Jeviza tidak menyangka, persetujuannya mengikuti Keandra-sang mantan kekasih berkunjung ke rumah eyangnya di suatu kota membuatnya semakin terjebak lebih serius dan intim dengan Keandra.
Setelah dipertemukan dan tinggal satu atap dengan mantan kekasih, sekarang justru lebih serius, nama Jeviza dan Keandra tercatat dalam buku pernikahan.
Sama-sama masih memiliki rasa, tetapi gengsi dan ego masih saja membumbui rumah tangga dadakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeviza Nekad
Selesai makan malam. Jeviza tidak langsung ke kamarnya. Ia sengaja duduk di karpet depan tv menemani Puspa. Gadis itu sesekali melirik ke arah meja makan yang masih menyisakan Kean dan Arlo, kedua laki-laki itu sedang mengobrol dengan laptop yang masih menyala di atas meja makan.
"Kepo ya sama paksu?" Puspa melirik Jeviza dengan senyum mengejek.
Jeviza menoleh pada Puspa lalu berdecak pelan. "Sebenarnya mas Arlo sama kak Kean ada bisnis apa sih?"
Puspa menatap Jeviza tidak percaya. Bahkan ia menaruh remote tv dan mendekati gadis itu yang sedang duduk santai di karpet bawah.
"Serius, lo nanya gitu?"
Jeviza mengangguk, menatap kedua laki-laki itu sekali lagi sebelum kembali berpusat pada Puspa. "Kaya yang sibuk banget tiap harinya di rumah, iya tahu, kalau mas Arlo jadi menejer, tapi selain itu mereka ada bisnis kah?"
Kali ini Puspa tidak bisa lagi menahan sabar, ia tanpa aba-aba menoyor kening Jeviza dengan gemas, kedua tangannya ia taruh di kedua sisi pipi Jeviza, lalu mengarahkannya pada ruang meja makan yang masih bisa terlihat dari ruang tv.
"Liat bener-bener pakai mata," ujar Puspa tidak sabar. "Suami lo seorang Keandra Nabastala Jepi, penerus Nabastala group. Lo lupa apa gimana kalau Kean itu anak tunggal om Abas?"
Jeviza melepas tangan Puspa sedikit kasar, lalu menatapnya kesal. "Ya..gue tau kak, tapi masa iya sampai segitunya?"
"Ya harus gitu, om Abas itu keras, Je. Bahkan Kean disuruh lulus tahun ini."
Mendengar itu Jeviza meneguk ludahnya kasar, kalau ia diposisi itu mungkin sudah stres.
"Menyala enggak tuh otak Kean disuruh s1 sebelum waktunya?"
Jeviza mengangguk pelan, ia menatap Kean beberapa saat, terbesit perasaan iba melihat bagaimana Kean yang sedang berdiskusi dengan Arlo, pantas saja Jeviza pernah melihat kamar Kean yang berantakan dan dipenuhi dengan lembaran kertas. Ternyata banyak sekali memang yang Kean kerjakan selain kesibukannya di kampus. Belum lagi ia harus memikirkan usaha bengkelnya.
"Mau kemana?" tanya Puspa melihat Jeviza beranjak dari duduknya.
Tanpa menoleh pada Puspa, ia tetap melangkah. "Mau ke atas kak."
Mendengar suara rendah Jeviza membuat Puspa tersenyum, ia menatap kepergian Jeviza. "Jangan lupa, pakai pengamannya, Je. Kean masih banyak banget PRnya."
Kali ini teriakan Puspa membuat Jeviza menoleh, ia mendengus mendengar ucapan Puspa. Begitu juga dengan Kean dan Arlo yang juga sampai menoleh ke arah keduanya secara bergantian. Dan saat sorot mata Jeviza bertabrakan dengan sorot mata Kean, Jeviza langsung mengalihkannya dan berlari karena malu.
Emang singa betina satu ini ember banget
"Kalau mau istirahat, kita bisa lanjut besok."
Kean menoleh pada Arlo, lalu mengangguk dan beranjak, sebelum akhirnya pergi menyusul Jeviza yang sudah lebih dulu naik ke atas.
"Ini gue ngapain ya kalau kak Kean masuk nanti?" Jeviza mondar-mandir di dalam kamar.
Ingatan sorot mata Kean yang menatapnya setelah mendengar ucapan Puspa tadi benar-benar mengguncang Jeviza. Apa lagi tadi malam Kean juga mengatakan sesuatu yang membuat Jeviza susah untuk tidur.
"Gue kok jadi deg-degan gini, ya?" Jeviza menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang tidak terlalu jelas di matanya sekarang.
Pikirannya penuh dengan ucapan Kean tadi malam juga dengan sorot mata tadi.
Sampai akhirnya terdengar suara pintu kamar yang terbuka, membuat Jeviza sontak menegakan tubuhnya dan menatap kemunculan Kean yang sempat menatap ke arahnya beberapa saat, sebelum akhirnya menutup pintu dengan rapat dan melangkah mendekat.
Glek
Jeviza terpaku saat Kean berdiri di hadapannya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, semua terasa seperti tidak nyata bagi Jeviza, apa lagi saat ia dengan susah payah mencoba beranikan diri menatap Kean. Rasanya lutut Jeviza lemas detik itu juga.
"Ada yang mau diomongin?"
Tanpa pikir panjang Jeviza langsung menganggukan kepalanya, sebelum akhirnya tersadar dan menggelengkan kepalanya.
Melihat tingkah Jeviza yang sangat kentara sekali kegugupannya, Kean tersenyum, lalu menarik pinggang Jeviza untuk ia peluk.
Sebuah usapan di kepalanya membuat Jeviza merasakan hangat dan ketenangan, perlakuan Kean itu membuat kegugupan Jeviza berangsur-angsur berkurang. Cukup lama keduanya sama-sama menyalurkan energi tanpa kegiatan yang lebih intim. Pelukan yang Kean berikan pada Jeviza mampu membuat Jeviza merasa tenang, lebih tenang dari yang pernah Jeviza bayangkan.
Setelah dirasa cukup lama. Kean memberi jarak keduanya, lalu menuntun Jeviza untuk duduk di tepi ranjang. Sebelum berucap, Kean kembali melirik ke arah Jeviza, sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. Wajah Jeviza sudah tidak setegang tadi dari saat ia masuk ke kamar.
"Ada yang mau diomongin enggak?" nada suara Kean terdengar berbeda. Lebih hangat dan seperti meminta Jeviza untuk mengatakan kegundahannya selama ini.
Jeviza beranikan diri untuk menoleh pada Kean, lalu mengangguk pelan.
"Kak, lo pasti kecewa sama gue kan?"
Satu alis Kean terangkat ke atas. "Kecewa?" ulangnya langsung diangguki Jeviza.
"Gue belum bisa jadi istri yang baik buat lo," cicitnya sedikit ragu.
"Kalau gitu belajar, Je. Tapi gue nggak nuntut apa-apa dari lo."
"Gue tahu, tapi pasti lo ngira gue jahat banget karena nggak kasih lo nafkah batin kan?"
Kean tergelak mendengar pertanyaan Jeviza yang lebih terdengar seperti pengakuan. Ada gurat kemarahan yang coba ia redam. Dengan obrolan mereka yang mengarah seperti itu, apa lagi ucapan Jeviza tadi seperti menyalahkan diri, membuat Kean ingin mengutarakan sesuatu, tetapi ia coba tahan.
"Kak, gue mau, tapi jangan dulu masuk."
Mendengar ucapan yang penuh dengan keberanian Jeviza membuat tangan Kean sudah mengepal dengan erat. Jeviza seperti menawarkan madu yang sangat manis, tetapi juga racun secara bersamaan.
"Kalau kak Kean mau lebih dari sekedar ciuman, gue...siap kak, tapi kalau itu, gue masih-"
"Cukup, Je."
Jeviza menatap heran Kean. Hati kecilnya tersentil, merasa seperti ditolak.
"Jadi, kak Kean nggak, mau?"
Kean memejamkan matanya. Menatap Jeviza dengan sorot mata yang sudah berubah, lebih tajam, lekat, dan penuh kabut gairah dan kemarahan.
"Lo sadar nggak? Dengan lo tawari gue kaya gitu? Gue bisa lakuin lebih, Je. Gue nggak mau nyakiti lo."
Jeviza yang tidak paham maksud Kean mengepalkan tangannya, tekadnya sudah bulat, meski hatinya sedang terkoyak karena penolakan Kean tadi.
"Gue sadar kak, tapi gue juga bukan cewek bodoh yang biarin gitu aja suaminya tanpa sentuhan."
Kean diam, ia masih menatap Jeviza, mencari celah, mungkin saja setelah ini Jeviza akan meralat ucapannya, atau ada keraguan dan penyesalan. Tetapi tidak, sorot itu bahkan penuh tekad dan keberanian.
"Kalau kak mau, gue bisa kok puasin kaka pakai mulut dulu."
Damn
Kean benar-benar tidak menyangka, hal seintim dan seliar itu ada dalam bayangan Jeviza.
"Lo yakin?"
pake nanya mau ngapain
MANDI sonoo🤣🤣🤣
bahaya ikii
calon " ulet bulu nih pasti 🤣