"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 14
Happy reading!
.
***
Memandang langit yang penuh bintang, manik cokelat madu itu tidak berkedip. Dia berulang kali menghela napas. Atap gedung yang menjadi tempat pengintaian di kota LA lama-lama menjadi kumuh karena beban di kepala Diego.
Banyak hal yang mengganggu pikiran Diego. Seorang pria setia menemani, membuatnya merasa seperti kembali pada masa di mana dia menjadi tawanan sang kakek.
"Valent, bagaimana menurutmu kalau aku menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka?"
Manik cokelatnya masih menatap ke atas, pada miliaran matahari kecil di angkasa sana. Diego tersenyum miris. "Kamu bahkan melarangku?" tanyanya lagi tatkala Valent tidak menjawab.
Pria yang ikut menemaninya itu menghela napas pelan. Ikut merasakan kesedihan sang tuan.
"Anda yakin setelah melakukan itu akan merasa bahagia? Bagaimana dengan kebahagiaan Nona Lele yang sangat Anda inginkan, Signore? Apa Nona Lele akan bahagia? Sepertinya juga pemuda itu sangat baik, teman pula," imbuh Valent.
Mengenai tikung menikung seperti dalam hal balapan, Diego menghela napas kemudian menghembuskannya lagi. Begitu berulang kali sampai dia merasa bahwa oksigen di bumi masih sangat banyak untuk dia hirup.
"Kalau aku egois bagaimana?" tanyanya lagi. "Aku tidak ingin salah satu dari mereka menjadi korban tanpa alasan. Apalagi Lele hanya main-main dengan perasaan orang lain."
Diego menghembuskan napas kasar. Bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Di satu sisi ada cinta dan di satu sisi ada teman. Bahkan pilihan ini lebih sulit dibandingkan dengan pilihan antara meninggalkan Bertha atau bersekolah di Italia.
"Tapi beberapa hari ini, mereka sangat mesra dan membuatku iri. Aku ingin sekali mengantongi Lele dan membawanya pulang."
Diego berbicara sendiri pada malam. Berharap kekelaman itu mengubur dalam-dalam keegoisan di hatinya yang menginginkan Alita.
Bibirnya tersenyum tipis mengingat bagaimana gadis itu tertawa bahagia selama masa pacaran dengan Summer. Begitu pula dengan pemuda berkacamata itu, selalu berbicara manis tentang Alita di hadapan Diego, menanyakan bagaimana dia harus bersikap pada Alita nantinya.
"Anda bisa melarang mereka berkencan, Signore," usul Valent.
Diego terkekeh pelan. Alita tidak mungkin bisa dibatasi, apalagi dalam hal berkencan, pria tampan dan uang.
"That's impossible, Valent," ucapnya. "Kamu tahu bagaimana gilanya dia melihat uang."
Tanpa melihat gerakan pria di sampingnya, Diego memejamkan mata. Merasakan semilir angin musim panas yang menyejukkan, menghirup hawa segar untuk mendinginkan kepalanya yang hendak pecah.
"Bagaimana dengan keadaan Michael? Dia masih berusaha, bukan?" Diego mengalihkan fokusnya dari hal-hal yang membuat pusing sendiri.
"Seperti yang Anda katakan, Signore. Tapi Tuan Owhadi tidak semudah itu menyerah dari kedudukannya."
"Dia tidak tergiur menjadi Letnan Mayor?" tanya Diego sembari melirik Valent yang sibuk mengintip keindahan malam dari balik teleskop. "Asisten kecil sepertinya tidak cocok dengan ketampanannya."
"Keluarga lebih penting dari segalanya. Itu yang dia katakan pada Michael, Signore."
Diego tersenyum tipis. "Kalau begitu lumpuhkan terlebih dahulu apa yang menjadi kelemahannya."
"Bagaimana dengan pemuda itu, Signore?"
"Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan pekerjaan yang memiliki masa sendiri dengan perasaan pribadi," ujar Diego.
"Bagaimana dengan kebangkrutan Edmund Riley?"
"Sudah diatasi, Signore. Anda sudah hampir menguasai satu kursi dewan. Tinggal tunggu waktu sampai dia menduduki masa emas itu."
Diego tersenyum. Dalam senyuman itu ada kekejaman tersembunyi, tertutupi oleh wajah tampan dan juga keusilan yang membuat orang terpana hingga mengendorkan keamanan.
"Melakukan kudeta pada para koruptor tidak sulit. Ada baiknya juga menuruti saran Lele untuk mencuri," ujar Diego terkekeh.
Mengingat pertama kali mereka ditelantarkan oleh Silver di sini. Tanpa uang dan tanpa fasilitas memadai. Alita menyarankan untuk mencuri dan Diego tidak menolak. Mereka sama-sama melakukan kejahatan.
***
Jalanan masih menjadi tempat pernyataan cinta bagi Alita. Gadis bermata zamrud itu tetap sama, acuh dan tidak peduli pada perasaan pria.
"Wow, dia sangat tampan. Lebih tampan lagi dari Summer."
Alita sedikit berteriak melihat seorang pemuda berseragam lengkap. Sepertinya siswa sekolah lain.
Membuat Diego menggeleng pelan. Dia menarik ransel Alita ketika kaki kecil sang gadis hendak berlari mengejar.
"Shaun, lepaskan. Aku harus mengejarnya," ucap Alita memelas. Berusaha melepaskan diri dari cengkraman Diego.
"Kamu harus berlajar memahami mulai dari sekarang. Aku membiarkanmu berpacaran dengan banyak pria lain sebelumnya, tapi sekarang tidak lagi. Summer adalah temanku, jadi kamu tidak boleh macam-macam."
Alita menatap manik Diego. Ada perasaan yang tidak bisa pemuda itu utarakan. Alita tersenyum.
"Kamu cemburu? Kalau begitu, ayo kita kawin lari. Kamu tinggal bilang kalau cinta, tidak perlu menahannya. Soal Rubah Tua itu, tidak usah dikhawatirkan."
Dengan sedikit menggoda, Alita bergelayut manja di lengan Diego, mengedipkan matanya dan tersenyum manis. Sangat manis sampai membuat Diego menekan kepalanya.
"Aww, sakit!" pekiknya sakit.
"Makanya kalau ngomong difilter dulu, aku tidak mau jadi orang ketiga ya," ucap Diego kesal. "Aku pria tampan yang menepati janji dan selalu ada di jalan yang benar," tambahnya lagi.
"Jalan yang benar?" ulang Alita sambil menyipitkan matanya. "Yang benar saja. Kita sudah berada di jalan yang salah sejak sampai di sini. Apalagi setiap hari bersamamu, aku selalu berdosa."
Diego mengerutkan keningnya. Enak saja dia dikatakan seperti setan yang menjerumuskan orang lain ke dalam dosa. "Kenapa?"
"Karena setiap hari aku selalu berpikiran yang buruk-buruk. Membawamu kabur ataupun kawin lari, memakanmu setiap malam atau hanya sekadar mencium bibirmu," ucap Alita dengan bibir yang terus tersenyum menggoda, memaksa manik cokelat itu berotasi malas.
"Ngomong yang benar atau aku akan menjualmu pada pada mafia Rusia di sini," desah Diego mulai kesal.
Pertahanan dirinya bisa runtuh jika setiap hari digoda seperti itu oleh gadis kecil yang bahkan dadanya belum besar.
"Kamu akan rugi, tidak ada lagi gadis yang lebih cantik dariku di dunia ini," tukas Alita dengan sombong. Masih menyengir.
"Jelek tidak apa-apa, yang penting otaknya masih waras," imbuh Diego.
Tanpa melepaskan tangannya, Alita terus menempel pada Diego hingga sampai di gerbang sekolah.
"Aku ingin kita seperti ini terus sampai maut memisahkan," bisik Alita tepat di telinga Diego membuat telinga pemuda itu sedikit memerah. Dan itu terasa geli bagi Alita. Dia tertawa.
"Bodoh," gumam Diego. "Pacarmu melihat kita."
"Apa seorang kakak dan adik dilarang bermesraan? Summer-ku sangat pengertian," ujar Alita tersenyum lalu melambai pada pemuda yang masih setia berkacamata. Summer mendekat.
"Selamat pagi, Sayang," sapa Alita lalu meraih lengan Summer kemudian bergelayut di sana.
"Setiap hari kamu makin tampan saja. Ini yang membuatku takut bertemu Daddy."
Raut wajah Alita berubah seketika membuat Summer bertanya keheranan. Begitu pula Diego yang sedikit menyeringai. "Kenapa?" tanya Summer.
"Aku takut dia marah jika aku tidak berhasil membawamu pulang."
Summer yang tadi khawatir berubah tertawa. Dia membawa Alita dalam rangkulannya tanpa peduli pada seseorang yang memalingkan wajah. "Kamu juga makin berbisa," imbuh pemuda itu.
"Diego, kami duluan."
.
---
Monmaap baru up, maklum kemaren enak libur😁
---
Netizen : thor, lebih cakepan Summer daripada Diego. napasih?🤔
Author : karena gue emang lebih suka pacar org drpada pacar sendiri😍
Netizen : 😑😑😒😒😒
---
Jan lupa klik jempol dan komen 'lanjut'😊😘😘😘
***