Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Lorong di depan ruang operasi malam itu terasa seperti lorong ruang hampa. Dingin, sunyi, dan penuh dengan ketidakpastian yang menyiksa.
Cia duduk di kursi panjang besi dengan lutut ditarik ke dada, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan lengan. Sweter abunya yang kebesaran tampak semakin menelan tubuhnya yang kurus. Ia tidak menangis lagi. Air matanya sudah mengering, digantikan oleh rasa kebas yang menjalar dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Menjadi seorang dokter adalah sebuah kutukan di saat-saat seperti ini. Di saat orang awam hanya bisa berdoa dan berharap yang terbaik, otak Cia secara otomatis memetakan segala kemungkinan terburuk. Ia tahu persis apa arti dari tekanan darah merosot tajam. Ia tahu komplikasi dari trauma multipel akibat penyiksaan dan ledakan. Ia tahu betapa berbahayanya luka infeksi yang dibiarkan berhari-hari di tengah hutan tropis.
Ketidaktahuan adalah anugerah, dan Cia tidak memilikinya malam ini.
Terdengar suara derap sepatu laras yang berat, namun ritmenya lambat. Jenderal Arman melangkah mendekat, lalu duduk di sebelah Cia. Pria paruh baya itu sudah melepas jas PDU-nya, hanya menyisakan kemeja dinas hijau yang lengannya digulung sebatas siku. Untuk pertama kalinya, Jenderal bintang satu itu terlihat rapuh.
Arman menyodorkan segelas teh manis hangat dalam gelas kertas. "Minum, Almeera. Kamu butuh gula. Jangan sampai kamu tumbang sebelum Ren keluar dari ruangan itu."
Cia mengangkat wajahnya yang pucat pasi. Ia menerima gelas itu dengan tangan bergetar, merasakan kehangatannya menjalari telapak tangannya yang sedingin es. "Makasih, Om."
Hening merajai lorong itu selama beberapa menit. Hanya terdengar detak jarum jam dinding yang terasa jauh lebih lambat dari biasanya.
"Bima... bagaimana kondisinya?" tanya Cia memecah kesunyian, suaranya parau.
"Operasinya selesai setengah jam yang lalu," jawab Arman pelan. Pria itu bersandar, memijat pangkal hidungnya. "Pendarahannya berhasil dihentikan. Salah satu ginjalnya rusak parah akibat serpihan peluru dan harus diangkat, tapi nyawanya selamat. Bima sudah dipindahkan ke ruang ICU."
Cia mengembuskan napas lega yang panjang. Setidaknya satu kabar baik menghampiri malam ini. Namun matanya kembali terpaku pada pintu ganda ruang operasi kedua. Lampu merah di atasnya masih menyala terang. Sudah empat jam berlalu.
"Ren itu anak yang keras kepala," gumam Jenderal Arman tiba-tiba, tatapannya menerawang jauh ke masa lalu. "Sejak kecil, ibunya meninggal karena sakit. Saya mendidiknya dengan tangan besi. Di dunia militer, kelemahan adalah kematian. Saya tidak pernah mengajarinya cara untuk menyerah."
Arman menoleh, menatap Cia dengan sorot mata yang melembut. "Tapi saya lupa mengajarinya cara untuk membiarkan orang lain masuk ke dalam hidupnya. Hingga akhirnya, ayahmu datang dengan ide perjodohan ini. Dan setelah melihat bagaimana Ren berjuang mati-matian untuk kembali pulang... saya tahu, dia akhirnya menemukan alasan untuk tetap hidup di luar seragamnya."
Tenggorokan Cia kembali terasa tercekik. Ia meraba dada kirinya, tempat di mana kepingan dog tag milik Ren bersembunyi.
"Saya yang seharusnya berterima kasih, Om," bisik Cia dengan air mata yang kembali menggenang. "Ren... dia ngajarin saya bahwa komitmen dan rasa tanggung jawab bisa jadi fondasi yang lebih kuat daripada janji-janji manis."
Tepat saat Cia menyelesaikan kalimatnya, bunyi klik yang keras terdengar. Lampu merah di atas pintu operasi padam.
Jenderal Arman langsung berdiri tegak. Cia melompat dari tempat duduknya, meletakkan gelas tehnya begitu saja, dan setengah berlari menuju pintu ganda yang perlahan terbuka.
Dua orang dokter bedah militer dan dr. Rania melangkah keluar. Wajah mereka terlihat sangat kelelahan, masker medis ditarik turun hingga ke leher.
"Dokter Rania... bagaimana suami saya?" tanya Cia, napasnya tertahan di dada.
Rania menatap Cia, lalu beralih pada Jenderal Arman, dan tersenyum tipis. Sebuah senyum yang membuat batu raksasa yang mengimpit dada Cia seketika hancur lebur.
"Operasinya berhasil, Cia. Jenderal," lapor Rania dengan suara lelah namun lega. "Kami berhasil mengeluarkan dua proyektil peluru. Satu dari bahu kanannya—yang membuat luka lamanya terbuka lebar dan infeksi parah—satu lagi bersarang di perut bagian kiri, untungnya tidak mengenai organ vital."
Rania menghela napas panjang. "Selain itu, Kapten Ren mengalami tiga patah tulang rusuk akibat trauma tumpul, malnutrisi, dehidrasi ekstrem, dan malaria. Tubuhnya benar-benar didorong melewati batas maksimal manusia normal. Dia selamat karena daya juangnya yang sangat tidak masuk akal."
"Alhamdulillah..." Jenderal Arman mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kapan saya bisa lihat dia, Mbak?" tanya Cia tak sabar.
"Kami akan memindahkannya ke ruang isolasi ICU malam ini juga. Karena infeksinya cukup parah, dia butuh observasi ketat 48 jam," jelas Rania, menepuk bahu Cia lembut. "Kamu bisa masuk setelah dia dipindahkan, tapi ingat, Cia. Dia dalam pengaruh obat penenang dosis tinggi. Dia mungkin tidak akan sadar dalam beberapa hari ke depan."
Cia mengangguk cepat. Tidak apa-apa. Beberapa hari, beberapa minggu, bahkan jika ia harus menunggu berbulan-bulan, Cia akan melakukannya. Asalkan dada pria itu masih bergerak meraup napas, Cia akan menunggu.
Ruang isolasi ICU terasa seperti dunia yang terputus dari realita. Suara mesin ventilator yang berdesis ritmis dan beep konstan dari monitor EKG menjadi satu-satunya melodi kehidupan di sana.
Cia melangkah masuk dengan sangat hati-hati. Ia sudah memakai gown kuning steril, masker medis, dan penutup kepala. Bau obat-obatan berdosis tinggi menyengat hidungnya, sebuah aroma yang sangat familier bagi seorang dokter, namun kali ini terasa sangat menyesakkan dada.
Di tengah ruangan, di atas ranjang medis putih itu, terbaring pria yang selama sembilan bulan terakhir menguasai isi kepalanya.
Ren.
Wajah pria itu terlihat sangat rapuh, sebuah kata yang dulunya mustahil disematkan pada seorang Kapten Ren Adhyaksa. Selang ventilator masuk melalui mulutnya, memastikan paru-parunya tetap mengembang. Berbagai macam kabel elektroda menempel di dadanya yang telanjang dan dipenuhi memar ungu kehitaman. Bahu kanannya dibalut perban tebal, begitu pula dengan bagian perutnya.
Cia menarik kursi kecil berbahan stainless steel dan duduk di sisi ranjang. Tangannya yang mungil terulur, meraih tangan kiri Ren yang tidak dipasangi jalur infus.
Tangan besar itu terasa kasar, kapalan, dipenuhi luka goresan baru, dan... hangat.
Saat merasakan kehangatan yang mengalir dari kulit Ren ke kulitnya, tangis Cia kembali tumpah. Namun kali ini tanpa suara. Ia menempelkan punggung tangan suaminya itu ke pipinya, memejamkan mata, membiarkan air matanya membasahi kulit kasar sang Kapten.
"Kamu curang, Mas," bisik Cia parau di sela-sela isaknya. "Kamu pergi ninggalin aku dengan janji bakal pulang dengan selamat. Terus sekarang kamu pulang dengan kondisi kayak gini? Kamu mau bikin aku mati jantungan, ya?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara desis ventilator.
Cia menatap wajah Ren yang damai dalam ketidaksadarannya. Rahang yang biasanya mengeras kaku itu kini terlihat rileks. Alis tebal yang selalu bertaut tajam itu kini mendatar.
Dalam keheningan malam itu, diiringi irama detak jantung suaminya dari monitor, Cia akhirnya mengakui apa yang selama ini terlalu gengsi ia akui, bahkan pada dirinya sendiri.
Perjodohan konyol yang dulu ia tentang mati-matian, pria sedingin es yang dulu ia panggil 'kanebo kering', rutinitas asrama militer yang mencekik... semua itu tidak lagi penting.
"Aku sayang sama kamu, Kapten," bisik Cia lirih, mengecup pelan punggung tangan Ren. "Cepat bangun, ya. Kamu utang cerita sama aku soal sandi morse itu."
Waktu seolah kehilangan maknanya di dalam ruang ICU.
Hari ketiga sejak operasi berlalu dengan lambat. Kondisi Bima berangsur stabil, pria jail itu bahkan sudah bisa menggerutu karena makanan rumah sakit yang hambar, meski bicaranya masih terputus-putus.
Namun Ren belum menunjukkan tanda-tanda siuman. Dokter bedah militer sudah mencabut selang ventilator di hari kedua karena pernapasan Ren mulai mandiri, menggantinya dengan masker oksigen biasa. Namun, efek infeksi dan kelelahan ekstrem masih menahan kesadaran sang Kapten.
Cia tidak pernah absen. Begitu jam jaganya di IGD selesai, ia akan langsung berlari menuju paviliun ICU, mengganti pakaiannya dengan gown steril, dan duduk di kursi yang sama di sebelah ranjang Ren. Ia menolak tidur di nurse station, memilih menyandarkan kepalanya di tepi ranjang sang suami.
Sore itu, hujan turun cukup deras di luar sana, menyapu kaca jendela rumah sakit. Cia tertidur dalam posisi duduk, tangannya bertaut erat dengan tangan kiri Ren di atas kasur. Wajah gadis itu tampak lelah, namun jauh lebih tenang dari minggu-minggu sebelumnya.
Tiba-tiba, sebuah pergerakan kecil terjadi.
Jari-jari besar yang berada dalam genggaman Cia bergerak pelan. Sebuah kedutan lemah, namun cukup untuk membuat Cia yang terbiasa tidur waspada terbangun seketika.
Cia mengangkat kepalanya. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya lampu. Pandangannya langsung tertuju pada wajah Ren.
Bulu mata pria itu bergetar. Keningnya berkerut dalam, seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. Terdengar erangan tertahan yang sangat pelan dari balik masker oksigennya.
"Mas?" panggil Cia, suaranya bergetar hebat. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia segera berdiri, mencondongkan tubuhnya. "Mas Ren? Kamu bisa dengar aku?"
Kelopak mata yang sudah tertutup selama berhari-hari itu perlahan terbuka.
Mata elang yang biasanya tajam itu terlihat sayu, buram, dan kebingungan. Pupil matanya bergerak lambat, menyapu langit-langit ruangan putih, lalu turun ke arah mesin monitor, dan akhirnya... terkunci pada sosok gadis bermasker medis yang berdiri di sampingnya.
Ren mengerjap beberapa kali. Pikirannya masih dipenuhi kabut obat penenang dan sisa-sisa halusinasi hutan pedalaman. Namun, aroma sabun stroberi bercampur antiseptik rumah sakit yang menguar dari gadis di dekatnya menembus kesadarannya dengan telak. Bau rumah.
Tangan kiri Ren yang digenggam Cia membalas genggaman itu, sangat lemah, namun nyata.
"Cia..." suara bariton itu terdengar sangat serak, parau, dan hancur, teredam oleh masker oksigen.
Tangis Cia pecah seketika. Ia menarik maskernya turun, membiarkan Ren melihat wajahnya dengan jelas. "Iya, ini aku. Aku di sini, Mas. Kamu di rumah sakit. Kamu aman sekarang."
Ren menatap wajah istrinya. Tatapannya masih sayu, namun ada kelegaan yang luar biasa besar di sana. Jempol kasarnya yang gemetar bergerak pelan, mengusap punggung tangan Cia.
"Kamu... kurus," gumam Ren pelan, masih dengan suara yang serak menyakitkan. Alisnya bertaut, mencoba menajamkan pandangan. "Dan kamu... menangis lagi."
Cia tertawa di sela-sela isaknya. Sebuah tawa kelegaan yang membebaskan. Pria ini baru saja lolos dari maut, terbangun dari koma tiga hari, dengan tubuh penuh selang, dan hal pertama yang ia komentari adalah berat badan Cia?
"Kamu nyebelin! Bangun-bangun malah body shaming," omel Cia sambil menangis, menunduk dan menempelkan dahinya dengan hati-hati ke bahu kiri Ren yang tidak terluka. "Aku kurus karena mikirin suami gila yang milih jadi tawanan separatis padahal punya ribuan kesempatan buat lari."
Ren tidak merespons omelan itu dengan kemarahan. Sudut bibir pucatnya di balik masker justru tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat tulus. Senyuman yang mengantarkan rasa hangat ke seluruh aliran darah Cia.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, tangan Ren bergerak naik, mendarat dengan lembut di atas kepala Cia, mengelus rambut gadis itu dengan gerakan kaku namun penuh kasih sayang.
"Sandi morsenya... sampai?" tanya Ren lirih.
Cia mengangguk cepat di pelukan pria itu, meraba dog tag di dadanya. "Sampai. Kalau sandi itu nggak sampai, aku mungkin udah gila nyariin kamu ke pedalaman, Mas."
Mata Ren perlahan meredup kembali, efek obat penenang dan kelelahan masih mendominasi tubuhnya. Namun sebelum kegelapan kembali menariknya, pria itu menggenggam tangan Cia lebih erat, menahan gadis itu agar tidak beranjak satu inci pun dari sisinya.
"Jangan gila dulu, Dokter Almeera," bisik Ren, suaranya semakin memudar, nyaris seperti embusan angin. "Tugas saya menjagamu... belum selesai."
Mata sang Kapten kembali terpejam, namun kali ini napasnya teratur dan damai. Tidak ada lagi mimpi buruk medan perang. Ia tahu, di ruangan berbau antiseptik ini, pertempurannya telah usai. Ia telah pulang ke satu-satunya rumah yang ia butuhkan.