AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Sesampainya di kosan berukuran tiga kali tiga meter yang menjadi tempat berteduhnya, Al langsung bergerak cepat.
Ia tidak memiliki banyak barang. Hanya satu tas pakaian, beberapa buku pelajaran, dan satu benda paling berharga yang diletakkannya di sudut paling gelap di dalam lemari pakaiannya.
Amirul membungkus pot tersebut dengan kain hitam tebal secara hati-hati. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, ia melangkah keluar dan mengetuk pintu rumah pemilik kos.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Ibu Kost," panggil Al.
Pintu terbuka, sosok wanita paruh baya berambut ikal dengan daster rumahan. "Eh, Al. Baru pulang sekolah? Ada apa, Le?"
Al tersenyum sopan, lalu menyodorkan kunci kamarnya. "Bu, saya mau pamit. Hari ini saya pindah dari sini."
Ibu kos terkejut, matanya mengerjap heran. "Lho? Pindah? Mendadak sekali? Kamu dapet kosan yang lebih murah? Atau ada fasilitas yang kurang di sini? Bilang sama Ibu, bisa diatur."
"Bukan begitu, Bu. Fasilitas di sini sudah sangat baik. Tapi... saya dapet tempat tinggal lain yang kebetulan dekat dengan sekolah saya," alibi Al dengan halus.
Ibu kos mendesah pelan. "Ya sudah kalau begitu. Ibu doakan kamu sukses, ya. Jangan lupa belajar yang rajin."
"Terima kasih banyak atas kebaikan Ibu selama saya tinggal di sini," kata Al sambil menyalami tangan wanita itu hangat.
Setelah berpamitan, Al segera menaiki motornya yang baret-baret. Pohon uang itu ia letakan di depan dan memeluknya.
"Sistem, tampilkan lokasi rumah baruku," pinta Al.
Sebuah peta digital yang disediakan oleh sistem, ada titik merah berkedip di kawasan elite yang terkenal sebagai perumahan para konglomerat di kota ini.
"Sistem, kamu beneran gak salah ngasih alamat?" gumam Al sangsi. "Kawasan Real Estate Permata Hijau?"
[Konfirmasi: Alamat 100% akurat. Kepemilikan tanah dan bangunan telah terdaftar secara sah atas nama Al. Silakan menuju lokasi]
Al tersenyum miring. Ia memutar kunci kontak, mengencangkan ranselnya dan memeluk pohon uang, lalu melajukan motornya di jalanan kota.
Suara mesin motor Al memasuki kawasan Real Estate Permata Hijau.
Di sini, jalanan begitu mulus dan lebar, ada pohon-pohon peneduh yang dirawat rapi.
Rumah-rumah di kanan dan kirinya berdiri megah layaknya istana mini, dengan pagar menjulang tinggi dan penjagaan ketat.
Beberapa kali Al menjadi pusat perhatian para satpam klaster.
Motor sportnya yang penuh goresan dan jaket khas anak sekolahan tampak sangat asing di lingkungan elite ini.
Tapi Al acuh tak acuh. Matanya fokus mengikuti radar hijau yang berkedip di sudut pandangannya.
"Berhenti di depan," gumam Al membaca instruksi sistem.
Motornya melambat, lalu berhenti tepat di depan sebuah rumah sudut bergaya modern minimalis yang didominasi warna putih dan aksen kayu abu-abu.
Pagarnya yang bertenaga otomatis terbuka perlahan begitu roda motor Al mendekat, seolah mengenali kehadiran sang pemilik baru.
[Selamat datang di Kediaman Baru Anda, Host. Fasilitas: Rumah yang memiliki perlindungan teknologi cangggih.]
Al turun dari motor, melepas helmnya, dan menatap bangunan dua lantai di hadapannya dengan takjub. "Gila... Sistem ini beneran gak main-main."
Ia melangkah masuk melewati pintu utama yang menggunakan sensor pemindai sidik jari.
Begitu ibu jarinya menempel, lampu-lampu rumah menyala otomatis. Interiornya mewah, lengkap dengan perabotan kelas atas yang masih berbau baru.
Al mengagumi ruang tamu dan sofa empuk itu.