Alvino Jordy Admaja adalah seorang laki-laki yang hampir sempurna. Ia memiliki ketampanan diatas rata-rata, begitu juga dengan harta warisan yang ia yakini tak akan habis 7 turunan. Namun justru itu semua menjadi bumerang untuknya mencari pendamping hidup.
Semua wanita yang mendekat hanya melihatnya dari segi fisik dan juga harta. Ia terkenal playboy di luar rumah tapi terkenal jones di keluarganya sendiri, akibat tak pernah membawa ataupun mengenalkan pacarnya.
"Kapan kamu kenalin pacar kamu ke mama Vin ?". ~ Mama Dina
"Kapan-kapan ma". ~ Alvin
Mencari istri tidak semudah membeli barang branded. Hatinya tertambat pada seorang gadis berjilbab. Namun tetap tidak semudah itu meminang gadis cantik dengan lesung pipit yang selalu menjadi penyejuk hati.
Penasaran ? Ikuti keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahaya_bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terserah
Hani tidak langsung menjawab, masih diam dan mengerjapkan matanya saat memikirkan apa yang baru saja Alvin katakan. Baru beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa ini bukanlah hal sepele melainkan hal serius yang menyangkut masa depannya nanti. Lidahnya kelu dan suaranya tercekat di tenggorokan, seketika merasa tak mampu untuk berkata-kata.
"Gimana ? Mau nggak ketemu sama.orangtuaku minggu depan ?." Alvin kembali mengulang pertanyaannya karena sebelumnya tidak mendapat jawaban, tapi respon yang di berikan Hani hanya diam sambil berusaha untuk menghindari tatapan matanya. Tapi ia masih menunggu untuk mendapatkan jawaban yang ia mau.
"Ketemu sama orangtuanya mas Alvin ?." Tanyanya memastikan meskipun sebelumnya Alvin sedang mengulangi pertanyaannya dan di angguki oleh Alvin. Ada binar harapan bahwa ajakan lelaki itu di setujui oleh Hani.
"I-iya aku mau." Jawabnya dengan gemetar seolah ia takut apa yang baru saja dikatakannya adalah sesuatu hal yang meragukan. Jemarinya ia remas sendiri dengan pipi yang bersemu merah.
Alvin bersorak gembira dalam hati, jika bisa ia bahkan ingin melompat kegirangan seperti anak kecil. Tetapi saat mengingat bahwa sekarang image harus di jaga di depan Hani, maka ia bersikap senang tapi gak berlebihan. Selama dalam hidupnya tak pernah ia merasa senang seperti ini, bahkan saat mengatakan cinta kepada para mantan pacarnya.
Hari demi hari berlalu dan berbeda dari sebelumnya, kali ini terasa lambat. Bahkan Alvin sudah tak sabar untuk menunggu ia melangkah lebih maju meminang Hani. Keinginannya dan juga harapan orangtuanya akan terwujud, sebagai bentuk dari komitmen seorang lelaki tentu adalah sebuah pernikahan, bukan janji semu yang akan diumbar di mulut saja.
Sebelumnya ia telah mengatakan kepada seluruh anggota rumah bahwa hari ini ia akan mengenalkan seorang gadis yang ia yakini akan menjadi calon istrinya dan ia yakin jika orangtuanya akan setuju saat melihat kebaikan Hani. Tidak ada yang kurang dari gadis itu, bahkan banyak kelebihan yang dimiliki yang tentu menambah poin sebagai calon menantu yang baik.
"Mas Alvin aku gugup." Hani melihat di depannya saat memasuki pelataran rumah, ada bangunan besar tempat dimana bosnya tinggal dan saking besarnya hingga membuat tingkat kepercayaan dirinya malah menurun. Ia tau bahwa Albin adalah lelaki kaya, tapi melihat rumahnya yang seperti istana tentu tak pernah terbayang dalam fikirannya.
"Nggak usah gugup, semua keluargaku nggak ada yang galak." Ujarnya untuk membuat hati tenang, meski begitu ia tak yakin dengan papa Rey yangs sedari pagi tak terlihat. Padahal ia sudah mengabari jauh hari jika Hani akan datang.
Meski Alvin berusaha meyakinkan Hani, tetapi tetap saja gadis itu merasa cemas. Bahkan telapak tangannya keringat dingin dalam cuaca yang panas tiada angin. Tentu hal yang wajar bagi semua wanita yang hendak diperkenalkan ke rumah orangtuanya lelaki yang sedang dekat dengannya.
Pintu rumah terbuka saat Avin mendorongnya dari luar, tidak ada sambutan yang ia kira akan ada dan keberadaan semua orang juga tak nampak. Alvin kecewa dan berdecak dalam hati saat kedatangan Hani tak diberikan kesan istimewa dan spesial.
"Orangtuanya mas Alvin lagi pergi ya ?." Hani bertanya saat tak terlihat satu orangpun disana, ia hanya melihat ruang tamu yang kosong.
"Sebentar ya, paling orangtuaku di dalam." Alvin melangkahkan kakinya menjauh saat sebelumnya menyuruh Hani untuk duduk dan menunggunya kembali. Ia mencari keberadaan mama dan lainnya dan menemukan mama Dina yang ternyata berada di kebun sedang menyiram tanaman.
"Mama disini ternyata, aku mau ngenalin cewek yang mau aku jadikan calon istri." Alvin lalu melihat sekitar dimana hanya ada mamanya dan tiada yang lain." Papa sama Abel mana ?."
"Papa lagi kerumah temannya diluar kota, tadi pagi berangkat karena istri temannya papa meninggal dan baru kembali nanti malam, kalau Abel pergi sama Excel dan Marcel katanya mau ke taman sebentar, mana calon mantu mama ?."
"Tuh nunggu di ruang tamu, mama sih pakai nggak ada."
Mereka menghentikan perdebatan dan mengutamakan keberadaan Hani yang masih menunggu disana sambil melihat bingkai foto keluarga yang terpajang. Juga dengan segala macam perabot dengan kualitas tinggi yang menghiasi. Berbeda jauh dengar rumahnya yang mungkin hanya seperempat dari rumahnya sendiri.
"Hani kenalin ini mamaku." Alvin mengenalkan mama dan Hani saat mereka saling bertatap muka.
"Assalamualaikum tante, saya Hani." Hani berdiri dan menyatukan kedua tangannya dan memberikan salam, dan di balas dengan canggung oleh mama Dina.
"Eh i-iya." Dari ujung kepala hingga ujung kaki ia memperhatikan penampilan Hani, dari semua wanita yang ia fikirkan tentu Hani jauh sekali dari bayangan menjadi calon menantu. Terlihat perbedaan mendasar diantara keduanya dan mam Dina menatap Alvin dengan tatapan tak percaya, meski begitu ia diam tanpa membuka suara yang mungkin akan membuat Hani tersinggung.
"Silahkan duduk lagi." Mama Dina duduk bersebrangan dengan Hani, hanya terpisahkan meja diantara keduanya. Diam sampai suara dari seseorang memecah keheningan.
"Mama kami pulang." Abel membawa perlengkapan Marcel yang ia bawa saat mereka tadi ke taman untuk mencari udara segar, sedangkan Excel menggendong Marcel di gendongan kanguru. Setelah melihat adanya tamu ia langsung diam.
"Abel sini." Mama Dina melambai kepada anak dan menantunya untuk mendekat demi mengenalkan Hani. Dan Abel menuruti, setelah sekian lama ia berinteraksi dengan seorang muslim, baru kali ini rumahnya didatangi langsung oleh orang muslim.
"Kenalin ini Hani." Ujar Alvin hingga Abel dan Hani bersalaman. "Calon istri gue." Sambungnya dengan bahasa bibir tanpa suara hingga mata Abel terbelalak.
"Assalamualaikum saya Hani."
"Aku Abel adiknya kak Alvin, sebentar ya." Abel menarik tangan Alvin dengan pelan saat ia hendak meminta penjelasan dan saat keduanya tak terlihat karena terhalang tembok Abel menarik dengan kasar seolah tanpa kesabaran.
"Apaan sih pakai tarik tangan gue, Hani nanti nggak nyaman kalau gue tinggal." Alvin melepaskan tangan Abel dengan satu hentakan dan keduanya tiada kata formal atau basa-basi, jika Alvin memperlihatkan kemarahannya maka Abel lebih terlihat galak.
"Kak Alvin pacaran sama orang muslim ?." Tanyanya to the pin tanpa ada keraguan, dan mengintip sedikit untuk memastikan bahwa suaranya tak terdengar dengan jelas oleh Hani.
"Bukan, dia islam."
"Itu tuh sama kak." Ujarnya tanpa kesabaran lagi, ia kira Alvin hanya salah memilih pasangan tapi ternyata tak mengerti tentang agama juga. Dan tentu saja perbedaan diantara keduanya akan menimbulkan masalah besar jika tetap bersama.
"Masa sih sama, terserahlah dan gue belum pacaran sama Hani tapi langsung gue mau jadikan istri." Alvin meninggal Abel tanpa memberikan kesempatan bagi sang adik untuk kembali berbicara dan masalah perbedaan keyakinan ia rasa tak akan ada masalah selama hidupnya bahagia dan tanpa ada gangguan. Ia kembali duduk berasa dengan Hani dan juga sang mama yang tengah berbincang.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk novel² Thor yang sudah menghibur kami para reader..
mohon maaf lhr n btn jg...👍
paparey
jan
kristen
ya
kok
lwbaran