Sequel dari TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK❗
Kaluna Seraphina Wijaya adalah seorang anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sekaligus dokter militer yang bercita-cita mengikuti jejak almarhum mamanya sebagai prajurit TNI.
Ia dijodohkan dengan putra dari sahabat orang tuanya, namun ia menolaknya hingga terjadi pertentangan dengan papanya.
Akhirnya, Kaluna menerima perjodohan itu dengan syarat, ia tetap diizinkan menjalankan tugas di Papua.
Di Papua, Kaluna bertemu dengan seorang Kapten bernama Kalvin Natha Wiratama. Di tengah tugas dan kerasnya medan penugasan, perasaan mulai tumbuh di antara mereka.
Namun, ketika Kaluna dihadapkan pada pilihan antara pria yang dijodohkan dengannya dan pria pilihan hatinya sendiri, mampukah ia tetap bertahan pada keputusan keluarga, atau justru memilih cinta yang benar-benar diinginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaluna tergelincir
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tak terasa kini Kaluna sudah lima bulan berada di Papua. Semua aktivitas ia lakukan dengan semangat, hubungan baik pun terjalin antar sesama anggota militer.
Hanya saja kini sikap Tina sangat jauh berbeda. Ia lebih ketus dan mudah sensi, mungkin ia tidak menyukai kedekatan Kalvin dan Kaluna.
Seperti halnya pagi ini, mereka tengah bersiap untuk melakukan patroli. Tina yang mendapat jadwal sama dengan Kaluna nampak sengaja membuat wanita itu tak ikut serta.
Dengan sengaja membuat Kaluna hampir celaka, untung saja kondisi Kaluna baik-baik saja dan masih bisa mengikuti kegiatan seperti biasa.
Tidak ada yang mengetahui jika Tina-lah yang sudah menuangkan minyak di lantai dan hampir membuat Kaluna cedera. Orang-orang hanya mengira jika itu unsur ketidaksengajaan.
“Letda Kaluna tidak apa-apa? Kalau tidak enak badan, Letda Kaluna bisa absen. Saya akan bantu bicara pada Kapten Kalvin,” bujuk Tina.
Entah apa tujuan Tina terus berkata seperti itu pada Kaluna. Padahal jelas jika baik-baik saja. Namun sedari tadi Tina terus meminta Kaluna untuk izin.
“Saya baik-baik saja, Sertu Tina. Lagian kita hanya tinggal tiga kali patroli lagi, kan? Setelah itu kita sudah kembali ke kota masing-masing,” jawab Kaluna selembut mungkin.
Tina tersenyum getir. Tak lagi ia membuka suara, terus berjalan di samping Kaluna hingga mereka tiba di titik kumpul patroli.
Seperti sebelumnya, Kalvin sudah stand by bersama anggota lainnya. Begitu pula dengan Anton dan beberapa prajurit lain.
Nampak Kalvin mengulurkan tangan membantu Kaluna menaiki kendaraan. Namun Tina lebih dulu menyambutnya.
“Terima kasih, Kapten,” ucapnya dengan senyum manis.
Sementara Kaluna sudah lebih dulu naik dibantu oleh Anton.
Sikap Tina itu benar-benar membuat Kalvin semakin tidak suka padanya. Namun sebagai seorang anggota militer, ia tidak boleh bertindak gegabah.
Kalvin tetap berusaha bersikap biasa saja, walau hatinya begitu dongkol. Apalagi saat Kaluna terlihat berbincang santai bersama Anton.
“Ayo, Kapten Kalvin, kenapa malah melamun?”
Ucapan Tina menyadarkan Kalvin dari lamunannya. Buru-buru pria itu melangkah menuju posisi depan, meninggalkan Tina yang setia memberikan senyum manis padanya.
Cuaca semakin terik, namun angin berembus cukup kencang. Mungkin malam nanti akan turun hujan, tebak Anton dalam hatinya.
Hingga pukul empat sore, Kaluna dan Anton sibuk berjalan ke sana kemari. Mereka baru kembali ke pos patroli saat matahari mulai terbenam.
“Tidak terasa sebentar lagi kita berpisah, Letda Kaluna,” ucap Anton.
Kaluna tersenyum. “Iya, semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi, Sertu,” ujarnya serius.
“Apa mungkin kita bisa bertemu lagi?” tanya Anton sungguh-sungguh.
Kaluna mengangguk. “Nanti kalau Sertu Anton menikah, undang lah saya. Saya pasti akan datang,” sahutnya diiringi tawa.
Membuat Anton seketika mencebik kesal.
“Saya pikir boleh kita bertemu lagi. Kalau kebetulan saya datang ke Semarang, apa boleh saya mampir?” tanyanya penuh harapan. Anton sangat nyaman berbicara dengan Kaluna, walau tahu sepertinya Kalvin menaruh hati pada wanita itu.
Namun sungguh tak ada niatan Anton untuk menjalin hubungan dengan Kaluna. Ia sadar pernah membuat Kaluna maupun Safira berada dalam bahaya. Berteman seperti ini saja sudah membuatnya senang.
“Boleh, kabari saja kalau Sertu Anton datang ke Semarang. Pintu rumah saya terbuka lebar,” sahut Kaluna setuju.
Kalvin yang sedari tadi duduk di belakang keduanya semakin lama semakin geram. Obrolan mereka nampak seperti teman akrab, membuat Kalvin jengah sendiri.
Susah payah Kalvin menghindari Tina untuk bisa berbincang dengan Kaluna, namun sayang Anton terus saja menguntitnya.
“Letda Kaluna, boleh saya minta tolong?”
Suara serak itu membuat Kaluna dan Anton menoleh. Nampak Kalvin berdiri tak jauh dari mereka. Pria itu mengenakan kacamata hitam, padahal saat ini mereka sudah di pos patroli.
“Ada apa, Kapten Kalvin?” tanya Kaluna.
“Bisa buatkan saya mie?” pinta Kalvin.
Kaluna mengangguk, buru-buru ia bangkit.
“Saya ke dapur dulu, Sersan Anton. Mau sekalian dibuatkan?” tawar Kaluna.
Sebenarnya Anton ingin mengangguk, namun urung ia lakukan kala mendapati tatapan tajam nan dingin dari kaptennya.
“Tidak usah, saya belum lapar,” tolak Anton halus.
“Baiklah.”
Kaluna berlalu meninggalkan keduanya begitu saja, tanpa tahu jika Kalvin seakan memberikan ancaman pada Anton.
“Saya tidak pernah mengganggu maupun protes dengan semua yang Sertu Anton katakan pada orang-orang, termasuk mengatakan saya gay. Tapi bolehkah untuk kali ini saya mendekati Kaluna?” tanya Kalvin sungguh-sungguh.
Anton menelan ludah. Ia tak pernah mendapati Kalvin bersikap seperti ini. Padahal sebelumnya banyak wanita yang mengejar pria itu.
Dan hampir seluruh wanita-wanita itu berasal dari keluarga terpandang serta berpendidikan tinggi.
“Komandan tenang saja, saya hanya ingin berteman dengan Letda Kaluna, tidak ada maksud lain. Kali ini saya mendukung penuh jika Komandan mau mendekatinya.” Anton tersenyum lebar, seakan memberikan semangat pada rekannya itu.
Kalvin menghela napas lega. “Terima kasih, Sertu Anton.”
Kalvin menepuk bahu Anton, lantas berlalu menyusul Kaluna ke dapur.
Tubuh mungil itu terlihat fokus membuat mie instan hingga tidak menyadari kehadirannya. Dari tempatnya berdiri, Kalvin memperhatikan sosok Kaluna yang jauh lebih kecil dibanding dirinya.
Perbedaan postur mereka begitu mencolok. Kaluna bahkan hanya setinggi bahunya. Entah kenapa pemandangan sederhana itu justru membuat sudut bibir Kalvin terangkat tipis.
Setelah berbulan-bulan mengumpulkan keberanian, malam ini Kalvin sudah bertekad ingin mengungkapkan isi hatinya pada Kaluna. Tentu ia berharap wanita itu mau membalas perasaannya.
“Sudah selesai belum?”
“Awww...”
Pertanyaan itu berhasil membuat Kaluna terkejut hingga tidak terasa tangannya menyentuh panci panas. Sontak hal itu membuat Kalvin panik luar biasa.
“Lun, kamu nggak apa-apa?”
Kalvin mengoleskan minyak dingin ke atas pergelangan tangan Kaluna yang sedikit memerah. Dengan telaten ia meniup luka kecil itu. Sontak perhatiannya lagi dan lagi membuat Kaluna salah tingkah.
Kaluna memandangi wajah tampan itu. Degup jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya, membuat sekujur tubuhnya merinding sendiri.
Sementara Tina nampak murung melihat kedekatan itu. Bola matanya memerah. Dengan cepat ia meninggalkan tempat tersebut.
Rasanya ia tak akan sanggup jika lebih lama melihat Kaluna dan Kalvin berdua. Bukan satu atau dua kali ia memergoki keduanya dalam jarak yang sangat dekat, dan kali ini hatinya benar-benar hancur.
“Kenapa nggak hati-hati sih!” protes Kalvin seraya terus meniupi lengan Kaluna. Lukanya tidak seberapa, namun kekhawatirannya luar biasa.
“Saya tidak apa-apa, Kapten. Mie-nya sudah matang. Saya pamit oles salep dulu ya.”
Buru-buru Kaluna meninggalkan Kalvin. Rasanya ia semakin tak kuat berduaan dengan pria itu.
Sementara Kalvin nampak tersenyum. Ia tahu jika Kaluna tengah malu. “Tunggu malam nanti, Lun,” gumamnya pelan.
...****************...
Kaluna berjalan ke sana kemari mencari keberadaan Tina. Sudah sejak sore ia tidak melihat wanita itu.
Hujan semakin deras disertai angin yang bertiup kencang. Tentu hal itu membuat Kaluna panik.
“Sertu Tina...” seru Kaluna.
Tak hanya Kaluna, Anton dan beberapa anggota lainnya juga ikut mencari.
Kaluna mencoba mengingat tempat-tempat yang mungkin didatangi Tina saat sedang ingin sendiri.
Hingga akhirnya ia teringat sebuah jalur setapak di belakang pos patroli yang mengarah ke tepi jurang kecil dengan aliran sungai di bawahnya.
Tanpa membuang waktu, Kaluna segera berlari ke sana.
Dan benar saja. Dari kejauhan ia melihat sosok Tina berdiri membelakanginya di bawah guyuran hujan.
“Sertu Tina!” panggil Kaluna.
Tina perlahan menoleh.
“Kenapa ada di sini? Semua orang mencari Sertu Tina.”
Tina hanya menatap Kaluna dalam diam. Hujan membasahi wajahnya hingga sulit dibedakan mana air hujan dan mana air mata.
“Ayo kembali ke pos dulu. Hujannya deras sekali,” bujuk Kaluna.
Namun Tina tidak bergerak sedikit pun. Ia memperhatikan raut wajah Kaluna, memandanginya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Tina merasa jauh lebih cantik dari pada Kaluna, namun mengapa Kalvin tak tertarik padanya.
“Apa kurang saya, Letda Kaluna?”
Pertanyaan itu membuat Kaluna terdiam. “Sertu Tina...”
“Saya lebih lama mengenal Kapten Kalvin. Saya selalu berusaha ada di dekatnya. Tapi kenapa dia tidak pernah melihat saya?”
Kaluna menghela napas pelan. “Sertu Tina, perasaan seseorang tidak bisa dipaksa.”
“Lalu kenapa harus kamu?”
“Saya tidak pernah meminta hal seperti ini.”
Tina tertawa miris. “Semua orang selalu memilih kamu.”
Kaluna kembali melangkah mendekat. “Sertu Tina, ayo kita kembali dulu. Kita bisa bicara baik-baik di dalam.”
Namun Tina justru bergerak semakin mendekati tepian sungai yang licin.
“Sertu Tina, jangan ke sana! Tanahnya licin!” ujar Kaluna.
“Kalau Kapten Kalvin melihat salah satu dari kita dalam bahaya, menurutmu siapa yang akan dia selamatkan lebih dulu?”
Kaluna mengernyit bingung. “Sertu Tina, tolong tenangkan diri dulu.”
Hujan turun semakin deras. Arus sungai yang biasanya tenang kini berubah keruh dan mengamuk.
Kaluna berusaha meraih lengan Tina. “Sertu Tina, ayo kembali!”
Namun saat itu Tina tiba-tiba menarik lengannya. Gerakan itu membuat Kaluna oleng.
Bruk!
Kaki Kaluna terpeleset di tanah berlumpur di tepian sungai yang menurun. Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan.
Kaluna berusaha menahan diri, tapi tanah licin itu justru membuatnya semakin sulit berpijak. Ia terus meluncur ke bawah.
“Akhhh…!”
kirain anaknya Ravela dan kaivan