Sebuah kecelakaan yang terjadi enam bulan lalu membuat Baby Corn harus kehilangan sebelah kakinya. Ia juga sempat mengalami koma selama tiga bulan. Sementara kekasihnya Lucky meregang nyawa di lokasi kecelakaan.
Seorang dokter bernama Maxime, memantau perkembangan kesehatan Baby dari mulai terapi sampai ia dinyatakan sembuh. Perlahan timbul rasa suka pada Baby. Karena berstatus duda, ia tak pernah mengakui jika dirinya jatuh cinta pada Baby.
Setelah siuman, Baby tinggal di Paris, Perancis, sebuah kota yang penuh keromantisan. Ia berharap bisa melupakan kenangan pahit setelah kehilangan sebelah kaki dan juga kekasihnya.
Cita-citanya terhenti karena fisik yang cacat, membuat Baby harus membuat kaki palsu. Di saat yang sama, perjuangan cinta dokter Maxime diuji ketika Baby memutuskan untuk masuk dunia modeling.
Bagaimana perjuangan dokter Maxime dalam meraih cintanya, apa Baby bisa menjadi supermodel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. MERASA MENANG
"Kamu bisa lihat sendiri, bukan. Tanpa kamu, pun Baby tidak merasa kehilangan, bahkan ia terlihat bahagia."
Ucapan Cherry benar-benar meracuni pikiran dr. Maxime. Apalagi setelah melihat sendiri tawa lepas Baby bersama teman-teman modelnya. Padahal saat itu, Alexa sengaja menceritakan kelucuannya saat camping beberapa hari yang lali dan sukses membuat semua teman-teman modelnya tertawa. Tetapi Cherry merekam adegan Baby tertawa lepas.
Hingga akhirnya rekaman itu ia kirimkan ke email dr. Maxime. Cherry memang licik, nomor ponsel di blokir, ia memilih menghungi email mantan suaminya itu. Jelas saja Maxime melihat hal itu serta memeriksanya dengan teliti.
Ada senyum terukir di pemilik bibir tipis itu. Tapi ada kerinduan yang terasa di hatinya saat ini. Ingin rasanya menolak ucapan Cherry, tetapi mungkin ini saatnya memberi Baby kesempatan untuk berkembang di dunia model.
Maxime sudah merasa agak tenang, karena Cherry berjanji untuk tidak akan mengganggu Baby lagi, asal Maxime tidak muncul di depan Baby.
"Baiklah, tapi kamu harus ingat, sekali saja kamu menyakiti Baby, maka kamu akan berhadapan dengan saya!"
Cherry tersenyum menyeringai, "Asal kamu percaya padaku, maka aku menjamin tidak akan terjadi apa-apa dengan Baby.
"Oke, fix!"
Keduanya bersalaman, dan sejak saat itu, Maxime mulai menjaga jarak dengan Baby. Sejujurnya, Baby merasa kehilangan saat Maxime tidak ada disisinya. Perhatian-perhatian kecil itu tak terasa terukir dan menjadi sebuah kenangan indah untuk Baby.
.
.
"Mommy mau kemana?" tanya Baby saat melihat Mamanya menenteng tas kremes limited edition melenggang di depannya.
"Shopping, sayang. Mau ikut?"
"Mau, Mom?"
Ada sedikit ketakutan yang terlihat di wajahnya, tetapi setelah melihat kondisi putrinya yang sudah jauh lebih baik, ia pun membiarkan Baby ikut serta saat ini.
"Kamu, nggak takut capek, Sayang?"
"Kalau capek, ya duduk."
"Oke, ayo!"
Baby merapikan celananya lalu mulai mengikuti langkah Mama Marrie. Kali ini Baby dan Mama Marrie membawa sopir dan satu pengawal pribadi.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di salah satu mall. Kondisi Baby yang lebih baik, membuatnya nyaman saat berada di mall kali ini. Trauma yang ia rasakan beberapa saat yang lalu telah sirna. Kini Baby telah bangkit dan menjadi Baby Corn yang berbeda.
Tak sengaja Baby melewati sebuah food court dan melihat "Duce" miliknya sedang bersama mantan.
"Hello, bukankah itu Cherry? Kenapa bisa bersama dr. Maxime?"
Melihat putrinya menghentikan langkahnya, tentu saja Mama Marrie menegur Baby.
"Ada apa Baby, kamu laper?"
"Eh, enggak Ma, ayuk jalan lagi."
"Bentar-bentar, itu bukannya dr. Maxime? Kok sama mantan isterinya sih?"
"Loh, emang Mama kenal dekat sama dokter ...."
"Kenal, dong, Mama, 'kan diundang pas pernikahan dia dulu."
Karena kepo, secara otomatis Baby mendengarkan informasi penting dari mamanya. Tak lupa arah pandangnya sesekali mencuri pandang ke arah dr. Maxime.
Sayang sekali hanya punggungnya yang terlihat dari balik etalase toko tas yang sedang di kunjungi Mama Marrie. Justru wajah Cherry yang menyebalkan itu yang terlihat dari sana. Belum lagi senyuman Cherry membuat hati Baby panas.
"Seharusnya aku yang duduk di sana!" Gerutu Baby.
Melihat dr. Maxime kembali ke dalam pelukan Cherry, membuat ada rasa kehilangan di hati Baby. Tetapi Baby tak berhak mencampuri urusan pribadi dokter, sehingga hanya rasa sakit yang menemaninya saat ini.
🍂Keesokan harinya.
Baby baru saja selesai melakukan sesi pemotretan untuk baju model terbaru. Ia selalu terpilih karena karakternya bisa menyesuaikan dengan baju yang akan dibawakan.
Bagi seorang designer, model yang baik ibarat artis karena harus mampu menampilkan karater berbeda-beda. Beda baju yang dibawakannya, beda pula mood dan perannya.
"Mereka inilah yang memberikan jiwa dan keindahan pada baju yang hendak ditampilkan. Sehingga karakter model harus disesuaikan dengan baju yang dibawakan," ujar Mariska, mentor sekaligus orang yang mencetak Baby menjadi calon model superstar.
Semua model wajib memiliki sebuah ciri khas dari dirinya yang paling menonjol atau sebuah karakter yang spesial. Karena menjadi seorang model tak hanya sekedar cantik dan pintar bergaya tetapi masih banyak hal lain yang wajib dimiliki dan diasah setiap waktu.
Begitu pula dengan Mariska yang langsung menemukan keunikan pada diri Baby, bahkan secara eksclusif melatihnya tanpa lelah. Terbukti prestasinya melejit melebihi Cherry.
Maka dari itu, dendam Cherry tidak pernah terhapus, bahkan sudah mendarah daging. Masih ada cara lain yang akan ia gunakan saat ini, tetapi tidak menggunakan tangannya melainkan tangan Alexa.
Pada saat Baby letih, ia melepas kaki palsunya. Alexa yang penasaran memegang kaki palsu Baby.
"Votre jambe prothétique est vraiment unique, puis-je le voir?"
(Laki palsumu sungguh unik, boleh kah aku melihatnya)
"Oui, soeurette. S'il te plaît!"
(Boleh, kak. Silakan)
Di saat itu pula, Alexa menaburkan bubuk pada bagian dalam kaki palsu Baby. Ia pintar sekali berakting sehingga Baby tak mencurigai ulah Alexa.
"Vos pieds doivent-ils être enveloppés comme ça tous les jours ?"
(Apakah kakimu harus dibungkus seperti itu setiap hari)
"Oui, donc ça ne fait pas mal quand on le porte."
(Iya, agar tidak perih saat memakainya)
Setelah melihatnya untuk beberapa saat, Alexa mengembalikan kaki palsu milik Baby dan berpamitan.
"J'espère que tu es toujours en bonne santé, bébé, je suis désolé."
(Semoga sehat selalu, baby, aku permisi)
"Merci."
(Terima kasih)
Beberapa saat kemudian saatnya ia kembali tampil. Hingga Baby harus memakai kakinya kembali. Sesi pemotretan berlangsung lancar. Tetapi ketika Baby hendak pulang. Ia merasakan nyeri luar biasa pada kakinya.
Baby segera menelpon dr. Maxime. Hingga sesaat kemudian, ia telah sampai di Rumah Sakit. dr. Maxime sudah menunggunya di lobby. Ketika taxi yang ditumpangi Baby tiba, dr. Maxime langsung membawa Baby ke ruang UGD.
Setelah diperiksa, dr. Maxime kaget sarat melihat hasilnya. Ada bubuk tertentu yang tertinggal di kaki palsu Baby. Setelah diperiksa, serbuk itu termasuk sebuah obat keras. Jika tidak bisa menakarnya dengan baik, maka menimbulkan hal alergi dan kerusakan jaringan kulit.
Untung saja Baby bisa diselamatkan, meski harus dirawat intensif selama satu kali dua puluh empat jam di Rumah Sakit. Saat Baby tertidur, dr. Maxime mengawasinya. Ada rasa penyesalan di hatinya karena telah lalai menjaga Baby.
"Pasti ini akal licik kamu, Cherry. Tunggu aku menemuimu dan kita selesaikan dengan caraku!"
Maxime mengambil kunci mobilnya lalu melangkah pergi meninggalkan Rumah Sakit untuk sejenak. Sementara itu, Baby membuka kedua matanya.
"Kemana dia akan pergi?"
"Apakah aku tidak ada artinya, sehingga dia lebih memilih kembali pada mantannya?"
"Bukankah mantan harus dibuang ke tempat sampah, atau dibuang ke segitiga bermuda sekalian, biar nggak bisa kembali, dih sebel!"
Baby menjejak-jejakkan kakinya kesal, tapi sedikit sakit, terlebih melihat sebelah kakinya yang kini kembali terluka.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
Jangan lupa tap love, komen, rate dan dukung selalu😘