[Cerita lain dari Me vs Boss]
[Judul Diperbaharui!]
Bagaimana rasanya memiliki boss yang cerewet dan kepo?
Pasti rasanya mengesalkan, bukan?
Dan itulah hal yang dialami Giselle-sahabat Chelsea- yang menjabat sebagai sekretaris baru di sebuah perusahaan gadget dengan cabang terbesar di Indonesia.
Ia harus rela menghadapi pertanyaan aneh tak masuk akal, ketika sang boss menanyai tentang kehidupan privasinya.
Usia kamu berapa?
Gimana kabar mama?
Sehat-sehat aja, kan?
Kamu ada niatan untuk menikah?
Ada seseorang yang kamu suka?
Tipe cowok idaman kamu, seperti apa?
Apa yang kamu sukai dari cowok?
Dan mau tidak mau, Giselle harus menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari bosnya itu. Kadang dia berpikir,
"Apa yang diinginkan si boss?" gumam Giselle, sembari menatap langit-langit di kamarnya.
Start: 29 Maret 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15. Aiden & Giselle beralih profesi
Pagi ini pukul delapan pagi, dikediaman mansion Kenan, sepasang bos dan sekretaris terlihat termenung dengan posisi duduk disofa berdampingan.
Raut wajah keduanya tampak kurang bersemangat, setelah mendengar permintaan aneh tak masuk akal dari pasutri yang tak lain adalah Kenan dan Chelsea.
Aiden menghela napasnya kasar. Ditatapnya garang Kenan, yang saat ini tengah sibuk memeriksa barang-barang yang akan dia bawa ke Inggris.
"Kalian gak lagi becanda, 'kan? Soal omongan yang tadi?" sahut Aiden tiba-tiba. Sembari terus menggendong baby Kenzo didekapannya.
"Kita gak lagi becanda," sahut Chelsea, yang baru saja tiba dari dapur.
"Kenapa gak kalian bawa aja sih, baby-nya!" Giselle sudah gemas ingin bicara. Sadari tadi, dia terus saja terdiam sembari menggendong baby Kanza yang terlelap didekapannya.
"Kanza sama Kenzo masih butuh ASI, Chelsea..." Giselle berucap kembali dengan menekan beberapa kata dalam kalimatnya.
"Mereka mau dikasih makan apa kalau lo-nya gak adaaaa," Giselle menjerit. Hingga membuat Kanza yang tengah tertidur didekapannya terusik, lalu menangis dengan suara kencang.
"Nah, kan... Anak gue nangis!" Chelsea berjalan gontai ke arah Giselle. Lalu mengambil alih putrinya dari tangan wanita itu.
"Cari baby siter ajalah! Kita gak berpengalaman! Ya gak, Selle?" ucap Aiden, yang diangguki Giselle.
"Bener tuh," ucap Giselle. Chelsea mendelik ke arahnya.
"Gak bisa! Gue gak percaya sama orang lain, walaupun orang itu berpengalaman sekali pun," kukuh Chelsea.
Baby Kanza yang berada digendongannya kembali tertidur, setelah ditenangkan oleh mami nya.
"Gendong lagi!" titah Chelsea pada Giselle.
Awalnya Giselle memberengut sebal, namun pada akhirnya dia menurut juga. Hingga baby Kanza kembali pada gendongannya.
"Setelah beres-beres kita selesai, kita bakal kasih tahu kalian CARA-CARA MENJADI ORANG TUA SEMENTARA YANG BAIK!"
Aiden dan Giselle saling pandang setelah mendengar ucapan dari Chelsea. Lalu tatapan mereka beralih pada Chelsea.
"Kenapa harus kita?" protes Aiden dan Giselle, kompak.
Keduanya nampak terkejut. Karena ini bukan pertama kalinya mereka berucap kompak seperti ini. Lalu mereka kembali saling tatap dengan pandangan yang sulit dijabarkan.
Kenan yang baru saja selesai dengan urusannya, mendatangi istri dan kedua orang yang akan menjadi orang tua pengganti anak-anaknya, dengan raut wajah cerah.
"Kalian berdua, ikut kita ke lantai atas!" perintah Kenan, tiba-tiba.
"Ngapain?" bingung Aiden, sembari berusaha bangkit dari sofa. Dengan Kenzo yang masih setia didekapannya.
"Ikut aja apa susahnya sih," timpal Chelsea. Lalu berjalan menyusul Kenan yang sudah berjalan terlebih dahulu menaiki tangga. Meninggalkan Giselle dan Aiden yang memaku di tempat.
"Pak!" sahut Giselle pelan, pada Aiden bosnya.
"Hm," Aiden beralih menatap ke arah sekretarisnya dengan raut wajah datar.
"Sepertinya kita beralih profesi untuk sementara," kata Giselle. Menatap datar ke arah bosnya.
"Ah, sampai kapan kita bakal kayak gini?" tanya Aiden, random.
"Yang jelas, gak akan selamanya kok Pak," ucap Giselle. Aiden hanya manggut-manggut dengan malas.
"Ya udah. Kita ikutin apa mau mereka aja," putus Aiden. Lalu mengajak Giselle untuk menaiki tangga menuju lantai dua.
****
"Nah, jadi... Tugas kalian cuman itu aja! Kalo ada yang gak ngerti, tanyain sekarang! Mumpung kitanya masih di sini," ucap Chelsea. Setelah beberapa saat lalu dia menjelaskan panjang lebar tentang, apa yang harus dilakukan Aiden dan Giselle untuk menjaga kedua buah hati mereka.
Chelsea juga memberitahu mereka dimulai dari cara-cara menyeduh susu yang baik dan benar. Sampai cara melepas popok yang terlalu lama dipakai.
"Terus, yang bersihin itunya, siapa?" tanya Aiden ambigu. Sontak, Chelsea, Kenan dan Giselle, menatap penuh tanya pada pria itu.
"Maksudnya?" bingung Chelsea.
"Itunya loh... Euh... Gimana ya, ngomongnya," Aiden terlihat salah tingkah. Padahal, hanya tinggal menjawab biasa saja. Kenapa rasa-rasanya, Aiden sudah kehabisan kata-kata!?
"Kotoran?" tebak Chelsea.
Kenan menahan tawanya, atas ucapan Chelsea yang begitu frontal dalam berucap.
Aiden akhirnya menghela napasnya kasar. Lalu tatapannya kembali pada Chelsea dengan raut wajah yang tidak terbaca.
"Iyalah!" katanya, sembari mengacak rambutnya frustasi.
"Ya kalianlah! Emang mau siapa lagi?" ucap Chelsea.
Aiden kembali menghela napasnya. Lalu tatapannya beralih menatap Giselle yang terlihat tengah berdiri mematung di sampingnya.
"Okeh!" Aiden membalas dengan ucapan yang terdengar frustasi.
Kenan menyunggingkan senyum jahat diwajahnya. Lalu Kenan melangkahkan kakinya menuju Aiden, kemudian tangannya mulai merangkul bahu Aiden dengan jantan.
Aiden menatap datar pada raut wajah bahagia dari Kenan.
"Ngapa lo senyam-senyum?" tanya Aiden ketus.
"Sini, ikut gua dulu!" Kenan lalu menggiring Aiden untuk keluar dari kamar anak-anaknya sebentar.
Aiden yang digiring begitu saja merasa kebingungan. Dia ingin protes. Tapi berkali-kali Kenan terus tersenyum penuh misteri padanya. 'Kan Aiden jadi ngeri. Siapa tahu, si Kenan-nya lagi kerasukan, 'kan?
"Apaan si lo!" Aiden menepis kasar lengan Kenan yang masih setia bertengger di bahunya. Saat ini, keduanya sudah berada di luar kamar.
Bukannya marah, Kenan justru semakin menarik sudut bibirnya, hingga menghasilkan senyum mengerikan yang terparti di wajahnya.
Sontak Aiden mundur satu langkah, dengan kedua bola matanya yang membulat.
Dia heran. Si Kenan ini kesurupan atau gimana, sih?
"Ken! Lo gila?" sahut Aiden. Sesekali, ia menggeleng cepat kepalanya, merasa ngeri dengan tingkah ajaib Kenan.
"Gue masih waras!" celetuk Kenan. Senyum mistis di wajahnya mendadak menghilang. Hingga digantikan dengan raut datar seperti biasa.
"Terus, kenapa tadi lo senyam-senyum kek orang gila? Gua ngeri, seriusan dah!"
"Lo itu harusnya bahagia, Den!" ucap Kenan, random. Membuat Aiden mengernyitkan dahinya.
"Bahagia?" beo Aiden, yang dibalas anggukan cepat oleh Kenan.
"Lo tahu—"
"Mana gue tahu!" Aiden sengaja menyela ucapan Kenan.
Kenan rasanya ingin sekali menendang Aiden keluar dari mansionnya. Jika tidak ingat, kalau dirinya saat ini tengah membutuhkan Aiden.
"Gue belum selesai ngomong!" kata Kenan. Aiden tampak menendikkan bahunya tampak tidak peduli.
Kenan menghela napasnya terlebih dahulu sebelum dia mengatakan kalimatnya pada Aiden.
"Coba lo bayangin, kalo semisalnya lo sama Si Giselle jadi orang tua pengganti anak-anak gue, waktu kebersamaan lo sama dia bakalan banyak!" ucap Kenan menjeda.
Di sisi lain, Aiden tampak berpikir sejenak. Merasa apa yang dikatakan Kenan ada benarnya juga.
"Plus... Lo bisa belajar jadi orang tua buat suatu saat kalo lo udah nikah sama si Giselle," lanjut Kenan. Aiden kembali berpikir dalam otaknya.
"Itung-itung, lo bisa godain dia. Siapa tahu, dia baper terus punya perasaan sama lo! Iye, gak?" ucap Kenan lagi.
Aiden kembali berpikir. Hingga pada akhirnya, ucapan dari Kenan disetujui oleh otak cemerlangnya.
"Okeh! Gue setuju dengan 'tidak berat hati'! Jadi lo, bisa puas-puasan di Inggris bareng bini lo," putus Aiden pada akhirnya.
Kenan tersenyum penuh kemenangan. Lalu dia berjalan ke arah sahabatnya itu, menepuk sebelah bahunya sedikit keras.
"Aak! Gila lu," Aiden mengelus kasar bahunya yang ditepuk kasar oleh Kenan.
****
Saat ini adalah saat di mana Kenan dan Chelsea akan berangkat menuju bandara. Sebelum benar-benar akan berangkat, Chelsea menyempatkan dirinya untuk menangis sembari menciumi kedua buah hatinya. Karena selama beberapa hari ini, dia tidak akan bertemu dengan kedua buah hatinya yang sangat dia cintai.
Dan pemandangan dramatis itu tak lepas dari penglihatan Aiden dan Giselle. Kedua orang itu tak henti-hentinya terus menghela napas sembari memutar bola matanya jengah.
"Kalo lo gak tega ninggalin kedua buah hati lo, mending bawa sekalian aja! 'Kan gampang!" celetuk Giselle. Yang mendapat tatapan tajam dari Chelsea.
"Diem lo! Lo gak akan ngerasain, gimana rasanya ninggalin bayi seusia mereka sama orang lain. Lo pikir, gue gak mau bawa mereka? Ya gue juga maulah! Cuman nggak bisa! Gue gak tega kalo lihat mereka tiba-tiba sakit pas sampe di sana! Cuaca di Inggris lagi gak bagus!" ujar Chelsea terbawa emosi, dengan air matanya yang berderai membasahi wajah cantiknya yang terpoles make-up.
Giselle seketika terdiam. Seharusnya, Giselle tidak mengatakan itu tadi pada Chelsea. Dia lupa, Chelsea tidak sedang bercanda saat ini.
"Mami sama Papi pergi dulu ya, sayang? Dua hari lagi, Mami sama Papi pasti pulang buat kalian." Chelsea mencium kedua pipi buah hatinya sedikit agak lama.
"Kalian berdua jangan nakal, ya? Kasian Om Aiden sama Tante Giselle-nya, kalo kaliannya nakal." Kenan lalu mengusap sebelah pipi buah hatinya yang baru saja dicium oleh Chelsea.
"Papi sama Mami pamit ya," ucap Kenan pada kedua buah hatinya. Ada rasa sedikit tidak tega meninggalkan mereka. Apa lagi, mereka masih bayi. Tapi apalah daya.
"Sayang, kita harus berangkat sekarang." ucap Kenan pada Chelsea, yang terlihat enggan meninggalkan kedua buah hatinya.
"Sayang!?" panggil Kenan. Tangannya menyentuh pelan bahu Chelsea, hingga mampu menyadarkan wanita itu.
Chelsea mengusap sisa air matanya terlebih dahulu, sebelum akhirnya dia akan benar-benar meninggalkan kedua buah hatinya.
"Kita titip Kanza Kenzo sama kalian, ya? Jaga mereka baik-baik." Chelsea berucap pada Aiden dan Giselle yang sedari tadi terdiam mematung memegangi kereta bayi. Dengan di dalam kereta bayi itu sudah ada Kanza dan Kenzo yang belum tertidur sedari tadi.
"Iya, kita bakal jagain mereka, kok." ucap Giselle, dibarengi dengan senyum manis di wajahnya.
"Kalian berdua hati-hati," tambah Giselle. Ketika Kenan dan Chelsea hendak berbalik meninggalkan mereka berempat.
"Jangan lupa oleh-olehnya!" teriak Aiden.
Akhirnya, Kenan dan Chelsea sudah menaiki mobil, hingga keduanya sudah tidak lagi terlihat.
Namun tak lama kemudian, kaca mobil bagian belakang diturunkan dan nampaklah Chelsea dengan raut wajah yang masih sama seperti tadi, tengah melambaikan tangannya pada Aiden dan Giselle. Salah, pada kedua buah hatinya yang masih setia berada di dalam kereta bayi.
"Daa..." Chelsea melambaikan tangannya seperti seorang anak kecil yang akan pergi meninggalkan sahabatnya.
Giselle terkekeh. Sikap Chelsea memang begitu kekanakan. Tapi yah, wajar juga dia seperti itu. Toh, dia akan meninggalkan kedua buah hatinya ke luar negeri selama beberapa hari. Orang tua mana yang tidak akan rindu?
"Daa... Hati-hati di jalan..." Giselle ikut melambaikan tangannya pada Chelsea.
Tak lama setelahnya, mobil itu sudah berjalan keluar dari halaman mansion. Hingga pada akhirnya, mobil yang mereka tumpangi sudah tidak lagi terlihat oleh penglihatan Aiden dan Giselle.
"Huuh... Kita masuk?" sahut Aiden. Tatapannya tertuju pada Giselle yang masih setia menatap keluar gerbang mansion Kenan.
"Hem," balas Giselle hanya dehaman. Lalu keduanya mulai memasuki mansion dengan Kanza dan Kenzo yang masih setia di dalam kereta bayi.
To be continue...
Maaf ya baru up lagi!
Huwaa... Dua hari ini otak aku gk bisa mikir jernih. Bnyk pikiran bawaannya gk mau ini gk mau itu. Jdinya yah, gk up selama 2 hari terakhir.
Tpi tenang aja, ini udh up. Besok Insya Allah up lgii. Ciusss...
Jan lupa tinggalin jejak yeeh, mwahh:* see you next time:))
btw met ultah ya thorrrr,,, mga makin sukseeeeeesssss
awal yg menarik, lucu...
punya bos iseng bngt y...
jejak...