NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: tamat
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Tangan Aska memeluk tubuhnya, bibir itu masih bertaut, pelan dan tidak menuntut. Tangan yang semula di pinggang bergeser sedikit ke bawah, dan mengangkat kaki Celsi ke atas kakinya.

Tangan Celsi perlahan ikut merangkul bahu lelaki itu. ciuman keduanya semakin dalam, namun tidak menuntut. Sampai napas keduanya habis, dan dengan sendirinya memberi jarak. Tidak jauh, hanya beberapa senti saja. Cukup untuk Celsi melihat senyum di wajah Aska yang melebar.

Celsi tersentak saat menyadari apa yang baru saja terjadi. Ia segera turun dari atas kaki Aska.

Hujan masih turun deras di luar saung. Suara air yang menghantam tanah seolah menutupi kegugupan yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

Dia perlahan melepaskan tangannya dari baju Aska. Ia tau, ini salah dan terlampau batas.

"Aku... aku mau pulang."

Aska menatapnya. Ada banyak hal yang ingin dia katakan, tapi dia melihat jelas perubahan ekspresi Celsi. Wanita itu sedang berusaha melawan perasaannya sendiri.

"Celsi..."

"Aku mau pulang, Ko."

Nada suaranya tidak tinggi. Justru terlalu pelan.

Seolah dia sedang meminta dirinya sendiri untuk pergi sebelum hatinya semakin sulit dikendalikan.

Aska menghela napas.

Dia ingin menahan. Ingin meminta Celsi tetap duduk dan membicarakan semuanya.

Tapi dia tahu, memaksa Celsi bukan cara yang benar.

"Kalau kamu memang mau pulang, aku antar."

Celsi menatapnya sebentar.

Tidak ada kemarahan di wajah Aska.

Tidak ada kecewa yang ditunjukkan.

Itu justru membuat hati Celsi semakin tidak nyaman.

Mereka berjalan menuju mobil tanpa banyak bicara.

Hujan belum berhenti. Aska membukakan pintu untuk Celsi seperti biasa, lalu masuk ke sisi pengemudi.

Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara.

Biasanya Celsi akan bercerita tentang gerainya, tentang pelanggan yang lucu, atau tentang hal kecil yang terjadi hari itu.

Namun malam ini berbeda.

Celsi hanya menatap keluar jendela.

Pikirannya penuh.

Tentang penolakannya.

Tentang rasa takutnya.

Tentang Aska yang selalu datang tanpa menyerah.

Dan tentang dirinya yang baru saja membiarkan batas yang dia bangun selama ini runtuh.

Saat mobil berhenti di depan kontrakan, hujan sudah mulai reda.

Celsi langsung membuka sabuk pengaman.

"Terima kasih sudah antar aku."

Tangannya hendak membuka pintu, tapi tiba-tiba Aska menahan tangannya.

Gerakannya pelan.

Tidak memaksa.

"Celsi."

Celsi diam.

"Jangan pergi dulu."

Celsi menunduk.

"Aku harus masuk, Ko."

"Aku tahu."

Suara Aska terdengar berat.

"Aku cuma mau bicara."

Celsi menarik napas.

Dia tidak ingin melihat mata Aska. Karena dia tahu, sekali dia melihat tatapan pria itu, pertahanannya akan semakin lemah.

"Koh Aska..."

"Yang terjadi malam ini bukan sesuatu yang bisa aku anggap tidak pernah terjadi."

Celsi terdiam.

"Aku tahu kamu takut. Aku tahu kamu punya luka yang belum selesai. Tapi aku juga mau kamu tahu satu hal."

Aska menatapnya.

"Aku nggak akan lari dari tanggung jawab."

Jantung Celsi berdegup kencang.

Kalimat itu kembali terdengar seperti malam ini.

Tangung jawab.

Tapi bagi Celsi, itu bukan sesuatu yang dia inginkan.

"Ko..."

Dia menelan ludah.

"Tolong jangan seperti ini."

Aska mengernyit.

"Maksud kamu?"

"Itu cuma sebuah ciuman."

Ekspresi Aska berubah.

"Cuma?"

Celsi mengangguk cepat.

"Iya. Cuma sebuah kesalahan karena suasana. Karena hujan. Karena kita terlalu terbawa perasaan."

"Kamu benar-benar percaya itu?"

Pertanyaan Aska membuat Celsi terdiam.

"Aku..."

"Celsi, aku nggak mau menjadikan kamu sesuatu yang harus aku perbaiki. Aku juga nggak datang karena kasihan."

Suara Aska lembut.

"Aku datang karena aku memang memilih kamu."

Celsi memejamkan mata.

Kepalanya terasa berat.

Terlalu banyak hal yang dia pikirkan.

"Aku pusing, Ko."

Aska langsung diam.

Melihat wajah Celsi yang terlihat lelah, dia akhirnya mengalah.

"Oke."

Celsi menatapnya.

"Aku nggak akan paksa kamu bicara malam ini."

Aska melepaskan tangannya.

"Tapi soal tanggung jawab itu, aku tetap pegang."

Celsi tidak menjawab.

Dia hanya membuka pintu mobil.

"Terserah, Ko."

Lalu dia masuk ke rumah tanpa menoleh lagi.

Aska hanya duduk di dalam mobil, melihat pintu yang perlahan tertutup.

Ada rasa sedih.

Tapi juga ada keyakinan.

Dia tahu Celsi bukan tidak punya perasaan.

Celsi hanya terlalu takut untuk menerima sesuatu yang baik.

Hari-hari setelah malam itu berjalan aneh.

Celsi mulai menjaga jarak.

Dia tetap sopan.

Tetap tersenyum jika bertemu Aska.

Tapi semuanya terasa berbeda.

Dia tidak lagi membiarkan Aska terlalu lama berada di dekatnya.

Jika Aska datang membantu, Celsi selalu mencari alasan agar pria itu segera pulang.

Sampai akhirnya Celsi memutuskan pergi ke rumah orang tuanya.

Rumah yang berjarak sekitar satu setengah jam dari tempat tinggalnya.

Dia hanya ingin menenangkan pikiran.

Sesampainya di sana, suasana rumah langsung membuat hatinya sedikit lebih ringan.

"Celsi!"

Suara Bu Dewi terdengar dari dapur.

Celsi tersenyum.

"Ibu."

Wanita itu langsung memeluk anaknya.

"Kamu kurusan nggak sih? Makan kamu gimana?"

Celsi tertawa kecil.

"Ibu, aku baik-baik saja."

Dari ruang tamu, Pak Rahman muncul sambil membawa koran.

"Anak ayah pulang juga."

Celsi tersenyum.

"Iya Yah."

Malam itu mereka makan bersama.

Tidak ada pembicaraan tentang Aska.

Tidak ada yang tahu.

Celsi juga tidak berniat bercerita.

Dia hanya ingin menikmati waktu bersama keluarganya.

Ayahnya bertanya tentang gerai geprek miliknya.

"Masih ramai?"

"Masih, Yah. Sekarang pelanggan tambah banyak. Kemarin ada yang pesan sampai puluhan kotak."

Pak Rahman tersenyum bangga.

"Wah, anak ayah sudah jadi pengusaha sekarang."

"Ih, ayah lebay."

Bu Dewi ikut tertawa.

"Biarkan ayahmu bangga. Dulu kamu masih kecil suka bantu ibu di dapur."

Celsi tersenyum melihat mereka.

Hangat.

Nyaman.

Tempat ini selalu membuatnya merasa pulang.

Namun tetap saja, ada satu nama yang diam-diam muncul dalam pikirannya.

Aska.

Pagi itu Celsi sedang membuat camilan.

Tangannya sibuk membentuk bola-bola keju kecil di dapur.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari ruang tamu.

"Pak Rahman, maaf mengganggu."

Celsi berhenti bergerak.

Suara itu.

Dia merasa mengenalnya.

Namun dia mencoba mengabaikan.

"Mencari siapa ya?"

Terdengar suara ayahnya bertanya.

"Saya mencari Celsi."

Jantung Celsi langsung berdegup.

Dia perlahan keluar dari dapur.

"Ayah, siapa?"

Pak Rahman menoleh.

"Celsi, ada tamu."

Langkah Celsi berhenti.

Karena orang yang berdiri di ruang tamu itu bukan orang asing.

Aska.

Pria itu berdiri dengan pakaian rapi, membawa sesuatu di tangannya.

Tatapan mereka bertemu.

Dan seketika, Celsi teringat kalimat malam itu.

"Aku nggak akan lari dari tanggung jawab."

Wajah Celsi langsung berubah panik.

"Ko Aska?"

Aska tersenyum kecil.

"Iya, Cel."

Pak Rahman melihat mereka bergantian.

"Kalian saling kenal?"

Celsi membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.

Aska justru menjawab tenang.

"Iya, Pak."

Celsi semakin gelisah.

Karena tiba-tiba dia merasa semuanya akan berubah.

Dan dia belum siap.

Belum siap jika Aska benar-benar menepati ucapannya.

1
sunaryati jarum
Hubungan diawali kurang baik akan berakhir kurang baik juga, sungguh sangat adil
Lyeend
menantu? bukankah aska husband nya celsi,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
sunaryati jarum
Sifat iri kok piara Bu Weni,buang yang jauh toh cari Syukur , hidupmu akan nyaman
Susilawati Arum
kan bukannya Aska pernah bertemu sebelumnya dengan Rangga dan Vena..kok Aska nggak tau kalau itu Rangga
sunaryati jarum
Nah kan kecebong Aska sudah ada yang tumbuh di rahim Celsy,dia nggak ngalami tanda- tanda kehamilan
Dilla Fadilla
lanjut thor yg bnyk 💪
sunaryati jarum
Nah ketahuan jika kau memalsukan hasil tes kesuburan Rangga dan Celsi.
Ambo Nai
hamil kembar
sunaryati jarum
Semoga Chelsi hamil
sunaryati jarum
Nah benar perkiraan emak, yang mandul itu Rangga.Anak dulu yang dituduhkan anaknya, ternyata jebakan
sunaryati jarum
Ayo semangat buat adonan bayi Koh Aska,benih anda semoga tok cer langsung tumbuh Walau difonis mandul siapa tahu ada kesalahan.Dan kandungan Vena bukan benih Rangga.
Syahdu: Gak akan bosen deh, Novel ada chat lucunya😆 di I Love you Brutally. Cewek yang naksir kakak kelas secara terang-terangan! Terima kasih dukungannya🤍🫶🏻😆
total 1 replies
sunaryati jarum
Bagus
sunaryati jarum
Nah ,sadar diri gitu Rangga.Prnyesalan tidak ada gunanya.Apalagi entar kamu sama Vera tak kunjung punya anak,tapi Celsi yang langsung hamil.Emak ingin tahu reaksi kamu dan ibumu.
Ma Em
Rangga kamu sdh menceraikan Celsi dan kamu sdh ada Vena perempuan pilihan mu sekarang Celsi sdh dapat pengganti mu jauh lbh baik seorang pengusaha properti yg sukses .
Lyeend
omongan yang mantap dan padu😂😂
sunaryati jarum
Ingin hati memprovokasi dan membatalkan pernikahan.Celsi ,belum keluar ucapannya sudah dikunci ,Asaka.Bravo Aska, sepertinya kamu tahu siapa yang mengaku Rian.
sunaryati jarum
Astaga saudara kok kaya gitu , tidak menghargai kakaknya,bukan itu anaknya yang merebut mantan suami Celsi
sunaryati jarum
Kukira tetangga julid ternyata baik malah memberi nasehat walau melalui candaan, segera menikah ya
sunaryati jarum
Ayo Celsi gugup ta, orang yang kau rindu menepati janjinya
sunaryati jarum
Ayo Celcy, terima .Toh kamu juga sudah ada rasa sama Aska
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!