"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Proyek Aurora
Hujan yang mengguyur Valerika sepanjang malam telah berganti menjadi langit kelabu yang menggantung rendah di pagi hari.
Di atas lantai tertinggi penthouse The Obsidian, suasana terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Namun kali ini, keheningan itu bukan lagi lahir dari kecanggungan dua orang asing yang terikat dalam pernikahan kontrak demi kepentingan bisnis.
Melainkan dari sebuah pertanyaan besar yang terus bergaung tanpa jawaban.
Apa itu Aurora?
Alea berdiri mematung di dekat meja makan marmer, menatap selembar catatan tua milik ayahnya yang tergeletak di sana.
Tulisan tangan George Corisand masih terlihat tegas, meskipun tinta hitamnya telah memudar dan kertasnya mulai rapuh dimakan usia.
"Pertemuan Aurora dipindahkan ke tanggal 17. William setuju."
Hanya satu kalimat pendek. Namun, untaian kata itu telah mengubah arah angin dari seluruh pencarian mereka.
Untuk pertama kalinya sejak pusaran misteri ini menyeret hidup mereka, keduanya memegang sesuatu yang nyata.
Bukan lagi sekadar spekulasi atau firasat buruk, melainkan sebuah nama, sebuah jejak, dan sebuah pintu menuju masa lalu yang selama ini dikunci rapat-rapat.
Di sudut ruangan, Adrian menghela napas berat lalu meletakkan laptopnya di atas meja.
Sejak fajar menyingsing, jemarinya tidak berhenti menari di atas papan ketik, mencoba mengakses kembali folder enkripsi rahasia yang tempo hari ia temukan di server terdalam milik keluarga Hutama.
Namun, hasilnya tetap nihil. Layar monitornya hanya menampilkan baris kalimat dingin yang sama secara berulang: Access Denied.
"Menurutmu, siapa yang membuat sistem penguncian sekuat ini?" tanya Alea tanpa mengalihkan pandangan dari catatan ayahnya.
"Bahkan dengan hak akses administrator tertinggi milikmu, kau tidak bisa menembusnya?"
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening.
"Aku tidak tahu."
"Mustahil, Adrian. Kau yang merancang sebagian besar sistem keamanan siber holding kita."
"Aku serius, Alea," ucap Adrian dengan nada suara yang dalam dan frustrasi.
Pria itu mengusap dagunya, menatap barisan kode yang gagal ia pecahkan.
"Arsitektur sistem ini sangat tua. Logika pemrogramannya tidak menggunakan basis modern yang kita pakai sekarang. Setidaknya, ini dibuat lima belas sampai dua puluh tahun yang lalu."
Alea terdiam. Dadanya mendadak terasa sedikit sesak.
Dua puluh tahun.
Angka itu kembali muncul ke permukaan, seperti hantu yang terus membayangi mereka.
Angka itu sama dengan perkiraan usia foto masa kecil mereka yang aneh di panel keamanan.
Sama dengan waktu yang tercatat dalam dokumen samar berdirinya Proyek Aurora.
Dan hampir sama dengan masa di mana hubungan hangat antara keluarga Corisand dan keluarga Hutama mendadak mendingin secara drastis sebelum akhirnya berubah menjadi rivalitas bisnis yang kaku.
Semakin jauh mereka melangkah, semakin jelas bahwa semua jalan yang mereka lalui tidak mengarah ke masa depan, melainkan menuntun mereka kembali ke masa lalu.
Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi.
Alih-alih pergi ke kantor untuk memimpin rapat direksi seperti biasanya, Adrian dan Alea mengambil keputusan yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya, mereka akan menyelidiki hal ini bersama, sebagai satu tim.
Tujuan pertama mereka adalah kediaman lama keluarga Corisand.
Sebuah rumah besar bergaya klasik Eropa yang terletak di pinggiran kota, yang kini sebagian besar areanya sudah ditutup dan tidak lagi digunakan.
Setelah George Corisand meninggal dunia, Eleanor, ibu Alea memilih untuk pindah dan tinggal di kediaman utama yang jauh lebih modern di pusat kota.
Rumah lama yang penuh sejarah itu kini hanya dijaga oleh beberapa petugas keamanan di gerbang depan dan seorang pengurus rumah tangga lansia bernama Martha.
Mobil sedan hitam milik Adrian bergerak membelah sisa-sisa kabut pagi, memasuki gerbang besi hitam yang menjulang tinggi.
Ban mobil bergesekan pelan dengan jalan setapak berbatu yang membelah taman luas yang tampak kurang terawat.
Semak-semak mawar yang dahulu indah kini tumbuh liar.
Bangunan tua di hadapan mereka masih berdiri megah dengan pilar-pilar betonnya yang kokoh.
Namun, ada aura kesedihan dan kesunyian yang sulit dijelaskan mengambang di udara.
Seolah-olah rumah tersebut sengaja mengurung diri bersama terlalu banyak kenangan yang enggan dilepaskan ke dunia luar.
"Kau sering ke sini setelah pernikahan kita?" tanya Adrian seraya mematikan mesin mobil.
Alea menggeleng pelan, matanya menatap nanar ke arah fasad bangunan.
"Tidak setelah Ayah meninggal. Terlalu banyak hal yang menyakitkan di sini."
Mereka turun dari mobil. Udara pagi Valerika pasca-hujan terasa menusuk kulit.
Di beranda depan, Martha sudah menunggu. Wanita berusia hampir tujuh puluh tahun itu mengenakan gaun rajut hangat.
Begitu matanya yang mulai merabun mengenali sosok yang datang, senyum tulus langsung merekah di wajahnya yang berkerut.
"Nona Alea..." suara Martha bergetar emosional.
Alea segera melangkah maju dan membalas pelukan hangat wanita tua yang telah ikut membesarkannya itu. Sudah bertahun-tahun sejak pertemuan terakhir mereka.
Setelah bertukar sapa singkat demi menenangkan kerinduan Martha, Alea langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
"Martha, aku perlu melihat ruang kerja Ayah di lantai atas."
Martha tampak terkejut.
Guratan ekspresinya berubah sedikit ragu, seolah ada aturan tak tertulis yang sedang dilanggar.
Namun, melihat kesungguhan di mata Alea dan kehadiran Adrian di sampingnya, wanita tua itu akhirnya mengangguk.
"Tentu, Nona. Mari, saya antar."
Ruang kerja George Corisand berada di ujung koridor lantai dua.
Ketika pintu kayu ek yang berat itu dibuka, aroma khas kertas tua, kayu lembap, dan sisa-sisa wangi tembakau pipa langsung menyergap indra penciuman.
Ruangan itu sengaja dipertahankan persis seperti hari terakhir pemiliknya menggunakannya.
Rak buku kayu yang menjulang hingga ke langit-langit, meja kerja besar dari kayu mahoni, lemari arsip logam di sudut ruangan, serta sebuah jam antik dinding yang telah berhenti berdetak sejak bertahun-tahun lalu.
Alea melangkah masuk dengan hati-hati, seolah takut langkah kakinya akan merusak keheningan yang sakral.
Untuk sesaat, dadanya terasa begitu sesak oleh gelombang nostalgia.
Di bawah pendar cahaya pagi yang temaram, ia bersumpah seakan bisa melihat bayangan ayahnya sedang duduk di balik meja besar itu tersenyum hangat, membaca laporan tebal, atau sedang menggelengkan kepala sambil menegurnya karena pulang terlalu malam saat remaja.
Adrian tidak bersuara sedikit pun.
Pria itu memilih berdiri tenang di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang, memberikan Alea ruang dan waktu untuk berdamai dengan emosinya sendiri.
Setelah beberapa menit menenangkan diri, Alea menarik napas panjang dan berbalik menatap Adrian. "Kita mulai."
Mereka menghabiskan waktu hampir dua jam untuk membongkar isi ruangan tersebut.
Laci demi laci ditarik, rak demi rak diperiksa, dan map demi map arsip bisnis lama dibuka satu per satu.
Namun, hasilnya nihil. Tidak ada satu pun dokumen, nota keuangan, atau surat kontrak yang menyebutkan nama "Aurora".
Seolah-olah nama itu sengaja dihapus dengan penghapus raksasa dari seluruh sejarah hidup George Corisand.
Sampai akhirnya, gerakan Adrian terhenti di depan salah satu rak buku besar.
"Alea, ke sini."
Alea segera menghampiri.
Adrian menunjuk ke sebuah celah sempit yang tersembunyi di belakang deretan buku ensiklopedia tebal yang berdebu.
Di sana, tersembunyi sebuah buku dengan ukuran yang tidak biasa. Adrian menariknya keluar dengan hati-hati.
Itu bukan buku catatan akuntansi, bukan pula jurnal pribadi.
Melainkan sebuah album foto bersampul kulit usang yang telah mengelupas di beberapa bagian.
Debu tebal menempel di seluruh permukaannya, menandakan benda ini telah sengaja disembunyikan agar tidak pernah ditemukan oleh siapa pun yang membersihkan ruangan ini.
Perlahan, Alea membuka halaman pertama. Di sana terpampang foto formal keluarga Corisand saat ia masih sangat kecil.
Halaman kedua berisi dokumentasi acara-acara gala bisnis masa lalu yang megah.
Namun, begitu Alea membalik ke halaman ketiga, gerakannya langsung mengunci.
Tubuhnya menegang, dan napasnya tertahan di tenggorokan.
Adrian yang berdiri di belakangnya ikut terdiam, matanya menatap tajam ke arah lembar foto tersebut.
Di sana terdapat sebuah foto yang sangat mereka kenali.
Foto yang sama dengan yang muncul di panel enkripsi penthouse mereka malam itu.
George Corisand dan William Hutama berdiri berdampingan dengan senyum formal yang menyembunyikan banyak hal. Di belakang mereka, terdapat dua anak kecil.
Adrian dan Alea.
Namun, cetakan foto fisik di album ini jauh lebih jelas dan memiliki resolusi yang lebih tinggi daripada versi digital yang terenkripsi.
Dan untuk pertama kalinya, mereka bisa melihat detail-detail kecil yang sebelumnya luput dari perhatian.
Anak laki-laki kecil di foto itu Adrian masa lalu sedang menggenggam erat sesuatu di tangan kanannya.
Sebuah gelang anyaman sederhana berwarna biru laut yang tampak kontras dengan pakaian mahalnya. Sementara itu, anak gadis kecil di sampingnya, Alea sedang menangis sesenggukan sambil memegangi lututnya yang tampak sedikit memar.
"Aku..." Alea berbisik pelan, tangannya spontan terangkat menyentuh pelipisnya. Kepalanya mendadak didera rasa nyeri yang tajam dan berdenyut.
Potongan-potongan ingatan yang kabur, samar, dan terfragmentasi mendadak melesat masuk ke dalam benaknya seperti kilatan petir di malam hari.
Hamparan rumput hijau yang luas... sebuah ayunan taman yang bergoyang pelan... suara tangisan anak kecil yang ketakutan... seorang anak laki-laki yang mengulurkan tangan... dan seulas warna biru dari sebuah gelang anyaman.
"Alea? Kau tidak apa-apa?" Suara Adrian terdengar samar, seolah teredam oleh dinding air yang tebal.
"Aku... aku pernah mengalami momen ini," bisik Alea, matanya bergetar menatap foto itu.
"Aku mengingatnya, Adrian."
"Kapan? Di mana?" tanya Adrian bertubi-tubi, matanya memancarkan kombinasi antara rasa tidak percaya dan kecemasan.
"Aku tidak tahu pastinya... kepalaku sakit," Alea memejamkan mata sejenak, mencoba menahan pening yang mendera.
Tangannya yang gemetar perlahan menyentuh permukaan foto, tepat di atas figur anak laki-laki kecil yang memegang gelang biru.
"Tapi aku ingat taman itu. Aku ingat rasa takutnya, dan aku ingat ada seseorang yang menolongku."
Adrian menatap Alea dengan intensitas yang mendalam.
Untuk pertama kalinya sejak pusaran misteri ini dimulai, salah satu dari mereka mulai berhasil meruntuhkan dinding amnesia masa kecil yang aneh ini.
Namun, kejutan sesungguhnya dari masa lalu ternyata belum berakhir di sana.
Ketika Adrian berinisiatif mengangkat album foto itu untuk membawanya ke bawah cahaya yang lebih terang, selembar benda tipis meluncur jatuh dari sela-sela halaman yang renggang.
Benda itu mendarat pelan di atas meja kayu.
Sebuah amplop kecil berwarna cokelat tua.
Keduanya saling berpandangan dalam keheningan yang mencekam.
Jantung mereka berdegup dengan ritme yang sama, cepat dan penuh antisipasi.
Perlahan, Adrian mengulurkan tangan dan mengambil amplop tersebut.
Amplop itu bersih dari tulisan.
Tidak ada nama pengirim, tidak ada nama penerima, dan tidak memiliki alamat tujuan ataupun cap pos.
Hanya ada satu penanda di bagian penutupnya, sebuah simbol kecil berbentuk matahari dengan garis-garis sinar yang tegas, digambar secara manual menggunakan tinta emas yang kini sedikit mengelupas.
Sebuah simbol yang asing bagi mereka berdua.
Dengan gerakan penuh kehati-hatian agar tidak merobeknya, Adrian membuka segel amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat secarik kertas linen yang sudah menguning dan berbau apak.
Hanya ada satu kalimat tunggal yang tertulis di sana.
Tulisan tangan George Corisand. Alea langsung mengenalinya tanpa keraguan sedikit pun.
"Jika kalian menemukan ini, berarti Aurora telah bangkit kembali."
Suhu di dalam ruangan tua itu mendadak terasa turun drastis hingga ke titik beku.
Aura dingin yang mencekam merayap di tengkuk mereka.
Alea membaca kalimat pendek itu berulang-ulang, mencoba mencari arti implisit di balik pilihan kata "bangkit kembali".
Apakah Aurora adalah sebuah organisasi? Sebuah ancaman? Atau sebuah rahasia yang seharusnya tetap terkubur bersama kematian ayahnya?
Sementara Alea terpaku, Adrian dengan sigap membalik kertas linen tersebut.
Di bagian belakang kertas yang kosong, terdapat sebuah sketsa gambar sederhana yang dibuat dengan garis-garis tegas.
Sebuah peta. Atau lebih tepatnya, sebuah petunjuk lokasi geografis yang merujuk pada area di luar peta resmi kota.
Sebuah lingkaran tinta merah tebal menandai satu titik koordinat tertentu di kawasan industri terbengkalai di pinggiran barat Valerika.
Tepat di bawah lingkaran merah tersebut, terdapat satu frasa yang ditulis dengan huruf kapital yang tebal:
ARSIP 17
Jantung Alea berdegup kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. Begitu pula dengan Adrian, yang rahangnya tampak mengeras menahan ketegangan.
Sebab untuk pertama kalinya sejak penyelidikan ini dimulai, mereka tidak lagi sekadar mengejar bayangan atau nama yang abstrak.
Mereka kini memiliki sebuah koordinat fisik yang nyata.
Seseorang di masa lalu George Corisand, atau mungkin seseorang yang bekerja bersamanya telah sengaja meninggalkan rekam jejak yang disembunyikan dengan sangat rapi dari radar dunia.
Dan jejak itu kini menuntut untuk didatangi.
"Kita harus ke sana," ucap Adrian, suaranya terdengar mutlak dan tanpa keraguan.
Ia melipat kertas tersebut dan memasukkannya dengan aman ke dalam saku mantel bagian dalam.
Alea mengangguk setuju, mengesampingkan rasa takut dan nyeri di kepalanya.
"Ya. Kita harus menyelesaikan ini."
Namun, tanpa pernah mereka sadari, dari balik kaca jendela besar yang berdebu di lantai dua rumah tua itu, sebuah pasang mata sedang mengawasi setiap gerak-gerik mereka dengan saksama.
Di seberang jalan setapak, tersembunyi di balik rimbunnya pohon ek tua yang besar di luar pagar pembatas kediaman Corisand, seorang pria berpakaian serba hitam berdiri tak bergerak.
Di tangannya, sebuah kamera berspesifikasi militer dengan lensa telefoto panjang terarah tepat ke arah jendela ruang kerja.
Lewat jendela bidik kamera, ia telah merekam setiap momen, penemuan album foto, amplop cokelat, hingga saat Adrian memasukkan kertas peta ke dalam sakunya.
Ketika Adrian dan Alea berbalik untuk meninggalkan ruangan, pria misterius itu menurunkan kameranya.
Sebuah senyuman tipis yang dingin dan penuh arti tersungging di sudut bibirnya.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel satelit yang terenkripsi khusus, lalu dengan cepat mengetik satu pesan singkat yang ditujukan kepada sebuah nomor tanpa nama.
"Mereka menemukan Arsip 17."
Pria itu berdiri diam di bawah rintik gerimis yang kembali turun membasahi Valerika, menunggu dengan sabar.
Hanya butuh waktu beberapa detik hingga sebuah balasan masuk ke layar ponselnya.
Sebuah jawaban singkat yang mengonfirmasi bahwa segala sesuatunya berjalan sesuai dengan rencana besar yang telah disusun sejak lama,
"Biarkan mereka masuk. Permainan baru saja dimulai."