Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Momen Depan Pintu
Jika biasanya Jevi akan dengan semangat setelah selesai kelas dan tinggal pulang ke rumah Puspa. Untuk saat ini ia ragu, ada banyak pertimbangan untuk pulang ke rumah tersebut.
Bertemu dengan Kean sangat Jevi hindari, jika di kampus yang seluas itu saja Jevi bisa bertemu, apa lagi di rumah yang tidak sebanding dengan fakultasnya atau fakultas Kean yang sebenarnya cukup jauh.
Jevi mendengus, ia mulai merapalkan doa, agar, untuk kali ini saja ia ingin sampai di rumah tanpa bertemu dengan Kean.
Jevi merasa kesusahan untuk mengendalikan diri, setiap kali bertemu dengan Kean, nyatanya hatinya masih berdebar, seakan pengkhianatan Kean dulu tidak berlaku untuk hatinya yang murah ini.
Sial-sial, murahan banget perasaan gue, udah disakiti masih aja gugup gini
"Udah sampai mba."
Suara sopir taksi menyadarkan lamunan Jevi, gadis itu setelah berhasil membayar langsung keluar dengan langkah ragu.
Saat masuk ke dalam rumah, biasanya Jevi akan merasa nyaman dan tenang, tetapi tidak berlaku lagi untuk sekarang, gadis itu tampak gugup dan gelisah.
Puspa yang sedang menonton televisi dengan rajutan di tangannya menoleh, sorot matanya sedikit tajam. "Eh, kok udah pulang, Je? Nggak nunggu mas Arlo, dulu?"
Jeviza menoleh, lalu menggeleng pelan. "Gue udah selesai kelas dari tadi kak, naik taksi aja."
Setelah mengatakan itu Jevi langsung menuju ke atasnya. Jevi pikir dengan masuk ke dalam kamarnya akan lebih aman dan terhindar dari pertemuan dengan Keandra. Tetapi Jevi lupa, jika kamar keduanya bahkan berhadapan. Seakan tidak ada celah untuk Jevi menghindar.
Sampai di atas pun perasaan Jevi semakin berdegup kencang, sangat ugal-ugalan hanya melihat pintu kamar yang tertutup itu, padahal tidak ada Keandra tetapi pikiran dan tubuh Jevi kembali bereaksi secara berlebihan.
Jevi membuka pintu kamarnya dan membantingnya cukup keras, lalu menguncinya, hal yang sebenarnya sangat jarang Jevi lakukan, tetapi akhir-akhir ini seperti menjadi kewajiban bagi Jeviza, seakan sosok Kean bisa muncul begitu saja di depan pintunya.
"Gue mau telpon Bela, gue stres banget kalau kaya gini."
Jevi mulai menekan kontak salah satu sahabatnya. Meski keduanya terpisah jarak berkilo-kilo meter, tetapi hubungan keduanya masih terbilang akrab.
Sementara di tempat lain. Kean baru saja keluar dari gedung fakultasnya. Ia berjalan santai untuk menuju ke parkiran.
Gio yang berada di belakangnya langsung berlari untuk menghampiri. "Kean!"
Kean menoleh, menaikan kedua alisnya, tanpa menjawab panggilan Gio tadi.
Dengan napas yang masih terengah, Gio akhirnya sampai di depan Keandra. "Gue, ikut ke apart ya? Males pulang gue, bokap lagi di rumah."
Sempat terdiam beberapa saat, Kean menatap Gio seakan menimang. Lalu memberikan kunci apartemennya.
"Ke sana aja, gue pulang ke rumah mas Arlo."
Gio tampak terkejut. Lalu menatap kunci apartemen Kean yang kini sudah berada di tangannya. "Sejak kapan?"
"Kemarin, gue duluan ya?" pamit Kean meninggalkan Gio begitu saja, dan menyerahkan kunci apartemen Kean kepada Gio begitu saja.
Meski menggunakan password, tetap saja apartemen Kean memiliki kunci untuk cadangan. Dan semua unit yang berada di sana memiliki kunci apartemen. Entah menggunakan password atau tidak.
"Heh, gue ke sana sendiri ini?" teriak Gio tidak habis pikir dengan jalan pikir Kean.
"Ajak Janu, sama Bian," balas Kean tanpa menoleh.
Gio menghembuskan napas panjang, menggeleng pelan dan tidak berniat untuk protes lagi.
"Oke deh, thank you, Ke," gumamnya memainkan kunci apartemen itu.
Sementara Kean langsung melajukan motornya menuju ke rumah Arlo. Selama tinggal di rumah Arlo, Kean memang lebih sering menggunakan motor besarnya yang sudah menemaninya beberapa tahun ini. Sementara mobilnya yang pernah dilihat oleh Tevi dibiarkan terparkir di basement.
Sampai di rumah Arlo Kean sempat menghela napas dalam. Ia tidak melihat keberadaan mobil Arlo di sana, itu berati Jeviza juga belum pulang.
"Ck, buru-buru banget gue," gumamnya geli sendiri dengan dirinya yang tiba-tiba semangat untuk pulang ke rumah kakak sepupunya.
Berbeda dengan Jevi yang malah tampak lesu dan tidak bersemangat sejak kedatangan Kean.
"Mas Ar, belum pulang, kak?" tanya Kean yang masuk melalui pintu sebelah.
Puspa yang sedang masak menoleh. Lalu menggeleng pelan. "Belum, Ke, bentar lagi paling."
Kean mengangguk, tetapi tubuhnya masih berada di sana, tidak langsung pergi, ia ragu untuk bertanya tentang Jevi pada Puspa.
Melihat keanehan pada diri Kean membuat Puspa menatap cowok tinggi itu dengan bingung.
"Kenapa? Lagi, ada masalah?" tanya Puspa dengan tangan sibuk mengiris wortel.
Kean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu menggeleng pelan. "Gue ke atas dulu," pamitnya berlalu.
"Eh, Ke, tolong bilang ke Jevi, kalau udah selesai suruh ke bawah bentar ya?"
Seketika langkah Kean terhenti, hanya dengan mendengar nama gadis itu disebutkan. Ternyata Jeviza sudah pulang lebih dulu dan berada di kamarnya sekarang.
"Oke," singkat Kean kembali melangkah.
Langkah Kean sangat tenang, tidak buru-buru dan terlihat seperti biasanya, seorang Keandra yang datar. Tubuh tegapnya berhenti di depan kamar Jeviza. Menatap pintu dengan cat putih di depannya, lalu tangannya bergerak untuk mengetuknya.
Suara samar dari dalam terdengar oleh Kean. Dan ia sadar sebentar lagi gadis itu akan muncul di hadapannya.
Klik
Suara kunci yang terbuka bersamaan dengan pintu yang mulai terbuka secara perlahan. Wajah itu, wajah cantik Jeviza kembali bisa Kean lihat dengan jarak sangat dekat, tetapi untuk saat ini, wajah cantik itu terlihat sangat tegang di depannya.
Untuk beberapa saat keduanya sama-sama saling menatap satu sama lain tanpa sepatah kata. Seakan waktu melambat begitu saja ditengah kecanggungan mereka.
Tidak, Kean tidak akan membiarkan momen ini hilang begitu saja, ia akan tetap seperti itu selama bisa menahan Jevi agar lebih lama untuk ditatap matanya.
Dengan keberanian yang dia kumpulkan, akhirnya suara Jevi terdengar. "A-ada, apa?"
Suara itu terdengar lembut, sangat berbeda sekali jika sedang mengobrol dengan Puspa.
Tidak langsung menjawab, Kean masih menatap lurus pada Jeviza. Seakan jika ia memberitahu perintah Puspa tadi, momen ini akan cepat berakhir.
"Kak, Kean, ada apa?"
Suara itu kembali terdengar, dan apa tadi? Jevi menyebutkan namanya setelah 2 tahun Kean tidak mendengarnya. Rahang Kean mengeras, ia ingin sekali menarik gadis itu masuk ke dalam dekapannya.
Mau tidak mau, Kean harus menjawabnya, ia tidak bisa mempertahankan agar interaksi keduanya lebih lama lagi.
"Di suruh kak Puspa, ke bawah," ujar Kean tenang, lalu berbalik dan pergi ke kamarnya.
Jeviza menelan ludahnya kasar, bukannya langsung ke bawah, ia malah menutup pintu kamarnya. Tangannya mengipas wajahnya yang terasa panas.
"Mampus, kenapa tatapan mata dia kaya yang marah gitu sih ke gue?"
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!