NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

​Aroma mentol dari jaket flanel Fahri masih tertinggal samar di bantal kancing beludru tempat Zara merebahkan kepala. Kasur king size hotel bintang lima ini memang luar biasa empuk, jauh lebih empuk dari kasur busa di asrama putri pesantren. Namun, kantuk yang tadi menggelayuti kelopak mata Zara mendadak menguap begitu saja. Pikirannya masih dipenuhi oleh rentetan perhatian kecil Fahri yang terus-menerus meruntuhkan ego kotanya.

​"Jus alpukat tanpa gula..." gumam Zara pelan, menatap gelas yang kini sudah kosong di atas meja nakas. "Gila ya si santri itu. Kok bisa pas banget?"

​Zara membalikkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan ukiran lampu minimalis mewah. Baru saja ia hendak memejamkan mata untuk mencoba tidur kembali, sebuah ketukan pelan terdengar dari arah pintu depan.

​Tok... Tok... Tok...

​Zara menegakkan duduknya. Keningnya berkerut. Fahri? Cepat banget baliknya? Katanya mau ke Jakarta Selatan?

​Tok... Tok...

​"Assalamu’alaikum..." sebuah suara terdengar dari balik pintu. Lembut, samar, dan jelas sekali itu bukan suara bariton Fahri yang tengil dan hobi meledak-ledak. Itu suara seorang perempuan.

​Zara mengernyitkan dahi. Rasa waswas yang sempat diajarkan Fahri sebelum pergi tadi langsung membuat tubuhnya menegang. Jangan-jangan ini orang suruhan Reza? Atau suruhan Ayah?

​Dengan langkah berhati-hati, Zara turun dari tempat tidur. Ia merapikan kerudung biru mudanya yang agak miring, lalu berjalan mendekati pintu kayu kokoh tersebut. Sebelum memutar kunci, ia mengintip terlebih dahulu melalui lubang pengintai (peephole) yang ada di tengah pintu.

​Mata Zara mengerjap.

​Di luar sana, berdiri seorang wanita muda. Jauh dari bayangan bodyguard kekar atau mata-mata suruhan Reza, wanita itu tampak sangat anggun. Ia mengenakan gamis berwarna pastel yang dipadukan dengan hijab syar'i berwarna senada yang menjuntai rapi. Wajahnya putih bersih, dengan gurat kecantikan alami khas wanita priangan yang sangat kental. Senyumnya tampak tenang, namun ada sorot mata penuh selidik saat menatap ke arah nomor kamar.

​Zara menelan ludah. Siapa perempuan ini? Salah kamar?

​Dengan ragu-ragu, Zara memutar kunci ganda dari dalam. Bunyi klik keras terdengar, dan pintu terbuka setengah.

​"Ya? Cari siapa ya, Mbak?" tanya Zara, menyembunyikan sebagian tubuhnya di balik daun pintu, matanya menatap waspada namun tetap berusaha sopan.

​Wanita berhijab itu sempat tertegun sesaat melihat Zara. Matanya memandangi Zara dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu sebuah senyuman tipis yang sangat tulus terukir di bibirnya.

​"Wa'alaikumussalam... Betul ini kamarnya A Fahri?" tanya wanita itu, suaranya terdengar sangat lembut dan beradab. Panggilan 'A' yang digunakannya langsung membuat dada Zara berdesir aneh.

​"I-iya, betul. Tapi Fahri-nya lagi keluar sebentar," jawab Zara, lidahnya mendadak terasa kaku. "Maaf, Mbak ini siapa ya? Ada urusan apa sama... sama suami saya?"

​Zara sengaja menekankan kata 'suami saya', sebuah insting protektif yang mendadak muncul tanpa ia sadari.

​Mendengar kata 'suami saya', kilat keterkejutan sempat melintas di mata wanita itu, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia mengembuskan napas pendek, lalu mengangguk pelan.

​"Boleh saya masuk sebentar? Ada hal penting yang mau saya bicarakan terkait A Fahri. Oh ya, nama saya humaira," ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya yang terawat halus.

​Zara memandangi uluran tangan itu, lalu menyambutnya dengan ragu. "Zara."

​"Boleh saya masuk, Teh Zara?" ulang Humaira dengan tatapan memohon yang sulit ditolak.

​Zara menimbang sejenak, melihat penampilan Humaira yang begitu santun, rasanya tidak mungkin wanita ini akan menyerangnya dengan pisau. "Ya... ya udah, silakan masuk, Mbak. Tapi maaf kamarnya agak berantakan."

​Humaira melangkah masuk dengan anggun, menyebarkan aroma wangi bunga melati yang menenangkan di dalam ruangan. Ia tidak langsung duduk, melainkan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Suite Room mewah itu. Matanya sempat tertahan lama pada ransel usang milik Fahri yang tergeletak di sudut sofa marmer, lalu tersenyum kecil penuh arti.

​"Silakan duduk, Mbak Humaira," Zara mempersilakan, menunjuk sofa panjang, sementara ia sendiri duduk di kursi tunggal di seberangnya, membatasi jarak. "Jadi... ada urusan apa ya cari Fahri sampai ke hotel ini? Dan... dari mana Mbak tahu kami ada di sini?"

​Humaira duduk dengan melipat kedua tangannya di pangkuan, posisinya sangat tegak dan anggun, mencerminkan didikan kelas atas.

​"Saya tahu dari pihak manajemen hotel, Teh. Kebetulan, saya baru saja selesai menghadiri pertemuan keluarga di lantai bawah, lalu pihak resepsionis memberi tahu kalau kartu akses kamar ini baru saja diaktifkan atas nama A Fahri," jelas Humaira tenang.

​"Manajemen hotel? Hubungannya sama Mbak apa?" Zara makin bingung. "Lagian, hotel ini kan..."

​"Hotel ini milik keluarga kami, Teh Zara. Lebih tepatnya, milik calon mertua saya... Haji Sulaiman," potong Humaira dengan nada bicara yang sangat datar, namun kalimat itu bak petir di siang bolong bagi telinga Zara.

​Zara seketika membeku di kursinya. Jantungnya berdegup kencang. Calon mertua? Haji Sulaiman?

​"M-maksud Mbak apa ya? Calon mertua?" Zara memajukan badannya, matanya menatap Humaira meminta kejelasan. "Haji Sulaiman itu kan donatur besar pesantren Abah Mukhlas. Hubungannya sama Fahri apa?"

​Humaira menatap Zara dengan pandangan yang sulit diartikan—perpaduan antara rasa kasihan dan takjub. "Teh Zara... A Fahri belum cerita apa-apa sama Teteh?"

​"Cerita soal apa?"

​Humaira mengembuskan napas panjang, bersandar sedikit ke sofa. "Astagfirullah... A Fahri memang tidak pernah berubah. Selalu saja suka menyembunyikan jati dirinya."

​Humaira menatap lurus ke dalam mata Zara. "Teh Zara, A Fahri itu bukan cuma sekadar santri biasa di pesantren Cisayong. Beliau bukan orang miskin yang menumpang hidup di sana."

​"Terus... dia siapa?" suara Zara mulai bergetar.

​"Fahri Ahmad... dia adalah anak tunggal, putra mahkota satu-satunya dari Haji Sulaiman. Pemilik jaringan hotel ini, pemilik belasan pesantren di Jawa Barat, dan salah satu pengusaha properti terbesar di Jakarta," ucap Humaira mantap.

​Boom!

​Kepala Zara rasanya mendadak kosong. Informasi itu menghantamnya begitu keras hingga ia merasa dunianya sedikit berputar.

​"A-anak tunggal Haji Sulaiman? Fahri?" Zara menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya. "Nggak, enggak mungkin! Mbak pasti bohong, kan? Fahri itu... Fahri itu penampilannya acak-acakan! Dia cuma pakai kemeja flanel, peci miring, celana jin usang, bahkan kemarin ke Jakarta aja kita harus naik mobil travel carteran yang bobrok! Kalau dia anak orang kaya, ngapain dia hidup kayak gitu di kampung?!"

​Humaira tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kalau ia sudah sangat mengenal tabiat laki-laki yang sedang mereka bicarakan.

​"Itulah A Fahri, Teh. Beliau itu paling tidak suka pamer harta orang tuanya. Sejak lulus kuliah di Mesir, beliau menolak semua fasilitas dari ibunya. Beliau memilih tinggal di pesantren Abah Mukhlas, hidup sederhana sebagai santri, ngajar anak-anak mengaji, bahkan ikut turun ke sawah. Beliau mau melatih mentalnya sendiri sebelum nanti benar-benar memegang seluruh perusahaan ayahnya," Humaira menjeda kalimatnya, matanya melirik ke arah tas ransel usang Fahri.

"Baju flanel, peci miring, dan travel carteran itu... itu cara beliau buat menyamar. Beliau ingin orang-orang melihatnya sebagai Fahri yang apa adanya, bukan sebagai anak konglomerat."

​Zara bersandar ke kursinya dengan lemas. Ingatannya langsung berputar cepat ke belakang.

​Black card yang digoyang-goyangkan Fahri di depan wajahnya saat di mobil tadi pagi...

Sikap petugas resepsionis hotel bintang lima yang membungkuk sangat hormat padanya...

Kalimat resepsionis yang mengatakan bahwa seluruh biaya sudah diselesaikan melalui corporate billing Haji Sulaiman...

Dan fakta bahwa Fahri bisa dengan santainya memesankan makanan mewah seolah uang bukan masalah baginya.

​Ya ampun... jadi selama ini dia gak lagi bercanda soal black card itu? Dia beneran anak orang kaya raya? batin Zara, merasa menjadi orang paling bodoh sedunia karena telah mengira suaminya hendak melakukan ritual ngepet demi membayar sewa hotel.

​"Lalu..." Zara menelan ludah, suaranya mendadak terasa serak. "Kalau dia anak Haji Sulaiman... hubungan Mbak Humaira sendiri sama Fahri... apa?"

​Suasana kamar mendadak berubah menjadi sangat sunyi. Humaira tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepalanya, memandangi jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan. Gurat kesedihan yang coba disembunyikannya sejak tadi akhirnya runtuh juga.

​"Saya... adalah wanita yang dijodohkan oleh kedua orang tua A Fahri sejak dua tahun lalu," jawab Humaira lirih.

​Deg!

​Jantung Zara serasa berhenti berdetak. "Dijodohkan?"

​"Iya," Humaira mendongak, menatap Zara dengan mata yang mulai berkaca-kaca namun tetap berusaha tegar. "Keluarga kami dan keluarga Haji Sulaiman sudah sepakat untuk menikahkan kami setelah A Fahri selesai mengabdi di pesantren Cisayong tahun ini. Segala persiapan bahkan sudah mulai dibicarakan di tingkat keluarga besar. Tapi..." Humaira tersenyum pahit. "...beberapa minggu lalu, A Fahri tiba-tiba menolak perjodohan itu secara sepihak. Beliau bilang, beliau sudah menemukan wanita lain yang lebih membutuhkan perlindungannya."

​Humaira menatap Zara lekat-lekat. "Wanita itu... adalah Teteh, kan? Zara Amanta?"

​Zara mendadak merasa bersalah yang amat sangat. Dadanya sesak. Ia tidak pernah tahu kalau di balik keputusan Fahri yang menikahinya secara mendadak semalam, ada hati wanita lain yang terluka. Ada perjodohan keluarga besar yang dikorbankan demi menyelamatkannya dari cengkeraman Reza dan Pak Rahmad.

​"M-mbak... aku... aku bener-bener gak tahu soal ini," ucap Zara terbata-bata, air matanya mulai mengalir tanpa bisa dicegah. "Pernikahan kami semalam itu darurat banget, Mbak. Aku dijebak sama mantan tunangan aku dan ayah aku sendiri. Mereka bilang ibu aku kritis, padahal pura-pura.

Fahri cuma mau melindungi aku dari mereka. Dia bilang kalau kami gak menikah malam itu, aku bakal diseret paksa di Jakarta. Aku gak ada niat buat merebut Fahri dari Mbak Humaira demi Allah, aku gak tahu!"

​Melihat Zara yang menangis histeris, Humaira justru bangkit dari sofanya. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di lantai semen berkarpet tepat di depan lutut Zara. Ia meraih kedua tangan Zara, menggenggamnya dengan sangat hangat.

​"Teh Zara... jangan menangis. Tolong dengarkan saya," ucap Humaira lembut, menghapus air mata di pipi Zara dengan ibu jarinya.

"Saya ke sini bukan untuk melabrak Teteh. Saya bukan wanita egois yang mau merebut paksa seorang laki-laki yang sudah sah menjadi suami orang. Di dalam Islam, pernikahan Teteh dan A Fahri semalam adalah takdir yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Saya tidak punya hak untuk marah pada takdir."

​Zara menatap Humaira di sela isakannya. "Tapi Mbak Humaira pasti sakit hati, kan? Perjodohan dua tahun..."

​Humaira tersenyum, kali ini senyuman yang sangat ikhlas. "Sakit hati itu manusiawi, Teh. Bohong kalau saya bilang saya tidak sedih. Tapi, setelah saya melihat Teteh hari ini melihat bagaimana A Fahri menjaga Teteh dengan menyewakan kamar terbaik di hotel ini, bahkan meninggalkan jaket kesayangannya untuk menyelimuti Teteh saya sadar satu hal."

​"Apa?"

​"A Fahri tidak pernah menatap saya dengan pandangan se-protektif itu selama dua tahun ini. Bagi A Fahri, saya mungkin hanya sebatas wanita pilihan ibunya yang harus dihormati. Tapi bagi A Fahri, Teteh adalah wanita pilihan hatinya sendiri. Wanita yang membuat seorang putra mahkota rela membuang egonya, rela bertarung melawan preman kota, dan rela mengorbankan nama baiknya di depan keluarga besar demi menjadi benteng pelindung," Humaira mengelus punggung tangan Zara. "Teteh adalah alasan kenapa A Fahri akhirnya mau menggunakan fasilitas ayahnya lagi setelah sekian lama menolak."

​Zara tertegun. Kalimat Humaira meresap masuk ke dalam ulu hatinya, memicu gelombang rasa haru dan cinta yang semakin membuncah untuk Fahri. Jadi... alasan Fahri mengaktifkan kartu hitamnya dan membawa aku ke hotel mewah ini... bukan karena dia mau pamer, tapi karena dia mau memberikan tempat paling aman dan terbaik yang bisa dia akses demi menjaga aku?

​"Teh Zara," panggil Humaira lagi, membuat Zara kembali fokus. "Saya ke sini cuma mau menyampaikan satu pesan. Tolong... jaga A Fahri baik-baik. Beliau itu orangnya keras kepala, hobi bercanda, dan kadang menyebalkan kalau sudah kumat usilnya. Tapi hatinya sangat mulia. Jangan pernah ragukan ketulusannya dalam melindungi Teteh."

​Zara mengangguk mantap di sela tangisnya. "Iya, Mbak. Aku janji aku bakal jaga Fahri. Makasih banyak ya, Mbak Humaira Mbak hatinya baik banget."

​"Sama-sama, Teh," Humaira bangkit berdiri, merapikan kembali gamis pastelnya yang agak kusut. "Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Sebelum A Fahri balik dan melihat saya di sini, nanti beliau malah panik dikira saya mau ngajak Teteh duel pencak silat," canda Humaira, mencoba mencairkan suasana.

​Zara ikut tertawa kecil sambil menghapus sisa air matanya. "Enggaklah, Mbak."

​Humaira melangkah menuju pintu. Sebelum membukanya, ia menoleh sekali lagi ke arah Zara. "Oh ya, Teh. Satu rahasia lagi tentang A Fahri."

​"Apa?"

​"Jangan pernah kasih beliau makan bubur ayam diaduk kalau lagi kesal. Nanti usilnya makin menjadi-jadi," ucap Humaira sambil mengedipkan sebelah matanya jenaka.

​"Hahaha! Iya, Mbak, siap!"

​Pintu kamar terbuka, dan sosok Humaira pun menghilang di balik lorong, meninggalkan Zara yang kini berdiri mematung di tengah kamar mewah tersebut.

​Zara memandangi seluruh ruangan dengan sudut pandang yang kini sudah berubah total. Kamar ini bukan lagi sekadar kamar hotel bintang lima yang mahal, melainkan sebuah bukti nyata dari pengorbanan seorang anak konglomerat yang rela turun ke bumi, mengenakan flanel usang dan peci miring, demi menjadi sesosok pahlawan sejati bagi wanita pelarian seperti dirinya.

​"Fahri Ahmad..." bisik Zara lirih, memeluk erat jaket flanel di dadanya dengan senyuman paling bahagia yang pernah ia miliki seumur hidup. "Kamu... bener-bener penuh kejutan, Suamiku."

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!