VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)
Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.
Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.
Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
File 14 : Masa Lalu Godfrey
Di kamar asrama
Sudah hampir setengah jam Billie mengurung diri di kamar mandi, dia tidak mau bertemu muka dengan siapapun terutama teman sekamarnya, Ice. Ponselnya sudah berdering sejak tadi, sepertinya panggilan dari Ken, tapi hanya Billie acuhkan saja.
"Sebal! Sebal! Kesaaal! Kenapa dia merenggut ciuman pertamaku?!?AAARGRGH!!!' Kutuk Billie dalam hati sambil menyikat gigi. Rasa jijik membuatnya terus menerus menyikat gigi dan berkumur-kumur, dan ini yang ke empat kalinya.
"Cuih!" Billie memuntahkan busa pasta gigi dimulutnya ke wastafel. Ingatan kejadian tadi sore masih begitu jelas di kepalanya.
"Dia memang tampan bahkan sedikit cantik karena rambut panjangnya tapi tetap saja dia itu brengsek! Dan dia bilang dia benci padaku?! Heh, kalau benci lalu kenapa dia menciumku? Apa otaknya tak waras? Memangnya dia pikir dirinya siapa? Huh!" Billie tak hentinya menggerutu dalam hati.
Jika dipikir-pikir nasib percintaanya sungguh mengenaskan. Kencan pertamanya dengan pria gay yang dia sendiri tidak memiliki perasaan apapun. Ciuman pertamanya dengan pria menyebalkan yang katanya benci padanya. Lalu, pria macam apa yang akan menjadi malam pertamanya?
"AARGH!!! MENYEBALKAN!! SIALAN! SIAL! SIAAAL!!!!" Billie tak kuasa lagi menahan emosi jiwa. Dia mengacak rambutnya sendiri kesal dan tanpa sadar berteriak begitu kencang.
"DUK! DUK! DUK!" Terdengar gedoran pintu dan suara familiar orang yang memanggilnya secara kasar.
"HEY! JANGAN BERISIK! Kau ini lamban sekali! Cepat keluarlah! Aku ingin buang air besar!" Siapa lagi peganggu itu jika bukan Ice, pemuda yang membuatnya kesal setengah mati.
"DIAM! KAU YANG BERISIK! KALAU MAU BUANG AIR BESAR DI TOILET UMUM SAJA SANAAA!" Balas Billie berteriak dengan ketusnya.
...----------------...
Di tempat lain, kamar asrama Godfrey
Berbeda dengan siswa lain yang harus berbagi kamar, Godfrey tinggal di kamar asramanya sendirian. Sebuah kamar terluas yang terletak di lantai teratas dengan pemandangan indah langsung menghadap taman sekolah. Tentu saja semua fasilitas istimewa yang dia dapatkan ini tidak lain karena pengaruh sang Ayah. Dan Godfrey seringkali memanfaatkan kelebihan fasilitas yang dimilikinya ini untuk membawa gadis-gadis ke kamarnya. Tapi tidak dengan malam ini.
Tangan Godfrey masih gemetar sesaat setelah dia mematikan video di ponselnya. Cuplikan film yang hanya beberapa detik tapi cukup membuat darah dan isi perutnya bergolak tak karuan.
Godfrey menyandarkan punggungnya ke kursinya, memejamkan matanya berusaha menenangkan diri. Dia menoleh ke pemandangan malam di balik jendela kamarnya. Lagit malam tanpa bintang ataupun rembulan, begitu gelap sama seperti isi pikirannya saat ini. Baru kali ini dia merasakan kegelisahan yang luar biasa. Batinnya tak henti bertanya tentang siapa gerangan pengirim pesan ini? Selain itu darimana dia bisa tahu aib yang ingin disembunyikannya?
Flashback
"Apa ada yang salah denganku Bu Mila? Kenapa kau malah merekomendasikan murid lain untuk proyek barumu?! Kenapa kau tidak memberikan peran utama itu padaku?" Tanya Godfrey suatu hari, melabrak guru akting bernama Mila di dalam kantornya.
"Oh, Godfrey sayang! Kau sebenarnya memang pemuda yang berbakat...dan bagiku kau juga yang paling tampan diantara semua yang mengikuti kelasku. Tatapanmu tajam dan kau cukup fotogenik... tapi...Hhh..."
Mila menghentikan kalimatnya dan menghela nafas dalam yang mengisyaratkan kekecewaan. Dia terdiam sejenak sebelum tersenyum simpul, satu telapak tangannya mendarat di pipi Godfrey sebelum dia mengusapnya lembut. Godfrey yang tak nyaman dengan sentuhan itu sontak mengernyitkan wajahnya, jijik.
"Oh... Kau sangat kaku sayang, ekspresimu terlalu datar tidak emosi, pokoknya aktingmu kurang meyakinkan! Di tambah lagi dua hari kau absen dari kuliahku." Jelas Mila.
"Aku sudah berbaik hati masih memberikanmu peran figuran, berterima kasihlah pada wajahmu..."
"Tapi Bu Guru! Kau tahu sendiri aku absen karena aku ada jadwal syuting di tempat lain! Jika tahu begini aku akan masuk, aku tidak sudi untuk berperan sebagai figuran!"
Mendengar keluh kesah muridnya Mila tampak tersenyum tipis. Ada kilatan aneh di matanya saat dia menatap wajah kecewa Godfrey.
"Hmm... baiklh Godfrey... aku juga sangat menyayangkan hal itu, kau sebenarnya adalah kandidat terbaik untuk film baru produksi rekan bisnisku... tapi ada cara lain jika kau ingin mengubahnya..." Tutur Mila dengan senyum licik di wajahnya. Senyuman yang membuat Godfrey penasaran.
"Cara lain? Apa maksudnya bu Guru?"
"DEG!" Jantung Godfrey seolah berhenti berdetak saat dia tiba-tiba merasakan sentuhan tangan nakal wanita itu mendarat di dadanya. Perlahan tapi pasti tangan itu berjalan turun jauh meraba bagian tubuh sensitifnya, tepatnya tonjolan di depan celananya
"Tuhan, apa yang wanita ini lakukan padaku? Apakah ini namanya pelecehan seksual? Apakah ini yang dialami semua calon aktor?" Saking bingung dan kagetnya dengan situasi ini Godfrey seolah terhipnotis. Yang dia bisa lakukan hanya diam dan bungkam tapi hatinya meradang dan rasanya ingin mengumpat kasar dan mematahkan tangan guru wanitanya ini.
...----------------...
Mungkin itulah yang menjadi awal dari masalah yang membelit hidup Godfrey. Sebagai figur ketua senat sekolah yang selalu menanamkan pentingnya disiplin dan moral yang baik di sekolah, menjalin hubungan asmara apalagi **** dengan guru demi nilai tentunya adalah hal yang tabu dan jelas melanggar peraturan akademis. Godfrey tidak bodoh untuk tertipu dengan segala rayuannya, tapi sialnya Godfrey terlalu meremehkan wanita itu.
Mila yang belakangan ketahuan sebagai seorang wanita transgender bukanlah tipe orang yang mudah menerima penolakan begitu saja. Dengan liciknya dia memanfaatkan statusnya sebagai guru untuk menekan Godfrey dari segi akademis. Seperti layaknya seorang psychopath stalker, Mila juga memata-matai keseharian Godfrey. Dia itu mengikutinya kemanapun, mengirimnya pesan tanpa henti, bahkan dengan lancang memasang CCTV di kamar pribadinya. Semua yang dilakukan gurunya itu membuat hidup Godfrey tidak tenang. Dia tak percaya pemuda tangguh yang disegani seluruh siswa seperti dirinya bisa terperangkap dalam situasi ini. Menjadi korban dari permainan licik dan mesum guru yang bejat. Tidak ada hal lain dalam hati Godfrey kepada wanita ini selain kebencian yang mendalam.
Menceritakan masalah ini pada sang Ayah yang merupakan donatur utama sekolah ini bukan jawaban yang tepat. Bagaimanapun wanita ini adalah aib yang sialnya dia juga mengetahui kebiasaan buruk Godfrey di sekolah. Kebiasaan buruk yang Godfrey tak ingin ketahuan oleh sang Ayah. Kebiasaan seperti membolos dan menyelewengkan kekuasaannya sebagai Ketua Senat di sekolah untuk bersenang-senang, misal membawa anak gadis masuk ke kamar asrama. Godfrey sadar semua itu bukan perbuatan yang patut divanggakan. Karena itu Godfrey memutuskan untuk melenyapkan dosennya itu dengan caranya sendiri.
Jika Mila bisa memanfaatkan statusnya sebagai guru untuk merongrong hidupnya, maka Godfrey juga bisa memanfaatkan statusnya sebagai Presiden siswa untuk mengendalikan kegiatan di sekolah.
Tidak lama penyebaran rumor tentang skandal menyimpang setiap siswa dan staff sekolah dimulai. Godfrey sebenarnya tak memiliki masalah dengan siswa yang memiliki kecenderungan LGBT, tapi fakta bahwa Mila adapah seorang transgender membuatnya menyimpan kebencian terhadap komunitas tersebut di sekolah. Godfrey pikir kedua sahabat yang dikenalnya yaitu, Joshua dan Ice juga mendukung keputusannya. Sayangnya harapannya itu pupus saat mahasiswa baru itu datang. Devian, pemuda yang dilihat dari sekilas saja sudah tampak feminin dan lemah itu sangat mudah untuk dijadikan korban.
Satu hal yang Godfrey tidak sangka jika pemuda itu memiliki suatu penyakit mental dan juga memiliki hubungan keluarga dengan sahabatnya sendiri, yaitu Ice. Kesalahan fatal itulah menyebabkan retaknya hubungan persahabatan dirinya dan Ice. Hal yang tak pernah Godfrey bayangkan dan juga maafkan, sahabatnya Ice lebih memilih pemuda banci itu dibanding persahabatan mereka, setidaknya itulah menurut sudut pandangnya.
Flashback selesai
...----------------...
Godfrey tidak menyangka hal yang paling dia takutkan seumur hidupnya terjadi di depan mata. Video dirinya sedang masturbasi diputar di depan layar proyektor tepat saat kelas berlangsung.
"Astaga! Apa ini?"
"Itukan Kak Godfrey?"
"Wah aku tidak menyangka dia yang kelihatannya keren dan karismatik ternyata seperti itu? Mesum! Memalukan! Menjijikan"
"Tubuhnya tinggi besar tapi 'anu'nya kecil... hahaha... HAHAHA HAHAHA!" Suara tawa meledek membahana mengisi gendang telinganya. Jari ratusan siswa sekolah teracung padanya. Dipermalukan seperti ini membuat harga dirinya terluka.
"TIDAAAAKKK!!! Hah... hah... hah!"
...----------------...
Godfrey berteriak sekuat tenaga hingga tenggorokkannya sakit. Nafasnya masih berat saat dia mendapati dirinya ternyata masih terduduk di kursi ruang belajarnya. Keringat dingin mengucur di dahinya, jantungnya berdetak kencang dan nafasnya masih menderu. Godfrey sedikit merasa lega karena yang tadi hanyalah mimpi buruk. Tapi siapa tahu jika mimpi itu adalah sebuah pertanda hal buruk yang akan terjadi padanya. Godfrey sadar dia harus mencegahnya itu sebelum mimpi itu menjadi nyata.
"Sialan kau Ice!!!" Godfrey menggeram dan mengacak rambutnya hingga kusut saking frustrasi.
Dengan langkah tergesa Godfrey bangkit dari kursinya dan kemudian mengacak-acak kamarnya mencari sesuatu. Dia tertegun sejenak saat dia malah menemukan sesuatu yang sudah lama dia lupakan. Selembar foto saat dirinya masih berteman baik dengan Ice dan juga Joshua. Foto masa kanak-kanak mereka yang penuh keceriaan dengan wajah polos tanpa dosa.
"Brengsek! Aku bersumpah! Akan ku hancurkan kau, Ice! Aku akan melenyapkanmu!" Dengan murka, Godfrey merobek dan membakar foto itu. Dia tak peduli lagi dengab kenangan manis masa lalu mereka, yang tersisa kini hanya seringai iblis yang menghiasi wajahnya.
TBC
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh