NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Terakhir

Azizah mengekor di belakang Darel yang menyusuri koridor rumah sakit. Langkah kakinya terasa berat dengan kedua tangan yang tertaut erat di depan dada.

Tadi, saat Darel datang ke rumah dengan wajah panik sambil berteriak memanggil namanya, seisi rumah ikut histeris. Mereka semua mengkhawatirkan kondisi Amisha. Tapi Darel tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ia justru mengajak Azizah ke rumah sakit karena Amisha terus memanggilnya.

Sementara di sampingnya, Windy juga berjalan dengan langkah terburu-buru dengan napas yang terengah. Ia memaksa ikut walaupun harus menitipkan Keira pada pembantu di rumah agar bisa mendampingi Darel.

Setibanya di sana, pandangan mereka menemukan Ezra yang terduduk lemas di kursi tunggu.

Darel segera menghampiri kakaknya, “Ada kabar soal Mama?” tanyanya.

Ezra hanya menggeleng lemah tanpa berniat menatap Darel. Ia tetap dalam posisi duduk dengan kepala menunduk dalam. Darel mengerutkan keningnya, kebingungan melihat ekspresi kakaknya yang tampak kacau. Pandangannya kemudian jatuh pada ponsel milik Ezra yang hancur di lantai. Ia pun memungut ponsel itu dengan tatapan heran.

“Ada yang terjadi?” tanya Darel.

Ezra tidak langsung menjawab. Ia justru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Jangan bertanya lagi,” ucapnya parau.

Windy yang berdiri di samping Darel hanya bisa terdiam, menatap Ezra dengan tatapan khawatir namun tidak berani bertanya lebih lanjut. Sementara itu, Azizah yang berdiri sedikit di belakang Darel, tidak sengaja menangkap buku-buku jari Ezra yang memerah. Ia bertanya-tanya kekacauan apa yang sebenarnya terjadi di sini sebelum kedatangannya.

“Duduklah, Azizah,” ucap Darel sambil menoleh ke belakang, “Kita menunggu instruksi dokter.”

Azizah mengangguk, lalu memilih duduk di kursi tunggu yang terpisah di sisi koridor lain, yang kemudian diikuti Windy. Sementara Darel memilih duduk di sebelah Ezra untuk berusaha memberikan dukungan bagi kakaknya yang kini tampak begitu rapuh.

Tidak lama setelah mereka menunggu, pintu ruang gawat darurat kembali terbuka. Dokter yang sebelumnya menangani Amisha melangkah keluar dengan raut wajah yang tampak lebih mendesak.

“Apakah wanita bernama Azizah ada di sini?” tanya dokter itu seraya memindai lorong.

Darel segera berdiri dan menunjuk ke arah Azizah yang duduk di kursi tunggu sisi lain.

“Itu dia, Dok.”

Melihat itu, Windy segera merangkul lengan Azizah dengan lembut.

“Ayo, Zah. Aku akan menemanimu masuk,” ucapnya.

Namun dokter itu justru menggeleng tegas, “Maaf, hanya satu orang yang bisa masuk ke dalam. Pasien membutuhkan ketenangan, dan saat ini Nyonya Amisha terus memanggil nama Azizah berulang kali dengan suara yang semakin melemah. Sepertinya hanya kehadirannya yang bisa membuat Nyonya Amisha lebih tenang.”

Ezra yang sejak tadi terdiam, tiba-tiba bangkit berdiri. Emosinya yang baru saja diredam kembali meluap.

“Apa-apaan ini?” teriaknya tertahan, “Dari semua anak-anaknya, kenapa Mama justru mencari orang asing seperti dia?!”

Darel segera memegangi lengan kakaknya, sebelum situasi menjadi lebih buruk. Ia menatap mata Ezra dengan tatapan memohon.

“Kak, tolong... hentikan ini. Semua ini demi Mama. Jika ini satu-satunya cara agar Mama bertahan, biarkan Azizah masuk sekarang,” tegas Darel.

Ezra terdiam dengan napas yang memburu. Darel pun segera menoleh ke arah Azizah dan memberi isyarat agar wanita itu segera masuk.

Azizah mengangguk, lalu melirik ke arah Ezra. Ia mendapati pria itu sedang menatapnya dengan tajam, seolah tatapan itu adalah sebuah ancaman dan ketidaksukaan yang mendalam. Namun rasa kemanusiaannya jauh lebih besar. Dengan langkah ragu namun pasti, Azizah akhirnya mengikuti dokter masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Ezra yang masih berdiri dengan kepalan tangan yang gemetar.

Begitu masuk, Azizah tidak membuang waktu. Ia berlari kecil mendekati ranjang dan jemarinya dengan lembut menggenggam tangan Amisha yang tidak terhubung dengan selang infus.

Amisha yang matanya sempat terpejam karena menahan sesak, langsung terbuka saat merasakan kehadiran wanita itu. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menurunkan masker oksigen dari wajahnya. Petugas medis di sana sempat menatapnya tajam, namun Amisha sama sekali tidak peduli. Ia hanya ingin leluasa menatap dan berbicara dengan Azizah di saat-saat yang terasa begitu singkat ini.

“Aku bersyukur karena menerimamu bekerja di rumahku,” bisik Amisha lirih, “Aku percaya pada takdir... takdir yang mempertemukan kita. Aku minta maaf jika selama ini aku masih kurang baik menjadi majikanmu.”

Azizah menggeleng cepat, air matanya sudah tumpah ruah membasahi pipinya. Genggamannya pada tangan Amisha juga semakin menguat, menyalurkan rasa sesak yang tidak sanggup ia utarakan dengan kata-kata.

Amisha pun ikut meneteskan air mata, “Sekarang... aku hanya punya satu keinginan. Aku ingin Ezra menikah dengan wanita baik-baik, yang tidak lain adalah kau, Azizah.” Amisha menatap lekat ke dalam mata Azizah, “Kau setuju, kan?”

Azizah hanya bisa terdiam, sementara bahunya terguncang hebat karena tangisan tanpa suara yang menyesakkan dada. Ia menjerit di dalam hatinya. Seandainya ia bisa bicara, ia pasti akan menolak permintaan itu. Ia yakin Amisha akan berumur panjang dan ia tidak ingin takdir mereka dipaksakan seperti ini.

Tiba-tiba wajah Amisha memucat dan tubuhnya menegang saat ia kembali kesulitan mengambil napas. Napasnya tersengal hebat, membuat perawat dengan sigap kembali memasang masker oksigen di wajahnya. Melihat kondisi Amisha yang kembali drop, ketakutan Azizah memuncak. Ia terpaku, menatap monitor jantung yang kembali berbunyi dengan ritme yang mencemaskan.

“E-Ezra... E... Ezra...” rintih Amisha lirih di balik masker oksigen.

Dokter yang memahami isyarat itu segera keluar ruangan dan memanggil Ezra. Tanpa menunggu lama, Ezra merengsek masuk dan mendekati ranjang ibunya. Ia berdiri tepat di samping Azizah dan dengan lembut mengusap peluh di dahi sang ibu.

“Aku di sini, Ma. Maafkan aku,” ucap Ezra menyesal, “Seharusnya tadi aku tidak membentak Mama. Aku berjanji tidak akan meninggalkan Mama lagi. Setelah ini, kita perbaiki hubungan kita, ya?”

Di balik masker oksigennya, Amisha tersenyum. Perlahan, ia membuka maskernya karena merasa napasnya lebih stabil.

“Mama tidak pernah marah padamu, Ezra,” bisik Amisha lemah, “Mama justru sangat merindukanmu. Mama ingin selalu melihat, memeluk, dan menyentuhmu seperti saat kau masih kecil.”

“Aku janji, Ma,” sahut Ezra cepat, “Setelah Mama sembuh, aku akan melakukannya. Kita akan sering menghabiskan waktu bersama.”

Amisha menggeleng lemah, “Mama takut... waktunya tidak cukup.”

“Tidak! Mama pasti baik-baik saja!” teriak Ezra.

Azizah di sampingnya juga tidak kuasa menahan tangis.

Tangan Amisha kemudian menyatukan tangan Ezra dengan tangan Azizah.

“Ezra, berjanjilah... nikahi Azizah. Hanya itu permintaan terakhir Mama.”

Ezra memalingkan wajah, rahangnya mengeras. Dalam hati ia menjerit, bagaimana mungkin ia menikahi wanita yang tidak ia cintai, apalagi seorang wanita bisu?

Azizah menatap Ezra, ia tahu pria itu sedang didera kebimbangan dan penolakan hebat.

Amisha kembali menatap Azizah, “Azizah, Ezra itu pria yang baik... hanya sifatnya saja yang keras dan kaku. Aku yakin kau bisa mengubahnya.” Amisha kembali menatap Ezra lekat, “Sifat kerasmu itu hanya bisa dilebur dengan kelembutan hati Azizah. Saat Mama tiada nanti, Mama yakin Azizah bisa menjadi pengganti sosok Mama di hidupmu.”

“Tidak, Ma! Tidak ada yang bisa menggantikan sosok Mama!” bantah Ezra tegas.

Amisha kembali mengeratkan genggamannya pada kedua tangan mereka. Rasanya sangat berat bahkan hanya untuk bernapas. Rasa sesak itu kembali datang menghantam. Dokter segera memerintahkan Azizah dan Ezra mundur untuk mengambil alih Amisha.

Saat masker oksigen kembali menutupi wajahnya, Amisha menoleh ke samping, menatap Ezra dengan tatapan memohon yang menyayat hati.

“Aku tidak mau, Ma. Aku tidak akan menikahinya,” tegas Ezra dingin.

Mendengar itu, kondisi Amisha semakin tidak stabil. Dokter melirik tajam ke arah Ezra, seolah menyalahkan pria itu karena kembali membebani pikiran ibunya. Sementara Azizah maju selangkah, mengintip di balik kerumunan tenaga medis. Ia dilema. Ia tidak ingin menikah dengan Ezra, tapi ia pun ketakutan jika penolakannya justru merenggut nyawa Amisha.

Dokter itu kemudian menatap Ezra, “Tuan, silakan keluar dan beritahu anggota keluarga lain bahwa kalian harus bersiap untuk menghadapi kemungkinan terburuk.”

Azizah langsung menutup mulutnya menahan isak, sementara Ezra mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.

Merasa tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan nyawa ibunya, Ezra akhirnya mendekati ranjang.

Azizah menatap punggung Ezra dengan gugup. Apa pria itu benar-benar memutuskan untuk menikahinya?

Masih dengan tangan yang mengepal, Ezra menarik napasnya kuat-kuat. Ia kemudian menatap ibunya yang sedang berjuang di antara hidup dan mati.

“Aku setuju menikah dengan Azizah.”

1
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!