NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 15. Bertengkar di pinggir jalan

Aku ingin tahu kinerja orang-orang hebat, aku tak mau melewatkan kesempatan untuk bisa bertemu dengan mereka semua. Kegiatan ini pun bisa melatih mentalku dan melatih diriku sendiri agar lebih bisa lebih baik dari kinerjaku kemarin.

Aku harus mendapatkan banyak inspirasi, agar aku semakin maju.

“Kamu cerai?” tanya mas Barraq tiba-tiba, ketika aku mengatakan ingin diantarkan ke toko baju. Katanya sih masih ada yang buka, tutup pukul sepuluh malam.

“Nggak,” jawabku dengan memperhatikan sekelilingku. Daerah ini rawan begal tidak ya? Gelap dan banyak ladang.

“Terus?” Ia memperbaiki spion motornya untuk diarahkan ke arahku.

“Ditalak aja. Udah lah nggak usah dibahas, aku nggak sabar pengen majuin cabang sini. Menurut Mas, langkah apa yang harus aku mulai duluan?” Aku sudah membayangkan kesibukanku.

Aku sudah harus menyusun rencana dengan matang, aku harus bisa menggandeng relasi yang tengah viral sekarang. Anggaplah aku mencari pijakan, anggaplah aku sedang pansos.

“DITALAK?!” Motor berhenti tiba-tiba setelah seperti meloncat pelan.

Sepertinya ia lupa menarik koplingnya.

“Kenapa sih sampai kaget gitu?!” Aku menepuk bahunya dan melihat sekelilingku.

Di sebelah kanan kiri jalanan beraspal ini ladang luas, aku takut sekali gelap begini. Dengan manusia jahat, dengan hantu.

Omegat!

“Jalan sih cepet!” Aku memukul bahunya sedikit keras.

“Bisanya kau ditalak ini kek mana?! Memang kau buat kesalahan apa? Kan aku tak ngerusak kau dan rumah tangga kau!” serunya dengan logatnya yang keluar semua.

Saat di Jakarta, logatnya tidak kentara. Bahkan ia dengan pergaulannya menggunakan kata ‘loe-gue’.

“Udahlah! Nggak usah dibahas loh!” Aku paling tidak suka mengorek-ngorek lukaku sendiri.

Karena aslinya aku cengeng, aku gampang menangis dan aku merasa tersakiti. Aku tidak suka dan tidak mau membahas hal-hal yang menyakitiku.

“Ya kenapa? Apa alasannya? Orang tuh privat betul tentang dirinya sendiri,” gerutunya sesaat setelah motor loncat mengagetkan dan jalan perlahan.

“Bukan privat, memang apa pentingnya masalahku untuk khalayak umum? Aku bisa menanggung sakitku sendiri dan masalahku sendiri. Aku tak suka dicampuri apalagi dikomentari tentang masalah yang aku alami. Aku nggak menerima nasihat yang nggak menguntungkan bagi aku sendiri, biar aku yang menyelesaikan dengan caraku sendiri!” Aku mencari pembelaan atas diriku sendiri.

“Kamu itu perempuan loh, Dea! Kamu nggak akan dipandang baik di mata sesama manusia, kalau pemikiran kamu kek gitu. Setidaknya kalau kamu ragu, bimbang, sharing sama keluarga. Terus kamu obrolin keluhan kamu ke pasanganmu. Mas memang punya rasa tertarik sama kamu, tapi bukan berarti Mas ngedukung semua yang ada di otak kamu itu! Jadi yang tadi kamu bahas sedikit sama ayah tuh tentang ini ya? Terus kamu bilang biar masalah ini jadi urusan dia? Itu dalam artian kamu mau lepas tangan??? Hubungan itu kalau rusak ya diperbaiki, jangan diganti orangnya terus! Jangan keras kepala coba kalau dinasehati tuh!!!” serunya tegas dan cukup nyaring, dengan kendaraan yang berjalan pelan.

“Kenapa??? Kepala Mas lembek? Mas nggak bisa ambil keputusan sendiri kah? Apa hidup Mas disetir orang tua?” ketusku kesal.

“Kau kasar, Dea! Kau nyakitin aku!” Motornya loncat mendadak dan mati.

Ia tidak fokus dengan koplingnya, atau memang ia tidak bisa mengendarai kendaraannya sih?

Ia turun dari motornya dan menghadapku yang masih duduk di atas motornya. “Kau pernah ada bilang, kalau kau gagal rumah tangga dua kali, kau ex janda. Terus sekarang kau gagal lagi dan kau tak ada perjuangannya? Harusnya kau berpikir, kalau kaulah badainya! Kaulah yang buat tiga laki-laki itu jadi duda! Kaulah pusaran masalahnya dan kau masalah bagi mereka! Harusnya kau sadar sekarang, perbaiki semuanya, sebelum semuanya terlambat dan kau dicap janda tiga kali!” Jarinya menunjuk ke arah wajahku, dengan matanya yang merah dan berkaca-kaca.

“Aku badainya?” tanyaku lirih dengan memandangnya lekat.

Apa yang ia katakan semuanya benar? Tapi ia tidak tahu permasalahan yang ada di rumah tanggaku. Ia hanya tahu menghakimi, tanpa tahu titik permasalahannya.

“Ya! Kau badainya!” tegasnya kemudian, ia menyeka kasar air matanya.

“Mas nggak tau…” Suaraku menggantung, kalimatku terpotong dengan seruanya kembali.

“Ya, aku tak tau! Kau pun tak tau masalahku, terus seenaknya kau bilang aku tak bisa ambil keputusan sendiri dan aku disetir orang tua?! Pantas kau bilang begitu?! PANTAS KAH?!!” pekiknya membuatku terhenyak dari pikiranku.

Emosinya meletup.

“Maaf,” ucapku lirih dengan tertunduk memandang kakinya.

Aku takut dengan emosinya.

“Baiknya kau intropeksi diri! Jangan kau malah ngelak ‘hah, dia yang selingkuh kok aku yang suruh intropeksi diri?’.” Suaranya dirubah seperti suara perempuan.

Aku memandang wajahnya lurus. “Meskipun kau ada di posisi yang tidak bersalah, harusnya kau jadikan pelajaran semua pengalaman hidup kau. Jangan malah lanjut part tiga! Terus apa kau bilang tadi? Aku bisa menanggung sakit kau sendiri dan masalah kau sendiri? Kau manusia dan kau perempuan. Kau masih punya keluarga dan kau masih punya suami. Setidak peduli apa mereka sampai kau ngomong kek gitu? Jangan seolah-olah kau sebatang kara dan berjuang sendiri! Di pekerjaan aja, kau masih diarahkan loh. Kau perlu dibimbing! Kau harus ingat, KAU PERLU DIBIMBING!!!” Telunjuk tangannya sampai menyentuh dahiku.

“Terus aku dipaksa buat memaklumi karakter orang lain, sementara yang dimaklumi nyaman dengan kebiasaan buruknya, begitu?!” Emosiku terpancing lantaran ia berkata harusnya aku menjadikan semuanya pelajaran hidup.

Kenapa aku harus yang terus belajar? Kenapa aku harus yang selalu mengerti dan memaklumi? Kenapa aku dikatakan demikian ketika sedikit berontak?

“Mas… Nggak semua hal bisa dimaklumi! NGGAK SEMUA PERMASALAHAN, HARUS PIHAK PEREMPUAN YANG MEMAKLUMI, MEMAAFKAN DAN BERDAMAI DENGAN KESALAHANNYA. AKU TIDAK BISA MENTOLERIR BERULANG HAL-HAL YANG TIDAK COCOK DI HATIKU!” teriakku lepas.

TIIINNNNNNNN…

Suara klakson mobil memekakan telingaku. Aku langsung turun dari motor, karena pikirku kendaraan mas Barraq mengganggu jalan dan harus dipindahkan ke pinggir.

“Duh…” gerutu mas Barraq yang bisa kudengar.

Kaca mobil di bagian kemudi itu turun perlahan. Aku kenal dengan orang tersebut. “MASUK! MASUK KALIAN BERDUA!” bentaknya sambil menunjuk-nunjuk diriku dan mas Barraq.

Mas Barraq melangkah lebih dulu meninggalkanku. Aku cukup bingung di sini, karena melihat motor mas Barraq akan ditinggalkan di sini.

“Kau pun masuk!” seru pengemudi mobil itu dengan kilatan emosinya.

Tertekan aku di sini, semua orang emosian sekali.

Ketika aku melangkah ke arah pintu mobil, ada seorang laki-laki yang keluar dari dalam mobil. Kelihatannya sih mereka ini saudara semua, karena perawakannya mirip-mirip. Ya mungkin ada sedikit perbedaan warna kulit saja. Ada yang putih, ada yang putih kekuningan, ada yang kuning langsat, ada yang sawo matang juga.

1
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
Christine
pasti berasa banget ya de uhhhh Lala...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!