"Kau takkan bisa lepas dariku, Diana. Sampai kapanpun kau akan tetap bersamaku, selamanya."
Sesosok pria asing datang dan mengatakan hal itu padaku. Tidak hanya itu, dia juga memiliki kekuatan layaknya karakter fantasi. Aku yang hanya manusia biasa hanya bisa apa? Apa yang harus kuperbuat untuk menyingkirkan stalker ini?
.
.
.
Publish: 20 Januari 2021
>Diperkenankan komentar positive
>Yang mau saling dukung dimohon like dari bab akhir, ya. Sekian terima kasih :))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ItsMeMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WIH #15
Happy Reading!
Rico berlari dengan pacuan sedang dan seirama, lelaki dengan hoodie dan celana training warna senada itu menabrak hembusan angin yang menerpa ke arahnya. Sesekali matanya melirik ke samping di mana laut bermuara dengan ombak yang kecil, membuat keinginannya terhadap air kembali memuncak.
'Berkonsentrasilah Rico, kau itu berlari untuk melupakan kesenanganmu pada air,' batin Rico dengan gelengan kecil, kemudian kembali meluruskan pandangannya diiringi hembusan nafas kasar.
Berselang menit kemudian, mata Rico menangkap sosok gadis yang ia kenal tengah duduk di hamparan pasir, membiarkan kaki telanjangnya basah oleh air laut yang pasang surut.
Dari cara pandangnya, nampak jelas gadis itu tengah terbebani masalah yang cukup berat. Dengan segera, Rico memacu langkahnya menghampiri gadis itu yang menoleh usai jaraknya tersisa beberapa kaki.
"Rico?" sambutnya dengan bingung.
"Apa yang kau lakukan disini, Diana?" Rico mengajukan pertanyaan sembari mendaratkan bokongnya di sisi Diana.
Gadis itu mengalihkan pandangannya sejenak, usai matanya sejajar dengan Rico, "tidak ada," jawabnya dengan senyum paksa, kemudian kembali melempar pandang ke depan meski ia tahu, bahwa Rico masih menatapnya.
"Kau yakin?"
Gadis itu menoleh, mengukir senyum simpul kemudian mengangguk beberapa kali, "memangnya apa yang membuatmu tak yakin dengan ucapanku?"
"Banyak," jawab Rico langsung, "pertama, kau sendirian di tempat seperti ini, dan hal itu biasanya dilakukan orang untuk menenangkan pikiran dari beban yang mereka punya. Kedua, kau nampak memaksakan senyummu untuk meyakinkanku. Ketiga, nada bicaramu terdengar ragu."
Diana tercengang dengan senyum yang membeku, bagaimana lelaki ini mampu sepeka itu terhadap dirinya yang bahkan merasa cukup yakin untuk menutupi perasaannya hanya dengan ucapan.
"Sejak dulu kau memang tak pandai menyembunyikan perasaanmu, Diana." Rico tersenyum di akhir dialog.
"Ah, begitu ya ..." lirih Diana seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ayo, ceritalah padaku apa masalahmu, aku akan mendengarkannya, siapa tahu aku bisa membantumu."
Gadis itu sedikit bingung, ia menghela nafas beriringan dengan deburan ombak di depan mereka, "begini, temannya sepupuku mengalami hilang ingatan, dan ia baru menyadarinya ketika sebuah mimpi mendatanginya. Ah tidak, lebih tepatnya sekelebat ingatan bahwa ia telah menikah dengan seorang pria. Ia tidak tahu siapa pria itu, namun suatu kebetulan, beberapa hari yang lalu ia kedatangan pria yang mengaku sebagai suaminya, bahkan ketika ia mengusirnya pria itu tak mau angkat kaki dari rumahnya. bagaimana menurutmu?"
Rico mengangguk paham, otaknya tengah mengolah semua perkataan yang Diana lontarkan, "apa pria itu memberi bukti bahwa ia adalah suaminya?"
"Hm, iya. Pria itu menujukkan cincin yang dikenakannya sama persis dengan yang sepupu temanku pakai. Tapi setelah itu, sudah tak ada lagi bukti, tidak ada foto pernikahan ataupun yang lainnya." di tengah pembicaraan Diana, gadis itu membalut tangannya yang tertaut cincin dengan tangannya yang lain.
"Oh begitu, kalau menurutku ... itu hanyalah suatu kebohongan."
"Apa?!" Diana sedikit terkejut.
Rico mengangguk, "suatu kebohongan yang dibuat-buat dan kebetulan mirip dengan sekelebat ingatan sepupu temanmu. Jika memang benar pria itu adalah suaminya, maka ia tak 'kan segan-segan menunjukkan segalanya sebagai bukti pernikahan mereka. Foto saja tidak ditunjukkan, padahal itu hal yang sangat mudah."
"T-tapi, bagaimana dengan cincin mereka? Itu sama persis!" nada bicara Diana sedikit meningkat seiring dengan suasana hatinya yang mulai menggebu.
"Cincin itu, mudah ditiru. Siapa tahu pria itu penguntit atau orang yang sudah cinta mati pada sepupu temanmu, maka ia membuat cincin yang sama dengan miliknya, sehingga mudah untuk mengelabuinya. Atau lebih parahnya ..." kalimat Rico menggantung, pria itu menatap tajam gadis di sisinya yang memasang raut penasaran.
"... pembunuh yang sudah menjadikan sepupu temanmu sebagai incaran dengan permainan gilanya."
"Rico! Jangan bercanda!" Diana mendaratkan pukulan kecil ke lengan Rico.
"Diana, aku tidak bercanda, aku serius! Aku hanya mengatakannya berdasarkan logikaku." lelaki itu meyakinkan Diana dengan sorotan mata beserta nada bicaranya, "saranku, kau katakan pada temanmu untuk menyuruh sepupunya meninggalkan rumah atau melapor pada polisi sebelum pria itu bertindak lebih lanjut."
'Apa yang dikatakan Rico banyak benarnya, tapi, polisi? Mana mungkin?! Sean bukan manusia! Tidak, tidak, polisi tak 'kan sanggup mengatasinya, apalagi Sean memiliki banyak kekuatan yang kemungkinan mampu mengelabui polisi atau menghabisinya dalam sekejap.'
Nafas gadis itu mulai terengah seiring dengan pikirannya yang berantahkan, "tapi Rico, selama pria itu tinggal di rumahnya, tidak ada hal yang mencurigakan, pria itu memperlakukannya dengan baik, bahkan tindakan romantis sekalipun."
"Diana, kau seperti tak tahu kejahatan di jaman sekarang, seiring perkembangan jaman, semakin pintar juga para penjahat untuk melancarkan aksinya. Sepupu temanmu itu wanita, wanita sangat mudah terhanyut dalam keromantisan, bukan? Apalagi jika pelakunya adalah pria tampan."
CTAR!
Hati Diana terasa seperti disambar petir, semua yang dikatakan Rico benar 100%. Nampaknya Sean berhasil menghasut Diana hanya dengan pesonanya yang di ambang batas manusia normal dan segala tindakan keromantisannya, hati Diana yang awalnya keras bak batu mulai melunak bagaikan plastisin. Bahkan sekarang gadis itu mulai menerima kehadiran Sean di rumahnya.
Tidak, tidak ... jangan sampai yang dikatakan Rico benar, bahwa Sean adalah pembunuh yang sudah merencanakan permainannya dengan matang pada Diana, si gadis polos yang mudah tertipu.
"Mengapa sekarang kau tak memberitahu pada sepupu temanmu tentang ini?" Rico kembali membuka suara, membuat Diana sedikit tersentak dari lamunannya. Sontak gadis itu mendekatkan ponselnya ke daun telinganya, berpura-pura tak mendengar pertanyaan yang Rico utarakan.
"Ha,halo?!"
Diana sengaja terdiam beberapa detik sebagai gambaran seseorang yang tengah berbicara padanya di seberang telfon.
"Huh, dasar! Kau membuatku panik, kau tahu, bercandamu keterlaluan!" maki Diana dengan nada yang dibuat buat.
[ ... ]
"Haha, baiklah jika memang tak ada yang terjadi pada sepupumu."
[ ... ]
"Ahahaha, okay kalau begitu ... a,aku tutup telfonnya."
Dengan gerakkan cepat, Diana menurunkan ponselnya, berakting memutus telfonnya dengan kasar, "huh dasar! Ternyata dia membohongiku, Rico, hahaha!"
"Apa?! Yang benar?? Hey! Itu sungguh keterlaluan." Rico membuang mukanya ke depan dengan kesal.
Sedangkan Diana masih memperhatikan lelaki di sisinya dalam diam, membiarkan deburan ombak menguasai suasana yang disusul hembusan angin yang menerbangkan helaian rambut Rico, menambah pesona lelaki itu di bawah cahaya mentari yang entah sejak kapan redup.
Bledar!
Pandangan keduanya mendongak serempak, berselang detik kemudian tetesan air jatuh susul menyusul ke wajah Diana yang kemudian meramai membentuk hujan, seolah mendesak ke duanya untuk pergi dari sana.
"Ayo, Diana!" Rico menggenggam dan menarik pergelangan tangan Diana untuk pergi mengikutinya ke bawah naungan pohon lebat yang tumbuh sedikit jauh dari keberadaannya.
Hujan kian deras, jatuhnya sedikit miring terhembus angin. Pantai yang awalnya cerah dengan pengunjung yang sedikit ramai kini nampak sepi diguyur hujan, membuat butiran pasir yang awalnya kering menjadi basah nan lembab.
"Bagaimana ini?? Apa kau bisa pulang?" Rico meninggikan suaranya berharap Diana mendengarnya di tengah derasnya hujan.
'Pulang? Aku belum mau pulang!'
"Em ... k,kalau begini, jelas aku tidak bisa pulang. Tadi aku kemari naik taksi, hehe ..." Gadis itu sedikit menggaruk rahangnya dengan kuku jari telunjuk.
"Bagaimana jika ke rumahku saja? Kebetulan aku selalu menyimpan jas hujan di bagasi motorku," tawar Rico yang melayang tanpa balasan. Gadis itu nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk setuju, "boleh, kalau memang itu tidak merepotkanmu."
"Tapi sebelum itu ..." Tangan Rico bergerak meresliting penuh jaket Diana yang kemudian beralih mengangkat tudung jaket untuk menutupi kepala Diana. Tentu tindakannya membuat gadis itu tersipu malu.
"T,terima kasih." Diana berucap terbata.
Lelaki itu mengukir senyum simpul, memasang tudung hoodienya sejenak sebelum akhirnya menggandeng tangan Diana, "ayo." Gadis itu bungkam dengan senyum malu, pandangannya menunduk, mengikuti langkah Sean yang memandunya menuju letak sepeda motor.
...WHO IS HE?...
...To be continue ......
like dan fav uda mendarat.
salam dari "Pernikahan impian."
makasih😁😁
saling support yaa 🙏