Bagian dari The fate of marriage
Memiliki paras yang nyaris sempurna, ternyata tidak menjamin Ivannia menerima sembarang lelaki untuk mengisi hatinya. Ivannia mengalami trauma terhadap lelaki hingga membuatnya bersikap dingin terhadap semua pria. Dia menolak dan menjauh jika hal itu terjadi.
Sementara Gavin dibesarkan keluarga sederhana yang penuh kewaspadaan dan tidak mudah percaya pada orang lain kecuali Joevanka. Namun semenjak cintanya bertepuk sebelah tangan ia menjadi pria yang susah jatuh cinta. Namun semenjak dia mengenal Ivannia yang memiliki sifat jutek dan dingin membuat Gavin penasaran dan semakin jatuh ke dalam jurang cinta.
Di sisi lain seorang pria juga mengagumi Ivannia. Dia adalah seorang asisten yang bekerja di perusahaan Donisius. Lelaki itu adalah Halbret, dia humoris dan suka tersenyum kepada siapa saja. Ia berusaha untuk mendapatkan cinta dari Ivannia.
Bagaimanakah pertarungan cinta segitiga ini. Siapakah yang berhasil menahlukkan cinta Ivannia.
Ikuti kisah cinta mereka.
Whisper Of Love Season 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari tahu keberadaan Mario
💌 Whisper of love season 2 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
DUA MINGGU KEMUDIAN
Halbret tersenyum ketika pak direktur keluar dari ruangannya bersama calon istrinya. Seperti biasa ia memberi hormat kepada pimpinan tertinggi di perusahaan Donisius itu.
"Selamat sore pak Halbret.." Joevanka menyapa Halbret yang berdiri menyambut mereka.
"Selamat sore Joe...Ups!" reflek Halbret menutup mulutnya. "Selamat sore nyonya Donisius." ucapnya kembali sambil sedikit menunduk. Sudah berulangkali Halbret berjanji agar membiasakan dirinya untuk memanggil calon istri dari direktur Donisius itu. Tapi selalu saja ia lupa. Mungkin karena kedekatan mereka,membuat Joevanka jauh lebih enak dikatakan sahabat.
Mendengar itu Ivander tersenyum penuh arti.
"Hahaha,santai saja pak Halbret," kata Joevanka tersipu malu. Dia tidak ingin menjaga jarak dengan Halbret hanya karena ia berstatus nyonya Donisius. Ia mengeratkan pelukannya di tangan Ivander.
"Halbret? apa kau sudah menghubungi Mario?" tanya Ivander.
"Maaf pak, sampai sekarang beliau belum bisa dihubungi, sepertinya nomornya tidak aktif lagi pak.'' Halbret memberitahu.
"Benarkah? Apa dia sengaja?" tanya Ivander dengan alis melengkung.
"Sepertinya begitu pak." jawab Halbret apa adanya.
Ivander memasukkan tangannya di kantong celananya. Ia menatap Halbret dengan serius.
"Saya tidak mau tahu, cari tahu informasi mengenai Mario secepatnya." Ucap Ivander mulai kesal. Sepertinya Mario bisa mencium gerak geriknya.
"Apa yang terjadi sayang?" tanya Joevanka menatap heran dengan ke dua pria itu.
"Nanti aku ceritakan sayang." Kata Ivander menepuk tangan Joevanka yang melingkar di lengannya.Joevanka hanya bisa mengangguk dan tersenyum tipis kepada Ivander.
"Jadi apa yang akan kau lakukan, apa kau harus menunggu informasi itu turun dari langit? tanpa mencari tahu Halbret?" Ivander tersenyum miring melihat wajah bingung dari Halbret.
" Maafkan saya pak, tapi...?" Ucapannya menggantung.
Wajah Ivander mengerut. "Tapi apa Halbret?" Tanyanya.
"Saya sudah berusaha mencari informasinya pak, tapi sampai saat ini Informasi mengenai beliau tidak bisa ditemukan. Alamat yang bapak berikan juga, tidak bisa dilacak dan alamat itu ternyata tidak ada." Jelas Halbret.
"Apa?" Ivander terkejut.
"Sepertinya begitu pak. Saya sudah pergi langsung ke alamat yang bapak berikan itu."
"Alamat itu tidak ada?"
Ivander tersenyum sinis, dia bisa yakinkan Mario ikut terlibat masalah pencurian data perusahaan Donisius. Atau jangan-jangan Mario sebenarnya bergabung dengan komplotan mafia? dan Ivannia tidak mengetahui hal itu. "Saya yang akan menangkap mu dengan tanganku sendiri Mario." Ivander tersenyum sinis.
"Saya tidak ingin mendengar kata-kata menyerah Gavin. Cari tahu keberadaan Mario, Secepatnya!"
"Tapi pak?"
"HALBRET...!" Ucap Ivander tegas dan mengunci pandangannya kepada Halbret.
"Maaf pak." Ucapnya pelan sambil menunduk.
"Kau harus dapat informasi mengenai Mario. Kau bisa tanyakan langsung kepada Ivannia. Dia pasti tahu sesuatu."
Wajah Halbret sepersekian detik berubah berbinar. "Bapak serius, saya bisa bertemu dengan Ivannia?"
Ivander menatap heran, sambil menaikkan alisnya setengah. "Kau hanya menemuinya untuk mencari informasi saja Halbret. Tidak ada maksud yang lain. Kau mengerti?"
"Tentu saja pak." ucapnya tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi. Ia mengulum senyumnya agar pak direktur tidak bisa membaca raut wajahnya yang begitu senang. Rasanya ingin melompat. Namun apa daya dia tidak mungkin melakukannya. Ini cara yang terbaik, bisa menemui Ivannia. Dengan cara seperti ini Halbret bisa lebih dekat lagi. Halbret harus memanfaatkan waktunya dengan baik.
Terakhir, Halbret datang pada saat acara pertunangan pak direktur. Maksud hati ingin terlihat seperti lelaki romantis. Menghujani perhatian serta membanjirinya dengan kata pujian. Ia datang dengan penuh keyakinan membawa bunga untuk Ivannia. Namun, diluar dugaannya. Ivannia bahkan tidak menerima bunga itu. Halbret di tolak mentah-mentah. Ia masih ingat bunga itu ia berikan kepada wanita penjual buah yang ada di pinggir jalan. Bukannya wanita itu senang, si penjual buah malah tertawa.
"Bapak ditolak ya, sini sama anak ibu saja. Anak ibu cantik juga." Kata wanita itu percaya diri. "Astagaaa..." Pengalaman luar biasa buatnya. Mengatakan cinta saja belum, si ibu sudah berani menebak sendiri bahwa cintanya di tolak. Menyedihkan!
"Apa yang kau pikirkan Halbret?" dahi Ivander mengerut dan matanya memicing menatap asistennya itu.
Halbret tersentak." Maafkan saya pak. Saya hanya memikirkan cara agar bisa menemukan Mario secepatnya seperti kata bapak." ucap Halbret.
"Pikirkan cara lain, atau kau punya ide lain Halbret?"
Halbret terdiam, sejenak berpikir.
"Apa kau punya ide Halbret?" Ivander mengulang pertanyaannya kembali.
"Saya..." Halbret menarik napas berpikir, " Saya akan mencari informasi secepatnya pak." Ucap Halbret akhirnya. Tiba-tiba pikirannya buntu. Dunianya menjadi berbeda jika teringat si gadis cantik itu.
"Cari tahu secepatnya. Kau tahu aku tidak suka jika sampai menunggu lama dan aku tidak terima alasan. Aku akan memberimu waktu 3 hari, kau faham itu?" Ivander tersenyum samar sambil memiringkan kepalanya. Ia mengangkat sebelah alisnya, menunggu jawaban Halbret.
"Saya faham pak." ucap Halbret akhirnya pasrah. Jika pak direktur sudah mengatakan kalimat itu. Berarti selama 3 hari Halbret harus sudah menemukan Mario. Oh my God!
"Oke, bagus kalau begitu." Kata Ivander tersenyum lebar dan kembali menatap Joevanka. "Sekarang kita pergi sayang?" ucap Ivander mencium pipi Joevanka dengan lembut.
"Ehmm.." Joevanka mengangguk sambil tersenyum. "Kami pergi dulu Halbret." ucapnya.
"Sampai bertemu besok Halbret."Ucap Ivander.
"Semoga hari kalian menyenangkan pak."Halbret membungkukkan badannya dan membiarkan pak direktur dan calon istrinya hilang di telan lift.
Huuuuffft Halbret membuang napasnya. Ia menyadari pekerjaan akan terasa berat. "Siapa sebenarnya Mario itu? Kenapa pak direktur ingin sekali bertemu dengan beliau. Apa dia lelaki misterius? Apa dia lelaki sehebat dirinya? " Halbret mendengkus.
"Sekarang aku harus menemui Ivannia. Apapun yang terjadi, aku harus mencari informasi tentang lelaki misterius itu." sesaat Halbret tersenyum smrik. "Aku harus menemuinya langsung ke kantornya."
Halbret sempat mendengar perbincangan pak direktur dengan Ivannia. Hari Ivannia sedikit terlambat pulang. Karena banyak tugas akhir bulan yang menunggunya. Jadi sangat tepat Halbret datang ke kantor Ivannia. " Tunggu kehadiranku Ivannia." Wajah Halbret rasa terbakar jika menyebut nama 'IVANNIA'.
Nama itu seperti mengandung mistis yang mampu membuatnya berdebar-debar.
Setelah membereskan sisa pekerjaannya dan merapikan mejanya dan memeriksa kembali ruangan pak direktur. Halbret langsung berlari ke persimpangan koridor menuju parkiran khusus karyawan. Setelah berada di dalam mobil Halbret menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan tenang. Ritual yang sering dilakukan jika seseorang gugup. Ya hari ini Halbret Ingin bertemu dengan wanita yang selalu menggetarkan hatinya, terasa menggelitik sanubarinya.
"Wanita yang sempurna." ucap Halbret sambil bersiul. Ia merapikan rambutnya berulangkali. Menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Bahkan ke mulutnya juga. Halbret terkekeh. Setelah penampilannya sudah dirasa sempurna. Halbret menghidupkan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas untuk meninggalkan perusahaan Donisius itu.
⭐⭐⭐⭐⭐
Sampailah Halbret didepan sebuah gedung yang menjulang tinggi, ia begitu terpesona melihat interior mewah di dalam gedung tersebut. Bank terbesar di kota ini merupakan salah satu Bank terbesar di negaranya, yang ikut andil dalam menopang perekonomian dan pembangunan di negaranya. Bank yang memiliki beberapa anak perusahaan tersebut menyediakan jasa-jasa pengelolaan dana dan perwalian amanat kepada individu dan perusahaan. Menghimpun dana dan menyalurkannya kepada masyarakat.
"Selamat sore pak, saya mau bertemu Ibu Ivannia. Beliau masih di kantor?" sapanya dengan senyum khas kepada security. Halbret mengulurkan tangannya untuk berjabat.
"Beliau lagi ada tamu pak, jika anda mau menunggu silakan langsung menunggu di depan ruangan ibu Ivannia saja."
"Oh, begitu ya.. terimakasih atas informasinya pak." Ucap Halbret ramah.
"Ruangan beliau ada di lantai tiga diujung lorong pak, nanti tanya bu Jessica sekretarisnya." ucap pak security jari telunjuknya diarahkan menuju pintu lift.
"Oke, Terima kasih pak."
Setelah berbicara dengan security yang berdiri di depan pintu, Halbret langsung ke atas untuk menemui Ivannia yang saat ini berada di kantornya. Benar saja ia melihat sekretaris Ivannia dengan asyik berkutat di depan laptopnya.
Halbret mengetuk meja Jessica sebanyak tiga kali. Jessica mengerjap dan mengedip beberapa kali. Ia terkejut bercampur terpesona dengan sosok lelaki yang berdiri dihadapannya.
"Kau melamun cantik, tidak baik melamun jam seperti ini. Nanti bisa kesambet." Ucap Halbret tersenyum. Ia terkekeh ketika ia mengucapkan kata terakhir yang membuat wanita itu seperti panik.
"Kesambet?" Kata Jessica bangun dari duduknya dan melihat sekelilingnya.
"HAHAHAHA" Halbret tertawa renyah. "Jika kau melamun nona cantik."
Jessica kembali mengerjap dan berkedip beberapa kali. Ia terpesona dengan tawa lelaki yang bertubuh atletis itu, terlihat dari stelan jas mahalnya yang menyempit dibagian lengan karena kedua tangan kokoh itu. Rambut tebal nan hitam disisir kebelakang, tapi terlihat ada sejumput anak rambut yang nakal keluar dari tatanan rambut itu mengenai keningnya. Aroma maskulin menguar ketika lelaki itu mencondongkan tubuhnya.
"Bisa saya bertemu ibu Ivannia?" Tanya Halbret sambil mengerlingkan salah satu matanya kepada Jessica.
Deg deg deg
Jessica menjadi salah tingkah, ia berulang kali menelan salivanya dan wajahnya berubah merona. Mimpi apa dia tadi malam hingga bertemu lelaki ramah dan suka tersenyum itu.
Halbret lagi-lagi terkekeh, terlihat jelas jika wanita itu sangat gugup.
"Bisa saya bertemu Ivannia Donisius?" tanya Halbret mengulang ucapannya yang sama.
"Silahkan masuk saja pak, ibu Ivannia ada di dalam." ucap Jessica sekretaris Ivannia dengan senyum manisnya.
"Baik cantik, terima kasih. " saut Halbret disertai senyum.
Halbret berjalan dan menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap sekretaris cantik itu. "Coba kamu lihat matahari terbenam diluar sana. Dia begitu indah, kan? Namun keindahannya tidak dapat menandingi keindahan dirimu." ucap Halbret mengerlingkan salah satu matanya.
Jessica terbelalak, ia berbalik sambil menutup mulutnya. Jessica tertawa namun tidak mengeluarkan suara. Wajahnya sudah bersemu. "Astaga jantungku.." Jessica menyentuh dadanya. Ia bahkan melompat-lompat kecil sambil melipat tangannya di depan dadanya.
Sementara Halbret mengetuk pintu besar berbahan kayu jati didepannya.
TOK..TOK..TOK..!!!!
Ivannia dan Amber saling menatap dan melihat ke arah bunyi ketukan pintu yang mengalihkan perhatian mereka.
"Masuk saja jes!" Kata Ivannia dari dalam.
Setelah mendengar sahutan dari dalam. Perlahan Halbret mendorong pintu tersebut kemudian tatapannya langsung tertuju pada sebelah kiri ruangan dimana Ivannia dan seorang wanita tampak asyik bercerita di sofa.
"Selamat sore Ivannia." ucap Halbret tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya.
Kedua wanita itu berpaling menatap sosok Lelaki yang tentu saja sangat di kenal Ivannia.
"Kau?" Ucapnya berdiri yang di ikuti Amber juga.
.
.
BERSAMBUNG
❣️ ih Halbret suka menggombal juga ya. Apa Ivannia termakan rayuan gombalnya gak ya? 🤭
.
.
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
💌 BERIKAN BINTANGMU 💌
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu