Di hari pernikahannya, seharusnya Leticia menikahi pria yang dicintainya, bukan pria yang terkenal memiliki sifat begitu kejam dan menyeramkan.
Dan Leticia baru menyadari, kalau semua ini permainan dari Ibu dan adik kembarnya yang sejak awal sudah memaksanya untuk memakai penutup mata saat pernikahan berlangsung.
Leticia harus menikahi calon suami sang adik kembar, dan adiknya… Leila menikahi pria yang sangat dicintai oleh Leticia.
Awalnya Letcia ingin mengajukan surat perceraian kepada Maximillan, tetapi pria itu tidak mau dan memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang dari awal sudah salah.
Dan Leticia baru tahu kalau suaminya adalah seorang mafia kejam yang sangat posesif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
“Tadi tergores saat memotong daging,” jawab Leticia yang membuat tatapan sang suami kian menajam.
“Apa sakit?” Suara Max terdengar berbeda, membuat perempuan itu menaikkan pandangannya.
Leticia menahan napasnya, saat melihat tatap menyeramkan dari sang suami.
“Sakit?” Max kembali bertanya.
Leticia langsung menggelengkan kepalanya, “Tidak sakit, hanya tergores sedikit.”
Pria itu meraih tangan istrinya dan mengecup pelan jemari yang terluka, tindakan itu membuat Leticia kembali manahan napasnya.
“Kalau tahu begitu, aku akan melarangmu untuk memasak lagi!” Max menaikkan pandangannya.
Leticia langsung menggelengkan kepalanya. “Ini kecerobohanku, aku janji ini terakhir kalinya aku ceroboh. Jadi, tetap izinkan aku untuk membuatkan Kakak makan siang.”
Tatapan memohon yang dilayangkan oleh perempuan itu, membuat Max tidak bisa menolaknya.
“Baiklah. Tapi kalau sampai ada luka lagi saat kau memasak, itu terkahir kalinya kau menginjakkan kaki di dapur!” Ancaman itu membuat Leticia benar-benar merinding.
“Kau sudah makan siang?” Max kini melepaskan tangan istrinya dan mengambil makan siang yang dibawa oleh sang istri.
“Belum,” jawaban itu membuat Max langsung memberikan suapan pertama kepada sang istri.
Leticia tidak menolaknya, ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari sang suami. Padahal niatnya hanya ingin membawakan makan siang untuk Max, tetapi malah makan siang bersama dan ia disuapi oleh sang suami.
“Apa kau mau menemani di sini? Nanti kita pulang bersama,” Max menatap wajah cantik istrinya.
Leticia menganggukkan kepalanya, sebab ia merasa bosan di Mansion. Jadi, tidak ada salahnya menemani sang suami yang sedang bekerja.
Sedangkan Max merasa begitu senang, melihat jawaban sang istri. Ia tidak akan merasa kesepian saat menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk itu.
“Bagaimana dengan masakanku? Apa cocok di lidah Kak Max?” Tanya Leticia setelah mereka selesai makan siang.
“Masakanmu sangat lezat, aku sangat menyukainya… terima kasih, istriku!” Jawab pria itu sambil menyodorkan sebotol air mineral yang tutupnya sudah dibuka.
Entah mengapa, Leticia merasa sangat senang saat sang suami menyebut dirinya seperti itu. Padahal kata Calistha, Max itu tidak pernah dengan dengan lawan jenis dan tidak pernah memiliki kekasih… sikapnya juga kaku dan tidak ada romantis-romantisnya.
Namun, Leticia merasa sikap dan setiap kata yang keluar dari mulut Max… terdengar begitu manis dan menggelitik perutnya.
“Kak Max adalah orang pertama yang memuji masakanku,” ucap perempuan itu yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, karena setelah sekian lama ada yang memuji masakannya.
Leticia memang sering memasak untuk sarapan maupun makan malam di kediaman Morana, tetapi keluarganya tidak pernah memuji dirinya dan mengatakan kalau masakannya biasa saja.
“Masakanmu memang sangat lezat, jadi kau pantas mendapatkan pujian dariku. Mulai sekarang, aku yang akan menjadi orang pertama untuk memuji setiap usaha yang kau lakukan,” ujar Max sambil mengecup punggung tangan istrinya.
Leticia rasanya ingin menangis, tetapi ia sudah berjanji untuk tidak menangis lagi… apalagi di hadapan suaminya.
“Terima kasih,” ucap perempuan itu dengan senyuman yang begitu tulus.
Tanpa aba-aba, Max memeluknya… membuat perasaan Leticia semakin tidak karuan. Perempuan itu benar-benar mendapatkan kehangatan dari orang asing yang kini sudah berstatus sebagai suaminya.
“Istriku memang sangat pandai melakukan apapun, jadi tidak perlu mengucapkan terima kasih,” bisik Max sambil mengusap punggung istrinya.
Rasanya nyaman yang diberikan oleh Max, benar-benar membuat perasaan Leticia semakin goyah. Dari hari pertama mereka menikah, pria itu memang berusaha untuk bersikap cukup lembut… bahkan berbeda dengan sifat aslinya yang sangat kasar dan tidak berperasaan.
Namun, Max melakukan semua itu untuk membuat Leticia merasa nyaman dan mempercayainya. Dan pria itu akan terus belajar untuk mengontrol emosinya di depan Leticia saja.
...***...
“Apa kau merasa bosan?” Tanya Max yang kini melirik ke arah istrinya yang masih setia menemaninya.
“Tidak, aku senang bisa membantu Kakak,” jawab perempuan itu dengan jujur.
Tadi, Leticia memang menawarkan diri untuk membantu suaminya dan Max tidak menolaknya… justru mengajarinya bagaimana cara menyusun tabel dan angka-angka dengan benar.
Leticia yang memang sangat cerdas, bisa belajar dengan cepat. Apalagi kalau masalah keuangan, karena di toko kue miliknya dengan sahabatnya… Leticia yang dipercaya untuk mengatur keuangan.
“Jika lelah katakan kepadaku dan kau bisa beristirahat!” Kata Max yang kembali fokus pada dokumen yang baru diambilnya.
“Sudah selesai,” ucap Leticia yang menyelesaikan satu dokumen yang dipercayakan oleh suaminya.
Max mengangguk dan mengambil alih MacBook di tangan sang istri, pria itu mengoreksi pekerjaan Leticia yang ternyata begitu rapi.
“Bagus, kau sangat pintar!” Puji Max sambil mengecup pipi istrinya.
Leticia hanya tertawa kecil, sebelum beranjak dari kursi di sebelah suaminya. Perempuan itu tidak pergi ke sofa untuk duduk, justru ia berdiri di belakang Max dan memijat pelan bahu suaminya yang terasa begitu kaku.
“Kak Max pasti sangat lelah, jadi aku ingin sedikit meringankan beban di bahu Kakak,” ujar Leticia yang membuat Max tidak bisa menahan senyumannya, tetapi pria itu hanya tersenyum tipis dan hanya sebentar.
“Tanganmu pasti sangat lelah, aku baik-baik saja!” Max menarik lembut tangan istrinya dan membawa Leticia ke pangkuannya.
Perempuan itu benar-benar terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh suaminya, apalagi mereka masih berada di kantor dan bisa saja ada yang melihat mereka.
Namun, Leticia tidak dibiarkan untuk melayangkan protes. Bibirnya langsung dibungkam oleh ciuman lembut.
Perempuan itu memejamkan matanya, ia tidak tahu bagaimana cara membalas ciuman sang suami. Sebab ciuman pertamanya, diambil saat mereka resmi menjadi pasangan suami-istri… begitupun dengan Max.
“Astaga, maaf Mommy mengganggu waktu kalian!” Suara panik Calistha membuat keduanya langsung menoleh ke arah pintu yang ternyata sudah dibuka.
Calistha tidak sendirian, ia bersama suaminya yang ingin mengambil berkas penting. Wanita paruh baya itu hanya ingin mampir ke ruangan sang putra untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Max, ternyata waktunya tidak tepat.
Leticia langsung turun dari pangkuan suaminya, ia merasa sangat malu… karena ketahuan oleh Calistha yang kini hanya menyengir tidak bersalah di depan pintu.
Sedangkan Max hanya mendengkus kesal, karena sang mommy sudah mengganggu waktu bermesraannya dengan Leticia…
Bersambung!
🌹🌹🌹☺️