mohon bijak 21+
cerita sederhana, tentang cinta yang butuh perjuangan, tentang wanita yang harus memilih antara cinta dan suaminya.
apa dia akan memilih cinta yang dia idamkan atau memilih cinta suaminya yang sudah bnyak memberinya luka, atau dia memilih jalan lain dari keduanya?
ini akan ada dua versi cerita, yang pertama Dila dan Andri, dan cerita kedua ada Diana dan Rusdy...
jadi simak ya gaes... karena ini tentang PIL yang di miliki oleh para wanita, meski tidak semua🤫🤫🤫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jangan menyentuhku, maaf ...
sepulang dari bekerja, mereka pun menuju ke toko yang di maksud oleh Vivi.
benar saja, ternyata banyak diskon di toko itu, terlebih harganya juga lumayan miring.
Dila mengambil beberapa kebutuhan yang habis, tak lupa dengan kebutuhan dapur juga.
"Dila gak beli skin care, sepertinya kamu harus mulai merawat diri deh, kamu tak takut suamimu di ambil cewek lain kau kamu kusam dan tak merawat diri," kata Vivi.
"itu benar Dila, ibu saja meski sudah tua begini masih merawat tubuh, sini ibu pilihkan produk yang cocok untuk mu," kata Bu Tantri.
wanita itu percaya jika Dila mau ber-make up sedikit saja pasti bisa mengendalikan suaminya yang sedikit mata keranjang.
Bu Tantri mengambil semua produk make up, dan juga skin care, bahkan tak hanya itu bahkan perawatan tubuh juga.
Dila sedikit kaget melihat semua yang di ambilkan oleh Bu Tantri, Dila sedikit lega setidaknya Hendra memberikan uang lebih untuk keperluannya.
Dila pun mengunakan uang itu, dan ternyata uang itu lebih dari cukup, setelah berbelanja mereka semua pun pulang.
Hendra yang pulang pukul enam sore kaget saat sampai rumah tidak menemukan Dila.
dan saat melihat ponselnya ternyata Dila sedang berbelanja, Hendra pun sedikit merasa lega, ternyata istrinya itu tetap izin meski hanya singkat.
Hendra memutuskan untuk mandi, Dila datang dan langsung membawa masuk belanjaan tadi.
Dila sudah menyiapkan kopi susu kesukaan suaminya, dan juga memasak untuknya sekalian.
Dila pun langsung bergegas mandi saat Hendra sedang berganti baju, Hendra pun menghela nafas melihat Dila.
"apa kamu masih marah?"
Dila tak menjawab dan langsung pergi mandi, Dila keluar dengan piyama celana pendek dan juga lengan pendek.
dia juga mengerti rambut panjangnya, "dek, kemarilah, apa kamu masih marah?"
"tidak. kenapa mas belum makan, aku sudah siapkan, jika tak suka kita beli yang mas inginkan." ketus Dila.
"tidak dek, aku menunggu nasinya dingin, dia adalah Tante-tante yang dulu dekat dengan ku, aku tau masa laluku tak sebaik orang kebanyakan, tapi yakinlah jika sekarang hanya kamu seorang di hidupku," jelas Hendra.
"mas yakin, tidak ada bagaimana dengan mantan kekasih mas yang di desa, bahkan karena dia aku-"
Dila pun mengalihkan perhatian menginggat malam pernikahan paksa yang di lakukan Hendra.
"itu juga sudah berakhir saat aku mengucapkan ijab Kabul di depan penghulu, dan yang kamu lihat itu hanya ucapan perpisahan," terang Hendra.
"ucapan perpisahan," lirih Dila.
Hendra pun merasa bersalah, terlebih melihat perubahan Dila, "sudah mas, makan dulu, jangan membahasnya,"
keduanya pun makan dengan tenang, Dila sedang membereskan kamar kos.
sedang Hendra memilih merokok di depan kamarnya, sambil menikmati angin malam.
"di usir mas, kasihan ...." kata Bu as dan Titin yang kebetulan lewat.
"sialan ..." lirih Hendra.
tenyata andi dan Ridwan datang, Hendra tak bergeming melihat dua temannya itu.
keduanya pun duduk di samping Hendra, "mau apa kesini, aku tak minat buat keluar," kata Hendra.
"siapa yang mau ngajak kamu keluar, orang kita mau main kesini, kopi dong haus nih," kata Andi tersenyum.
"sialan, kenapa gak ke kafe saja," kesal hendra pada dua temannya itu.
"dek, tolong buatkan kopi untuk dua teman ku," panggil Hendra di depan pintu.
"iya!" jawab Dila dari dalam.
mereka pun duduk di teras sambil melihat orang yang lalu lalang, Dila datang membawa nampan.
Andi sedikit kaget melihat istri Hendra yang masih begitu muda dan cantik, bahkan pria itu tak melepas pandangan matanya dari sosok Dila.
"ini kopi dan cemilannya mas," lirih Dila.
"terima kasih dek," jawab Hendra.
Ridwan mencubit lengan Andi, "sakit gila," marah Andi.
Dila langsung masuk kedalam rumah, "gila bro istri mu cantik, pakai pelet apa, tapi itu pilihan orang tua Lu ya, kalau gak gak mungkin bisa Nemu gadis secantik itu sih," ledek Andi.
"kenapa iri, bilang bos," kata Hendra.
"ya iyalah, orang pancar Andi Tante-tante, ha-ha-ha," kata Ridwan tertawa bersama hendra.
"sialan kalian berdua," kesal Andi.
"sudah mau apa kalian kesini, usaha kita baik-baik saja kan?" tanya Hendra yang khawatir.
"tenang bro, Semuanya aman, terlebih pabrik tahu yang kita buat, di tangan yang tepat," jawab Ridwan.
"ya sudah, terus kalian kesini cuma mau tau istriku atau mau apa?" kesal hendra yang sebenarnya tak ingin di ganggu.
"sebenarnya kami cuma mau mengajakmu datang ke pesta Tante Wina, untuk yang terakhir kalinya, dan setelah itu kami bisa bebas, atau jika kamu tak datang, kamu tau kan Tante-tante itu bagaimana?" kata Andi.
"mereka akan terus mengusik dirimu atau bahkan tak segan melukai istrimu, jadi ikut saja toh bilang saja itu pesta ku," kata Ridwan.
"aku kadang bingung dengan mu Ridwan, sholat iya, tapi kelakuan mu burik juga ya," kata Hendra.
"itu pilihan hati bro, aku juga butuh itu kan, he-he-he," jawab Ridwan.
"alah, dasar jomblo akut lu," ledek Andi.
"mending daripada kamu, sukanya Tante Tante Mateng, idih ...." jawab Ridwan.
"kalian itu sama," kata Hendra.
"elu juga sama!" kata Ridwan dan Andi bersamaan.
Dila mendengar Semuanya dari dalam kamar kos, dia pun hanya bisa diam.
percuma mengatakan apapun jika Hendra tetap melakukannya, Dila memutuskan untuk menghilangkan stres dengan merawat tubuhnya.
bahkan dia sedang video call dengan Bu Tantri yang sedang melakukan hal yang sama.
setelah selesai, Dila membilas lulur yang dia gunakan dengan air hangat, dan terpaksa mandi lagi.
kini tubuhnya terasa segar dan wangi, bahkan kulitnya sedikit cerah, tak lupa Dila juga memakai skincare sesuai arahan dari Bu Tantri.
Hendra masuk dan kaget melihat Dila, "sedang apa dek?"
"sedang jerawat diri, supaya suamiku tak melihat wanita lain di luar," jawab Dila singkat tapi menohok.
Hendra pun membawa bekas kopi dari teman-temannya itu, dan memilih tiduran sambil menonton tv.
setelah selesai dengan perawatannya, Dila bersiap tidur, dan Hendra ingin melakukannya.
tapi Dila menahan tangan pria itu, "jangan malam ini mas, aku mohon, biarkan aku menenangkan diri dulu, maaf ...."
Dila pun langsung berbalik dan memunggungi Hendra, dan suaminya itu terdengar menghela nafas dalam.
Dila tak bisa melayani suaminya, dia lelah karena Hendra yang tak pernah memikirkan tentang dirinya.
meski kata sayang sudah terucap, tapi bagi Dila, itu belum sepenuhnya terlebih masih begitu banyak wanita di sekeliling suaminya itu.
sukses
semangat
mksh
udah tahan nafas nih bacanya dr tadiiii
hamil gak yaa dia???
tp klo fatin uda lupa ingat.an bkalan susah.
mending mahi sam husna ajj.
kasian husna nya sdah tdak perawan di tnggl calon nya meninggal