Dalam perang dunia ke-3, semua penyihir dan esper di dunia di kerahkan oleh masing-masing negara. Seorang pemuda yang awalnya hanya merupakan seorang korban penculikan dan dijadikan tawanan perang, pada akhirnya menjadi seseorang yang akhirnya menghentikan perang tersebut.
Dia memiliki kekuatan fisik, dan teknik bertarung yang tinggi. Dia juga memiliki kemampuan untuk melenyapkan segala kekuatan-kekuatan abnormal yang biasanya hanya ada di film-film atau dunia fantasy. Dengan kekuatan dan keahlian bertempurnya, dia menghentikan peperangan tersebut seorang diri.
Setelah perang usai, beberapa tahunpun telah berlalu dan pemuda itu memulai kehidupan normal yang dia inginkan. Namun, suatu hari dia bersama teman-temannya dipanggil ke dunia lain. Dunia yang dipenuhi dengan monster, sihir, dan juga keberadaan-keberadaan makhluk dunia fantasy lainnya.
Disinilah awal dari legenda seorang pemuda yang akan menjadi Raja dari para Raja, Raja dari para Dewa dan Raja bagi seluruh duniapun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAEFUL ADAM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 – Lenka Zero
Setelah pertarungan antara Adam dan para pahlawan berakhir, tadinya Raja berencana mengadakan pesta perpisahan untuknya. Namun, Adam menolaknya secara langsung ….
“Terima kasih, tapi tidak usah! Aku tidak terlalu suka dengan pesta! Lagipula aku yakin Yoshi dan yang lainnya masih kelelahan dengan pertarungan sebelumnya. Jadi, biarkan mereka beristirahat!”
Setelah menerima jawaban Adam, Raja tidak punya pilihan lain selain membatalkan rencananya. Setelah itu, semua orang membubarkan diri.
Pada malam hari, setelah Adam makan malam bersama dengan para pahlawan dan semua anggota keluarga kerajaan. Karena Adam akan pergi besok, mereka membicarakan banyak hal tentang dunia luar dengan ceria.
Namun sebenarnya, dalam hati, mereka merasa sedih karena akan segera berpisah dengannya. Adam juga menyadari perasaan mereka. Meskipun begitu, itu tidak menciptakan keraguan sedikitpun baginya untuk pergi.
Ketika selesai makan malam, Adam berada di kamarnya. Dia sedang duduk dikasur sambil memikirkan tentang apa yang akan dia bawa besok. Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Siapa?”
“Ini saya, Lia, Tuan!”
Setelah tahu siapa, Adam membiarkannya masuk. “Masuklah!” dalam hatinya dia berkata "Sekarang aku terdengar seperti seorang Tuan bukan, hahaha!"
Setelah mendengar izin dari sang Tuan, Lia membuka pintu dan masuk.
“Ada apa Lia? Kenapa datang ke kamarku malam-malam begini?”
“… Tuan! Apakah Tuan benar-benar akan pergi melakukan perjalanan besok?”
“Ya, itu benar!”
Lia menundukkan kepalanya dan terlihat sedih.
“Lia? Kenapa kau berwajah sedih seperti itu?” Adam langsung berdiri dan mendekatinya.
Mendengar Adam yang khawatir, Lia mengangkat kepalanya dan berkata pada Adam dengan sedikit perasaan takut.
“… Tuan!”
“Ya?”
“Bolehkah, bolehkah saya ikut bersama dengan Tuan?”
“…” Adam terdiam untuk sementara, lalu … “Tidak!”
“!!” Lia terkejut ketika mendengar jawabannya, tubuhnya bergetar dan matanya mulai mengeluarkan air mata.
“Eh?” Adam terkejut melihatnya tiba-tiba saja menangis.
“Kenapa? Kenapa?” Lia bertanya sambil menangis.
“Ke-kenapa apanya?”
“Kenapa saya tidak boleh ikut? Apakah Tuan membenci saya?”
“Ti-tidak, bukan seperti itu! Hanya saja ….”
Adam bingung harus menjawab apa, tidak mungkin dia berkata kalau membawa seseorang bersamanya hanya akan merepotkan. Lalu pikirannya pun menjadi kacau ketika berhadapan dengan Lia yang menangis dihadapannya.
“Fuuh ~” Dia mengatur nafasnya dan menenangkan dirinya. Lalu, dia berkata dengan tenang pada Lia,
“Lia! Aku mohon kau tenangkan dirimu terlebih dahulu! Aku tidak bisa mengatakannya jika kau menangis seperti itu!”
Setelah mendengarkan perkataan Adam, Lia berusaha untuk menenangkan dirinya, namun dia tetap tidak bisa berhenti menangis.
“ …” melihat Lia yang terus menangis dihadapannya, Adam secara reflek menarik kepala Lia kedalam pelukannya ….
“Eh?!” Lia terkejut ketika Adam tiba-tiba memeluknya.
Ketika Lia merasakan Adam mengusap kepalanya dengan lembut, Lia merasakan kehangatan dihatinya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Adam berkata dengan suara rendah dan lembut tidak seperti biasanya ….
“Lia! Kau tahu? karena suatu alasan, dulu aku sering sekali membuat ibuku menangis dan itu membuatku selalu membenci diriku sendiri!”
"? ....”
“Setiap kali aku melihat wanita menangis, aku jadi selalu teringat pada ibuku!”
“….”
“Karena itu, Lia! Aku mohon berhentilah menangis! Melihatmu menangis seperti ini, membuat hatiku sakit!”
“!!”
Sejak Adam memeluknya dan mengelus kepalanya dengan lembut, Lia dapat menenangkan dirinya. Ketika mendengar perkataannya, Lia telah benar-benar berhenti menangis dan mulai merasakan perasaan bersalah.
“Aku tidak tahu kenapa kau menangis! Tapi, jika itu karena ucapanku … aku minta maaf!” Adam berkata sambil terus mengelus Lia.
“Tidak, Tuan! Anda tidak salah! Saya saja yang terlalu cengeng.”
“Hm? Lalu, kenapa kau menangis?”
“Itu … itu karena Tuan tidak memperbolehkan saya untuk ikut dengan Tuan!”
“Ermm ~ kau tidah usah menangis juga, ’kan! kau bukan anak-anak lagi! Aku menjawab tidak, karena aku tidak ingin kau berada dalam bahaya!”
“Bahaya?”
“Ya! … Sebenarnya, aku ini orang yang sering sekali mendapatkan kesialan! Karena itulah, aku sangat jarang keluar dari teritori-ku. Karena hanya dengan berada di teritori-ku sendiri, aku tidak akan mengalami kesialan!”
“Teritori?”
“Wilayah kekuasaanku sendiri! Dimanapun aku tinggal, itu akan menjadi wilayah kekuasaanku!”
“… Bukankah itu berarti seluruh Istana ini telah menjadi wilayah kekuasaan Tuan?”
“Hahaha, tidaklah! Setidaknya, hanya kamar ini dan perpustakaan istana!”
“Fufufu ~” Lia akhirnya tertawa.
“Hooh ~ akhirnya kau tertawa juga!” Adam tersenyum senang dan melepaskan Lia dari pelukannya.
“Eh?!” Lia kecewa ketika Adam melepaskan pelukannya.
“Hm? Kenapa lagi? Kenapa sekarang kau malah berwajah kecewa seperti itu? benar-benar gadis yang membingungkan!”
“Umm ~”
Adam melihat Lia yang menggembungkan pipinya karena kesal dan berpikir bahwa itu lucu. Dia tersenyum dan berkata,
“Melihatmu seperti ini, jauh lebih baik. Seperti yang kuduga, kau memang gadis yang manis!”
“!!” Mendengar itu, wajah Lia langsung memerah dan tersenyum senang.
Adam senang melihat Lia yang kembali ceria. Lalu dia melanjutkan perkataannya ….
“Sekarang kau mengerti kenapa aku tidak ingin membawamu, 'kan?”
Mendengar pertanyaan itu, Lia kembali ke sikap tenangnya dan menjawab Adam dengan tatapan yang tegas ….
“Saya sudah memutuskan, saya akan terus melayani Tuan sampai akhir hidup saya!”
“!! ….” Adam berkata dalam hati, "Berat! kata-katanya berat sekali!"
“Oi-oi-oi, tunggu dulu. Bukankah aku sudah mengatakan alasanku tadi?”
“Ya, Tuan sudah mengatakannya!”
“Lalu kenapa?”
“Tuan! Tidak peduli apapun bahayanya, saya … saya hanya … saya hanya ingin terus bersama dengan Tuan!”
“…”
Mendengar itu, Adam tidak bisa berkata-kata. Namun, Adam adalah orang yang keras kepala. Sekali dia memutuskan, maka dia akan tetap melakukannya.
“Tidak!”
“Eh?”
“Aku bilang, tidak!”
“Ehhh?”
“Lagipula, Raja memerintahkanmu untuk menjadi pelayanku hanya ketika aku berada di Kerajaan ini! Aku akan keluar dari Kerajaan ini, itu artinya kau tidak akan menjadi pelayanku lagi!”
“Tuan hanya harus memintanya kepada Raja! Saya yakin, Raja akan menyetujuinya!”
“Tidak!”
“Kenapa tidak?”
“Aku tidak mau meminta apapun pada Raja!”
“Tapi–”
“ –Tidak! Aku bilang tidak, ya tidak!” Jawab Adam dengan tegas setelah memotong perkataan Lia.
“Umm ~”
“Hmph! Meskipun kau merajuk, aku tetap tidak akan membawamu!”
“ … Tuan sudah memelukku tadi! Tuan harus bertanggung jawab!”
“Hah? Kenapa harus begitu?”
“Karena mungkin, aku hamil!”
“… Hah? Mana mungkin kau bisa hamil hanya karena aku memelukmu, bego!”
“Siapa yang bego?!”
“Kau!”
“Ummm ~” Lia menggembungkan pipinya dengan kesal sambil bergetar menahan emosinya, sepertinya dia ingin menangis lagi, namun dia menahannya. Lalu, dia berkata dengan suara kecil sambil menundukkan kepalanya … “Jika Tuan tidak ada, apa yang harus saya lakukan?”
“Hmm? Mana kutahu! Lakukan saja apa yang kau inginkan! Selama itu bisa membuatmu senang, tidak masalah, ’kan!”
Mendengar itu, senyuman lebar merekah di bibir Lia yang tak terlihat oleh Adam karena Lia menundukkan kepalanya. Adam tidak menyadarinya, dia hanya tetap mempertahankan ekspresi keras kepalanya sambil melipat tangannya.
“Ini sudah malam, cepat kembali ke kamarmu sana!”
“Kalau begitu, saya permisi Tuan!” Lia membungkuk kepada Adam dan berbalik, lalu membuka pintu, keluar dari kamar Adam.
“Eh?” Adam bingung karena Lia tiba-tiba kembali menjadi penurut ... "Apa dia sudah menyerah?"
Kamar Adam kembali menjadi sunyi, dan Adam hanya berdiri diam ditempatnya sambil melihat kearah pintu dengan ekspresi bingung.
“Hmmmmmm?”
*****
Keesokan harinya, di pagi hari yang cerah dengan udara yang menyegarkan. Adam sudah berkemas dan siap untuk berangkat.
Sekarang, dia sudah berada di depan gerbang Istana bersama dengan para pahlawan dan seluruh anggota keluarga kerajaan beserta para ksatria dan pelayan.
“Apa saja yang kau bawa ditasmu? sedikit sekali!” Rex bertanya dengan penasaran apa yang dibawa Adam dalam tasnya.
“Hanya pakaian ganti dan air minum!”
“Serius? Hanya itu?”
“Ya! Akan repot jika membawa banyak barang, ’kan!”
“Iya juga, sih! Tapi perjalananmu itu akan sangat panjang, kau serius tidak akan membawa bekal makanan?”
“Tenang saja! Bukankah diluar sana ada banyak monster? Aku bisa memburu dan menjadikan mereka makananku!”
Semua orang hanya menghela nafas mendengar itu, Adam selalu keras kepala jika telah memutuskan sesuatu, jadi mereka tidak bisa memaksakan apapun padanya.
“Ngomong-ngomong, dimana Lia? Aku tidak melihatnya?”
Adam mencari Lia di sekitar, namun dia tidak dapat melihatnya. Salah satu pelayan wanita yang sudah tua, berkata ….
“Tuan Adam! Lia bilang, dia sedang tidak enak badan dan meminta maaf karena tidak bisa melihat Tuan berangkat!”
“ … Begitu, ya!” Adam menunjukkan ekspresi yang cukup sedih.
“Dia hanya menitipkan pesan untuk Tuan!”
“Pesan apa itu?”
“Dia bilang ‘Saya akan melakukan hal yang saya inginkan' hanya itu!”
“Hm?” dalam hati, Adam berkata, "Hmph! Baguslah kalau begitu. Itu artinya dia tidak akan memaksa untuk ikut denganku’kan!"
Adam hanya tersenyum setelah mendengar pesan itu. Setelah itu, giliran para putri dan pangeran yang berbicara padanya ….
“Kak Adam!”
“Ya?”
“Apa Cecylia bisa bertemu dengan Kak Adam lagi?”
“ … Tentu saja! Aku juga ingin bertemu dengan Cecylia lagi suatu hari nanti!”
Cecylia tersenyum senang mendengarnya, lalu memeluk Adam dengan erat. Adam hanya tersenyum dan mengusap kepalanya dengan lembut. Tiba-tiba, Pangeran Rigas berkata,
“Kalau aku?”
“Hahaha, tentu saja. Aku juga ingin bertemu dengan Rigas lagi suatu hari nanti!”
“Hehehe ~” Pangeran Rigas tersenyum senang sambil malu-malu.
Setelah itu, yang lainnya tiba-tiba saja ikut-ikutan ….
“Bagaimana denganku?”
“Kalau aku?!”
“Aku juga?”
“Aku?”
“Bagaimana dengan saya?
“Kalau Saya?
…
…
Orang-orang mulai menanyakan diri mereka satu persatu, baik itu para pahlawan, para putri, para pelayan dan bahkan para ksatria. Adam berkata dengan sedikit kesal, "Kalian ini anak-anak TK atau apa?"
Kalau hanya Pangeran Rugis dan Putri Cecylia, masih dia anggap wajar, karena mereka masih kecil. Tapi untuk yang lainnya, dia merasa sedikit aneh.
Setelah itu, Raja dan Ratu pun maju dan menanyakan hal yang sama dengan malu-malu didepannya.
“Ba-bagaimana dengan kami?”
“…”
Adam kehilangan kata-kata saat Om-om gendut yang merupakan seorang Raja didepannya ini bertanya sambil malu-malu. Dia hanya berpikir bahwa semua orang di istana ini, memang orang-orang yang baik, namun sedikit aneh … mungkin!
“Baiklah- baiklah! Aku ingin bertemu dengan kalian semua lagi, OK!”
Mendengar jawabannya, semua orang tersenyum senang. Lalu, Raja memberikan sesuatu sebagai hadiah pada Adam ….
“Adam! Sebelum kau pergi, bawalah ini bersamamu!”
“Apa ini? Botol AQUA?”
Raja memberikan sebuah botol air yang terbuat dari bahan Adamantium kepadanya.
“Aku tidak tahu dengan yang kau maksud dengan botol AQUA? Tapi, ini adalah sebuah artefak yang dapat mengeluarkan air bersih yang sangat jernih dan dapat diminum. Jumlah air didalamnya tidak terbatas, jadi kau tidak perlu khawatir akan kehausan disetiap perjalananmu.”
“Hohh!! … Tunggu! Artefak? Kau memberikanku sebuah Artefak? … Serius?”
Adam terkejut bahwa benda yang diberikan oleh Raja ini adalah sebuah artefak. Begitu juga dengan semua orang disana, mereka sangat terkejut dengan kebaikan Raja yang memberikan hadiah kepada Adam sebuah artefak kerajaan.
Jendral Gerald dan Komandan Darius mencoba untuk menghentikan Raja memberikan hadiah itu ....
“Yang Mulia, tolong pikirkanlah kembali!”
“Benar Yang Mulia, biarpun Tuan Adam adalah seseorang yang penting untuk kita, bukan berarti kita harus menyerahkan sebuah artefak suci kerajaan padanya!”
Mendengar itu, Ratulah yang menanggapi perkataan mereka.
“Tidak apa-apa, Gerald, Darius! Kami sudah membicarakannya dan memutuskan bahwa tidak masalah jika itu Adam!”
“Ta-tapi ~”
Mendengar keputusan yang sudah bulat dari Raja dan Ratu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa merelakan sebuah artefak suci jatuh ketangan seorang bocah yang bukan bangsawan, dan bahkan dia bukan berasal dari dunia ini.
“Kau- … maksudku, Yang Mulia benar-benar serius?”
“Ya! aku sangat serius! Jadi, ambillah!”
“... Baiklah! Terima kasih!”
“Tapi kau harus ingat untuk tidak menggunakan kekuatan anehmu, ketika memegang atau menggunakan Artefak ini! Jika sampai kau menggunakan kekuatanmu pada artefak ini, artefak ini hanya akan menjadi sebuah botol yang terbuat dari mithril biasa.”
“Kekuatan aneh? Yah, memang sih! Tentu saja, aku bisa mengendalikan kekuatanku sepenuhnya. Jadi, jangan khawatir!”
Adam menerima botol itu dan memasukkannya ke dalam tas dipunggungnya. Setelah itu, dia berbicara dengan yang lainnya juga, dan setelah selesai mengatakan kata-kata perpisahan pada mereka semua, akhirnya Adam mulai melangkahkan kakinya keluar gerbang Istana.
“ Ini pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di dunia luar, apa yang akan kutemui diperjanalanku ini, ya?”
Adam bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan terus melangkah maju. Dia dapat mendengar dengan jelas orang-orang yang mengucapkan selamat tinggal kepadanya dari kejauhan dan juga orang-orang yang masih terus menangis karena sedih ditinggalkan olehnya.
Tiba-tiba, dia berhenti ketika mengingat sesuatu ….
“Ah! Benar juga, aku hampir lupa!”
Adam berbalik kearah semua orang, lalu berteriak dengan sangat keras ….
“SEMUANYAA!!! DENGARKAN AKU BAIK-BAIK DAN INGAT INI!!!”
Teriakan Adam terdengar dengan jelas oleh semua orang, mereka berhenti melakukan kebisingan dan fokus untuk mendengarkannya.
“Dari saat ini dan seterusnya!!! … Namaku bukan Adam!!! Tapi …” Adam memberikan jeda di kata terakhir, dan menarik nafas dalam-dalam. Lalu, meneruskannya dengan suara yang jauh lebih keras…
“NAMAKU ADALAH … LENKA ZERO!!!” dan Adam pun kembali melanjutkan langkahnya.
Suara itu menggema di seluruh alam dan juga menggema hingga menembus ke hati semua orang. Semua orang bisa merasakan kalau seluruh Atmosphere tiba-tiba berubah dengan tajam ketika Adam meneriakkan namanya.
Jantung mereka berdegup dengan kencang, semua orang merasakan sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, ketika menatap punggung dari sosok Adam yang berjalan dengan gagah, menjauh dari mereka.
Mereka semua belum menyadari, kalau mereka sekarang sedang menatap punggung dari seorang "Supreme Being" terkuat.
Mereka semua belum menyadari, kalau mereka sedang menyaksikan langkah pertama dari sebuah keberadaan yang akan menjadi sebuah Legenda atau Mitos yang akan diingat selamanya oleh seluruh Alam Semesta.
Mereka semua belum menyadari, kalau nama yang mereka dengar dengan jelas dan menembus ke kedalaman hati mereka adalah nama yang akan menjadi nama yang paling ditakuti, dihormati, dikagumi dan diagungkan oleh seluruh makhluk di Alam Semesta.
Dan Adam pun – Tidak-
Dan Lenka Zero pun, memulai perjalanannya dengan langkah ringan yang penuh semangat dan dengan perasaan yang gembira, tanpa ada sedikitpun beban dalam hatinya.