Sebuah trauma kelam di usia dua belas tahun mengubah hidup Lova sepenuhnya. Sejak kejadian mengerikan itu, ia menderita fobia akut yang membuatnya ketakutan setengah mati, bahkan hanya untuk sekadar berdekatan atau disentuh oleh seorang pria. Baginya, semua pria adalah ancaman.
Sampai akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Arnold, seorang psikiater genius dengan reputasi mentereng. Berbeda dengan pria lain, pembawaan Arnold yang sedikit gemulai justru memberikan rasa aman yang tak pernah Lova rasakan sebelumnya. Arnold menjadi satu-satunya pria di dunia ini yang bisa menyentuh kulit Lova tanpa memicu kepanikannya.
Demi menyembuhkan trauma Lova secara total dan sah di mata hukum, Arnold mendesak sebuah keputusan nekat: *Pernikahan Medis*.
Sebuah pernikahan yang menutupi alasan sebenarnya, menikahi wanita penuh trauma bahkan tak dicintai.
Bagaimana kedok psikiater pecinta lagu India ini? Apakah ia berhasil menyembuhkan Lova? Atau ia sendiri terjebak dalam rencana yang ditutup rapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Terapi Pertama
Saat Lova mendorong pintu ruang kerja yang tidak dikunci itu, indera penciuman Lova langsung disambut oleh aroma menenangkan dari lilin terapi yang sengaja disiapkan Arnold. Ruangan itu luas, dengan deretan rak buku medis yang menjulang tinggi, tetapi suasananya tidak sekaku ruang praktik di klinik.
Di balik meja kerja, dr. Arnold sedang duduk santai. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, memberikan kesan cerdas. Namun, begitu melihat Lova masuk dengan piama satin biru pastel, Arnold langsung meletakkan penanya tanpa sadar kedua tangannya terangkat melihat pasien mengenakan pakaian yang ia siapkan.
"Aduh, pas banget warnanya di kulit kamu, Adik Kecil. Cantik, deh!" puji Arnold spontan dengan nada ceria yang sedikit melengking, sebelum ia buru-buru berdeham berat untuk mengembalikan wibawanya.
"Ehem... Maksudku, warna itu memang punya efek psikologis yang menenangkan untuk pasien kecemasan."
Lova yang awalnya tegang mendadak agak bingung, tetapi sambutan yang tidak biasa dari sang terapis ini, mampu mengusir rasa canggungnya.
"Te-terima kasih, Kak ..." Lova mencoba membiasakan diri dengan panggilan baru itu.
"Duduk di sofa sana, Bestie. Jangan kaku-kaku amat ... kan, Kakak nggak bakal gigit kamu," ujar Arnold sambil bangkit berdiri.
Gerakan Arnold saat memutari meja kerja terasa sangat anggun, hampir menyerupai langkah model papan atas daripada seorang dokter. Ia membawa selembar selimut wol lembut dan secangkir teh yang masih mengepul.
"Nih, minum dulu teh chamomile-nya biar dadamu enggak sesak," Arnold menyodorkan cangkir itu tanpa sadar jari kelingking yang agak sedikit melentik. Setelah itu, ia menarik kursi tanpa sandaran dan duduk tepat di hadapan Lova. Jarak mereka dekat, namun Arnold sengaja menyilangkan kakinya dengan santai agar Lova tidak merasa terintimidasi.
"Ayo minum ... Ayo minum!" Arnold mendorong tangan Lova dengan gestur gemas agar gadis itu segera meminum teh tersebut.
Lova mengangguk kaku, menyesapnya perlahan. Kehangatan teh itu mulai menjalar, membuat debar jantungnya yang gundah perlahan teratur.
"Oke, Nona Zarisha Allova. Karena kita sudah resmi jadi partner, kan kamu tadi setuju kita bisa 'bestian' di sini. Maka, terapi pertama malam ini, kita bawa santai saja," ucap Arnold, menatap Lova lewat balik kacamatanya. Sisi dokternya kini mengambil alih, tatapannya berubah menjadi hangat dan fokus.
"Selama dua puluh tahun, otakmu mendeteksi bahwa sentuhan pria merupakan ancaman yang besar. Itu yang memicu serangan panikmu. Benar?"
Lova menunduk, menatap permukaan tehnya yang beriak. "I-iya, Kak ... Rasanya seperti dicekik dan dimasukan ke—hmm." ucapan Lova pun terhenti.
"Fokus ... Fokus padaku saja!" Arnold dengan cepat mengalihkan kecemasan Lova yang hampir muncul, membuat netra istri medisnya ini kembali menatapnya.
"Nah, untuk malam ini kita mulai latihan desensitisasi."
"Jadi, kita latih dulu otakmu agar tahu kalau ada sentuhan pria yang paling aman, dan pria itu adalah suamimu sendiri," tutur Arnold lembut.
Arnold meletakkan tangan kanannya di atas lutut dengan posisi telapak tangan terbuka ke atas.
"Kakak tidak akan menyentuhmu duluan secara paksa. Kendali penuh ada di tanganmu. Kalau kamu merasa sesak, kamu boleh tarik tanganmu kapan saja. Adil, kan?"
Lova menatap telapak tangan Arnold. Tangan itu besar, dengan jemari yang lebih panjang dan bersih bersih tetapi sedikit mencuat urat tegas seorang pria dewasa. Ini sangat kontras dengan sifatnya yang kadang meliuk jenaka. Tangan kecil Lova mulai bergetar. Perlahan, ia menggerakkan tangannya mendekati telapak tangan Arnold.
Begitu ujung jarinya menyentuh kulit Arnold, Lova sempat tersentak kaget dan berniat menariknya kembali karena ketakutan masa lalu yang mendadak mengetuk benaknya.
Namun, ternyata bukan Lova saja yang tersentak. Di balik kacamata minusnya, pupil mata Arnold sempat melebar sedetik. Jantungnya memberikan letupan reaksi yang tidak biasa, membuat Arnold ikut terkejut dengan respons tubuhnya sendiri.
Ini adalah pertama kalinya bagi Arnold menyentuh tangan seorang wanita dengan intensitas sedekat ini berdua saja. Ingatannya melayang beberapa detik pada saat gadis itu masih berseragam putih merah yang rapuh dan tak berdaya.
Ada dua hal yang seketika berkecamuk di dalam kepala Arnold, dua hal yang mati-matian berusaha ia pungkiri detik itu juga.
Arnold menelan ludahnya dengan berat, dengan cepat mengunci rapat-rapat ingatan itu agar fokus sebagai psikiatri bagi istrinya ini. Ia harus tetap menjadi perisai yang kokoh untuk gadis di depannya, meski Lova tak dapat mengingat dirinya.
"Hei ... lihat mata Kakak, Zarisha. Tarik napas pelan-pelan," tuntun Arnold. Suaranya mendadak berubah berat dan dalam, sangat tenang dan memancarkan rasa aman yang luar biasa.
"Fokus pada aroma lavender di ruangan ini. Di sini aman. Tidak ada orang yang ada di dalam pikiranmu, tidak ada masa lalu. Cuma ada Kakak di sini."
Lova memejamkan mata, mematuhi instruksi Arnold. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu dengan sisa keberaniannya, ia menjatuhkan seluruh telapak tangannya ke atas telapak tangan Arnold.
Kulit mereka bertemu. Hangat dan memberikan desiran yang tak terdefinisikan bagi Lova.
Arnold Tidak langsung mencengkeram tangan Lova. Dengan sabar, ia membiarkan Lova merasakan tekstur kulitnya selama beberapa menit sampai napas gadis itu benar-benar stabil.
Setelah yakin Lova aman, perlahan ... sangat perlahan, jemari panjang Arnold bergerak menutup, menggenggam jemari Lova dengan kelembutan yang teramat sangat. Entah kenapa membuat Lova merasa terlindungi, nyaman, tanpa ada paksaan.
Lova membuka matanya, menatap tautan tangan mereka yang terasa begitu pas. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, jemari Lova saling bertautan dengan jemari seorang pria, bahkan tak ada tanda histeris dan sesak yang menyiksa.
Sebuah senyuman merekah begitu saja di bibir Arnold. "Tuh, kan? Kamu hebat banget, Adik Kecilku. Latihan pertama kita sukses besar!" ucapnya riang, melepaskan genggamannya perlahan agar Lova tidak merasa terkekang.
Dada Lova semakin berdesir aneh. Menatap wajah ceria suaminya yang penuh teka-teki itu, Lova menyadari satu hal: hidup satu atap dengan dokter unik ini mungkin akan membawa banyak kejutan ke depannya.
.
.
Di Pinggir Jalan
Malam telah larut, mobil Teddy terparkir beberapa ratus meter dari rumah Lova, Teddy masih enggan beranjak. Kedua telapak tangannya mencengkeram kemudi begitu erat hingga urat-urat di tangannya menegang. Matanya yang memerah menatap kosong ke arah rumah minimalis yang lampunya kini telah dipadamkan.
Hancur. Kecewa. Murka. Semua emosi itu bergolak menjadi satu di dalam dadanya, menciptakan rasa sesak yang teramat menyiksa.
Ia tahu, tadi siang di rumah itu, sang pujaan hati baru saja menjalin ikatan dengan orang lain, bukan dengan dirinya. Penantiannya selama belasan tahun, kandas begitu saja dalam hitungan hari.
"Harusnya ia tak perlu ke klinik itu," gumamnya, rahangnya terlihat menegang
Brak
Brak
Ia memukul kemudi beberapa kali, meluapkan rasa kesal yang teramat besar.
Drrrt
Drrrt
Ada sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ia segera membuka dan membacanya. Setelah membaca pesan itu, sudut bibir Teddy terangkat tajam.
"Pernikahan kontrak medis ... terapi ... lalu ancaman ibu tirinya," gumam Teddy dengan suara rendah yang bergetar hebat.
Tangannya mengepal erat, gemuruh di dalam dada tak memiliki tempat untuk melepasnya.
"Ada yang tidak beres dengan dokter itu. Lova sedang dimanipulasi olehnya!" desis Teddy tajam. Matanya menyipit penuh dendam. Cinta belasan tahunnya tidak boleh berakhir sekonyol ini.
...****************...
Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Kamar Lova sudah sepi, dan Arnold yakin seratus persen kalau Lova, si Adik Kecil, sudah terlelap di kamarnya karena efek teh chamomile dan terapi melelahkan tadi.
Di ruang tengah yang luas, Arnold melepas semua topeng dokternya. Kemeja yang tadi terpakai di sesi terapi, diganti kaos oblong longgar, dan dengan sengaja menyetel lagu “Re Dola Re Dola” lewat headphone nirkabelnya biar tidak mengganggu sang pasien.
Tapi jiwanya? Jiwanya sudah go public di atas lantai marmer.
Dengan kelentikan jemari yang mengalahkan penari profesional, Arnold mulai berlenggok. Kakinya melangkah maju-mundur dengan ritme jitu, pinggulnya bergoyang luwes, dan tangan lentik bergerak memutar di atas kepala dengan ekspresi wajah yang sangat totalitas, penuh penghayatan ala diva Bollywood.
“Gini amat ya jadi suamik~”batin Arnold sambil melakukan gerakan berputar tiga ratus enam puluh derajat dengan anggun.
Namun, tepat saat Arnold berputar dan membuka matanya dengan kedipan dramatis ... langkah kakinya mendadak terkunci mati di lantai marmer.
Di ambang pintu kamar sebelah, Lova berdiri mematung menatapnya tak berkedip.
*bersambung*
kalau memang kamu udah ga bisa sembuhin lova
lepas aja lah🥹
judulnya terapi cantik ku yg rupawan
itu aja Thor
gemulai mah... terlalu klise😍😍
jadi bayangin
aduuh ternoda dah pikiran aye cyiiin🤣🤣🫣
lova si udah mulai sembuh
ga terlalu perlu lu juga si...
tapi gimana yaaa???
keplak kali palanya biar balik normal🤣🤣
cyiin nya diilangin🫣🤣🤣
geplak lagi ninpake anduk
vote otw ka😍
kyk korban pelecehan
🫣🤣🤣🤣