpaku di depan pintu.
"Sepertinya kau sudah tau cucuku kenapa dia seperti itu", ujar eyang tanpa nada berdosa.
"Eyang keterlaluan! baiklah jika eyang menyakitinya maka aku yang akan menyembuhkannya", ujar Satya .
Tiba-tiba mama Satya menghampiri mereka berdua.
"Ada apa ini eyang sama Satya?", tanya sang mama melihat anaknya sedang bersitegang dengan eyang.
"Mama tanya sama eyang! Kencana pergi gara-gara eyang!", ujar Satya sembari pergi mencari Kencana.
"Kenapa ini? Satya, Keysa di rawat apa kamu tidak mau menjenguk? kamu mau kemana?", tanya mama Satya sembari mengejar Satya.
"Tidak peduli ma! aku harus mencari Kencana", Ujar Satya sembari membuka mobilnya.
Sementara itu, Kencana merasa sangat sedih. Ia tak tau harus kemana. Langkah demi langkah ia lalui dengan panas matahari yang semakin terik menyengat punggungnya.
Sandal yang ia kenakanpun ikut putus karena terantuk batu jalanan. Hingga terpaksa, ia harus berjalan tanpa alas kaki.
"Seperti apa wanita yang Mas Prabu nikahi sampai-sampai ia melupakan pernikahan kami", lirih Kencana.
Ia terus berjalan hingga sebuah mobil metalik mengklaksonnya berkali-kali.
Tin...tin...tin..
"Kencana berhenti!", teriak pengemudi mobil itu yang ternyata adalah Satya.
Namun, bukannya berhenti Kencana malah berlari sangat cepat. Ia tak memedulikan kakinya yang sudah lecet karena terkantuk kerikil dan aspal.
Ia semakin melajukan langkahnya hingga tiba-tiba, sebuah truk kontainer dari arah berlawanan menubruk tubuhnya.
Ia menjerit keras dan tubuhnya jatuh terpelanting terantuk aspal hingga darah keluar dari dahinya. Truk yang menabraknya rupanya melarikan diri.
Satya segera menghentikan mobilnya dan ia langsung melihat keadaan Kencana yang sudah bersimbah darah.
"Kencana!!!! dasar truk sialan!!", umpat Satya sambil memangku tubuh gadis itu.
Orang-orang yang melihatnya hanya bisa berkerumun dan melihat.
"Aduh kasihan sekali"
"Apakah sudah mati?"
"Panggil polisi, cepat! truk nya melarikan diri"
Teriak orang-orang dengan riuhnya. Bahkan ada yang memotretnya dan membuat instastory di media sosialnya. Sungguh miris.
Satya segera membopong Kencana dan membawanya menuju rumah sakit. Ia tak mau menunggu polisi dan membiarkan Kencana kesakitan.
"Minggir! saya akan membawanya ke rumah sakit", Satya membopong sendiri tubuh gadis itu tanpa ada yang membantunya.
Memang seperti inilah kelakuan manusia jaman sekarang. Bukannya menolong malah melihat dan memotret.
Satya segera membawa Kencana ke rumah sakit, dan Kencana pun mendapat pertolongan.
Satya tak peduli dengan kondisi bajunya yang sudah berlumur darah.
"Kencana kamu harus kuat!", lirih Satya sambil menggenggam tangan Kencana yang tengah di geledek oleh suster.
Hingga ia harus terpaksa menuruti kata suster dan dokter untuk menunggu di luar ruangan karena Kencana harus mendapat perawatan darurat.
...****************...
Sementara itu, Rio, Akbar dan Jihan yang hendak menjenguk Keysa melihat Satya yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Satyaa!", panggil Jihan.
Kedua lelaki itu juga memanggil Satya. Mereka semua menghampiri Satya.
"Sat, lo ngapain di sini?! Keysa kan di rawat di ruang mawar", ujar Jihan kepada Satya.
Satya tampak mengacak rambutnya kasar.
"Gue nungguin Kencana, Bro... .Dia..kecekakaan tertabrak truk tadi", lirih Satya frustasi.
"Apa?!".
Pekik mereka semua bersamaan.
"Kok bisa Sat?", tanya Rio yang mengambil duduk di dekat Satya.
"Dia marah sama eyang", lirih Satya.
"Ngapain marah sama eyang? eyang lo galak ya?", tanya Akbar.
"Bukan bro..ceritanya panjang".
"Jadi, eyang gue itu sebenarnya suaminya Kencana, Mas Prabu", ujar Satya.
"Apa?!, ini serius Sat", pekik Jihan dengan suara cemperengnya.
Kedua pemuda itu juga sama-sama tercekat.
"Iya, semalam kita berhasil nemuin konde yang sama dengan punya Kencana yang katanya di bawa oleh suaminya, dan ternyata itu di kamar eyang gue".
"Setelah itu, Kencana kecewa karena eyang atau suaminya ternyata telah menikah lagi sama eyang putri gue!".
"Terus pagi tadi, Kencana kabur dari rumah dan gue kejar dan akhirnya ia tertabrak truk", lirih Satya mengakhiri ceritanya.
Semua tercengang mendengar penuturan Satya.
"Ternyata selama ini, Kencana masih ada hubungan sama keluarga lo Sat", lirih Jihan yang ikut prihatin.
"Gue yakin, Kencana gadis kuat, dia pasti selamat", ujar Satya.
"Eh, kita mau jenguk Keysa, dia sakit, di rawat juga di rumah sakit ini, lo gak ikut dulu Sat?", tanya Jihan.
Satya hanya menggeleng dan meminta mereka bertiga untuk menjenguk Keysa terlebih dulu, karena ia akan menjaga dan menunggu Kencana.
Akhirnya, mereka bertiga berpamitan untuk Menjenguk Keysa.
...****************...
Tiga muda-mudi itu memasuki kamar di mana Keysa di rawat. Terlihat Keysa sudah sadar. Namun, ia sangat lemah dan pucat.
Keysa terlihat senang ketika ketiga temannya menjenguknya.
"Ya ampun.. Keysa lo kenapa bisa kaya gini", ujar si cempreng Jihan sambil memegangi tangan Keysa.
Sementara kedua lelaki itu tengah meletakkan oleh-oleh di atas meja .
Keysa hanya tersenyum. Mama Keysa yang menunggu juga tersenyum. Hatinya merasa lega karena putrinya akhirnya bisa tersenyum.
"Gue..gue sakit guyss", ujarnya terbata.
Mama Keysa memilih keluar ruangan dan membiarkan ketiga sahabat anaknya itu leluasa menjenguk.
"Satya mana?", tanya Keysa mengedarkan pandangan.
"Satya sedang berduka, Key, ia menunggu Kencana yang telah kecelakaan tertabrak truk", ujar Akbar.
"Iya, dia juga di rumah sakit ini kok, tadi kita udah ajakin. Tapi dia masih mau nunggu Kencana dulu", ujar Jihan.
Keysa merasa geram. Ia semakin merasa iri terhadap Kencana. Ia merasa Kencana lebih di utamakan oleh Satya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Di saat seperti ini, masih Kencana yang di prioritaskan. Kenapasih dia gak mati aja!", lirih Keysa dalam hati.
Sementara itu, ketiga muda-mudi itu menceritakan Kepada Keysa kronologi Kecelakaan Kencana.
Mereka juga menceritakan bahwa eyang Satya adalah suami Kencana di masa lalu.
Keysa hanya menyeringai. Ia sudah tahu terlebih dahulu.
"Pasti ini bagian dari rencana eyang", lirih Keysa dalam hati
Rasa iri dan sesak telah menguasai Keysa.
"Aku sudah kerja sama dengan eyang, aku tidak boleh lemah! aku tidak boleh mundur! Satya! sekarang elo boleh saja mengabaikan gue! namun, lihat saja, suatu saat elo pasti akan tergila-gila sama gue!", lirih Keysa dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
Sementara itu, dokter yang menangani Kencana telah memberitahu Satya, bahwa Kencana harus segera mengalami operasi di bagian kepala.
Satya memohon kepada dokter untuk menangani sabaik mungkin. Tak lupa ia memberi tahu kedua orang tuanya dan eyang atas kejadian ini.
Eyang menjadi orang pertama yang panik dan langsung beranjak ke rumah sakit di temani oleh sopir.
"Bagaimana keadaannya?", tanya eyang sesampainya di sana.
Satya hanya bersedekap sambil memperlihatkan wajah permusuhan kepada eyangnya.
"Eyang lelaki yang tidak bertanggung jawab!", pekik Satya di depan eyangnya.
"Enteng sekali bicaramu! eyang sudah berpuluh tahun mencarinya! tapi eyang bukanlah manusia beruntung yang bisa memasuki gua larangan itu sepertimu!", tuding eyang kepada Satya.
Satya hanya terdiam. Kepalanya berdenyut. Ia memikirkan perkataan eyangnya yang ada benarnya juga. Gua larangan itu tak sembarang manusia yang bisa menjamahnya. Mungkin ia adalah manusia beruntung yang dapat memasukinya.