NovelToon NovelToon
Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Poligami / Tamat
Popularitas:3.1M
Nilai: 4.7
Nama Author: uma_bhie

Catherine Zeta Jones, sosok gadis pekerja keras yang hanya hidup sebatang kara.

Pekerjaan sebagai buruh pemetik anggur di salah satu perkebunan anggur terbesar di desanya.


Ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan untuk menyisihkan sebagian gajinya untuk bisa melanjutkan pendidikan di perguruan ke dokteran.


Nasih baik membawanya, pada keberuntungan, saat menyelamatkan nyawa seorang wanita setengah baya, yang ternyata nyonya besar dan pemilik perkebunan anggur tempatnya bekerja.

Nyonya Margaretha, wanita yang ia tolong menjodohkan dirinya dengan putra semata wayangnya.

Siapa yang menduga, kalau putra nyonya Margaretha sudah memiliki seorang istri yang dalam keadaan koma.


Bagaimana kah' nasib Catherine selanjutnya? Apakah kebahagiaan atau penderitaan yang ia dapat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma_bhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Pintu berukuran tinggi menjulang dengan pahatan juga ukiran mewah itu terbuka dari luar.

Muncul sosok wanita rupawan dengan penampilan feminim di balik pintu tersebut. Dengan senyum ramah yang terus terukir di wajah rupawannya.

Namun senyum itu memudar saat, tidak mendapati suaminya di dalam kamar. Ia hanya mendapati kepala pelayan di sana. Yang, memasang wajah tidak ramah.

Catherine mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar mewah yang kini menjadi kamar pribadinya dengan sang suami.

Indra pendengaran gadis itu menangkap suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi. Catherine pun melangkah ke arah ruangan lain di dalam kamar itu. Ruangan yang merupakan letak pakaian dan barang-barang keperluan suami dan miliknya tertata rapi di sana.

Catherine terus melangkah, tanpa mengindahkan keberadaan kepala pelayan yang sejak tadi menatapnya tajam.

Tak tahan dengan perasaan jengahnya, kepala pelayan itu pun mencoba menegur — Catherine.

"Nyonya, apa …."

"Keluarlah!" Potong Catherine tanpa membalikkan badannya,

"Tapi …."

"Tidak, baik seorang pelayan terlalu lancang memasuki kamar pribadi majikannya," lanjut Catherine dengan nada datar dan tegas.

"Anda, yang seharusnya keluar dari sini," balas kepala pelayan itu dengan nada tegas.

Catherine membalik badan dan memperlihatkan wajah herannya kepada bibi Beatrice. Dan membalas ucapan bibi Beatrice.

"Kenapa, saya harus keluar dari sini?" Tanyanya dengan alis menukik ke atas.

"Karena, ini bukan kamar anda," jelas bibi Beatrice.

"Maksudnya, apa?! Tanya Catherine dengan heran dan dahi mengerut .

"Apa, anda lupa? Kalau tuan melarang anda memasuki kamar ini?" Tanya bibi Beatrice kembali.

"Ingat," jawab Catherine tidak acuh dengan kedua pundak mungilnya terangkat ke atas.

"Terus, apa yang anda lakukan disini? Lebih baik anda keluar," usir bibi Beatrice dengan suara mulai terdengar jengah, dan wajahnya semakin tak bersahaja.

"Kenapa, aku harus keluar?" Sela Catherine dengan bertanya bingung. " Bukankah, ini kamar milik suamiku? Dan … kamu pasti tahu siapa saya," lanjut Catherine yang kini berjalan mendekat kepada bibi Beatrice sambil melipat kedua tangan di depan dada.

"Istri yang tercampakkan maksud, anda?" Sahut bibi Beatrice dengan sinis.

Catherine terkekeh pelan, mendengar jawaban sinis bibi Beatrice. Ia sama sekali tidak tersinggung karena itu adalah kenyataan kalau, dirinya hanya istri yang tercampakkan.

Namun sebagai menantu di sana dan juga memiliki status sah sebagai seorang istri dari Jeffin William Abraham, Catherine tentu saja memiliki hak di kediaman itu. Apalagi, hanya untuk menyingkirkan pelayan setengah baya di hadapannya.

"Meskipun begitu saya tetap anggota keluarga ini, walaupun saya tidak dianggap sebagai istri, tapi … saya punya hak untuk memberikan perintah kepada bibi, dan anda wajib mematuhi, bukan?" Tandas Catherine, membuat pelayan wanita itu bungkam.

Ia hanya bisa menahan rasa marah di dalam hati, ingin melawan pun itu tidak mungkin, karena apa yang dikatakan gadis di depannya benar. Status nya hanya sebagai pelayan dan dia adalah nyonya muda di kediaman ini, meskipun nona muda kedua dan masih baru menepati kediaman Abraham, sebagai pelayan yang sudah lama berbakti di keluarga Abraham, bibi Beatrice tahu harus bersikap apa.

"Keluarlah!" Perintah Catherine lagi, saat melihat pelayan setengah baya itu hanya terdiam membeku di tempatnya.

Bibi Beatrice tersentak dari lamunannya, ia masih bersikeras untuk berada di dalam kamar tuannya itu.

"Silahkan, anda keluar." Dengan intonasi lembut dan penuh hormat. Catherine menyuruh bibi Beatrice untuk kembali keluar.

"Saya, memiliki tugas untuk melayani tuan muda," sahut bibi Beatrice tenang.

"Terimakasih, anda sudah melayani suami saya, tapi, mulai sekarang tugas itu ... saya akan mengambil alih. Jadi silahkan anda keluar." Kali ini Catherine berkata dengan nada tegas dan wajahnya yang tadi ramah kini berubah tidak bersahabat.

"Saya, sudah melakukan ini semenjak tuan kecil. Jadi, ini sudah merupakan kewajiban saya," tolak bibi Beatrice dengan nada protes.

"Tapi, sayang sekali kewajiban itu akan menjadi milik saya, yang merupakan istrinya," jawab Catherine sengit.

"Anda tidak akan mungkin bisa mengambil posisi saya, nona," cibir bibi Beatrice dengan seringai licik.

"Mengeluarkan, anda dari Mansion ini saja, saya bisa. Apalagi, mengambil alih melayani suami saya, yang memang ini kewajiban saya sebagai seorang istri. Anda, terlalu naif bila terus ber sekeras." Balas Catherine sengit.

"Anda …."

"Jagalah, sikap anda kepada majikan. Saya, tahu anda adalah pelayan senior di sini, dan memiliki pengalaman banyak. Jadi… tentu anda tahu batasan, anda," pungkas Catherine yang memotong kembali perkataan sengit kepala pelayan itu.

"Jadi… silahkan keluar. Pasti anda memiliki rasa malu bila terus berada di dalam kamar pribadi seorang majikan," pungkas telak Catherine. Yang membuat wajah bibi Beatrice berubah suram dan menahan gejolak emosi.

Dengan wajah bengisnya, bibi Beatrice membalikkan badan untuk menuju pintu kamar, namun lagi-lagi ia harus mendengarkan kata-kata telak Catherine. "Mulai sekarang, anda tidak perlu, memasuki kamar ini lagi. Dan peraturan ini berlaku untuk semua pelayan," titah Catherine dengan nada penuh ketegasan.

Catherine pun membiarkan, bibi Beatrice keluar dari kamarnya dengan Jeffin. Catherine dapat menilai jelas raut wajah kesal bibi Beatrice kepadanya. Namun, ia hanya bisa sekuat tenaga menahan getaran tubuhnya, saat berusaha melawan dan bersikap profesional.

………….......

Catherine kini sudah berada di ruangan ganti milik sang suami, memilih beberapa setelan jas bermerek yang cocok untuk digunakan suami. setelah menemukan yang pas dengan tubuh ideal sang suami, Catherine kembali ruangan tidur dengan setelan jas formal warna hitam pekat di tangan.

Gadis yang terlihat begitu antusias itu, meletakkan setelan tersebut di atas ranjang. Lalu berlalu kembali ke ruangan ganti saat melupakan sepatu juga aksesoris pelengkap penampilan formal suaminya.

Catherine kembali keluar dari ruangan ganti, bertepatan kamar mandi terbuka. Menampilkan sosok pria gagah dengan lembabnya yang dibalut baju mandi tebal berwarna hitam.

Hampir saja barang-barang berharga milik suaminya terlepas dari tangan kecil Catherine, saat melihat pemandangan menakjubkan di hadapan.

Catherine menahan nafas sejenak dengan tubuh membeku di tempat, ketika melihat, penampilan suaminya yang hanya menggunakan baju mandi yang tidak sempurna membungkus tubuh atletisnya.

Dada berotot suaminya terlihat jelas dengan kedua mata, yang menatap penuh kagum akan pahatan sempurna tubuh sang suami.

Catherine mengalihkan pandangan, saat Jeffin menyadari keberadaannya, Catherine mendadak bisu dengan mulut terkatup rapat.

Gadis itu menyembunyikan semburan merona wajahnya dengan menundukkan kepala.

Jeffin sendiri hanya bisa mendesis sinis dan terus melangkah lurus, untuk menuju ruangan ganti.

Tapi ucapan pelan Catherine mencegah langkahnya. "A-aku, sudah menyiapkan semua keperluan mu," pungkas Catherine dengan nada terbata.

Sepertinya, suaminya itu tidak begitu tertarik mendengar ucapan Catherine. Jeffin kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan ganti.

Gadis bertubuh mungil, segera meraih setelan jas yang sudah ia pilih untuk sang suami. Yang — berharap suaminya itu menyukai pilihannya.

Tapi … sepertinya itu tidak akan mudah. Karena setiba Catherine di dalam ruangan ganti, tiba-tiba atmosfer di ruangan itu berubah suram, oleh tatapan tajam Jeffin yang dilayangkan kepada — Catherine.

"Siapa, yang memberikan izin kepadamu untuk menyentuh barang-barang berharga milik ku." Ucap Jeffin dingin dengan tatapan menghunus tajam.

"A-aku …."

"KATAKAN!" hardik Jeffin lantang.

"Aku, hanya menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri. Melayanimu dan memenuhi keperluan, kamu. Apa, itu salah?"

1
Ema
luar biasa
Leng Loy
Greget banget Lo Woy pergi aja sech Cath
Leng Loy
Dasar pria egois
Leng Loy
Buat Cath pergi dari kehidupan Jeffin
Leng Loy
Pergi aja sech Cath, lagi" kamu hanya dianggap angin saja
Leng Loy
Siapa sech Jeffrey sebenarnya
Leng Loy
Semakin keren Catherine
Leng Loy
Belum tau siapa Catherine 🤣🤣
Leng Loy
Balikin aja tuch kata" yang pernah Jeffin ucapkan
Leng Loy
Dasar labil si Jeffin
Leng Loy
Jangan jadi luluh begitu Cath,klo dia lagi kumat sungguh mengerikan
Leng Loy
Keterlaluan sekali Jeffin gimana mau meriksa Catherine megang aja ga boleh
Leng Loy
Saingan si Jeffin adalah Jeffrey
Leng Loy
Ada yang ngasih hadiah tidak terima, tapi kenapa kamu terus menyakiti Catherine
Leng Loy
Dasar laki" ga tau diri mulai lagi kebengisan nya
Leng Loy
Pastinya ulah dua ular itu
Leng Loy
Dasar Jeffin mau enaknya aja
Leng Loy
Dua wanita penuh kelicikan
Leng Loy
Ada yang Bucin nech sekarang 🤣🤣
Leng Loy
Katanya dulu jijik sama Catherine sekarang kok posesif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!