Zora Naladhipa seorang siswa kelas menengah atas yang sering mewakili sekolahnya untuk berbagai perlombaan sejarah.
Suatu hari ia diminta oleh gurunya lagi untuk mengikuti sebuah lomba tentang sejarah. Ayahnya memberikannya sebuah buku kuno yang beliau dapatkan dari pasar loak. Zora selalu membawanya kemanapun karena isi di dalamnya membuatnya tertarik untuk terus membacanya.
Suatu hari saat jam sekolah telah usai, Zora memilih pergi ke toilet tak lupa dengan buku yang berada di genggamannya. Ia mendengar suara dua orang sedang berbicara orang tadi tak lain adalah pacarnya dan seorang wanita. Matanya memanas, ia kemudian pergi dari toilet tadi dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Saat sampai di rumah ia lalu merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam buku kuno itu. Tak terasa air matanya menetes mengenai buku tadi lalu ada sebuah cahaya yang menariknya menuju tempat lain. Ia kemudian bangun dengan kepala yang berdenyut.
"Ahh, dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Cerita ini terinspirasi dari serial drama love destiny. Stay tune dan lanjutkan membaca ya:))
ig: @chiccacaaa
tidak update setiap minggu ;))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiccacaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Selir Agni- 15
"Aku mohon Auriga berhentilah menggangguku kecuali jika itu memang benar-benar berkaitan dengan urusan istana. Aku juga ingin hidup bebas sepertimu." ucap Zora kemudian pergi meninggalkan pangeran Auriga yang masih mematung.
•••
Zora benar-benar membuktikan perkataannya. Ia menjadi pribadi yang lebih pendiam dan dingin jika di depan pangeran Auriga tetapi jika pangeran Auriga sudah pergi, ia kembali menjadi dirinya sendiri yang suka bercerita dan ramah kepada orang-orang.
Hari ini Zora tidak sengaja masuk ke ruang pertemuan. Ia melihat di dalamnya masih sangat sepi. Selama disini ia hanya pernah sekali mengunjungi ruangan ini dan ini adalah kali keduanya. Tanpa ia sadari ternyata ada beberapa orang yang kemudian masuk ke dalam ruang pertemuan itu. Zora memilih bersembunyi.
"Jika kita bisa meyakinkan Kanjeng Prabu untuk menyetujui kongsi dagang dengan Dutch Ramon maka kita akan mendapat uang yang sangat banyak" ucap salah seorang dari mereka.
"Apakah kau yakin? Bagaimana jika Dutch Ramon menipu kita?" tanya orang yang lainnya.
"Tidak, percayalah padaku. Aku pernah memaksa seorang penduduk menjual tanahnya kepada Dutch Ramon. Awalnya dia menolak karena ia mengatakan bahwa harga tanah yang ingin dibeli Dutch Ramon itu sangat sedikit tetapi aku terus memaksanya dan akhirnya ia mau. Bahkan Dutch Ramon memberikanku upah tambahan karena bisa memaksa orang itu menjual tanahnya kepada Dutch Ramon" ucap pria tadi.
Zora yang mendengar itu semua menahan amarahnya. Ternyata orang-orang gila harta inilah yang menyebabkan bangsanya bisa dijajah dengan mudah.
Setelah orang-orang tadi keluar dari ruang pertemuan, Zora juga ikut keluar dari tempat persembunyiannya. Di dalam otaknya ia terus memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk mencegah niat jahat pria-pria tadi.
Tak terasa langkah kakinya sampai di sebuah kamar. Ia mendengar suara ribut di dalam sana.
"Kamu seharusnya bisa membuat keponakanmu menjadi istri putra mahkota. Tidak ada gunanya aku mengirim mu kesini cuih" teriak seorang wanita dari dalam sana.
Zora melihat keadaan sekitar, sangat sepi pikirnya. Ia lalu tersadar jika ini adalah tempat dimana selir Agni tinggal. Disini benar-benar sepi, tidak ada pelayan ataupun prajurit yang berjaga.
"Cukup kak! Aku sebenarnya tidak sudi berada disini. Kau terlalu egois bahkan kau menjebakku dan mengorbankanku untuk kejadian ini. Lihatlah aku sekarang! Tidak ada seorang pun yang peduli padaku disini. Aku hidup dalam kesendirian bahkan putriku sendiri tidak pernah berkunjung kemari. Ini semua salahmu!" pekik selir Agni dari dalam sana.
"Kau ini hanya istri dari gundik ayah! Jadi ingat batasanmu dan bagaimanapun buat pangeran Auriga agar ia mau dekat dengan anakku" ucap wanita itu lagi.
Setelah itu suara pintu terdengar terbuka. Zora dengan cepat bersembunyi di balik pilar-pilar yang berada disana. Wanita tadi langsung keluar tanpa membalikkan tubuhnya.
"Siapa dia?" batin Zora saat melihat orang tadi sudah menjauh.
Zora lalu masuk ke kamar selir Agni yang masih sedikit terbuka itu. Dilihatnya selir Agni yang menumpahkan air matanya karena kejadian tadi.
"Selir Agni" panggil Zora dengan lembut.
Selir Agni yang melihat Zora sudah di depannya menjadi kelabakan. Ia buru-buru menghapus air matanya dan tersenyum seperti biasanya.
"Jangan pernah menahan tangismu selir Agni. Bagilah kesedihanmu denganku jika kau tidak punya tempat bercerita" ucap Zora sambil mengusap bahu selir Agni.
Selir Agni kembali menatap Zora dengan pandangan tidak percaya. Dalam pikirnya benarkah ini putri Zora? Orang yang dulunya sangat cuek dengan keadaan sekitar dan hanya fokus kepada cintanya kepada pangeran Auriga.
"Apakah ada yang salah dengan perkataanku?" tanya Zora lagi.
Selir Agni menggeleng, ia kembali tersenyum.
"Saya baik-baik saja" ucap selir Agni dengan suara seraknya.
"Mulutmu bisa berbohong namun matamu tidak bisa berbohong. Aku sudah tau apa yang kau bicarakan dengan kakakmu tadi" ucap Zora tanpa menatap selir Agni.
Deg.
Selir Agni mematung, ia menatap Zora yang melihat ke arah lain.
"Sa-saya tidak ada niatan untuk mendekatkan keponakan saya dengan pangeran Auriga karena saya tidak mungkin bisa melakukannya" ucap selir Agni.
Zora kemudian berbalik, ia menatap selir Agni dengan tajam.
"Mau Auriga menikah dengan kerbau pun aku tidak peduli" ucapnya ketus.
"Aku ingin tau kenapa tidak ada seorang pun pelayan dan prajurit di depan sana?" tanya Zora.
Selir Agni mulai gugup. Ia tidak tau harus menjawab pertanyaan Zora darimana. Zora yang melihat kebingungan selir Agni segera angkat bicara.
"Ceritakan semua tentangmu dari awal. Jika bisa aku akan mengajak putri Kirana untuk bermain kemari lain kali" ucap Zora.
Selir Agni kembali menatap manik mata Zora. Ia bisa melihat tekad yang kuat dari mata Zora. Ia pikir sekarang juga sudah saatnya ia berbagi cerita dengan orang lain. Ia sudah lelah memendam semuanya sendirian.
Selir Agni meminta Zora untuk duduk. Ia menghirup nafasnya sebelum memulai kisah hidupnya.
"Sepuluh tahun yang lalu aku diajak ke pesta kerajaan untuk pertama kalinya oleh kakakku. Aku mengikutinya tanpa merasa curiga sedikitpun karena hari itu adalah pertama kalinya setelah ayahku tiada aku bisa kembali ke pesta kerajaan"
"Kakakku lalu memberikanku minuman dan entah kenapa aku menjadi sangat pusing dan setelah itu aku tidak mengingat apapun. Yang aku ingat adalah teriakan Ratu Anindita yang membangunkanku dari tidurku dan betapa terkejutnya aku saat melihat di sampingku ada Prabu Adyatama yang tertidur tanpa sehelai benang pun. Badanku rasanya remuk sekali pada saat itu dan ternyata kakakku menjebakku dengan Prabu Adyatama"
"Tak lama setelah itu kami terpaksa menikah. Tidak ada cinta di antara kami dan beberapa minggu setelahnya aku dinyatakan mengandung. Kakakku sangat senang tetapi tidak dengan Prabu Adyatama dan Ratu Anindita. Mereka mulai mengirimkan pelayan dan prajurit untuk mengurusku dan setelah anakku lahir ternyata dia adalah seorang putri"
"Aku tahu jika Prabu Adyatama dan Ratu Anindita sangat menginginkan seorang putri dari pernikahan mereka dan setelah putri Kirana lahir mereka lah yang mengurusnya. Aku hanya diperbolehkan bertemu dengan putri Kirana saat aku ingin memberinya asi, selain itu aku tidak boleh bertemu dengannya, hiks" ucap selir Agni sambil menangis.
"Setelah itu semua pelayan dan prajurit ditarik kembali ke halaman depan. Dan dari saat itu aku sendirian disini" imbuhnya.
"Apa?" tanya Zora dengan polosnya. Ia masih tidak menyangka jika Ratu Anindita yang ia kenal lembut dan bersahaja itu tega melakukan semua itu kepada selir Agni.
"Kenapa disini ada orang-orang seperti mereka" ucap Zora tanpa sadar.
"Emm, memang kakakmu itu siapa?" tanya Zora.
Saat akan menjawab pertanyaan Zora, selir Agni mendengar langkah kaki menuju kamarnya. Ia lalu meminta Zora untuk bersembunyi terlebih dahulu.
"Selir ini makananmu" ucap seorang pelayan dengan ketus dan tak lupa ia mengamati keadaan sekitar, memastikan tidak ada orang yang berada di dalam tempat ini kecuali ia dan selir Agni.
Pelayan itu kemudian keluar dari kamar selir Agni begitu saja tanpa memberikan hormat kepadanya. Sedangkan selir Agni hanya diam, ia sudah biasa diperlakukan seperti itu.
"Putri Zora keluarlah" ucap selir Agni.
Zora kemudian keluar dari lemari yang berada di kamar selir Agni. Ia menatap sekeliling yang sudah kosong.
"Putri cepatlah kembali, ini sudah jam makan siang pasti pelayanmu mencarimu" ucap selir Agni.
Zora mengangguk, ia kemudian keluar dari kamar selir Agni menuju kamarnya sendiri dan benar saja ada Ambar yang sudah berada di depan kamarnya sambil mondar-mandir tidak jelas karena Zora belum juga kembali.
"Ambar" panggil Zora yang membuat Ambar menoleh.
"Ndoro putri dari mana saja toh? Ini sudah siang, ayo kita makan" ucap Ambar yang diangguki oleh Zora. Mereka kemudian kembali ke kamar Zora untuk makan siang.
•••
jangan lupa vote komen rate dan like
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"
Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.
Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹
tp ngomong-ngomong,,, ceritanya bagus lho,,, cerita jaman dahulu kala
I love Indonesia😍😍😍😍
I love you thooor 😘😘😘😘