Mengisahkan tentang sebuah perjalanan cinta pada Tuhan dan cinta pada Makhluk.
Narayan, CEO dari perusahaan telekomunikasi menaruh dendam pada peristiwa di masalalunya yang mengakibatkan ayahnya menderita amnesia retrogade.
Permasalahan pelik di masa kecilnya membuat ia tidak percaya akan adanya cinta sejati, cinta setulus hati sehingga membuatnya menjadi pematah hati perempuan.
Aruna, teman semasa kecilnya datang menjadi sekertaris Narayan, menggantikan Dewi yang kala itu tengah cuti melahirkan.
Tidak ada canggung diantara keduanya. Aruna selalu menjadi garda terdepan menasehati bosnya, dan telinga Narayan begitu menikmati nasehat dari Aruna.
Bagaimanakah kisah Narayan dan Aruna selanjutnya, dan apakah yang sebenarnya terjadi di masalalu Narayan?
Yuk ikuti terus cerita selanjutnya yah.
Jangan lupa baca juga novel lainnya.
@Aku Janda Tapi Perawan
@Percayalah Aku Masih Perawan
@Kekasih Halal
@Surat cinta 2000
@Barista Cafe Jomblo
@Zara Ayyubi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minum Obat
Aruna kembali ke kamarnya, ia memilih mandi pagi untuk menyegarkan tubuhnya. Di dalam kamar mandi ia teringat perkataan bosnya itu. Apakah perkataan bosnya itu benar, ah tapi Aruna ragu karena memang bosnya suka sekali bercanda dengannya, apalagi tadi keadaannya sedang sakit demam, mungkin saja tadi itu di luar dari kesadarannya. Aruna segera mengenyahkan fikiran aneh-anehnya itu, ia segera menyelesaikan mandinya.
Selesai mandi, ponsel Aruna berdering, Aruna segera melihat ponselnya. Ada pesan dari mbak Hanin. Mbak Hanin mencari pak Nara yang katanya dari sejak pagi ditelfon susah sekali, alias tidak diangkat.
Aruna segera ganti baju lalu menuju kamar bosnya lagi. Aruna mengetuk pintu kamar bosnya beberapa kali, hingga akhirnya pintu kamar terbuka. Terlihat si bos kembali rebahan di tempat tidur setelah membukakan pintu untuk Aruna. Aruna berjalan menghampiri bosnya.
"Bos, mbak Hanin WhatsApp saya, katanya nelfon bos nggak diangkat-angkat, angkat bos. Mbak Hanin khawatir," ucap Aruna.
"Ponsel saya lowbet Run, tolong ini di charger dulu. chargernya ada di dalam laci." Narayan memberikan ponselnya pada Aruna. Aruna lalu mencharger ponsel Narayan.
Aruna melihat obat yang berada di atas nakas masih utuh.
"Bos belum minum obat yah?" tanya Aruna yang langsung mendapat gelengan dari Narayan.
Aruna menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Kenapa nggak diminum sih, kan percuma kalau panggil dokter doang tapi obatnya nggak diminum." Aruna meninggikan sedikit suaranya. Aruna berubah menjadi seperti emak-emak garang yang anaknya tidak mau minum obat.
"Nggak bisa minum obat," celetuk Narayan. Aruna mengerutkan dahinya.
"Nggak usah bercanda." Aruna membuka bungkus obat yang diberikan oleh dokter.
"Sumpeh Run, belikan bye bye fiver aja yah di mini market." Aruna seketika langsung melotot lalu menelan salivanya. Pak Nara ini yang suka ngadi-ngadi, bye bye fiver itu untuk bayi. Ini sudah bangkotan mau pakai begituan.
"Itu buat bayi pak. Jangan aneh-aneh deh, cukup di kantor aja isengnya, di sini jangan, saya mau liburan, nggak mau stres karena ngurusin bapak yang rewel." Eh si bos malah tertawa.
"Serius, saya nggak bisa minumnya Run, saya nggak mau." Narayan menepis tangan Aruna ketika Aruna menyodorkan obatnya.
"Ini rasanya kaya ilernya itu cewek semplohe itu lhoo pak bos," ledek Aruna. Namun Narayan tetap saja menggeleng.
Aruna berdecak kesal, "Giliran iler cewek aja bisa nelen, obat begini doang nggak bisa," sindir Aruna.
"Ya beda Run, ini tuh nyangkut di tenggorokan, mana gede-gede begini obatnya." Narayan terus saja beralasan.
"Mending nyangkut di tenggorokan pak, dari pada nyangkut di sirotolmustaqim karena keseringan minum air liur cewek." Lagi-lagi Aruna menyindir bosnya.
"Besok-besok nggak akan lagi, karena mulai besok Narayan Nugraha akan berubah," ucap Narayan sambil mengerlingkan salah satu matanya. Kerlingan mata si bos membuat nafas Aruna tersendak.
Aruna menatap bosnya, tidak ada kebohongan dimatanya. Apakah bosnya benar-benar akan berubah? Narayan dulu berbeda sekali dengan Narayan saat ini. Entahlah apa yang membuat kak Nara yang dulu bisa menjadi pak Nara yang sekarang, itu yang masih menjadi misteri.
"Kalau bapak mau berubah, bapak harus sehat, kalau sehat buat ibadah juga semangat. Bapak nggak bisa kan minum obat karena besar-besar obatnya, okeh saya tumbuk yah. Saya seduh pakai air." Tanpa menunggu persetujuan dari Narayan, Aruna langsung menumbuk obatnya menggunakan sendok, lalu menyeduhnya menggunakan sendok juga.
Tampak ekspresi Nara begitu jijik ketika melihat obat itu sudah berubah menjadi serbuk-serbuk yang diberi air. Narayan sebenarnya tidak suka dengan obat.
"Ayo pak, buka mulutnya!" perintah Aruna. Narayan sedikit ragu membuka mulutnya. Aruna yang sudah geram akhirnya memencet hidung Narayan yang ada di depannya hingga refleks Nara langsung membuka mulutnya karena sulit bernafas. Saat itulah Aruna langsung memasukan obatnya ke dalam mulut Narayan.
Aruna lalu memberikan air untuk Nara yang saat itu merasakan pahitnya obat yang ia minum. Aruna tidak menyangka jika mengurus bosnya sakit memanglah sangat merepotkan, benar apa yang dikatakan mbak Hanin.🥴
(Obat memang pahit pak, tapi ada yang lebih pahit dari obat. Ngirim pesan, sudah centang biru tapi nggak dibales-bales padahal lagi online 🤭🤭)
pke cinta pocong segala 🤣🤣🤣
Meskipun ga sering komentar...
Semangat terus ya bunda...
Selalu jaga kesehatan
jadi gak kelihatan komentar nya 😁😁😁😁
dan yg penting byk pembelajaran yg didapet ❤️
uhuuuui Nara bentar resmi jadi suami Aruna 🤭
yuks ah bentar lagi kondangan nih
batalin mak kalo Fikri gak baik buat Aruna 🥺
potek hati ini mak bacanya 😭😭
perihal jodoh emang rahasia sang Illahi. nyesek jadi Aruna & Nara 🥺