Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.
Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.
Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.
Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.
Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Malam Saat Arda Membunuh
Kalimat itu terus terngiang di kepala Arda.
"Kau masih seperti ibumu."
Sudah dua hari berlalu sejak kemunculan lelaki bertopeng hitam di atas bukit.
Namun setiap kali Arda mengingatnya, perasaan yang sama kembali muncul.
Bingung.
Penasaran.
Dan takut.
Takut karena untuk pertama kalinya ia merasa begitu dekat dengan kebenaran.
Selama bertahun-tahun, kematian Isabella hanyalah luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Namun sekarang luka itu seperti dibuka kembali.
Lebih dalam.
Lebih menyakitkan.
Arda berdiri di balkon kamarnya sambil memandangi halaman belakang rumah.
Langit masih gelap.
Matahari bahkan belum terbit.
Ia hampir tidak tidur semalaman.
Pikirannya terus memutar pertanyaan yang sama.
Siapa lelaki bertopeng itu?
Kenapa ia mengenal Isabella?
Kenapa ia mengawasi dirinya?
Dan yang paling penting...
Apakah pria itu musuh?
Tidak ada jawaban.
Yang ada hanya semakin banyak misteri.
Di lantai bawah, suasana rumah jauh lebih sibuk dibanding biasanya.
Kael baru saja menerima beberapa laporan dari anggota Valdarez yang tersebar di berbagai wilayah.
Wajahnya terlihat buruk.
Sangat buruk.
Ravian yang berdiri di sampingnya langsung menyadarinya.
"Ada apa?"
tanya Ravian.
Kael melemparkan sebuah map ke atas meja.
"Serangan lagi."
jawabnya.
Ravian membuka map tersebut.
Semakin lama membaca, semakin keras rahangnya mengeras.
"Berapa korban?"
"Tiga tewas."
"Dari pihak kita?"
Kael mengangguk.
Ruangan langsung hening.
Karena dalam dua minggu terakhir jumlah korban terus bertambah.
Dan semuanya terjadi terlalu cepat.
Gudang dibakar.
Jalur logistik diserang.
Markas kecil dihancurkan.
Seolah seseorang sedang mencoba mengikis kekuatan Valdarez sedikit demi sedikit.
Yang membuat semuanya semakin buruk adalah satu hal.
Simbol yang sama selalu ditemukan.
Senyuman berdarah.
Tanda yang kini mulai dikaitkan dengan Silas.
"Kita tidak bisa terus bertahan seperti ini."
gumam Ravian.
Kael menatap peta kota yang terbentang di atas meja.
"Aku tahu."
"Kalau serangan terus berlanjut..."
"...mereka akan menganggap kita lemah."
Dan dalam dunia mafia...
Kelemahan adalah undangan untuk mati.
Arda mendengar sebagian percakapan itu saat turun ke bawah.
Ia langsung mengerti.
Perang semakin dekat.
Dan cepat atau lambat dirinya juga akan terlibat.
"Biar aku ikut."
ucapnya.
Ruangan langsung sunyi.
Kael menoleh perlahan.
"Apa?"
"Aku ikut operasi berikutnya."
ulang Arda.
"Tidak."
jawab Kael tanpa ragu.
"Aku tidak meminta izin."
"Aku juga tidak memberikannya."
Tatapan mereka saling bertemu.
Arda tidak mengalihkan pandangan.
Begitu juga Kael.
"Aku bukan anak kecil lagi."
ucap Arda.
"Justru karena itulah aku melarangmu."
balas Kael.
"Di luar sana bukan tempat latihan."
"Orang-orang mati."
"Aku tahu."
"Tidak. Kau belum tahu."
Kalimat itu membuat suasana semakin tegang.
Karena Kael benar.
Arda memang belum pernah berada di medan sebenarnya.
Belum pernah menghadapi peluru sungguhan.
Belum pernah melihat bagaimana perang mafia benar-benar terjadi.
Namun Arda tidak mundur.
"Aku harus belajar."
ucapnya.
"Aku pewaris Valdarez."
Keheningan memenuhi ruangan.
Beberapa detik kemudian Darius membuka suara.
"Dia benar."
Semua orang menoleh.
Bahkan Kael terlihat terkejut.
"Darius..."
"Suatu hari nanti dia akan memimpin."
ucap pria itu tenang.
"Dan hari itu bisa datang lebih cepat daripada yang kita inginkan."
Kael memijat pelipisnya.
Jelas ia tidak menyukai keputusan itu.
Namun akhirnya ia menghela napas panjang.
"Satu syarat."
ucapnya.
Arda langsung memperhatikannya.
"Kau tidak keluar dari sisi Darius."
Arda mengangguk.
"Baik."
Namun jauh di dalam dirinya...
Ia tidak menyadari bahwa keputusan itu akan mengubah hidupnya selamanya.
Malam datang lebih cepat.
Hujan tipis turun membasahi jalanan kota.
Sebuah konvoi kendaraan bergerak menuju kawasan industri di bagian timur kota.
Di dalam salah satu mobil...
Arda duduk diam.
Tangannya sedikit berkeringat.
Meski ia berusaha terlihat tenang.
Darius duduk di sebelahnya.
"Takut?"
tanya pria itu.
Arda terdiam beberapa saat.
Lalu mengangguk.
"Sedikit."
Darius justru tersenyum tipis.
"Itu bagus."
Arda mengernyit.
"Kenapa?"
"Karena orang yang tidak takut biasanya mati lebih cepat."
Jawaban itu membuat Arda tidak tahu harus tertawa atau kesal.
Dua puluh menit kemudian mereka tiba.
Lokasinya adalah gudang logistik lama milik Valdarez.
Menurut laporan, beberapa orang tak dikenal terlihat memasuki area tersebut.
Dan kemungkinan besar mereka sedang menyiapkan sabotase.
Kael tidak ingin kehilangan satu lokasi lagi.
Karena itu mereka bergerak lebih dulu.
Semuanya berjalan tenang pada awalnya.
Terlalu tenang.
Dan justru itulah yang membuat Darius curiga.
"Ada yang salah."
gumamnya.
Arda merasakannya juga.
Gudang itu terlalu sunyi.
Tidak ada suara.
Tidak ada aktivitas.
Tidak ada apa pun.
Lalu...
DOR!
Suara tembakan memecah malam.
Seketika semuanya berubah.
"KONTAK!"
teriak seseorang.
Peluru menghantam dinding.
Percikan beton beterbangan ke udara.
Arda langsung menjatuhkan diri.
Jantungnya berdetak sangat cepat.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Karena ini bukan latihan.
Bukan simulasi.
Ini nyata.
Sangat nyata.
DOR!
DOR!
DOR!
Tembakan terus terdengar.
Orang-orang berlari mencari perlindungan.
Kael memberi perintah.
Ravian membalas tembakan.
Dan dalam hitungan detik...
Area gudang berubah menjadi medan perang.
Arda berusaha mengikuti Darius.
Namun kekacauan membuat semuanya sulit.
Asap.
Suara peluru.
Teriakan.
Semuanya bercampur menjadi satu.
Kemudian sesuatu terjadi.
Seseorang muncul dari balik tumpukan peti.
Pria bertubuh besar.
Memakai jaket hitam.
Dan memegang pistol.
Mata mereka bertemu.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu pria itu mengangkat senjatanya.
Waktu seolah melambat.
Arda bisa melihat jari pria itu bergerak ke pelatuk.
Bisa melihat moncong pistol mengarah tepat ke dadanya.
Dan untuk pertama kalinya...
Ia benar-benar merasakan ketakutan akan kematian.
DOR!
Peluru melesat.
Arda melempar tubuhnya ke samping.
Peluru menghantam peti kayu di belakangnya.
Kayu pecah berhamburan.
Namun pria itu tidak berhenti.
Ia kembali mengangkat pistol.
Arda tahu.
Kalau ia terlambat satu detik saja...
Semuanya akan berakhir.
Insting mengambil alih.
Di dekatnya tergeletak batang besi.
Tanpa berpikir panjang Arda meraihnya.
Lalu berlari.
Pria itu kembali mencoba menembak.
Namun kali ini Arda lebih cepat.
BRAK!
Batang besi menghantam tangan pria tersebut.
Pistol terlepas.
Pria itu mengumpat marah.
Lalu menyerang dengan tinjunya.
Arda berhasil menghindar.
Mereka bertarung dalam jarak dekat.
Kasar.
Cepat.
Brutal.
Pria itu jauh lebih besar.
Jauh lebih kuat.
Satu pukulan menghantam wajah Arda.
Pandangan Arda langsung berkunang-kunang.
Rasa sakit menjalar ke seluruh kepalanya.
Namun ia tetap berdiri.
Tetap melawan.
Karena ia tidak punya pilihan lain.
Pria itu menerjang lagi.
Arda menghindar.
Kemudian mengayunkan batang besi sekuat tenaga.
BRAK!
Benturan keras menggema di dalam gudang.
Tubuh pria itu terhuyung.
Namun belum jatuh.
Ia masih mencoba bergerak.
Masih mencoba menyerang.
Dan saat itulah...
Arda memukul lagi.
BRAK!
Benturan kedua terdengar lebih keras.
Pria itu kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya jatuh ke belakang.
Kepalanya menghantam sudut beton.
Suara benturannya membuat jantung Arda seolah berhenti.
Lalu semuanya sunyi.
Pria itu tidak bergerak.
Sama sekali tidak bergerak.
Arda terengah-engah.
Batang besi terlepas dari tangannya.
Ia melangkah mendekat.
"Hei..."
Tidak ada jawaban.
"Bangun."
Tetap tidak ada jawaban.
Darah mulai mengalir perlahan dari bawah kepala pria itu.
Dan saat itulah Arda menyadari kenyataannya.
Pria itu mati.
Benar-benar mati.
Bukan pingsan.
Bukan terluka.
Mati.
Tubuh Arda membeku.
Tangannya gemetar.
Napasnya tidak beraturan.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ia baru saja mengambil nyawa seseorang.
Beberapa saat kemudian Darius tiba.
Pria itu memeriksa tubuh korban.
Lalu menatap Arda.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kejutan.
Hanya keheningan.
"Dia akan membunuhmu."
ucap Darius pelan.
Namun kata-kata itu tidak mengubah apa pun.
Karena jauh di dalam hati Arda...
Ia tahu satu hal.
Malam ini adalah malam terakhir masa kecilnya.
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪