Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Rahasia di Balik Bukit Keramat
Setelah membantu Lintang di Danau Hijau, kehidupan kembali berjalan tenang selama beberapa minggu. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Suatu sore, saat Cepot dan Dawala sedang memotong kayu di pinggir hutan, datanglah seorang tetua desa bernama Kakek Surya. Wajahnya tampak serius, namun tidak lagi penuh ketakutan seperti saat-saat sebelumnya.
“Anak-anak, bolehkah aku mengajak bicara sebentar?” tanyanya dengan nada lembut.
“Tentu saja, Kakek. Silakan duduk,” jawab Cepot sambil menepuk batang kayu yang sudah dipotong agar bersih. “Ada hal penting yang ingin disampaikan?”
Kakek Surya mengangguk, lalu menatap ke arah timur, tempat di mana terlihat gugusan bukit yang tertutup kabut tipis. “Sudah lama aku menyimpan sebuah cerita yang hanya diwariskan dari mulut ke mulut. Dulu, saat Ki Burak masih berkuasa, kami takut menyebutkannya. Tapi sekarang, setelah melihat keberanian dan kebijaksanaan kalian, rasanya sudah waktunya hal ini dibuka.”
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Di balik Bukit Keramat, terdapat sebuah sumur tua yang dipercaya sebagai tempat penyimpanan air kehidupan. Konon, air itu tidak hanya menyegarkan tubuh, tapi juga mampu memulihkan tanah yang rusak dan mengusir penyakit. Namun, sejak ratusan tahun lalu, sumur itu tertutup rapat oleh akar-akar pohon yang sangat kuat, dan dijaga oleh makhluk yang setia menjaga agar airnya tidak disalahgunakan.”
Dawala mengernyitkan dahi, penasaran. “Kalau airnya bermanfaat, mengapa harus ditutup dan dijaga ketat?”
“Karena kekuatannya terlalu besar,” jawab Kakek Surya. “Jika jatuh ke tangan yang salah, air itu bisa berubah menjadi racun yang mematikan dan menghancurkan segala yang dilewatinya. Selama ini, ia tetap tertutup karena tidak ada yang memiliki kekuatan dan niat yang cukup tulus untuk membukanya kembali.”
Cepot menggaruk dagunya, berpikir sejenak. “Jadi, maksud Kakek adalah kita diminta untuk membukanya? Tapi bagaimana caranya kita tahu apakah kita memang pantas dan mampu menjaganya?”
“Tidak ada yang tahu pasti,” jawab Kakek Surya. “Namun, Golek Pancasona yang kalian miliki adalah pusaka leluhur yang juga berhubungan erat dengan tempat itu. Hanya pemegang pusaka itu yang diizinkan mendekat. Aku hanya menyampaikan ini agar kalian tahu, jika suatu saat jalan itu terbuka, tugas menjaga keseimbangan alam belum sepenuhnya selesai.”
Setelah mendengar penjelasan itu, Cepot dan Dawala memutuskan untuk memeriksanya sendiri. Keesokan paginya, mereka menyiapkan bekal secukupnya, membawa pusaka andalan, dan berangkat menuju Bukit Keramat yang letaknya sekitar tiga jam perjalanan dari desa.
Semakin mendekati kaki bukit, suasana terasa semakin hening. Pepohonan di sini tumbuh rapat dan menjulang tinggi, seolah membentuk tembok alami yang melindungi tempat di baliknya. Tanahnya subur, namun terasa sunyi sepi, seolah tidak ada hewan yang berani mendekat.
“Kang, rasanya tempat ini terasa damai tapi juga penuh penghormatan,” bisik Dawala sambil melangkah hati-hati. “Seolah alam sendiri sedang menjaga rahasia yang besar.”
“Benar juga rasanya,” jawab Cepot sambil mengamati sekeliling. “Tapi ingat, kita datang bukan untuk mengambil apa-apa, melainkan untuk melihat apakah tempat ini masih aman dan seimbang. Kalau memang belum waktunya dibuka, kita akan mundur saja tanpa memaksakan apa pun.”
Setelah mendaki lereng yang tidak terlalu curam namun cukup terjal, mereka tiba di sebuah dataran kecil yang dikelilingi oleh empat pohon besar yang tumbuh melingkar. Di tengah lingkaran itu, terlihat sebuah lubang yang tertutup rapat oleh akar-akar pohon yang saling menyilang dan menyatu menjadi satu dinding yang kokoh. Dari balik celah akar itu, terasa hawa sejuk yang sangat menyegarkan, namun bercampur dengan tenaga yang kuat dan terjaga.
“Ini pasti sumur yang dimaksud Kakek Surya,” gumam Cepot. “Tertutup rapat sekali, tidak ada celah untuk masuk sedikit pun.”
Belum sempat mereka melangkah lebih dekat, tiba-tiba tanah di sekitar sumur bergetar perlahan. Akar-akar yang menutupi lubang itu bergerak perlahan, dan dari baliknya muncul sosok makhluk berwujud rusa besar dengan bulu berwarna keemasan dan tanduk yang menjulur indah seperti ranting pohon. Matanya bening namun tajam, memancarkan kewibawaan yang membuat siapa pun merasa segan.
“Siapa yang berani melangkah masuk ke wilayah ini?” suaranya terdengar berat namun lembut, seperti gema yang datang dari dalam tanah. “Apakah kalian datang untuk mengambil air kehidupan, tanpa memahami tanggung jawab yang menyertainya?”
Dawala langsung berhenti dan bersiap memegang galah bambunya, namun Cepot segera mengangkat tangan menahan adiknya. Ia melangkah maju sedikit, lalu membungkuk hormat.
“Kami datang bukan untuk mengambil, melainkan untuk mengetahui. Kami mendengar cerita tentang tempat ini, dan ingin memastikan apakah keseimbangannya masih terjaga dengan baik. Kami tidak membawa niat buruk, dan tidak akan memaksa masuk jika memang belum waktunya.”
Makhluk itu menatap mereka berdua lama sekali, seolah melihat jauh ke dalam hati dan pikiran mereka. Ia kemudian menundukkan kepalanya perlahan, tanduknya menyentuh tanah tanpa menimbulkan bahaya.
“Namaku Rusa Penjaga Sumber,” katanya. “Selama ratusan tahun aku menjaga tempat ini agar airnya tidak jatuh ke tangan yang salah. Kekuatan yang ada di sini bisa menjadi anugerah terbesar sekaligus kutukan terberat bagi makhluk hidup.”
Ia melirik ke arah pinggang Cepot, tempat Golek Pancasona tersimpan rapi. “Aku merasakan getaran pusaka itu. Ia adalah saudara dari kekuatan yang menjaga tempat ini. Hanya pemegangnya yang bisa membuka jalan ini, tapi hanya jika hatinya siap menerima beban tanggung jawabnya.”
Cepot mengeluarkan Golek Pancasona, namun tidak mengangkatnya sebagai senjata, melainkan memegangnya dengan kedua tangan di depan dada sebagai tanda hormat. “Kalau memang tugas ini harus kami emban, kami siap menjalankannya sebaik mungkin. Kami tidak akan menggunakan kekuatan ini untuk keuntungan diri sendiri, tapi untuk kebaikan bersama.”
Mendengar jawaban itu, Rusa Penjaga Sumber mengangguk perlahan. Ia melangkah mundur, dan seketika itu juga akar-akar yang menutupi sumur itu bergerak perlahan, membuka diri satu per satu dengan suara gemeretak yang lembut. Begitu terbuka sepenuhnya, memancarlah cahaya bening yang terang namun tidak menyilaukan, disertai hawa sejuk yang menyebar ke seluruh penjuru bukit.
Di dalamnya terlihat air yang sangat jernih, tenang bagaikan cermin, dan memancarkan energi yang menyejukkan sekujur tubuh.
“Lihatlah,” kata sang penjaga. “Air ini tidak akan pernah habis, tapi manfaatnya hanya akan terasa jika dijaga dengan kejujuran. Kalau suatu saat kalian membutuhkannya untuk menyelamatkan makhluk hidup atau memulihkan alam yang rusak, ambillah secukupnya saja. Jangan pernah menyimpannya untuk kepentingan pribadi, karena hal itu akan merusak keseimbangan yang sudah terjaga selama ini.”
Kedua bersaudara itu mengangguk tanda mengerti. Mereka mendekat hanya untuk melihat dan memastikan kondisinya, tanpa mengambil setetes pun airnya saat itu juga.
“Terima kasih telah mempercayai kami,” kata Cepot dengan tulus. “Kami akan menjaga rahasia ini dan menyampaikan pesan ini kepada warga desa agar tempat ini tetap dihormati dan dijaga bersama.”
Rusa Penjaga Sumber tersenyum dalam pandangannya, lalu berkata, “Jalan kalian masih panjang, anak muda. Dunia ini menyimpan banyak rahasia dan kekuatan yang menunggu untuk dijaga. Selama kalian tetap berpegang pada kebenaran dan saling mendukung, tidak ada beban yang terlalu berat untuk dipikul.”
Setelah itu, akar-akar itu kembali menutup sumur dengan rapat, namun kali ini terasa lebih lembut dan tidak lagi terasa seperti penghalang, melainkan sebagai pelindung yang siap dibuka kembali saat dibutuhkan.
Dalam perjalanan pulang, Dawala terlihat sangat terkesan. “Kang, ternyata kekuatan yang paling besar itu bukan untuk dilawan, tapi untuk dijaga dan dihormati, ya?”
“Benar sekali, Da,” jawab Cepot sambil melangkah santai. “Setiap kekuatan memiliki tempat dan waktunya. Tugas kita bukan menguasainya, tapi memastikan ia tetap berada di jalur yang benar. Rasanya, kita baru saja memahami satu pelajaran penting lagi hari ini.”
Mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan hati yang semakin tenang dan bijak, menyadari bahwa tugas mereka bukan hanya mengalahkan kejahatan, tapi juga menjaga segala hal yang baik agar tetap terjaga untuk masa depan.