Tidur Pangeran Rayyan Muhannad Arnauth tak akan pernah nyenyak jika ia tak bisa mendapatkan seorang wanita yang menghantui mimpinya tiap malam. Bagaimanapun caranya ia harus bisa menjadikan wanita itu sebagai salah satu selirnya.
Selir? Bilqist sangat membenci status itu. Dia merasa tak jauh beda dengan wanita simpanan yang tak mempunyai status dan dihargai hanya bila tubuhnya mampu menjadi pemuas napsu sang pangeran.
Sampai tulang belulangnya mengering di gurun pasir pun Bilqist rela. Asalkan dia tidak akan pernah menjadi selir Rayyan Muhannad Arnauth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konfrontasi
Rayyan berharap menjadi orang yang pertama kali Bilqist lihat sewaktu ia siuman. Jadi ia menemani Bilqist selama hampir dua jam. Duduk di sebelah Bilqist yang masih tidur. Rayyan memperhatikan Bilqist yang tersenyum. Melihat bibir pink alami itu tersenyum, ia merasa seperti pangeran paling beruntung di dunia. Dari bibirnya saja, Rayyan mampu menciptakan sebuah puisi untuknya. Senyum Bilqist menciptakan kehangatan di dadanya. Andai Bilqist tersenyum saat bangun untuknya. Dia akan membuat saat itu menjadi peristiwa yang tak akan bisa Bilqist lupakan. Bilqist akan melihat pahlawan yang menolongnya.
Rayyan tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
....
“Itu menyeramkan,” kata Rayyan pada dirinya sendiri. Ia langsung menutup mulutnya dengan canggung.
“Aku jadi orang bodoh.” Rayyan menyeka mukanya. “Ini bahaya.” Ia menyadari telah melakukan dosa. Ia telah melihat aurat seorang wanita yang terpaksa dibuka karena harus diselamatkan. Rayyan segera beristighfar.
Seketika itu juga pikirannya mulai menuju ke jalan yang lurus. “Aku harus segera keluar dari sini.” Rayyan kemudian bangkit dari duduknya dan dengan berat hati meninggalkan Bilqist beristirahat sendiri.
Imran yang mengetahui Rayyan keluar dari kamar Bilqist segera meminta waktunya untuk bicara. Imran telah menyiapkan satu kamar khusus di sebelah kamar Bilqist untuk mereka bicara. Imran kemudian memperlihatkan data yang ia peroleh dari badan intelejen.
“Aku pikir dia orang Eropa atau Amerika,” kata Rayyan ketika membaca lembaran berkas di tangannya.
“Perwakilan dokter yang dikirim oleh Amerika, tapi dia berkewarganegaraan Indonesia. Ibunya warga negara Amerika, ayahnya Indonesia.”
“Oh kamu juga sudah mendapatkan informasi tentang orangtuanya,” ujar Rayyan ketika membalik halaman ke tiga berkas itu. Rayyan membacanya dengan seksama. Ia membiarkan berkas itu terbuka di meja lalu mengangkat kepalanya. Rayyan melihat wajah Imran beberapa detik lamanya.
“Kamu tahu yang aku pikirkan, bukan?” tanya Rayyan pada Imran.
Imran mengangguk. “Dia bukan putri dari orang sembarangan. Meskipun Zachary Dave Ilyas tidak secara resmi menyandang gelar Earl dari kerajaan Inggris, tapi dia tetap cucu dari Earl Ahmad Ilyas. Jadi dia masih termasuk keturunan keluarga kerajaan. Lalu ibu dari Bilqist adalah direktur yayasan yang membangun beberapa rumah sakit di Asia Tenggara. Keluarga mereka mempunyai nama baik di Indonesia, Amerika, dan Asia Tenggara. Jika masalah ini semakin besar, saya ragu jika kita bisa menyelesaikannya dengan mudah.”
Rayyan memijat pangkal hidungnya. “Aku sedari awal punya firasat buruk tentang operasi pembunuhan Yahya dan istrinya. Lihat sekarang.” Rayyan lalu memijat pelipisnya. “Jendral Thariq terlalu gegabah.”
Tepat saat itu juga, pintu ruangan terbuka dan orang yang mereka bicarakan muncul dengan wajah memerah.
“Kenapa Pangeran membawa perempuan itu, hukumannya belum selesai.”
Rayyan tak langsung menjawab seketika itu juga. Malah dia mengajukan pertanyaan ke Jendral Thariq. “Kalau boleh tahu, apa kesalahan perempuan itu?”
“Dia telah menghalangi operasi militer.”
Rayyan menunggu Jendral Thariq bicara tapi sepertinya ia tidak mau menjelaskan lebih jauh. Rayyan mengerutkan dahinya. “Dan ...?”
Jendral Thariq mengamati wajah Rayyan. Baru pertama kali Rayyan mencampuri urusan kewenangan Thariq. Lalu ia memperhatikan berkas yang terbuka di bawah telapak tangan Rayyan.
“Saya minta dia dikembalikan ke selnya.”
Ada seringai samar di sudut bibir Rayyan. “Apakah Anda sudah mengkonfirmasi sendiri padanya?”
“Tidak perlu.”
“Kenapa tidak?”
“Karena ini operasi khusus.”
“Apakah Anda tahu siapa dia?”
“Hukum negara harus dijalankan, tidak peduli siapapun orangnya jika ia menghalangi maka boleh ditembak di tempat.”
Rayyan mengerutkan dahi. “Meskipun dia bukan warga negara Julunda?”
“Benar.”
Rayyan sedari awal memang tidak setuju dengan hukum negaranya di beberapa bagian. Seperti saat ini. “Apakah Anda tahu siapa dia?”
Jendral Thariq mendekati Rayyan, berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam. “Sekali lagi saya katakan, siapa pun dia jika menentang hukum Julunda harus dihukum. Apalagi dia adalah warga Amerika.”
Dalam empat tahun ini, hubungan antara Amerika dan Julunda sedang tidak mesra. Diawali dengan embargo ekonomi Amerika terhadap Julunda karena keterlibatannya dalam pelanggaran HAM di wilayah Nu’mani. Waktu itu Rayyan masih belum memikirkan lebih jauh tentang politik di negaranya. Ia menikmati masa-masa muda seperti layaknya seorang mahasiswa biasa. Ia menganggap keputusan ayahnya untuk ikut campur dengan masalah Nu’mani murni karena melihat persahabatan antara dua negara.
Tanpa Raja sadari, tentara Julunda yang dikirim telah membunuh warga Nu’mani karena pemerintah Nu’mani sendiri yang ingin menumpas pemberontak negara.
“Apa kamu sudah mengkonfirmasi dia adalah warga Amerika?”
“Fakta bahwa dia dokter yang dikirim oleh rumah sakit di Amerika, sudah cukup bagi saya.”
Rayyan mengepalkan telapak tangannya. “Kenapa memangnya kalau dia warga Amerika?”
“Karena mereka adalah musuh negara kita.”
“Darimana kamu menyimpulkan kalau semua warga negara Amerika adalah musuh?”
“Negara Amerika telah sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya sebagai polisi dunia untuk melawan kita. Warga negaranya tentu membela kepentingan negara mereka, bisa jadi perempuan itu adalah mata-mata Amerika. Lagipula hukum tetap harus ditegakkan.”
Rayyan merenggangkan kepalan tangannya. Pemikiran kuno Jendral Thariq membuatnya ingin tertawa sekaligus geram.
“Paman tahu, justru karena pemikiran seperti itu yang membuat negara kita memiliki banyak musuh!”
“Negara kita adalah negara yang kuat secara finansial, kita tak akan terpuruk meskipun adanya embargo. Lihat saja, sudah empat tahun berlangsung tapi negara kita baik-baik saja.”
Rayyan merasa kasihan kepada ayahnya yang dipengaruhi oleh orang-orang yang berpikiran kuno seperti Jendral Thariq. Sayangnya dia terlalu kuat untuk disingkirkan. Dia adalah paman dari pihak ayahnya. Mereka sangat dekat, tentu saja selain sebagai jendral besar, Jendral Thariq juga adalah penasehat raja. Rayyan yakin kalau delapan puluh persen keputusan yang diambil oleh ayahnya dipengaruhi oleh Jendral Thariq.
“Aku ragu jika informasi ini belum Paman terima. Dokter Bilqist, wanita yang Paman hukum bukan warga negara Amerika.” Rayyan memperhatikan raut muka Jendral Thariq. Rayyan mendengus. Jendral Thariq tidak terlihat terkejut. Dia tahu kalau intelejen Jendral Thariq pasti sudah memberikan informasi padanya. “Dia dari Indonesia. Beruntung aku menyelamatkannya sebelum Paman bertindak terlalu jauh. Apa Paman tidak pernah memikirkan, bagaimana kita akan berhadapan dengan mahkamah internasional?
Apa Paman ingin menambah lagi dosa pelanggaran HAM Julunda?”
Buku-buku jari Jendral Thariq memutih, karena ia mengepal terlalu kuat. “Masalah ini tak akan sampai ke luar jika Anda biarkan saya melakukan apa yang harus dilakukan. Justru karena Imran ikut campur dengan masalah ini jadi rumit seperti ini. Harusnya pasukan khusus langsung membunuh pemberontak itu di tempat. Masalah ada korban di luar target itu bisa dengan mudah dibereskan.”
“Imran, di mana Raja Muhannad? Aku harus bicara dengannya. Putranya belum bisa memimpin negara dengan benar.” Meskipun menyebut nama Imran, tapi kedua mata Jendral Thariq menatap tajam ke wajah Rayyan. Pemuda manja yang baru belajar masalah negara, telah berani menentang keputusannya.
“Julunda adalah negara besar. Bukan mainan anak muda manja yang kurang pengalaman.”
Rayyan tersenyum miring. “Ayahku sedang menjalani perawatan. Tenang saja Paman, akan kusampaikan salammu kepadanya.”
Jendral Thariq menatap Rayyan sampai beberapa menit lamanya. Udara di ruangan itu terasa sangat pekat, kental dengan aura perseteruan antara keduanya.