Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
Sebuah video diputar di layar besar, menampilkan sosok siswa laki-laki berbadan gempal yang tengah berbicara di telepon, entah dengan siapa. Raut wajahnya menampilkan kemenangan.
"Aman Queen, kalian ngomong itu kamar Olivia dan dia nggak ada di kolam waktu kejadian, itu ide yang bagus banget"
Suaranya terdengar makin keras, disusul tawa yang menyeringai.
"Apalagi pas Olivia kesakitan karena makan racun itu, hahaha.... Itu jadi senjata buat mereka makin percaya kalo Olivia sakit makanya nggak ada di kolam"
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yakin.
"Semua saksi kompak kasih keterangan kalo Naysilla adalah orang yang terakhir berinteraksi sama Lena. Gimana? Lo puas kan, lo aman Qween..."
Rekaman itu berhenti. Keheningan mencekam menyelimuti seluruh ruangan. Semua pembicaraan dan rencana jahat itu terekam jelas, tak ada satu kata pun yang tertutup.
Wajah-wajah di dalam aula tampak tegang, saling bertatapan mencari ketenangan.
Siswa berbadan gempal itu, yang diketahui bernama Dimas, perlahan-lahan mundur ke belakang. Tubuhnya mulai gemetar hebat, keringat dingin membanjiri dahi dan wajahnya.
Ia menegang, memasang sikap waspada saat sebuah tangan mencekal lengannya dengan kuat.
"Maju ke depan, dan akuin semuanya. Sekarang!" desak Mohan dengan nada rendah namun sangat tegas, tak ada ampun di matanya.
"Dimas, maju ke depan dan jelaskan apa maksud semua rekaman ini!" pinta Wakil Kepala Sekolah, suaranya berat dan penuh ancaman.
Dimas jatuh berlutut di lantai, memohon ampun sejadi-jadinya hingga harga dirinya seakan runtuh dan berserakan di tanah. Wajahnya pucat pasi.
"Bukan saya, Pak! Bukan saya pelakunya... Saya cuma suruhan! Ampun, Pak, jangan hukum saya..." teriaknya sambil meratap, lalu tiba-tiba jari telunjuknya menuding tajam ke arah Mohan.
"Dia! Dia yang nyuruh saya, Pak! Si anak Cupu ini lah dalang utamanya! Dialah otak di balik semua ini, Pak! Jangan hanya hukum saya, hukum juga dia! Dia yang menyusun rencananya!" tudingnya dengan mata melotot, berusaha melemparkan segala kesalahan demi menyelamatkan diri sendiri.
Mohan hanya menatap datar, lalu perlahan tersenyum miring, senyum yang terasa mengejek dan meremehkan. Ia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Dimas yang masih berlutut.
"Atas dasar apa lo nuduh gue sembarangan? Lo nggak takut kalau ucapan lo itu malah bikin hukuman lo nanti makin berat dan menyedihkan?" bisik Mohan pelan, namun terdengar jelas di telinga Dimas.
"Saya bersumpah demi Tuhan, Pak! Saya tidak bohong! Si anak baru ini lah dalangnya. Buktinya, dia ada di sana, di pinggir kolam, tepat sebelum Lena jatuh"
"Saya yakin dia pura-pura mendekati Naysilla supaya tidak dicurigai, padahal sebenarnya dia sedang mencari kesempatan untuk mendorong Lena masuk ke dalam air, bener kan?" sergah Dimas, suaranya melengking dan pecah karena ketakutan.
Mohan hanya menatapnya dengan tatapan kosong, seolah apa yang dikatakan si gempal itu hanyalah angin lalu yang tak ada artinya sama sekali. Tak ada rasa takut.
"Siapa nama kamu?" tanya wakil Kepala Sekolah, kini beralih menatap Mohan dengan serius.
"Saya Raynor Mohan, Pak," jawabnya tenang dan tegas.
Nama itu... Pak Wakil Kepala Sekolah menunduk sejenak, mengerutkan kening seolah sedang menggali ingatan yang lama terkubur. Ada sesuatu dari nama itu yang membuatnya merasa familiar, sepotong informasi penting yang entah kenapa terlupakan namun kini berusaha muncul ke permukaan.
Sementara itu, diam-diam Mohan menghitung dalam hatinya. Tepat saat hitungan terakhir selesai, layar besar di depan kembali menyala. Kali ini menampilkan rekaman CCTV area kolam sekolah yang diambil pada pagi hari sebelum peristiwa.
Di layar terlihat empat sosok siswi perempuan sedang berjalan beriringan, tampak santai dan bercanda. Tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan, semuanya tampak wajar dan biasa saja.
Namun suasana berubah saat kamera menangkap sosok Olivia yang berlari tergesa-gesa, menggenggam erat sebuah kantong berisi barang yang tampak berat dan misterius di tangannya.
Sayangnya Ia menuju titik buta CCTV, dan kembali dengan tangan kosong. Kantong misterius itu lenyap.
Layar kembali redup. Ribuan pertanyaan melayang-layang di udara, terlebih orang tua Lena dan para petinggi sekolah.
"Nak Dimas," suara Pak Wakil Kepala Sekolah memecah keheningan, nadanya dingin dan tajam. "Bisa tolong jelaskan? Tentang nama 'Queen' yang kamu sebut di telepon, dan juga tentang gadis yang gerak-geriknya sangat mencurigakan dalam rekaman ini?"
Suasana di dalam aula semakin memanas. Ketegangan seakan bisa dipotong dengan pisau.
"Nah, itu dia, Pak! Olivia! Dia lah yang paling terlibat dalam semua ini, Pak! Dan gadis yang gerak-geriknya mencurigakan itu jelas-jelas dia!" seru Dimas dengan nada yakin, seolah sedang menemukan jalan keluar agar dirinya selamat.
Ia menuding layar dengan mantap, berusaha melempar semua tuduhan ke pundak gadis itu.
"Lho, bukannya itu gadis yang kemarin kita datangi kamarnya? Siswi yang menempati kamar asrama VVIP itu?" celetuk Ayah Lena, matanya menyipit tajam.
"Iya, Pak. Dia yang kemarin mengaku sedang sakit tenggorokan parah, katanya badannya panas dan lemas, sampai tidak mau ikut pelajaran olahraga. Gejala yang dia sebutkan itu... bukankah mirip dengan..." Ibu Lena berhenti berbicara, menatap suaminya dengan mata terbelalak penuh kengerian.
"Seperti gejala keracunan Tembaga Sulfat," potong Mohan tiba-tiba. Suaranya tenang namun jelas terdengar hingga ke sudut ruangan.
Kalimat itu membuat seluruh orang di dalam ruangan seakan berhenti bernapas. Kepala mereka serentak menoleh ke arah Mohan, campuran rasa kaget dan penasaran tercetak jelas di wajah masing-masing.
"Dimas..." Pak Wakil Kepala Sekolah kembali menatap si gempal, kali ini tatapannya seakan menembus sampai ke dasar jiwa.
"Sa-saya... Pak, saya..." Mulutnya tercekat. Keringatnya makin deras mengalir. Ia takut sekali jika sampai dalang utama terbongkar ulah mulutnya. Tentang Olivia, ia tak peduli.
"Dimana gadis lainnya yang ada di CCTV itu? Kemarin mereka seperti melindungi Olivia waktu kami mau interogasi" cicit pria berjas yang cukup jeli memahami situasi.
"Hari ini mereka nggak masuk pak" ucap salah satu siswi asing.
"Tapi... kalau diperhatikan, salah satu dari gadis yang berjalan bersama Olivia itu... itu Lena, anak kami. Apa artinya itu? Apa mereka berteman? Kenapa anak saya ada bersama mereka?" tanya Ayah Lena, suaranya bergetar bercampur rasa sedih dan bingung.
Di sudut ruangan, Naysilla diam-diam mengamati setiap kejadian dengan tatapan jernih. Di dalam hatinya, kepingan-kepingan teka-teki itu sudah menyatu sempurna.
Ia menarik satu kesimpulan penting, namun ia memilih untuk menyimpannya rapat-rapat, sampai semua bukti yang ada berbicara sendiri.
Belum sempat percakapan berlanjut, layar besar kembali menyala. Kali ini memperlihatkan rekaman CCTV yang menangkap sosok gempal diam-diam berdiri di pinggir kolam. Di tangannya terlihat memegang bungkusan berisi serbuk putih.
Dengan gerakan cepat dan hati-hati, ia menaburkan seluruh isinya ke dalam air kolam, hanya beberapa saat sebelum tim penyelamat datang mengevakuasi Lena.
"Dimas! Serbuk apa yang kamu taburkan ke dalam kolam itu...?" bentak Pak Wakil Kepala Sekolah dengan suara menggelegar, penuh amarah yang sudah tertahan lama.
"Itu... itu Kapur Tawas, Pak! Untuk penawar racun, saya hanya mau membantu..." jawab Dimas lirih, kepalanya tertunduk dalam. Ia tahu, pertahanannya sudah hancur lebur. Kekalahannya sudah di depan mata.
Namun di saat itu juga, pintu besar aula terbuka lebar dengan bunyi berderit yang memecah keheningan. Semua kepala menoleh serentak. Ketegangan yang sudah memuncak kini makin bertambah berat.
cupu tuh apaan ?