Dhanil anak yatim piatu yang mencoba untuk menggapai cita cita, selesai SMA bersama dengan beberapa teman akrabnya, Dhanil juga meneruskan studinya di salahsatu perguruan tinggi swasta di Ibukota Sumatera Utara. Dhanil punya pacar bernama Yani, yang sudah memiliki hubungan spesial sejak dari SMA, akan tetapi hubungan mereka ditantang oleh orang tua Yani, karena Dhanil dipandang bukan orang yang tepat karena alasan harta dan kedudukan, akan tetapi keduanya dengan segala konsekuensinya tetap menikah setelah meraih gelar Sarjana, dan memutuskan kembali ke kampung halaman mereka, Kota Sibolga.
Hubungan yang baru sebentar dirasakan manisnya akhirnya bubar, mereka kalah oleh trik yang dilakukan Ibu Yani. Disinilah kisah Dhanil bergulir dan mengalir berubah ubah, mulai dari keputusannya meninggalkan kota tempat dia dibesarkan menuju tanah peninggalan almarhum ayahnya, kehidupan berliku membuat Dhanil menemukan saudara kandung ayahnya dan kakak kandungnya yang sudah lama terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Pagi Pagi Buta
Irfan senyum tipis saja. Tapi Irfan sepertinya punya pikiran yang sama dengan Fadli. Dhanil yang pergi bersama dosennya mungkin akan punya nilai baik karena itu mungkin akan membuat Dhanil sedikit mampu membagi pikirannya, tidak hanya kepada Yani aja.
“Aku nanti malam mau ke Siantar Fad”.
Fadli hentikan suapannya. “Siantar ?, ngapaian ?”.
“Ketempat calon mertua”.
Fadli senyum dulu mambalas senyum Irfan sebelum melanjutkan suapan yang tadi gantung. Kali ini Fadli punya pikiran yang baru, Irfan pergi tentu bersama dengan Lilis, pasti itu akan menjadi perjalanan yang cukup mengasikkan. Bisa jalan bersama kekasih tentu sebuah keadaan yang amat diinginkan oleh semua orang. Melihat rona wajah Irfan, Fadli yakin Irfan juga mengalami hal yang sama, bahagia.
“Tapi Fan.. “.
Irfan menoleh. “Kenapa Fad ?”.
“Ibunya Lilis nggak seperti Ibunya Yani kan ?”.
Lama juga Fadli dan Irfan saling pandang. Pertanyaan ini tak bisa dijawab Irfan dengan gamblang karena memang Irfan belum pernah ketemu sekalipun dengan ibunya Lilis, kalau ayahnya memang sudah lebih dulu menghadap yang kuasa, Lilis anak sulung dalam keluarga mereka dengan begitu Lilis tak punya kakak atau abang, tapi Lilis punya tiga orang adik, 2 laki laki dan 1 orang perempuan. Adik laki laki tertua Lilis sudah beberapa kali ketemu dengan Irfan di kampus, begitu juga dengan adik bungsu Lilis yang jago ngaji, Irfan bahkan sudah beberapa kali membawanya ikut MTQN di Medan dan Deli Serdang.
Irfan menggaruk jidatnya yang sebenarnya tidak gatal. “Mudah mudahan nggak sama Fad, kalo sama gawat juga tuh. Tapi kayaknya nggak, Lilis itu baik kok, nggak mungkin punya ibu yang begitu ...”.
Fadli mendelik. “Emang Yani jahat apa ?, sembarangan”.
“Kok kau yang sewot”.
Fadli kembali mendelik. “Anak baik tak menjamin ibu ikut baik. Lihat aja Yani, kurang baik apa Yani, tapi ibunya ?”.
Irfan anggukkan kepala jadinya. Memang betul kata Fadli, anak yang baik bukan jaminan ibunya juga baik. Intinya, Lilis yang baik tidak kemudian menjadi jaminan mutu kalau ibunya Lilis juga baik. Tapi Irfan berharap tidak seperti yang dibayangkan Fadli, Irfan mencoba terus meyakinkan dirinya kalau Lilis merupakan gambaran dari keluarganya. Sikap umum keluarga Lilis sama dengan sikap umum seorang Lilis.
Irfan berdiri. “Aku berangkat Fad”.
“Jadi. Hati hati dijalan, jangan banyak banyak pelukan”.
Irfan menolak kepala Fadli pelan dan berlalu pergi meninggalkan Fadli yang baru usai menghabiskan nasi bungkus yang seharusnya menjadi jatah Dhanil. Fadli tak menjawab Irfan yang permisi karena tepat saat Fadli sedang minum, tapi Fadli berdiri di pintu dan sempat juga melihat Irfan buka pintu pagar terus keluar dengan tas ranselnya yang warna hitam. Fadli hanya bisa tepuk jidat dan tak mungkin protes lagi, jelas kalau tas ransel yang disandang Irfan adalah miliknya.
Malam sudah cukup dalam, jam didinding sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB, tapi Fadli belum bisa memejamkan matanya. Bukan karena takut tinggal sendirian, Fadli tidak punya rasa takut walau ini kali pertama sepanjang sejarahnya Fadli tinggal sendirian dirumah. Tapi Fadli memang tak bisa tidur dan Fadli pun tak mengerti mengapa ia tak bisa tidur. Akhirnya Fadli memilih menonton TV, sialnya tak ada acara yang lumayan bagus hingga Fadli akhirnya mematikan TV dan memilih membaca buku saja.
Fadli justru membayangkan Irfan, Irfan pasti sudah sampai kerumah keluarga Lilis, Irfan tadi berangkat selepas magrib, pasti sudah sampai. Walau penasaran apa yang terjadi, karena Fadli entah kenapa punya rasa khawatir Irfan bisa mengalami keadaan yang sama dengan Dhanil. Namun dalam hati Fadli berdo’a mudah mudahan ketakuannya tidak terjadi, sudah hampir pukul 02.00 WIB baru Fadli beranjak ke kamar dan langsung tidur.
Fadli mengucek matanya, ternyata sudah pagi dan ada suara ketukan yang berasal dari pintu, bahkan terdengar berkali kali, makin sering malah, tapi Fadli belum yakin betul dengan pendengarannya, belum tentu di pintu mereka, bisa saja suara itu datangnya dari sebelah. Fadli setengah malas berdiri dan memandang ke pintu dengan mengeluarkan kepalanya lewat pintu kamar sedangkan badannya masih dalam. Benar benar ada ketukan, betul betul ada yang mengetuk pintu rumah kost mereka. Fadli memakai pakaian dan memperbaiki pakaiannya yang lain dan berjalan pelan menuju pintu.
Air muka Fadli yang membuka pintu berubah derastis sekali. Orang yang mengetuk pintu pagi pagi buta itu adalah Yani, Yani yang sudah sampai di Medan. Entah kenapa jantung Fadli justru berdegub menerima lemparan senyum Yani. Fadli tak punya pilihan kecuali menyuruh Yani masuk dan duduk. Fadli juga ikut duduk, Fadli bingung mau mulai dari mana, mau katakan yang mana dulu, yang jelas Yani sekarang sudah kembali di rumah Kost mereka, sudah berada di Medan, ini artinya kalau niatan Yani dan Dhanil akan tetap dilaksanakan tanpa menunggu restu keluarga Yani. Fadli dalam hati jadi merasa salut pada akhirnya, Yani ternyata senekat itu.
“Bang Dhanil mana Bang ?”.
Fadli garuk kepala. “Abang hanya sendirian disini”.
Muka Yani agak berubah. “Yang lain mana ?”.
Fadli kembali garuk kepala. “Dhanil pergi dengan Pak Riswan dosen kami, Irfan ke Siantar ke rumah Lilis”.
“Jadi Bang. Kapan pulangnya ?”.
Fadli geleng kepala. “Kurang tahu Yan”.
Yani jadi ikut bingung. Ia sudah sampai di Medan Dhanil malah nggak ada di Medan. Yani agak tertunduk. Melihat ini Fadli langsung mengambil hpnya dan menghubungi Dhanil. Sialnya, sudah lebih lima kali Fadli menghubungi yang namanya Dhanil tak juga angkat telephonnya.
Fadli beranjak keluar rumah membeli sarapan. Otak Fadli jadi agak hank sedikit. Bagaimana kok bisa begini, kok malah jadi Fadli yang menghadapi Yani disini, bukan Dhanil. Udah begitu, Irfan juga tak ada dirumah, ini membuat Fadli agak pusing. Fadli kembali tepuk jidat, saat kantongnya ia rogoh tak ada Hp yang dicarinya, berarti tadi tertinggal dimeja, padahal Fadli ingin sekali menghubungi Irfan, paling tidak menyuruh Irfan pulang lebih cepat, harus pulang hari ini.
Selesai sudah pesanan Fadli, Fadli langsung bergegas kembali menuju rumah kostnya. Fadli masuk dan hanya duduk saat menemui Yani sedang berbincang lewat telephon, dari jalan ceritanya Fadli yakin kalau yang bicara dengan Yani adalah Dhanil. Dhanil mungkin tadi melihat panggilan tak terjawab dan lengsung menghubungi Hp Fadli, Yani yang melihat langsung mengangkat.
“Apa kata Dhanil Yan ?”.
Yani menoleh. “Akan segera kemari Bang, Bang Dhanil udah di Medan”.
Nafas Fadli agak lega. Baru satu sendok yang ia suap Fadli ambil Hp dan menghubungi Irfan. Untungnya Irfan langsung angkat.
“Iya Fad”.
“Kau pulang hari ini Fan. Bila perlu sekarang”.
“Kenapa Memang”.
“Pokoknya pulang ajalah”.
“Iya.. tapi kenapa ?”.
“Ini”.
Fadli berikan Hp yang ada ditangannya kepada Yani yang langsung ngobrol dengan Irfan, Fadli merasa itu akan lebih baik daripada ia yang menjelaskan kepada Irfan panjang lebar. Fadli tak begitu mendengarkan apa yang mereka bincangkan, Fadli memilih ke dapur untuk mengambil air. Saat Fadli sampai kembali keruang depan, Yani sudah sarapan lagi, Hp udah kembali terletak di meja.
“Yani mandi aja dulu”.
“Nanti ajalah Bang. Masih capek”.
“Kalo begitu tidur aja dulu”. Kata Fadli sambil menunjuk kamar.
Tampaknya Yani lebih memilih yang kedua. Yani menyudahi sarapannya dengan segelas minuman dan beranjak ke kamar kemudian langsung tidur. Fadli mengintip sedikit dan kini jadi serba salah, Fadli juga belum mandi, tapi Fadli tak berani masuk ke kamar lagi karena Yani disana sudah tidur. Dengan begitu Fadli kembali duduk dikursi, merenung, serba salah. Fadli benar benar terus bertambah bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Pengen keluar rumah juga tak masuk dalam pilihan yang tepat bagi Fadli, tak mungkin meninggalkan Yani sendirian. Pilihan tetap memang harus duduk dikursi sendirian dengan pikiran menerawang.
Bersambung .....
kebaikab selalu menemukan jalan untuk meraih bahagia.. syukurlah Anggi akhirnya terbuka hatinya