Liana adalah seorang gadis
yang terlahir
dari keluarga
sederhana, sehari-hari
ia bekerja sebagai karyawan
biasa di kantor tempat ia
bekerja.
suatu hari semua karyawan mendapat undangan untuk menghadiri acara pernikahan bos muda, tanpa terkecuali.
Liana adalah salah satu karyawan yang hadir di acara itu.
Diacara yang sangat mewah itu tiba-tiba
seorang laki-laki yang tidak Liana kenali secara tiba-tiba menariknya secara paksa, hingga tubuh Liana sedikit terseret. Liana yang sebenarnya bisa bela diri memilih untuk tidak melakukan perlawanan karena ia tidak ingin membuat keributan di acara penting bagi bosnya itu.
Liana dipaksa untuk menjadi pengganti pengantin wanita yang telah pergi melarikan diri.
Apakah Liana bersedia menjadi pengantin pengganti atau mungkin ia akan membuat keributan disana dan siapakah laki-laki misterius itu?
Terus ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lena Laiha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Setelah selesai sarapan Rendy dan Liana segera beranjak dari tempat duduknya mereka berjalan beriringan menuju tempat dimana supirnya sudah menunggu mereka.
Rendy dan Liana segera menghampiri mobilnya yang terparkir di halaman rumahnya.
supirnya segera membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Rendy dan Liana masuk, setelah keduanya sudah berada didalam mobil supir yang usianya sudah tidak muda lagi kira-kira usianya sekitar empat puluh sampai empat puluh lima tahun itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit Liana baru menyadari kalau jalan yang mereka lewati bukanlah jalan yang menuju ke arah kantornya.
"Ini bukan jalan menuju kantor?" ucap Liana kepada Rendy.
Rendy tersenyum kearah istrinya, "kita memang bukan mau ke kantor, tapi kita mau mengontrol proyek pembangunan
mesjid di perkampungan," jelas Rendy kepada istrinya.
Rendy memang sudah merencanakan pembangunan mesjid di perkampungan sejak dulu, namun ia baru bisa melaksanakan pembangunannya sekarang.
"Owh gitu. Kenapa kamu berinisiatif untuk membangun masjid?" tanya Liana penasaran.
"Tidak ada alasan. Aku hanya ingin menyisihkan sedikit uang yang kudapat dari hasil kerja kerasku," saut Rendy.
Liana tersenyum, lalu mengusap lengan atas Rendy! "apa masih sakit?" tanya dengan nada lembut.
"hmm. Sedikit," jawab Rendy dengan pandangan lurus ke depan.
"Jadi, aku belum bisa bersandar disini," ucap Liana seraya menepuk bahu suaminya pelan.
Rendy menoleh ke arah Liana, dilihatnya wajah sang istri yang biasanya terlihat jutek namun kini sedang senyum ramah padanya.
"Kalau kamu mau, boleh saja," ucap Rendy yang merasa bahagia dengan ucapan istrinya itu.
"Katanya sakit. Berarti kamu cuma pura-pura sakit ya," ketus Liana.
Wajahnya seketika berubah menjadi jutek kembali.
"Tadi baik, sekarang galak lagi," ketus Rendy.
Tiga puluh menit berlalu tapi belum ada tanda-tanda mereka akan sampai ke tempat tujuan.
Liana memperhatikan sekeliling, jalan yang mereka lewati sangat sepi bahkan bisa dibilang tak ada satupun kendaraan yang lewat terkecuali mereka, hanya ada rimbunnya pepohonan dan suara burung liar disana.
"Apa benar ada desa di tengah hutan kaya gini?" tanya Liana dalam hati.
Tak ada lagi percakapan diantara mereka. Hanya ada keheningan didalam mobil tersebut, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, tiba-tiba ada beberapa preman yang memepet kendaraan yang ditumpangi oleh Rendy dan Liana.
"Tuan, sepertinya ada orang yang berniat jahat," ucap supir pribadinya, Rendy.
Liana yang tak ingin berburuk sangka mencoba menepis apa yang ada dalam pikirannya, sebenarnya ia juga merasa beberapa laki-laki yang membuntuti mobil mereka akan berbuat jahat kepada mereka.
"Mungkin mereka sedang melakukan balap liar," ucap Rendy, ia mencoba berpikir jernih. Saat ini memang balap liar sangat sering terjadi apalagi di jalanan yang sepi seperti jalan yang tengah mereka lewati.
Sementara sang supir hanya menganggukkan kepalanya.
Jarak antara mobil yang ditumpangi oleh Rendy dan Liana, semakin dekat dengan para pemotor itu. Salah satu pemotor itu menggedor kaca mobilnya Rendy agar supirnya menghentikan lajunya.
"Pak, naikkan kecepatan!" seru Liana, matanya terus memandang kearah para pemotor itu.
Tanpa menjawab ucapan Liana, supir itu langsung menaikkan kecepatan laju mobilnya. Hingga aksi kejar-kejaran pun tak bisa terhindarkan.
Namun tak berselang lama dua pemotor itu berhasil mencegat mobil yang ditumpangi oleh Rendy dan Liana. Mereka menghentikan motornya tepat didepan mobil Rendy, hingga sang supir terpaksa menghentikan mobilnya.
Satu pemotor itu turun dari motornya, lalu menggedor kaca depan mobil yang ditumpangi Rendy dan Liana.
"Keluar! woy keluar. Kalau tidak, gue ancurin ni mobil," seru preman itu sembari terus menggedor-gedor kaca dibagian kemudi.
Preman itu menggedor dengan amat keras, hingga membuat Liana terperanjat.
"Siapa mereka?" ucap Liana, seketat wajahnya berubah menjadi tegang.
"Kamu tenang aja, Li. Palingan mereka cuma minta duit," ucap Rendy mencoba menenangkan istrinya yang kini mulai ketakutan.
Sementara itu Liana hanya menanggapi ucapan suaminya dengan menganggukkan kepalanya.
Bagaimana Liana bisa tenang, saat ini tangan suaminya masih terasa sakit. Bagaimana nanti kalau merek melakukan kekerasan? pastinya Rendy kewalahan menangani mereka yang berjumlah lima orang.
Liana tidak mungkin ikut melawan mereka, karena menurutnya saat ini belum waktunya suaminya tahu kalau ia bisa bela diri.
"Pak, tolong berikan uang ini pada mereka. mereka pasti pengangguran yang malas bekerja," ucap Rendy seraya menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.
Rendy tak mau ambil resiko, ia memilih mengalah dengan memberi mereka uang.
Supir pribadinya Rendy segera menerima uang yang diberikan Rendy, lalu keluarlah dari mobilnya untuk memberikan uang tersebut.
Saat supir itu turun dari mobil, salah satu preman menariknya dengan kasar! "cepat keluar!" ucap preman itu.
"Kalian mau apa? teroma uang ini dan tolong biarkan kami lewat," ucap supir itu.
"cuih! duit segini mana cukup," seru preman itu, lalu preman itu menghantam perut supir pribadinya Rendy dengan tangan terkepal.
Seketika Rendy dan Liana terkejut karena supirnya langsung tersungkur ke jalanan. Rendy segera keluar dari mobilnya! "apa yang kalian inginkan?" ucap Rendy dengan duru nafas yang tersengal-sengal, amarahnya kian memuncak.
Tanpa basa-basi preman itu langsung menyerang Rendy dengan pukulannya! Rendy yang memang biasa diserang oleh pesaing bisnisnya, langsung melawan dan menghindari beberapa serangan. Akhirnya perkelahian pun tak bisa terhindarkan.
Karena jumlah mereka lebih banyak, Rendy mulai kewalahan menangani mereka, hingga akhirnya sebuah bogeman mendarat dibagia perut dan wajah Rendy, hingga membuat Rendy terhuyung ke belakang.
Liana yang melihat suaminya sudah lemah, langsung keluar dari mobilnya!
"Mas," ucap Liana sembari berlari kearah suaminya.
"Liana, ngapain kamu keluar dari mobil?" ucap Rendy dengan tangan yang memegang perutnya.
"Mas, aku takut terjadi apa-apa sama kamu," saut Liana.
Sebelum turun dari mobil, suaminya itu memang sudah menyuruh Liana untuk tetap berada di dalam mobil.
Karena Liana tidak bisa membiarkan suaminya terluka akhirnya ia memutuskan untuk ikut melawan mereka.
"Aku tidak apa-apa, cepat kamu masuk ke mobil dan kunci pintunya dari dalam," ucap Rendy kepada istrinya, Rendy memang belum tahu kalau sebenarnya Liana bisa bela diri.
"Ada perempuan cantik, rupanya," ucap preman itu.
"Jangan apa-apakan dia," tegas Rendy, lalu bakuhantampun kembali terjadi.
Liana masih berdiri memastikan bahwa suaminya masih bisa melawan mereka.
Salah satu preman itu mendekati Liana! "hai gadis manis, mari temani kami bermain-main," ucap preman itu seraya menepuk pi***ul Liana.
Pergerakan laki-laki itu tidak terdeteksi oleh Liana, hingga Liana tak dapat menghindarinya.
Hal itu membuat Liana murka, kemarahannya kian memuncak wajah Liana memerah dan tangannya terkepal siap memberi bogem kepada laki-laki itu.
Melihat kemarahan Liana, preman itu hanya tersenyum kearah Liana, mereka meremehkan kekuatan seorang wanita.
Tanpa menunggu lama, Liana langsung menghajar wajah laki-laki yang sudah berani melecehkannya!
"Dasar laki-laki kurangajar, akan ku patahkan tanganmu," ucap Liana dengan serangan yang tak henti.
pergerakan Liana membuat fokus Rendy terpecahkan hingga ia tersungkur ke jalanan.
"Mas," teriak Liana sembari berlari ke arah Rendy.
liana tidak merasa kedekatan dengan satya adalah kesalahan
*dari memilih bersama satya didepan suaminya
*pergi menemui dan makan berduaan dengan satya
*curhat pada lelaki lain
*tidak mengakui suaminya didepan pria lain
*meremehkan dan merendahkan suaminya didepan pria lain
jelas semua itu kesalahan besar tapi author tidak berani mengakui itu sebuah kesalahan
terpaksa menikah
menikah ny dgn siapa
sukses
semanagt
mksh