Kehidupan punya kenyataan, karena hidup terus mengikuti takdir. Seperti kehidupan yang dijalani oleh gadis bernama Jingga. Di saat usianya masih remaja, dia harus kehilangan ibunya.
Namun Jingga tak pernah menyerah untuk menjalani kehidupannya. Walaupun dia harus menerima kenyataan bahwa ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang tidak dia sukai.
Beruntung saat dia berusia dewasa, dia dipertemukan dengan seorang laki-laki yang sangat mencintainya. Hingga tak butuh waktu lama untuk Jingga menyandang status sebagai istri dari seorang manager restoran bernama Ken. Namun lagi-lagi dia harus menelan pil pahit, saat suaminya harus menikahi seorang gadis yang sedang mengandung anak dari suaminya.
Jingga berusaha mempertahankan rumah tangga yang baru dibangun, dia juga rela harus berbagi suami dengan wanita lain. Tetapi, kehidupan Jingga yang sebenarnya baru dimulai saat itu, saat dia harus rela melihat rumah tangganya yang hancur. Sampai dia berada dititik keputusasaan, hadirlah seorang laki-laki tampan bernama Ray Alfendra. Seorang pengusaha muda yang tampan, dengan ketulusannya dia bisa membawa Jingga pada kebahagiaan yang diimpikan Jingga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuriyyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Suasana menjadi sangat tegang sejak kedatangan Bella kerumah anaknya. Ken segera pulang kerumah setelah mendapat telepon dari Jingga bahwa mamanya datang kerumah.
Kini mereka tengah duduk diruang tengah dengan ekspresi yang berbeda-beda. Bahkan Ken tak dapat berkata apapun karena ibunya menatap dirinya dengan tatapan tajamnya.
"Mama minta kamu jelaskan semuanya Ken!" ucap Bella membuka pembicaraan setelah lama mereka hanya diam. Bella hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya, namun tak bisa menghilangkan rasa kesalnya.
"Ma, ini tidak seperti yang Mama pikirkan. Aku menikahinya karena dia sudah menjebak aku, dan akhirnya dia hamil. Kalau bukan karena kehamilannya, mana mungkin aku menikahinya dan tega menyakiti Jingga," ucap Ken mencoba menjelaskan apa yang sudah terjadi.
"Apa? Dia sudah hamil? Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan hal kotor seperti itu. Mama tak habis pikir Ken," ucap Bella sangat kesal.
"Terus kamu menikahi dia tanpa sepengetahuan Mama dan Papa, kenapa kamu tidak bilang sama Mama sebelum semuanya ini menjadi runyam," ucap Bella lagi tak habis pikir dengan anaknya itu.
"Ma, aku tidak mau Mama dan Papa tahu, aku tidak mau mengecewakan kalian. Sudah cukup aku mengecewakan istri aku," ucap Ken berusaha menjelaskan lagi agar mamanya itu mengerti keadaan dirinya.
Sedangkan Jingga dan Resti hanya diam, karena mereka tak tahu harus berkata apa, apalagi dengan Resti, dia sangat kesal pada suaminya itu yang terus menyudutkannya. Walaupun itu memang kesalahannya tapi dia tak mau disudutkan apalagi mendapat kesan buruk dari mertuanya yang baru dia lihat itu.
"Aduh kepala Mama pusing! Mama tidak tahu apa yang akan terjadi jika Papamu sampai tahu Ken," ucap Bella sambil memegang kepalanya yang sakit. Namun segera Jingga membantu mertuanya.
"Ma, Mama harus tenangkan pikiran Mama. Jingga gak mau Mama jadi sakit gara-gara masalah rumah tangga kami," ucap Jingga sedih. Bagaimana pun dia sudah menganggap Bella sebagai ibu kandungnya sendiri, karena perlakuan yang begitu hangat dan lembut, mengingatkan dia pada bundanya.
"Mama gak papa sayang, Mama hanya kaget. Justru Mama khawatir sama kamu sayang," ucap Bella lembut sambil mengusap pipi Jingga.
Ternyata interaksi keduanya tak luput dari pandangan Resti. Dia hanya bisa menahan rasa jengkelnya, sepertinya Jingga hanya memanfaatkan keadaan untuk mengambil perhatian mamanya Ken, pikir Resti kesal.
"Mama gak perlu khawatirin keadaan Jingga, karena Jingga baik-baik saja Ma," ucap Jingga sambil memeluk mertuanya, berharap memberikan ketenangan pada Bella walaupun sebenarnya perasaan dia sendiri masih kacau.
"Apa kamu mengizinkan Ken menikahinya?" tanya Bella penasaran.
"Iya Ma. Jingga yang menyuruh Mas Ken untuk menikahinya, karena walau bagaimana pun anak yang dikandung Resti adalah anak kandung Mas Ken. Jingga gak mau Mas Ken menjadi orang yang tidak bertanggung jawab," jawab Jingga lembut yang langsung menyentuh sisi terdalam hati Bella.
"Kamu memang berhati mulia sayang. Mama beruntung karena Ken mempunyai istri yang sangat baik, dan hati kamu yang sangat lapang," ucap Bella terharu. Bagaimana pun dia juga seorang wanita, dan sangat tahu perasaan Jingga sekarang.
"Iya Ma," balas Jingga seadanya.
"Ma, Mama jangan bilang masalah ini sama Papa ya! Kalau Papa sampe tahu masalah ini, bisa-bisa dia menggantung aku," pinta Ken dengan wajah yang memelas.
"Enak saja, setelah kamu merahasiakan ini semua dari kami, kamu masih berharap Papamu gak tahu. Pokoknya papa harus tahu apa yang sudah terjadi pada anaknya," balas Bella pura-pura kesal.
"Mama... " rengek Ken sangat manja.
"Mas kamu gak bisa kaya gini terus dong. Kamu terus menyembunyikan pernikahan kita, seolah aku ini bukan istri kamu," ucap Resti yang sudah tak tahan. Dia akhirnya mengeluarkan suaranya dengan nada yang terdengar sangat kesal.
"Kamu disini gak berhak ngatur saya, karena ini semua tak akan terjadi kalau kamu tidak melakukan hal gila itu," ucap Ken dengan nada marah.
Resti diam, memang ini murni kesalahannya. Tapi dia tidak tahan terus disalahkan seperti ini, bukannya dia berharap setelah menikah Ken bisa luluh padanya, tapi apa ini? Ini hanya kebalikan dari semua harapannya, sial! Harus bagaimana lagi agar hati Ken luluh dan mau menerima dia sebagai istrinya.
Sebenarnya untuk seorang Resti yang jauh-jauh menyiapkan hati untuk rencananya, Ken terus menyalahkannya terus itu bukan apa-apa. Tapi karena dia sedang hamil, jadi hormonnya berubah-ubah dan membuatnya menjadi sangat sensitif.
Akhirnya Resti pergi kekamarnya tanpa pamit pada semua orang yang tengah duduk itu, bahkan saking kesalnya dia berjalan dengan menghentak-hentakan kakinya.
"Tuh Ma liat kelakuannya! Tak heran jika dia berani menjebak aku," ucap Ken kesal pada kelakuan istri keduanya itu.
"Mas, kamu jangan seperti itu! Kamu harus ingat dengan anak yang ada didalam kandungan Resti. Kalau ibunya stres itu bisa memepengaruhi keadaan bayi yang ada didalam kandungannya," ucap Jingga yang sedikit merasa kasihan.
"Tapi kan sayang, aku benar-benar sudah muak dengan kelakuannya," balas Ken yang masih kesal.
"Ken, benar apa yang dikatakan Jingga. Kamu juga harus bersabar, bagaimana pun juga dia istri kamu, kamu harus perlakukan dia adil," ucap Bella mencoba menasihati anaknya itu. Walaupun itu bukan kesalahan Ken, bukan berarti dia bisa melepas tanggung jawabnya.
"Huft! Iya Ma," ucap Ken pasrah.
"Biar Mama mencoba bicara dengan papamu. Semoga dia bisa membantu menyelesaikan masalah ini," ucap Bella sambil menatap Ken dan Jingga bergantian.
Setelah mereka menyelesaikan pembicaraan mereka, Ken menghantarkan mamanya pulang sebelum dia kembali ke restoran.
...----------------...
Citra dijemput Dafa untuk pergi ke taman. Sesuai dengan permintaan Dafa, kini citra menemaninya berjalan-jalan keluar.
Setelah mereka sampai ditaman kota, mereka hanya mencari tempat yang pas untuk menghirup udara segar. Dengan segala kepenatan setelah bekerja full, Citra merasa tak sia-sia menemani Dafa karena dia bisa sekaligus refresing.
"Cit aku mau tanya sesuatu boleh?" tanya Dafa penasaran dengan kejadian waktu lalu, saat dia makan ditempat kerja Citra.
"Boleh. Emangnya kamu mau tanya apa?" tanya balik Citra.
"Hmm, waktu aku makan direstoran waktu lalu. Aku mendengar kamu ngomong sama manager kamu, bahwa dia punya dua istri. Eh tapi aku gak sengaja nguping ya, aku cuma kebetulan denger karena kamu ngomongnya kenceng," jelas Dafa panjang lebar.
"Itu sama aja nguping Dafa," ucap Citra sambil terkekeh.
"Itu bukan nguping lah. Hmm, Tapi benar yang kamu katakan itu?" tanya Dafa yang masih penasaran.
"Iya Daf. Aku juga gak tahu detail kejadiannya seperti apa. Tapi yang aku tahu Ken sudah menikahi Resti menjadi istri keduanya, mereka menikah secara agama. Aku cuma gak tega sama Jingga, bagaimana dia bisa menerima itu semua," ucap Citra sedih. Dia tak bisa membayangkan perasaan sahabatnya itu. Dia juga seorang wanita, tentu dia juga tahu betapa hancur perasaan Jingga saat ini.
"Resti..." ucap Dafa tak percaya.
"Iya, dia karyawan magang. Entah bagaimana dia bisa hamil anaknya Ken," ucap Citra tak habis pikir.
Deg!
Mungkinkah orang yang disebut Citra itu adalah Resti, mantan kekasihnya. Bukankah waktu Resti memutuskannya, dia bilang akan menikah dengan orang yang sudah membuatnya hamil. Dafa benar-benar tak percaya dengan semua ini.
"Kamu kenapa Daf?" tanya Citra membuyarkan lamunan Dafa.
"Eh? Ah, enggak Cit. Aku cuma merasa kasihan aja sama sahabat kamu," jawab Dafa yang tersentak kaget.
"Iya, aku cuma berharap dia akan terus bahagia apapun keadaannya," lirih Citra.
Akhirnya mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing, sambil menikmati angin yang menerpa permukaan kulit mereka.
mampir ya
lanjutan ceritanya harus dobel lho tho, kalian lama nggak up nya
semoga urusan real nya cpt kelar
dan bisa update lagi 💞