Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 20
“Saya yang akan menanggung kerugiannya.” Dari arah belakang Maria berjalan tenang sambil membawa sekantong benih kacang hijau.
Sugi berdehem pelan, dagu dengan jenggot tipis terangkat samar, sudut matanya melirik ke arah Maria, lalu berpindah menatap lawan bicaranya dengan raut pongah. “Beres to, sekarang. Ketua itu seharusnya begini, bukan cuma omong dan menyalahkan petaninya.”
Maria menepuk pelan pundak Sugi, wajah tertutup topi laken atau fedora sederhana—topi berbahan kain tebal atau felt, mengulas senyum tipis. “Jangan suka membanding-bandingkan orang. Tidak baik. Saya dan ibu ketua itu sama saja, sedang berusaha memajukan desa kita.”
“Tentu bedalah, Noni. Sampean mau turun langsung, mendengar keluhan petani, bahkan rela merogoh duit pribadi demi menyewa traktor yang jelas tak murah harganya. Sedang ketua tani kita … sawahnya saja yang dipikirkan, milik warganya di biarkan mati kekeringan,” sahut Sugi, tangan hitamnya bersedekap di dada.
“Kui salahmu, Kang. Kok malah jadi menyalahkan mbak Anne?” Tarmuji coba membela, jelas tak terima dengan ucapan Sugi sebab jauh dari kenyataan yang terjadi. “Sedari sampean membawa kabar sawah kita menguning, mbak Anne langsung datang, kasih solusi. Kowe menolak, jaremu percuma, sekarang seminggu berlalu, sawah kami mulai menghijau kembali, kowe masih ndak terima. Opo jan-janne jalukan mu kui?!” (apa mau kamu sebenarnya)
Tarmuji maju dua langkah, tepat di depan Sugi. Pria berdarah Madura itu mengeratkan tali pinggang terselip celurit, rahangnya mengeras tatapan menjurus pada mata hitam lawan bicaranya.
“Loh, kowe nantang, ngajak gelut?!” Sugi yang tak terima, membusungkan dada hingga membentur dada Tarmuji.
Adu jotos pun nyaris terjadi, jika Maria dan beberapa petani tak cepat melerai. Argono yang sedang menjalankan traktor sampai berhenti, ikut melerai dua orang enggan mengalah.
“Saiki, Kang. Lak pancen ketua tani yang kamu banggakan itu bertanggung jawab, seharusnya dia berada di persawahan, to? Mengawasi pekerja yang puluhan orang itu. Tapi, lihat … ada ndak dia mengawasi? Yang ada cuma jongos-jongosnya, itu pun cuma wira-wiri karo ngerokok. Iki seng kowe bilang ngasih solusi?!” Sugi bersikeras, enggan mundur dari pendiriannya.
“Sampean itu ndak bisa berpendapat seperti itu, Kang. Ndak adil namanya. Persawahan yang dipimpin mbak Anne ‘kan ndak hanya di wilayah sini, bisa saja beliau sedang mengawasi di tempat lain.” Argono maju kedepan, berusaha menengahi dua orang yang masih saling menatap tajam.
Dengan wajah penuh keprihatinan, Argono berdiri di antara Sugi dan Tarmuji. Tangannya merentang seakan ingin mendinginkan suasana, namun kata-katanya justru bak menabur daun kering pada bara yang menganga.
“Begini lah kalau desa sudah terkena balak, penduduk tak bisa lagi berpikir dengan kepala dingin. Kawan jadi lawan. Tadi di sungai ibu-ibu saling cibir, saiki ganti bapak-bapaknya.” Ia menghela napas berat, pandangannya berpindah ke arah dua orang yang mulai melunak. “Kang, sampean berdua itu sedulur, podo-podo golek sandang pangan di tanah yang sama, mosok cuma masalah seperti ini sampai berselisih?”
Sugi dan Tarmuji sama-sama menunduk malu, saat beberapa petani mendekat, merangkul keduanya.
“Bener jare Cah bagus, Kang. Dewe ki sedulur, jangan sampai karena sejengkal tanah, jadi musuhan. Apalagi sampai terjadi pertumpahan darah,” petani tua yang tanahnya juga akan dibajak ikut menengahi.
“Deloken. Gara-gara podo bengkerengan, Noni mantri tani sampek keweden.” Satu orang mendekat pada Maria yang berdiri kaku di belakang kerumunan. (Lihatlah, gara-gara pada berantem, Noni mantri tani sampai ketakutan)
“Iki kabeh perkaranya cuma satu. Anak gundik itu. Runyam kabeh seisi desa. Kita ndak bisa terus diam, secepatnya harus usul ke kepala desa untuk mengganti ketua kelompok tani, kalau perlu keturunan gundik itu harus pergi dari desa, biar kita segera terbebas dari balak, malapetaka.” Sugi yang sudah dijauhkan dari Tarmuji kembali angkat bicara, seolah tak gentar dengan tatapan sengit si pria Madura.
Beberapa petani hanya berani berkasak-kusuk, sesekali menoleh ke arah yang lain sambil menganggukkan kepala.
“Betul itu.”
“Betul.”
Maria berdehem pelan, terselip senyum tipis di raut wajahnya yang terlihat tenang. “Bapak-bapak, sudah. Tak baik membicarakan orang yang turut berjasa pada pertanian desa. Bagaimanapun juga ibu ketua sudah berusaha, tapi mungkin memang belum sepenuhnya teratasi, kita wajib bersabar, menunggu saat panen tiba.”
“Nah, yang seperti ini yang kita butuhkan jadi pemimpin. Sangat bijaksana. Tidak egois dan jumawa,” ucap petani tua seraya mengulas senyum kagum ke arah Maria.
Sementara itu dibalik pohon rindang, Anne duduk berjongkok, sedari tadi ia mendengarkan perselisihan para petani, juga bagaimana Argono dan Maria yang sengaja memantik api. Ia bukan enggan menampakkan diri, hanya saja ingin melihat, sejauh apa sang sahabat berusaha menusuknya.
Gadis berparas ayu, namun bermata bengis saat tersulut amarah beranjak dari tempatnya, berujar tajam pada Broto yang sedari tadi menjadi tameng tubuh mungilnya.
“Mendekatlah, Pakde. Jika ada yang bertanya kemana aku pergi, katakan aku sedang berada di kota bersama Hans Williams.” Sudut bibir berwarna merah meski tak dipoles gincu itu terangkat samar, netra berbulu lentik menatap lurus sang sahabat di kejauhan .
“Kalian yang memantiknya, maka aku yang akan membuatnya berkobar. Jangan harap api ini akan padam, sebelum penghinaan itu berbalik ke wajah kalian.” Ia kemudian membelah semak belukar, masuk ke dalam hutan sebelum bersiul memanggil kuda hitam kesayangannya.
Di pematang sawah, atmosfer panas masih begitu terasa saat Broto berjalan mendekat sambil sesekali menghisap kretek terselip di jari tangan. Pria terbilang sudah sepuh, namun masih terlihat gagah itu, menyapu wajah petani yang meringis, menghalau sinar matahari kian meninggi. Lalu berhenti pada wajah rupawan pemuda yang diyakininya punjer masalah sebenarnya.
“Cepet lanjutkan mbajak mu, sebentar lagi hujan turun, bisa terjebak di tengah sawah mesin mahalmu itu,” sarkasnya, langkahnya semakin mendekat pada Maria yang terlihat blingsatan. “Matahari semakin terik, Non, apa tak sebaiknya Noni pulang? Alergi Noni bisa kambuh nanti.”
Maria masih memasang wajah tenang, mengulas senyum manis seraya menghela napas pelan. “Aku tak apa, Pak—”
“Jangan dipaksakan, Non. Jika alergi Noni kambuh, genduk Anne dan sinyo juga yang repot,” sergah Broto.
Pria mengenal Maria sedari bayi itu paham, jika gadis keturunan ningrat Eropa itu tak bisa terlalu lama tersengat matahari. Kulit putih pucatnya perlahan akan memerah hingga iritasi.
“Betul kata Kamituwo, cuaca semakin terik, sebaiknya Noni mantri pulang saja, biar pekerjaan ini kami yang menyelesaikan,” timpal petani tua.
“Lihat ini, Kang. Mantri tani saja sampai rela panas-panasan sampai memerah kulitnya, sedang pimpinanmu kemana? Tak tampak batang hidungnya,” sambung Sugi.
Dahi mulus Maria mengerut, sudut matanya memicing samar. “Oh ya Pakde, sedari pagi saya tak melihat Anne, di lapak juga tidak ada. Kemana perginya?”
“Genduk pergi ke kota bersama sinyo Hans, sudah berangkat sebelum matahari terbit,” jawab Broto, sengaja menambah-nambahi.
Maria membeku seketika, mata yang semula tenang mendadak melebar, bibir bergumam geram. “Kurang ajar!”
“Bisa-bisa nya ….”
Bersambung
Haiii pembaca terbaikku ... Apa kabar kalian hari ini? Semoga selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Puji syukur Anne sudah sampai di bab 20, semoga bisa lanjut sampai bab-bab berikutnya.
Bersamaan dengan itu, penulis Amatir ini ingin minta bantuan dengan like, komen dan bintang 5 nya kepada semua pembaca, agar target retensi bisa tercapai dan si Amatir ini gajian. Untuk yang selalu setia dan berbaik hati Amatir ucapkan terima kasih, semoga kebaikan pembaca berbuah keberkahan dan kebahagiaan.
Salam dari si Amatiran
Anna🥰
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria